Mei 092018
 

TENDENSIUS BERITA TENTANG KESEHATAN PRESIDEN PERLU DIJAWAB

 

 

Jakarta, Suara Karya

Pemerintah Indonesia harus segera menanggapi secara serius pemberitaan pers luar negeri yang menyatakan Presiden Soeharto mempercepat kunjungan kenegaraan di Prancis, karena kelelahan. Pemberitaan itu mempunyai dampak politis yang besar.

Permintaan itu dikemukakan oleh Ais Anantama Said, mantan Komandan Garda Muda Penegak Orde Baru kepada pers di Jakarta, Sabtu sehubungan dengan pemberitaan di Strait Times, edisi 27 November 1992 yang berjudul “Tired Suharto cuts shorts Paris trip.”

Menurut Ais Anantama Said, aparat pemerintah yang terkait harus segera menyelidiki secara serius dan benar asal muasal berita tersebut, karena disebut-sebut bersumber dari orang Indonesia sendiri. “Pokoknya pemerintah Indonesia harus menanggapi secara serius berita tersebut,” katanya.

Dikatakannya, kalau hal ini tidak ditanggapi dengan baik dan benar akan menimbulkan dampak politis yang besar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Di dalam negeri, bisa berkaitan dengan kesuksesan Sidang Umum MPR mendatang, sebab pemberitaan tersebut dapat dipakai sebagai isu untuk menghambat rencana PJPT. Sedangkan bagi kalangan luar negeri, pemberitaan tersebut dapat mempengaruhi investor luar negeri untuk kurang menanamkan investasinya di Indonesia dan juga mempengaruhi kedudukan Presiden Soeharto sebagai Ketua Gerakan Non Blok (GNB).

Permintaan dari Ais Anantama Said tersebut mendapat tanggapan yang positif dari kalangan anggota DPR, Sabtu. Mereka menilai permintaan tersebut sebagai hal yang perlu dilaksanakan.

Ketua FKP Usman Hassan mengatakan pemberitaan tersebut disesalkan, karena Golkar sangat yakin Presiden Soeharto pulang bukan karena kelelahan, tetapi karena missinya telah tercapai. “Pemberitaan itu sangat tendensius dan Golkar tidak tahu apa maksudnya, “ ujar Usman Hassan yang juga Wakil Sekjen Golkar.

Usman Hassan mengatakan, kelelahan itu sama sekali tidak terbukti, karena Presiden Soeharto tampak sangat segar dan jelimet ketika memberikan penjelasan pers atas hasil kunjungannya. “Kalau capek tidak mungkin dapat menjelaskan masalah tanpa teks dengan panjang lebar dan keesokan harinya sudah ada acaranya lagi. Jadi, kepulangan Presiden Soeharto bukan karena capek,” katanya.

Penegasan serupa disampaikan oleh Ketua F ABRI Abu Hartono yang mengatakan bahwa pemberitaan itu bersifat interpretatif, subyektif, tanpa fakta.

Kunjungan utama Presiden Soeharto adalah ke Dakkar dan missinya sudah selesai untuk menyuarakan GNB di KTT G-15. Perjalanan ke Prancis hanya sebuah persinggahan yang dilakukan sesingkat mungkin untuk menyampaikan terimakasih kepada Prancis sebagai negara pertama yang pengganti IGGI.

“Presiden Soeharto sangat apresiatif terhadap Prancis dengan bantuannya sebesar 0,7 persen dari GNPnya, untuk negara-negara anggota GNB, bekas jajahan Prancis. Missi pokoknya sudah tercapai dan tidak ada short-cut, karena tidak ada pembicaraan lain,” kata Abu Hartono.

Abu Hartono juga mengatakan Presiden Soeharto tidak mungkin lelah karena terbukti sempat meninjau gedung mewah di tengahkota Paris. Sementara itu Zarkasih Noor, Wakil Ketua FPP mengatakan berita itu bersifat tendensius, tidak obyektif karena hanya menulis tentang kelelahan saja, padahal seharusnya juga tentang tujuan dan missi serta hasil yang dicapai dari kunjungan itu.

Dia berharap agar media massa dalam negeri jangan melakukan hal seperti itu, karena soal memperpanjang atau memperpendek kunjungan tergantung kepentingannya. “Seperti apa sesuatu yang hendak ditonjolkan dengan pemberitaan itu, padahal dalam wawancara tanpa teks di pesawat, Presiden Soeharto tidak terlihat loyo. FPP sangat menyesalkan pemberitaan demikian itu. Saya sependapat dengan permintaan Ais Anantama Said,” katanya.

 

 

Sumber : SUARA KARYA (30/10/1992)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM So3harto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 352-351.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: