Nov 302016
 

Siau, Rabu 10 Juni 1998

Kepada

Yth. Bapak Soeharto & Keluarga

di Rumah

WAJAR BAPAK PUNYA HARTA [1]

Salam sejahtera selalu,

Aku mohon maaf, jika kedatangan suratku ini mengganggu ke­tenangan Bapak bersama keluarga. Sebab sudah biasa di setiap awal bulan Juni, aku mengirim kartu ucapan selamat ulang tahun, tapi kali ini aku terlambat menyampaikan ucapan selamat. Itu semua karena aku ragu, jangan-jangan Bapak sudah pindah alamat. Perlu diketahui aku tinggal di pemukiman terpencil, jadi untuk segala informasi atau berita-berita penting sangat lambat/susah diterima.

Bagaimana kabar Bapak bersama keluarga saat ini? Aku sangat berharap Bapak dan keluarga dalam keadaan yang sehat-sehat. Dengan keadaan negara seperti sekarang ini, dengan berita-berita yang dengan sengaja menyudutkan Bapak, aku sangat khawatir jika semua itu mengusik ketenangan dan mengganggu kesehatan Bapak. Itulah sebabnya aku menulis surat ini, aku berharap Bapak tetap tabah dan tenang dalam menanggapi atau mendengar semua kecaman dari orang­-orang yang tak berperasaan. Biarlah mereka mengecam sesuka hati mereka, yang penting Bapak tetap tegar dan kuat.

Bapak yang terhormat, aku tahu sangat menyakitkan memang jika dituduh, dikecam yang tidak-tidak, tapi kumohon, lupakanlah semua­nya itu. Apalagi Bapak sedang merayakan hari bahagia. Memang ter­amat sulit melupakan semua itu, tapi jika kita mohon dan pasrahkan segalanya pada Allah dan melalui usaha kita sendiri, pasti kita akan bisa. Jujur kuakui. Aku sejak dulu pengagum dan sangat menyukai figure Bapak. Aku sudah terlanjur mencintai dan menghormati perjuangan Bapak. Setitikpun tak pernah berubah rasa hormatku pada Bapak. Meskipun aku hidup dalam kemiskinan, meski tetanggaku orang-orang yang buta pengertian ikut bicara bahwa kemiskinan dan kemelaratan yang terjadi di Desaku adalah ulah Bapak, yang sengaja menguasai dan menyimpan harta untuk kepentingan pribadi. Namun, aku tak pernah percaya semua itu.

Pada mereka aku katakan, wajar jika Bapak punya harta sebanyak itu karena sudah 32 tahun memimpin negara. Saya sambil contoh mamaku, jika setiap hari mama menyimpan uang Rp 1000,00 dari gajinya mencuci pakaian orang. Nah kalau mama mengumpulkannya selama 32 tahun, sudah berapa banyak yang tersimpan? Itu hanya gaji seorang tukang cuci yang disimpan. Apalagi gaji seorang presiden, yang kerjanya sangat berat, yang setiap hari kepalanya pasti sakit memikirkan nasib dan hidup rakyat yang jutaan banyaknya. Belum lagi dengan urusan-urusan dinas ke luar negeri. Seharusnya mereka salut dalam usia senja, Bapak masih bersedia memikul beban berat dan tanggung jawab dalam memimpin negara ini.

Bapak yang terhormat, aku berharap Bapak tetap tabah dan sabar. Aku percaya Bapak tidak terganggu dengan semua kecaman dari orang-­orang. Aku ingin Bapak tetap sehat dan kuat dalam menjalani hidup ini. Dan inilah yang menjadi dambaan dan do’aku kepada Allah setiap hari. Kepada semua anggota keluarga Bapak terutama Mbak Tutut yang aku kagumi, aku percaya semuanya kuat dan tegar. Sebab kita percaya, tantangan seberat apapun pasti akan dapat kita atasi, jika kita hadapi dengan kesabaran dan dengan keyakinan kepada Allah SWT.

Hanya Dia-lah yang sanggup menyelesaikan semua problem hidup kita. Dan aku percaya, nanti kenyataan akan membuktikan bahwa perjuangan yang Bapak rintis adalah perjuangan pembangunan di atas kebenaran. (DTS)

Jabat Erat dan Hormatku,

Tries Tamalonggehe

Sulawesi Utara

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 636-637. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: