Jun 072017
 

TRIBUNNEWS.COM – Dalam Perang Dingin II yang berlangsung sejak 1975 hingga 1985, Amerika Serikat dan Uni Soviet masih saling tarik dalam merebutkan pengaruh ideologi mereka.

Kali ini targetnya bukan hanya Asia Tenggara, tapi juga Timur Tengah.

Pada saat itu Uni Soviet mencoba mempengaruhi Afghanistan dengan sebuah invasi militer yang melibatkan 75.000 pasukan.

Perang sengit pun terjadi antara Uni Soviet yang mendukukng rezim Perdana Menteri Nur Muhammad Taraki dengan para kelompok mujahidin lokal yang didukung oleh AS dan sekutunya, termasuk Indonesia.

Indonesia diminta untuk mendukung persenjataan bagi pejuang mujahidin lewat Pakistan.

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada akhir tahun 1970-an banyak memiliki persenjataan dan logistik buatan Uni Soviet.

Persenjataan ini rupanya cocok untuk digunakan dalam melanjutkan perang gerilya Pejuang Mujahidin melawan kekuatan pasukan Uni Soviet di Afghanistan.

Dengan alasan inilah, Pemerintah Indonesia bersedia membantu Pejuang Mujahidin.

Tanggal 18 Februari1981, Pimpinan Intelijen RI Letjen TNI LB Moerdani didampingi Paban VIII Staf Intel Hankam RI Kolonel Udara Teddy Rusdy melakukan pertemuan khusus dengan Kepala Intelijen Negara Pakistan.

Ini pertemuan rahasia untuk membahas permintaan Pejuang

Saat itu pula, LB Moerdani setuju!

Dengan persetujuan Presiden Soeharto, dikumpulkan senjata buatan Uni Soviet dari berbagai jenis yang disimpan di gudang-gudang di seluruh Indonesia.

Total senjata yang dikumpulkan mampu untuk melengkapi pasukan sebesar dua batalyon infanteri.

Rencana penerbangan (flight plan) rahasia disusun melalui rute-rute friendly countries.

Dipilih rute penerbangan Jakarta-Diego Garcia, kepulauan milik Inggris di Samudera Indonesia yang dikuasai Amerika Serikat dengan jarak tempuh sekitar 3.000 mil laut.

Dilanjutkan kemudian rute Diego Garcia-Rawalpindi di Pakistan Utara, yang jarak tempuhnya juga hampir sama.

Bantuan senjata kepada pejuang mujahidin ini disamarkan dalam sebuah misi kemanusiaan.

Menjelang tengah malam, pesawat mendarat di Pangkalan Angkatan Udara Pakistan di Rawalpindi.

Tank dan truk serta personel bongkat muat dan angkut dari tim penerima sudah disiapkan Intelijen Pakistan untuk selanjutnya didistribusikan ke para pejuang mujahidin. Semua bantuan dikeluarkan dipindahkan ke tank dan truk.

Setelah bongkar muat selesai, rombongan segera bergerak dalam. Iring-iringan konvoi bergerak ke arah barat melalui Attock, Nowshera, Peshawar, berlanjut melintasi Khyber Pass.

Inilah lembah yang terkenal untuk memasuki Afghanistan dari Pakistan. Sesampainya di tujuan, bantuan pun diserahkan kepada Pimpinan Pejuang Mujahidin di Nangarhar.

Author: Reni R. & Remigius Septian

 Sumber: http://www.tokohindonesia.com/lintas-berita/artikel/1899589/untold-story-keterlibatan-indonesia-dalam-membantu-mujahidin-afghanistan-lawan-uni-soviet

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: