150.000 TRANSMIGRAN AKAN DAPAT BIBIT UNGGUL

150.000 TRANSMIGRAN AKAN DAPAT BIBIT UNGGUL[1]

Jakarta, Antara

Sekitar 150.000 transmigran petani yang tinggal di 500 unit pemukiman transmigrasi (UPT) pada tahun anggaran 1996/97 akan menerima bibit unggul dari Deptrans dan PPH guna mengurangi impor sejumlah jenis buah dan sayuran.

Setelah melapor kepada Presiden Soeharto di Bina Graha, Selasa tentang masalah penyediaan bibit unggul itu, Mentrans dan PPH Siswono Yudohusodo mengatakan kepada pers bahwa yang akan dibagikan adalah bibit tanaman hortikultura dan tanaman keras.

Siswono memberi contoh bibit yang akan dibagikan itu adalah melon, kol, cabe serta terong. Bibit itu dibagikan karena sampai sekarang impor hasil pertanian itu cukup besar nilainya.

Bantuan ini hanya akan diberikan satu kali dan jika para transmigran membutuhkan lagi maka mereka harus membeli sendiri. Karena itu, bibit unggul tersebut hanya dibagikan kepada UPT-UPT yang sudah maju.

“Presiden Soeharto menegaskan tanpa adanya peningkatan mutu bibit tanaman­ tanaman ini maka kita pasti akan tertinggal dari negara-negara lain.” kata Siswono mengutip ucapan Presiden setelah mendengarkan laporan tentang akan dibagikannya bibit-bibit unggul itu.

Deptrans dan PPH akan bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengembangkan tanaman, yang bibitnya berasal dari sebuah pabrik di Jawa Timur.

Menurut Siswono, direncanakan satu daerah hanya akan menanam bibit tertentu, guna memudahkan para petani baik dalam penanamannya maupun penjualannya ke pasar.

Bibit itu hanya akan dibagikan ke transmigran di daerah yang sudah maju, dengan pertimbangan jika bibit ditanam di UPT yang belum maju maka mereka akan menghadapi kesulitan dalam pemasaran.

Transmigran di Siberut

Kepada Kepala Negara, juga dilaporkan rencana pembangunan pemukiman trasnmigran di Pulau Siberut, Mentawai yang sempat ditunda karena adanya protes dari “pecinta lingkungan” beberapa tahun lalu.

Menurut Siswono, dalih para “pecinta lingkungan” menentang rencana pemerintah itu adalah pemukiman itu bisa merusak lingkungan. Namun ternyata mereka ingin mempertahankan ketertinggalan wilayah itu.

“Pemerintah tidak mungkin membiarkan rakyat Siberut terus tertinggal.” katanya.

Kepada Presiden, juga dilaporkan perkembangan pengiriman transmigran pada tahun anggaran 1995/96, yang targetnya adalah 77.000 KK yang mencakup sekitar 300.000 jiwa.

Dari jumlah itu, 50.000 KK di antaranya adalah transmigran umum dan swakarsa berbantuan sedangkan 27.000 KK lainnya merupakan transmigran swakarsa mandiri (TSM) yaitu orang yang menggunakan uangnya sendiri untuk bertransmigrasi.

Pemerintah hanya menyediakan lahan dua ha. Pada tahun anggaran ini, mereka umumnya berangkat ke Kalbar, Riau, Irja serta Kalteng. Namun, pada tahun anggaran mendatang, urutan daerah prioritas itu akan berubah karena Irja menjadi daerah tujuan utama.

“Pada tahun 96/97, ditargetkan pengiriman 55.000 KK transmigran umum dan swakarsa berbantuan serta 36.000 KK TSM,” kata Siswono.

Sumber : ANTARA (13/02/1996)

______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 278-279

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.