Nov 262016
 

Malang, 1998

Kepada

Yth. Bapak Soeharto

di Kediaman

WAJIB SALING MENGASIHI [1]

 

Salam dan kasih Yesus,

Dengan hormat,

Pertama-tama saya ucapkan banyak terima kasih atas kesediaan Bapak membaca surat saya ini. Saya ingin mengungkapkan betapa besar rasa hormat dan terima kasih atas segala yang telah Bapak berikan untuk negara serta bangsa yang tercinta ini. Saya tidak berbohong, atas jasa Bapak-lah saya serta keluarga saya dapat hidup layak seperti sekarang ini.

Saat saya menonton dan mendengar bahwa Bapak mengundurkan diri, saya sangat kecewa. Karena pada saat bangsa dan negara mem­butuhkan seorang yang dapat dipercaya, seseorang yang memikul masalah seberat ini. Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa maha­siswa/i, tokoh-tokoh penting negara ini menganggap bahwa Bapaklah yang bersalah? Menyalahkan Bapak atas peristiwa Krisis Moneter yang merambat ke krisis-krisis lainnya merupakan tindakan yang sangat tidak adil dan tidak manusiawi ….

Bagi saya bangsa dan negara ini berupa satu keluarga, yang wajib saling mempercayai, menolong, berbagi bahkan yang paling penting saling mengasihi … Saya sadar, sangatlah tidak mungkin untuk Bapak berbagi perasaan dengan seseorang seperti saya … Tapi bagi saya itu tidak apa-apa, asal Bapak tahu bahwa betapa saya ingin duduk di samping Bapak dan memegang tangan Bapak sambil mengatakan bahwa betapa saya mengasihi Bapak dan juga mengatakan bahwa Bapak tidak sendiri dalam menjalani hidup ini (seperti kebiasaan keluarga kami jikalau ada yang bersedih).

Akhirnya semoga Bapak diberikan kesehatan serta panjang umur, sekali lagi terima kasih banyak dan kami mengasihi Bapak. (DTS)

Hormat saya,

Rita/Riana

Sawojajar

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 566. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: