Apr 102015
 

Wasiat Kebangsaan Presiden Soeharto (7): Pembangunan Merupakan Pelaksanaan Pancasila

 

Pembukaan Undang-Undang Dasar kita mengamanatkan kepada kita semua bahwa dalam alam kemerdekaan, kita harus dapat meningkatkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat ini harus kita jadikan tolok ukur kemajuan pembangunan bangsa kita —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:399

***

Pembangunan kita mempunyai ciri yang khas, yaitu sebagai pengamalan Pancasila (Presiden Soeharto, Hari ABRI, 5 Oktober 1995)

***

Karena Pancasila merupakan kepribadian kita sendiri, maka pembangunan kita yang merupakan pengamalan Pancasila itu pun kita rancang dan kita laksanakan menurut konsep dan model kita sendiri (Presiden Soeharto, Pidato Kenegaraan, 16 Agustus, 1984)

***

Pembangunan nasional merupakan pengamalan Pancasila dalam seluruh segi kehidupan bangsa dan negara, baik di lapangan politik, ekonomi, sosial, hukum, pertahanan keamanan dan seterusnya. Ini adalah langkah nyata agar suasana serba Pancasila terasa di mana-mana, membimbing dan memberi arah kehidupan kita semua dalam bermasyarakat. Tanpa itu maka Pancasila tetap akan tinggal sebagai semboyan kosong, —Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 1983

***

Penegasan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila itu berarti bahwa pembangunan kita selanjutnya harus merupakan kelanjutan, peningkatan dan pembaharuan yang terus menerus terhadap perjuangan kita di masa lampau yang harus selalu berlandaskan kepada Pancasila (Presiden Soeharto, Pidato Kenegaraan, 16 Agustus, 1984)

***

Melalui pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas, kita sekaligus hendak membangun suatu masyarakat maju yang sesuai dengan cita-cita perjuangan bangsa kita, dan bukan masyarakat maju yang bertolak belakang dengan cita-cita perjuangan bangsa Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya

***

Dalam membangun bangsa, hendaknya semua pihak berhati-hati dan secara bertahap memberi isi yang makin berbobot dalam segala aspek kehidupan —Presiden Soeharto

***

Kita tidak akan meniru saja model-model pembangunan yang dilakukan oleh bangsa lain walaupun pembangunan itu berhasil dan baik bagi mereka. Karena model pembangunan yang berhasil bagi bangsa lain belum tentu sejalan dengan cita-cita pembangunan nasional kita sebagai pengamalan Pancasila. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:438

***

Pembangunan adalah perjuangan yang sengit. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 294

***

Pembangunan bangsa bukanlah pekerjaan yang kecil dan sederhana, lebih-lebih bagi bangsa Indonesia yang sangat luas wilayahnya, sangat banyak penduduknya, dan sangat besar masalah-masalahnya, dan menghadapi tantangan yang besar dan beragam. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:295

***

Memperkokoh kemerdekaan dan mempercepat pembangunan adalah tujuan kembar dari pembangunan, dan merupakan perjuangan bangsa Indonesia masa kini dan masa nanti. —Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 1977

***

Pembangunan harus mengarah pada tercapainya tujuan jangka panjang kemerdekaan, yaitu kemajuan dan keadilan bagi seluruh bangsa Indonesia —Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 1977

***

Keberhasilan pembangunan ditentukan oleh kekuatan pelaksanaan UUD 1945. Tegaknya konstitusi dan tumbuhnya demokrasi —Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 1977

***

Ada tiga unsur pokok yang mewakili rakyat dalam kehidupan ekonomi kita, yakni unsur produsen, unsur konsumen, dan unsur pemberi jasa. Kita berpegang pada prinsip “mengangkat derajat rakyat sebagai produsen dan melindungi rakyat sebagai konsumen” —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:257

***

Masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila yang menjadi cita-cita perjuangan bangsa kita, tidak bisa dicapai sekaligus, tidak bisa jatuh dari langit begitu saja. Harus diperjuangkan lewat pembangunan secara bertahap Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya

***

Masyarakat adil dan makmur hanya bisa terwujud bilamana kita melakukan serangkaian pembangunan dalam segala bidang —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 254—

***

Masyarakat adil dan makmur itu, benar-benar akan terbentuk bilamana kita bisa membangun dan mengembangkan industri dan agraria yang seimbang—“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 254—

***

Untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur, kita harus mempunyai landasan yang kuat. Landasan dalam bidang ekonomi adalah kondisi kehidupan ekonomi yang ditunjang oleh industri yang kuat dan didukung oleh pertanian yang tangguh —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 254—

***

Tanpa landasan industri yang kuat dan didukung oleh pertanian yang tangguh, sulit mewujudkan masyarakat adil dan makmur —Presiden Soeharto

***

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka jauh harus jadikan Indonesia negara industri yang mampu tumbuh secara cepat dan kumulatif —Presiden Soeharto

***

Indonesia harus membebaskan diri dari ketergantungan kepada ekspor bahan mentah yang sangat dipengaruhi pasaran dunia ––Presiden Soeharto

***

Pembangunan tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah seperti sandang, pangan, perumahan, dan lain-lain yang bersifat fisik kebendaan. Juga bukan hanya mengejar kepuasan batiniah seperti pendidikan, rasa keadilan, rasa keindahan dan lain-lain yang bersifat spiritual kerohanian. Pembangunan kita mengejar keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara kedua-duanya. — Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya

***

Pembangunan nasional kita laksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 412

***

Manusia Indonesia yang kita bangun adalah manusia Indonesia yang bersusila, berakhlak kuat, bermoral tinggi, berwatak dan mandiri. Bagian terbesar justru terbentuk dalam keluarga. Dan semuanya akan sangat ditentukan oleh suasana yang diciptakan dalam keluarga sejak masa anak-anak. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 433

***

Pengendalian diri sendiri dan tanggung jawab sosial merupakan unsur-unsur yang paling penting untuk suksesnya pembangunan bangsa dan negara —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 434

***

Bahaya yang paling besar bagi RI adalah kegagalan pelita (pembangunan), karena ia tidak berarti hilangnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah, melainkan juga hancurnya hasil-hasil kemajuan ekonomi, yang dapat mengakibatkan kembalinya PKI dan hancurnya Pancasila, —Presiden Soeharto, Pidato 16-08-1969

***

Kelengahan dan puas diri akan merupakan bahaya yang dapat menggagalkan pembangunan —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 416

***

Masalah kita ialah bagaimana mengembangkan modal moral dan modal rohani yang melahirkan manusia-manusia pembangunan Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya

***

Melaksanakan pembangunan kadang-kadang dihadapkan pada pilihan-pilihan: jalan mana yang harus kita tempuh agar kita selamat sampai tujuan. Pilihan itu kadang-kadang bukan antara yang baik atau buruk, melainkan hanya yang kurang buruk di antara yang lebih buruk. Itu adalah suka dukanya perjuangan. Itu adalah asam garamnya pembangunan —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 335—

***

Salah satu kelemahan bangsa Indonesia adalah kekurangmampuannya memelihara apa yang telah kita bangun dengan susah payah—“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 509—

***

Saya pesankan kepada semua pihak, agar memelihara dengan baik semua yang telah kita bangun di seluruh tanah air kita —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 509—

***

Watak pembangunan kita adalah kerakyatan. Artinya pembangunan itu adalah dilakukan seluruh rakyat dan untuk kepentingan seluruh rakyat pula (Presiden Soeharto, Seminar “Pembinaan Generasi Muda dan Ketahanan Nasional”, Dema UGM, 23 Oktober 1975)

***

Kita tidak boleh mengejar kemajuan asal kemajuan. Kita menginginkan kemajuan yang disemangati nilai-nilai Pancasila (Presiden Soeharto, Munas Kader Pembangunan, 24 Juni 1996)

***

Keberhasilan (pembangunan) yang kita capai harus kita lanjutkan untuk mencapai keberhasilan yang lebih besar. (Presiden Soeharto, Munas Kader Pembangunan, 24 Juni 1996)

***

Kita (membangun) berpacu dengan waktu yang bergerak cepat. Kita tidak boleh tertinggal dengan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai bangsa lain. (Presiden Soeharto, Munas Kader Pembangunan, 24 Juni 1996)

***

Kita ingin mengubah masyarakat kita yang ratusan tahun dijajah dan ditindas bangsa asing, menjadi masyarakat baru, masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Presiden Soeharto, Peresmian Pabrik Televisi, 30 Juli 1996)

***

Kemandirian (bangsa) yang ingin kita capai bukanlah sejenis autarki atau isolasionalisme (Presiden Soeharto, Indonesia Summit 1996)

***

Stabilitas politik, stabilitas ekonomi dan kesinambungan kebijaksanaan merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan dan kelangsungan pembangunan (Presiden Soeharto, Indonesia Summit 1996)

***

Pembangunan adalah usaha besar-besaran untuk mengubah nasib kearah yang lebih baik. pembangunan harus membuat rakyat lebih sejahtera. Pembangunan yang tidak memperbaiki kesejahteraan rakyat tidak akan ada artinya dan tidak ada gunanya bagi rakyat dan bangsa Indonesia (Presiden Soeharto, Kunjungan Kerja di NTB & Sulsel, 27 Februari 1980)

***

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: