Feb 102017
 

TENTANG LAPORAN-LAPORAN YANG BERSIFAT NGECAP

 

Jakarta, Merdeka

Presiden Soeharto, pada kesempatan menyerahkan bibit tanaman pangan dan tanaman keras kepada transmigran di Desa Mopuya dan Mobugap di Sulawesi Utara baru – baru ini, telah menyampaikan perasaan hatinya dalam dialog dengan putra transmigran. Presiden menyebut, bahwa

“pejabat-pejabat dalam memberikan laporan tentang pelaksanaan pembangunan jangan ngecap …”.

Pada waktu Presiden menanyakan kepada rakyat apakah benar, yang diungkapkann yaitu, serentak rakyat menjawab:

“benar-benar …”.

Hal ini merupakan pencerminan daripada perasaan rakyat yang memang sudah “kekenyangan” dengan laporan-laporan yang baik-baik saja, sedang hal yang sesungguhnya tidaklah demikian.

ABS Dalam Sejarah Kita

Ceritera-ceritera sejarah dimasa masa lalu, menggambarkan bahwa dibawah pemerintahan feodalisme, kesewenang-wenangan amat merajalela. Raja-raja dimasa lalu, sekalipun mungkin tidak dikehendaki mereka sendiri secara pribadi, telah dijadikan raja-diraja, yang perintah dan keinginannya harus dipenuhi, apapun yang harus terjadi.

Sebuah ekspedisi dari Pusat Majapahit, demikian ceritera dari sejarah kita, telah tiba dipantai daerah Kalimantan Barat untuk mengadakan kontrol dan menerima upeti dari rakyat setempat. Pasukan ekspedisi dengan membawa wakil kerajaan Majapahit telah diterima dengan segala kehormatan dan diberikan pelayanan yang sehebat­hebatnya.

Upeti telah disampaikan di Istana wakil raja Majapahit. Dan segera juga barang­ barang upeti dibawa kekapal untuk dilayarkan kembali ke Jawa Timur.

Dalam ceriteranya dibayangkan, bahwa dialog-dialog dengan wakil kerajaan Majapahit, berjalan lancar. Semua yang berada dibawah Pemerintah raja Majapahit di Kalimantan Barat itu, berjalan baik rakyat makmur, pertanian maju dan hubungan antara kerajaan Majapahit dengan daerah kekuasaannya di Kalimantan Barat tidak mendapatkan halangan halangan, malahan ia makin sehari-makin bertambah akrab.

Sehari sesudah perlukan, pasukan ekspedisi kembali ke pulau Jawa meninggalkan pantai Kalimantan, keadaan disesuaikan lagi dengan keadaan sediakala. Pembesar­ pembesar yang masih berkuasa dan diantaranya ada yang tidak setia kepada Kerajaan Majapahit telah menyusun ekonomi dan perdagangan sesukanya saja. Hubungan dengan menyatakan kesetiaan, praktis sudah tidak ada sama sekali.

Pemerintahan Majapahit di Kalimantan Barat dan demikian juga di daerah luar Jawa Timur, semuanya hanya memberikan upeti dan menjalankan kebijaksanaan sendiri-sendiri, seperti kerajaan yang berdiri sendiri. Sampai pasukan ekspedisi datang lagi dan wakil raja Majapahit disembah dan diberi upetilah serta, menerima laporan yang semuanya berbunyi indah-indah di telinga sang penguasa.

“Raja Sehari” menghukum ABS

Cerita tentang Raja Harun Al Rashid yang bijaksana dan ternyata tidak kalah besar dengan Raja Karl Agung yang memerintah pada waktu yang sama di Eropa, tidak bedanya dengan cerita raja-diraja Majapahit diperlakukan oleh abdi-abdinya. Laporan sehari-harinya ternyata semua bagus. Tidak ada bencana danjuga musuh-musuh yang menimbulkan keonaran telah ditumpas dan tidak berkutik lagi …

Akhirnya Raja Harun Al Rashid yang bijaksana itu, menjadi muak dan menginginkan laporan yang sebenar benarnya.

Di dalam cerita tentang Raja Harun Al Rashid yang agung itu terdapat nama Abu Nawas, seorang abdi istana yang lucu, tapi pintar dan banyak memberikan sahamnya di dalam membenarkan letak kekurangan didalam pemerintahan Raja Harun Al Rashid.

Salah satu cerita yang terkenal diabad kekuasaan Raja Harun Al Rashid ialah tentang korup yang dilakukan oleh sementara abdi-abdinya yang berkedudukan tinggi dan tentang pembesar-pembesar yang memeras rakyat untuk memaksa membayar pajak berlebih lebihan atau melakukan kerja paksa tanpa bayaran.

Diceritakan bahwa pada suatu hari Raja Harun Al Rashid menyamar masuk kampung ke luar kampung atas prakarsa Abu Nawas, hendak memeriksa dan mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi dinegerinya itu. Ia berbicara dengan seorang petani yang diperas tanpa kasihan oleh seorang pegawai tinggi kerajaan, kepada Raja Harun Al rashid yang berkunjung ke sana dalam keadaan incognito sehingga ia tidak dikenal sebagai penguasa tertinggi.

“Jika saya menjadi raja sehari saja, saya akan memberikan hukuman setimpal kepada tuan tanah dan penguasa korup dan pemeras rakyat yang merajalela di negeri kita ini,” katanya, sambil menceriterakan kehidupan rakyat yang selalu tertekan oleh kelakuan pembesar-pembesar disana. Raja Harun Al Rashid terharu akan cerita petani itu.

Ia lalu, menanyakan, apakah benar dia akan menghukum orang-orang yang perlu dihukum? Dijawab, bahwa ia akan melakukannya, agar supaya negara menjadi bersih dan rakyat tidak lagi ditindas.

Jika cerita mau diperpendek, maka sipetani pada suatu hari menjadi raja. Dia melakukan apa yang direncanakannya dan dengan demikian kelihatanlah keburukan pemerintahan yang tidak ada kontrol dan tidak dilakukan dengan suatu aparatur yang bersih.

Abu Nawas yang menjadi pelawak diantara penghuni istana berkelakar tentang kehidupan yang penuh dengan ketidak jujuran. Menunjukkan bahwa “obat” untuk membersihkan bagian-bagian kecil dari borok dan penyakit buruk adalah dengan gaya.

Penelitian Raja Harun Al Rashid di dalam masyarakat negara yang diperintahnya sambil mendengarkan laporan laporan bawahannya, semua menunjukkan bahwa gejala ABS atau Asal Bapak Senang sudah berumur ribuan tahun.

Dia berakar pada sistim feodalisme yang memaksa seseorang harus memberi laporan yang enak-enak kepada penguasa, jika ia mau selamat. Kecuali itu, laporan yang diberikan jika ia bernada maju, enak dan segar, menunjukkan si petugas bekerja dengan baik, semuanya dilakukan dengan hemat. Oleh karena itu dia pantas dinaikkan pangkatnya atau sekarang kurangnya dipertahankan didalam kedudukannya.

“Jangan Ngecap”

Semenjak kita merdeka, laporan ABS sudah menumpuk-numpuk di dalam arsip yang berserakan di mana mana di tanah air kita ini. Zaman pemerintahan Soekarno tidak sedikit laporan ABS yang masuk. Sedang diketahui, bahwa penguasa suatu daerah yang memberikan laporan enak-enak itu, tidak becus kerjanya dan keadaan yang sebenarnya disembunyikan.

Di zaman sekarang laporan-laporan yang enak-enak itu, ternyata dilanjutkan. Presiden Soeharto rupa-rupanya telah menyadari lama, bahwa laporan seenaknya itu tidak akan membawa manfaat apa-apa bagi perkembangan masyarakat kearah kemajuan yang kita inginkan.

Karena itu, Presiden Soeharto baru-baru ini telah mengungkapkan perasaannya dan meneriakkan supaya petugas dan pejabat jangan

“membuat laporan yang ngecap” saja.

Banyak negara-negara yang pemah mengalami zaman-zaman ABS akhirnya menilai, bahwa zaman pemerintahan mereka dulu itu, adalah zaman instabilitas yang menonjol sekali.

Artinya keadaan jiwa dan raga bangsa serta aparatur pemerintahan tidak ada yang terpercaya. Sehingga jalannya roda pemerintahan tidak pemah dapat dipercaya. Karena tidak terpercaya, maka tidak dapat diatur sesuai dengan administrasi yang lengkap dan bersih.

Karena itulah pemerintahan yang demikian itu, selalu disajikan laporan oleh orang-orang yang dibuat hanya untuk memperlihatkan kepentingan pribadi pejabat sehingga tidak bernadakan rasionalisiteit.

Moralitas Tingkat Atas Sebagai Contoh

Pemerintah-pemerintah yang sudah mengalami zaman paceklik yang sembrono itu, ternyata melihat keadaan onar itu dari segi moralitas warga yang berwenang dan berkuasa. Moralitas yang tinggi akan menunjukkan wibawa kebawah, tapi moralitas yang diombang ambingkan oleh keinginan pribadi yang negatif umpamanya, akan membawa keadaan kepada kekacauan yang lebih mendalam.

Moralitas atasan selalu mencerminkan kebawah, sehingga lapisan bawah terpengaruh oleh tidak tanduk atasan. Dan dengan demikian lapisan besar dari suatu bangsa terkena kecemaran ABS.

Namun ekonomi yang teratur, kesejahteraan yang menjamin adanya cukup pangan dan perumahan serta kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya, dapat dijadikan patokan utama untuk mendorong manusia kearah perbaikan moralitas.

Selama ekonomi masih morat marit didalam suatu negara akan masih berkeliaran abu nawas-abu nawas yang tidak lucu, karena mengobrol tentang laporan yang baik­baik saja untuk kepentingan diri sendiri.

Padahal kenyataannya keadaan tidak seindah yang dilaporkan. Yang diinginkan adalah … kita semuanya !!! (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (20/05/1978) [1]

 

[1]Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 644-647.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: