Nov 142017
 

WAPRES UMAR WIRAHADIKUSUMAH: SISTEM DISTRIBUSI DAN PANANAMAN PERLU TANGGUH

Jakarta, Angkatan Bersenjata

WAKIL Presiden Umar Wirahadikusumah memperingatkan, untuk mewujudkan pertanian tangguh yang kita cita-citakan tidak cukup hanya dilakukan melalui sasaran antara berupa optimalisasi usaha tani dan pelestarian swasembada pangan saja, melainkan di dalarnnya harus ikut disisipkan sistem distribusi dan pemasaran pangan yang tangguh pula sebagai sasaran antara tambahan.

Diakui oleh Wapres optimalisasi usaha tani dan pelestarian swasembada pangan memang merupakan unsur dasar untuk mencapai sasaran antara pertanian tangguh. Namun untuk mencapai sasaran utama kecukupan pangan bagi rakyat di seluruh pelosok tanah air diperlukan unsur tambahan, yaitu sistem distribusi dan pemasaran yang tangguh pula.

Peringatan Wapres itu dilontarkan kemarin pagi pada acara Peringatan Hari Pangan Sedunia Vll yang tahun ini diadakan di Balai Sidang Senayan.

Menurut Wapres, sistem distribusi dan pemasaran itu sangat penting mengingat ciri khas geografi negara kita serta kondisi prasarana dan sarana perhubungan dewasa ini.

Sehingga kelestarian swasembada pangan dengan ukuran yang wajar masih merupakan cita-cita perjuangan yang memerlukan perencanaan dan persiapan yang secermat-cermatnya serta kerja keras untuk dapat mewujudkannya.

Diakui, sistem yang kini berlaku memang sudah banyak membuahkan hasil. Namun untuk menunjang pertambahan penduduk yang demikian pesat, pergeseran selera dan perbaikan gizi, diperlukan penyempurnaan sistem yang terus menerus, bahkan mungkin pula diperlukan inovasi.

Dengan demikian diharapkan tercapainya kecukupan pangan dalam jumlah dan mutu yang memadai bagi seluruh rakyat hingga sampai ke pelosok tanah air.

Tantangan Besar

Dalam kesempatan itu Wapres juga mengingatkan akan besarnya, tantangan yang harus dihadapi dalam mewujudkan tercukupinya pangan dalam jumlah dan mutu bagi seluruh rakyat.

Tantangan besar itu berupa pertumbuhan penduduk, pergeseran selera makan rakyat ke beras sebagai bahan makanan pokok, perbaikan menu ke arah gizi yang lebih baik serta kondisi prasarana dan sarana angkutan serta distribusi dan pemasaran yang masih memprihatinkan. Untuk menemukan jawaban yang tepat guna mengatasi tantangan itu Wapres mencoba meninjau satu persatu beberapa unsur penting yang ikut terkait di dalamnya.

Masalah optimalisasi usaha tani menurut Wapres yang paling menentukan adalah faktor manusiannya, para petani dan nelayan. Mereka memang merupakan manusia yang bebas, tetapi yang ikut menentukan berhasil tidaknya program pangan pemerintah.

Mereka perlu diberi bekal untuk dipelihara terus berupa motivasi yang kuat, baik yang bersifat fisik/material dalam bentuk kemungkinan peningkatan kesejahteraannya, maupun yang bersifat moral/sosial dalam kesempatan berjasa. Diakui sebagai insan pelaksana pembangunan nasional dan sebagai insan sosial yang ikut meringankan penderitaan sesama warga negaranya.

Selain itu mereka juga harus diberi bekal kemampuan profesional serta ketrampilan menerapkan teknologi maju untuk menghasilkan produksi serta kegiatan pasca panen yang optimal sebagai penunjang cita-citanya. Motivasi yang kuat dan profesionalisme serta ketrampilan yang tinggi ini merupakan kekuatan pendorong dan pengaman yang penting dalam melestarikan daya kerja yang berlanjut bagi para petani dan nelayan.

Menurut Wapres inilah unsur yang ikut melahirkan sukses swasembada beras yang berhasil kita raih.

Perlu Diperluas

Lebih jauh Umar Wirahadikusuma mengemukakan, swasembada beras yang telah kita capai itu perlu lebih diperluas guna mencakup bahan pangan lainnya yang esensial bagi menu yang cukup bergizi.

Dalam masalah pelestarian swasembada pangan ini perlu disadari secara mendalam bahwa usaha ini tidak hanya terbatas pada peningkatan produksi belaka sesuai dengan jumlah dan komposisi yang dibutuhkan. Akan tetapi dalam program jangka panjang-usaha ini harus dilaksanakan se-ekonomis mungkin. Yaitu dengan men ggunakan biaya yang se-effisien mungkin.

Dengan demikian, sambungnya, akan dapat diperoleh suatu tingkat harga pangan yang cukup menunjang kepentingan produsen dan konsumen tanpa terlalu memberatkan anggaran pemerintah, khususnya dalam hal subsidi.

Wapres menunjuk usaha penanganan pasca panen berupa kegiatan pemrosesan dan penyimpanan yang apabila dilakukan dengan cermat dan teliti akan dapat menekan biaya. Karena tercegahnya pemborosan dan biaya berupa susut atau kehilangan lainnya.

Selain itu Wapres juga memperingatkan, agar dalam menentukan target produksi berbagai bahan pangan hendaknya dilakukan pemantauan yang teliti serta perhitungan yang cermat. Sehingga sedini mungkin dapat diperoleh data dan ramalan pertarnbahan penduduk, pergeseran selera makan dan perkembangan perbaikan gizi.

Dengan demikian dapat dihindari timbulnya kekurangan atau kelebihan yang terlalu besar. Pada akhir sambutannya, Wapres menghimbau agar mekanisme pengelolaan usaha yang raksasa dan beraneka sisi ini seluruhnya dapat berjalan mulus, terpadu dan terarah kepada sasaran antara pertanian tangguh untuk menunjang sasaran utama kita bersama.

Yaitu cukup pangan dalam jumlah dan mutu bagi seluruh rakyat Indonesia sampai di segala pelosok tanah air.

Pada awal sambutannya Wapres mengemukakan, peringatan Hari Pangan Sedunia setiap tahun kita peringati untuk memberikan dorongan baru guna melangkah lebih maju ke arah perwujudan cita-cita kecukupan pangan bagi seluruh umat manusia yang banyak di antaranya masih belum menikmati tingkat minimal martabat manusia.

FAO tahun ini mernilih thema “Petani Kecil” yang sesuai dengan kondisi Indonesia diterjemahkan menjadi thema nasional “Optimalisasi Usaha Tani dan Pelestarian Swasembada Pangan Mewujudkan Pertanian Tangguh.”

Oleh Wapres juga dikemukakan, dalam pendekatan masalah pangan ini kita harus

tetap bijaksana dan realistis dengan mendahulukan memecahkan persoalan pangan rakyat sendiri. Setelah kita berhasil melepaskan diri dari ketergantungan pada negara lain, barulah kita meningkat untuk memenuhi kewajiban kemanusiaan kita untuk ikut melegakan penderitaan dunia.

Petani Abdul Rojak

Menteri Pertanian Achmad Affandi dalam laporannya menyatakan kebanggaannya dengan diundangnya petani Abdul Rojak oleh Dirjen FAO untuk menghadiri peringatan HPS di Bangkok bersama-sama dengan para petani lainnya dari kawasan Asia Pasifik.

Petani Abdul Rojak adalah peraih penghargaan Kalpataru 1987. Ia akan memperoleh penghargaan dari FAO atas prestasinya yang mengagumkan sebagai petani Indonesia yang telah berhasil membuat terowongan air sebagai sumber pengairan petani di desanya.

Oleh Mentan juga dikemukakan dengan semakin tumbuhnya swadaya petani dan nelayan dalam berbagai kegiatan, jumlah kelompok tani dari tahun ke tahun terus meningkat. Melalui kelompok tani inilah pengetahuan petani nelayan ditingkatkan sehingga mereka mampu mengelola usaha taninya dengan baik dan dapat meningkatkan produksi dan pendapatannya secara optimal.

Menurut Affandi, dalam upaya melestarikan swasembada pangan khususnya beras, petani Indonesia telah mulai melaksanakan satu terobosan barn, rekayasa sosial ekonorni Supra Insus. Melalui terobosan baru ini para petani diharapkan mampu mengatasi dan memantapkan tingkat kenaikan produksi beras dengan paket teknologi secara penuh.

Jakarta, ANGKATAN BERSENJATA

Sumber : ANGKATAN BERSENJATA (17/10/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 851-854.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: