Mei 302015
 

Wasiat Kebangsaan Presiden Soeharto (18): Buruh

Dikumpulkan Kembali Oleh: Abdul Rohman

Kita tidak menginginkan kehidupan seperti di Barat, di mana terjadi pertentangan sengit antara buruh dan majikan —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 374

***

Majikan di negara barat mencari keuntungan sebesar-besarnya & memeras buruh. Di Indonesia hal seperti itu harus dicegah —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 374

***

Kita pilih (hubungan) “perburuhan Pancasila” atau “Industrial Peace”, industri yang damai, atau perdamaian di tengah dunia industri —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 374

***

Kita tidak melarang mogok. Kita tidak menghilangkan hak-hak asasi buruh. Tetapi kita harus selalu berpegang pada pikiran bahwa pembangunan harus jalan. Kepentingan itu harus selalu dipikirkan ketiga pihak. Tiga semangat itu harus menjadi satu yakni semangat buruh, majikan, dan pemerintah. Maka tidaklah perlu terjadi pemogokan. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 375

***

Buruh harus dijiwai oleh Pancasila. Majikan pun harus dijiwai oleh Pancasila. Pemerintah dengan sendirinya melindungi kedua-duanya. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 375

***

Milik swasta berarti milik nasional. Tenaga buruh berarti milik nasional. Bila kedua belah pihak saling berhantam, maka kita kehilangan kedua kekayaan nasional —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 375

***

Buruh sama sekali tidak boleh dianggap semata-mata sebagai unsur produksi, sebab bila demikian, maka kita memerosotkan martabatnya semata-mata menjadi bagian dari mesin industri (Presiden Soeharto, HUT Federasi Buruh, 20 Februari 1977)

***

Pemerintah, pengusaha, dan pekerja merupakan unsur-unsur penting bagi kehidupan suatu bangsa. Saling pengertian yang mendalam antara ketiga unsur itu terletak hari depan suatu bangsa (Presiden Soeharto, “The Tenth ILO Asian Regional Conference”, 4 Desember 1985)

***

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: