Sep 162018
 

UNESCO JADIKAN INDONESIA CONTOH PEMBANGUNAN PENDIDIKAN [1]

 

 

Jakarta, Republika

UNESCO menilai Indonesia berhasil dalam pembangunan bidang pendidikan, terutama bagi pendidikan dasar. Untuk itu, UNESCO akan menjadikan Indonesia sebagai percontohan dalam pembangunan pendidikan di negara berkembang yang padat penduduk.

Mengutip pernyataan Dirjen UNESCO Prof. Federico Mayor, Mendikbud Wardiman Djojonegoro mengemukakan penilaian UNESCO itu, pada jumpa pers, Jumat (18/6). Sebelum jumpa pers, Mendikbud menerima Diijen UNESCO di ruang kerjanya . Mendikbud saat itu didampingi Dirjen Diklusepora Soedijarto dan Ketua BPPN Makaminan Makagiansar.

Memaparkan basil pembicaraan dengan Mayor, Mendikbud mengemukakan, UNESCO memuji keberhasilan Indonesia dalam memberantas buta huruf. Pengakuan ini akan dikokohkan melalui pemberian medali emas Avicenna kepada Presiden Soeharto, hari ini (19/6). “Beliau terkesan dengan program wajib belajar enam tahun yang dicanangkan pada tahun 1984, dan terkesan pula dengan rencana pencanangan wajib belajar sembilan tahun,”kata Mendikbud.

Mendikbud pun menjelaskan, saat ini UNESCO memiliki tiga program pokok. ertama, pendidikan  untuk  semua (education for alf). Kemudian, pendidikan keterampilan dan kemajuan, serta terakhir pendidikan lingkungan. Tiga program pokok, menurutnya, akan terus dikembangkan UNESCO di masa-masa mendatang. Pada pertemuan  itu, Mendikbud pun menjelaskan kepada Dirjen UNESCO tentang tahapan pembangunan khususnya di bidang pendidikan di Indonesia. Semua rangkaian pembangunan itu dilaksanakan secara konsisten. Mendukung pernyataan Mendikbud, Makagiansar pun rnenjelaskan bahwa pembangunan bidang pendidikan Indonesia berkaitan erat antara pendidikan dasar dengan pendidikan tinggi.

Kebijakan ini, menurutnya , sangat berbeda dengan negara berkembang lainnya yang sangat menekankan pada pembangunan pendidikan tinggi. Akibatnya , pendidikan dasarnya tertinggal. Soedijarto pun menambahkan, anggaran Depdikbud yang hanya 3,2% GNP, sebesar 45% dari 50% yang diterima Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah dialokasikan bagi pendidikan dasar. “Anggaran ini belum terrnasuk anggaran melalui Depdagri, seperti pembangunan SD-SD Inpres dan bantuan lainnya,”ujar Soedijarto.

Pada pertemuan itu, Mayor menilai, angka anak putus sekolah di Indonesia yang sebesar 4,5% itu cukup kecil.”ltu bukan drop out, tapi drop in,ujar Soedijarto mengutip pernyataan Mayor. Dibandingkan negara berkembang lainnya, angka ini cukup kecil. Di India misalnya, jumlah anak putus sekolah mencapai 40%. Sedangkan di Pakistan 60%. Untuk angka buta huruf, Indonesia hanya 15,6%. Sedangkan India dari Pakistan masing-masing 50% dan 67%.

Keberhasilan ini, menurut Soedijarto, menyebabkan UNESCO sering kali mengirim orang dari negara lainnya untuk belajar keIndonesia,khususnya dari negara­ negara berkembang dengan penduduk terbesar. Seusai mengunjungi Mendikbud, Dirjen UNESCO pun ke LIPI. Kepada tarnunya, seperti dikutip Antara, Ketua LIPI Sarnaun Sarnadikun menjelaskan tentang peneliti yang dimiliki LIPI serta perannya. LIPI saat ini merniliki 60 peneliti S-3 dan 51 peneliti  S-2.

Sedangkan Mayor menjelaskan, kepesatan iptek untuk menyejahterakan umat dewasa ini, mutlak membutuhkan dukungan riset dasar yang kokoh. Tentu tanpa mengabaikan kondisi sosial-budaya masyarakat setempat. Untuk itu, menurutnya, riset dasar memerlukan peneliti andal, dukungan informasi ilmiah, dan data perpustakaan mengenai kemajuan iptek dari berbagai belahan dunia. Dengan dukungan ini, diharapkan peneliti akan makin mampu mengembangkan riset dasar sebagai acuan untuk riset terapan menuju iptek yang tangguh. Selain memberikan penghargaan kepada Pak  Harto, hari ini Dirjen UNESCO akan menghadiri pembukaan, lokakarya “Pendidikan untuk Semua” yang juga berlangsung di Istana. Lokakarya ini dibuka langsung oleh Presiden Soeharto. Setelah itu, Mayor ke Yogyakarta untuk mengunjungi Candi Borobudur di Jateng. Selama ini, UNESCO banyak membantu dalam pelestarian warisan dunia ini. rus

Sumber :REPUBLIKA ( 19/06/1993 )

___________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 724-726.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: