TRI HARAPKAN AGENDA AKSI DISEPAKATI PEMIMPIN APEC 

TRI HARAPKAN AGENDA AKSI DISEPAKATI PEMIMPIN APEC [1]

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto Jumat pagi ini pukul 09.50 WIB dijadwalkan bertolak menuju Osaka, Jepang, untuk menghadiri pertemuan para pemimpin ekonomi APEC. Sementara itu Presiden Bill Clinton tidak bisa menghadiri pertemuan APEC di Osaka karena belum terpecahkannya perbedaan politis soal rancangan anggaran belanja AS yang baru antara pemerintah Presiden Clinton dan Kongres AS. Indonesia, kata Mensesneg, memahami masalah-masalah dalam negeri Amerika dan mengharapkan AS dapat menyelesaikan masalah-masalah tersebut. “Yang kelihatannya sangat serius sehingga tidak memungkinkan Presiden Clinton hadir ke Osaka,”kata Moerdiono menjawab pertanyaan di ruang kerjanya di Jakarta, Kamis sore.

Tentu ketidakhadiran Presiden Clinton, kata Mensesneg Moerdiono ada pengaruhnya terhadap pertemuan APEC di Osaka. Namun secara keseluruhan, tambah Moerdiono, ketidakhadiran Presiden Clinton tidak akan mengurangi bobot keputusan yang akan diambil para pemimpin di Osaka nanti.

Sebagaimana pemberitahuan Gedung Putih kepada Dubes RI di AS Arifin Siregar, Wapres AS Al Gore akan hadir mewakili Presiden Clinton pada pertemuan Osaka, “Secara pribadi saya percaya bahwa Wapres Al Gore tentunya dapat mandat penuh Presiden Clinton untuk mengambil keputusan di Osaka nanti,” kata Mensesneg. Menurut Moerdiono, Bill Clinton akan menelepon Presiden Soeharto menjelaskan ketidakhadirannya di Osaka.

Dua Dokumen

Ada dua dokurnen penting yang diharapkan Indonesia akan dihasilkan dalam pertemuan Osaka, yaitu agenda aksi dan pernyataan pemimpin (leader statement). Dalam agenda aksi akan tercakup langkah-langkah yang diambil oleh anggota APEC sebagai pelaksanaan yang disepakati di Bogor. Indonesia berpendapat, di dalarn agenda aksi yang penting adalah dirinci yang disepakati di Bogor, yaitu yang disebut dengan kekomprehensifan. Artinya, pada tahun setidak-tidaknya 2010 perdagangan bebas harus berlangsung di negara-negara industri maju dan selambat-lambatnya pada tahun 2020 di negara-negara yang sedang membangun.

Dua jadwal waktu itu dianggap penting, karena rnenurut Mensesneg, hal itu merupakan pengakuan dan konsekuensi terhadap kenyataan bahwa negara-negara yang tergabung dalam APEC rnemang mempunyai keadaan dan tingkat perekonomian yang berbeda-beda. Dalam garis besamya mereka adalah negara-negara maju dan negara yang sedang membangun. Aspek kedua, kekomprehensifan, adalah bahwa yang terbuka bagi perdagangan bebas menurut pandangan Indonesia seharusnya meliputi semua sektor, tanpa ada pengecualian. Salah satu materi yang dianggap Indonesia penting masuk dalam pemyataan pemirnpin adalah perlunya diadakan lembaga yang menangani sengketa antara anggota APEC (dispute mediation service). Adalah kenyataan bahwa pertikaian diantara negara-negara, justru yang besar terjadi di kalangan anggota APEC. Apa dengan adanya lembaga itu, tidak merupakan duplikasi dari apa yang disepakati WTO (World Trade Organization), kataMensesneg ,jawabannya tidak. Sebab, dispute mediation service ini merupakan lembaga yang berada di luar WTO. Sifatnya suka rela dan cara-cara penanganannya tertutup. Dengan dernikian di antara negara-negara APEC mempunyai keluwesan di dalam menangani pertikaian diantara mereka. “Yang saya maksud pertikaian di bidang ekonomi dan perdagangan,” kata Mensesneg. Indonesia berpendirian bahwa yang dihasilkan pada pertemuan para pemimpin di Osaka nanti hendaknya rnerupakan kelanjutan dari apa yang telah disepakati oleh para pernimpin di Bogor November tahun lalu. Sarna halnya kesepakatan di Bogor merupakan kelanjutan dari apa yang disepakati di Black Island, Seattle, Amerika Serikat. Presiden Soeharto berada di Osaka selama 3 hari dan pada Senin sore (20/11) dijadwalkan sudah kembali di Tanah Air. Dalam perjalanannya Presiden didampingi Ibu Tien Soeharto. Pada pertemuan di Osaka Kepala Negara disertai Menko Indag Hartarto, Menlu Ali Alatas, Mensesneg Moerdiono, Prof. Widjojo Nitisastro, Dubes Nana Sutresna, Prof Bintoro Tjokroamidjojo (pembantu khusus Presiden untuk masalah APEC), Prof Suhadi Mangkusuwondo (anggota Eminent Persons Group Indonesia), Dirjen Hubungan Ekonomi Luar Negeri Deplu Sumadi Brotodiningrat dan Dubes RI di To­kyo Wisber Louise.

Selain menghadiri pertemuan para pemirnpin ekonomi APEC, selama di Osaka, Presiden juga akan melakukan kunjungan kehormatan kepada PM Jepang Tomiichi Murayama dan mengadakan pertemuan bilateral dengan PM Selandia Baru, PM Aus­ tralia, PM Singapura dan Sultan Brunei Darusalam. (N-1)

Sumber: SUARAKARYA(l7/ll/1995)

________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 303-305.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.