Jul 122018
 

TANPA DISIPLIN MASYARAKAT TAK AKAN MENIKMATI KETENTERAMAN [1]

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto mengatakan bangsa Indonesia merasa bersyukur karena sejak semula pembangunan nasional tidak hanya bertujuan untuk mengejar kemajuan lahiriah kebendaan saja. Juga tidak hanya untuk membangun hal-hal yang bersifat rohaniah kejiwaan  belaka.

“Kita ingat baik-baik, bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib kita,jika kita sendiri tidak bekerja keras merubah nasib kita itu. Karena itulah sejak semula kita membangun dengan menjaga keselarasan, keseimbangan dan keserasian antara hal­ hal yang bernilai lahiriah kebendaan dan rohaniah kejiwaan, ” kata Kepala Negara pada peresmian berbagai proyek pembangunan di Desa Lamgugu, Banda Aceh Rabu pagi.

Dikatakan, bangsa Indonesia memang bangsa yang kuat rasa keagamaannya. Sila pertama dari Pancasila yang menjadi pandangan hidup bangsa adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Pengalaman hidup seringkali menunjukkan bahwa kehidupan kebendaan serta kecukupan lahiriah saja tidak dapat memberi rasa kebahagiaan dan rasa tenteram di lubuk hati yang paling dalam. Bisa saja orang serba kecukupan secara lahiriah kebendaan, tetapi jiwanya selalu gelisah.

“Agama adalah satu-satunya sandaran batin bagi kita yang dapat memberi rasa kedalaman dan ketenteraman dalam hidup, baik dalam sukacitanya keberhasilan maupun dalam ujiannya kesulitan. Dan pembangunan, memang bukan merupakan kisah yang hanya penuh dengan keberhasilan saja. Pembangunan adalah perjuangan yang tidak sepi dari kesulitan dan kesukaran, “kata Kepala Negara.

Pembangunan yang selama ini dilaksanakan telah membawa manfaat yang tidak kecil bagi kehidupan bangsa Indonesia. Pengalaman membangun selama ini telah memberikan kearifan bahwa kebijakan dan strategi yang tepat bagi bangsa Indonesia adalah mengembangkan prakarsa dan kreativitas masyarakat untuk mencapai tingkat kesejahteraan dan kemakmuran yang diinginkan bersama. Karena itu semangat, prakarsa dan kreativitas masyarakat untuk membangun tadi terus didorong dan ditumbuhkan.

Presiden mengatakan, kedatangannya ke Aceh kali ini adalah untuk meresmikan selesainya pembangunan sejumlah proyek pembangunan. Hal ini menunjukkan bahwa di Aceh pembangunan terus bergerak maju. Hal ini juga mencerminkan betapa besar semangat dan kegairahan masyarakat Aceh dalam membangun diri dan daerahnya.

Disiplin

Kita telah bertekad agar Pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua (PJPT) II nanti merupakan era tinggal landas untuk memacu pembangunan dengan penuh kemandirian. Dalam PJPT II nanti peningkatan kualitas manusia Indonesia harus menjadi perhatian kita semua.

Di samping kegairahan untuk bekerja keras, dalam tahap pembangunan yang akan datang juga diperlukan kesadaran untuk meningkatkan disiplin dalam kehidupan. Tanpa disiplin masyarakat tidak akan menikmati ketertiban dan ketenteraman, yang merupakan syarat mutlak bagi pelaksanaan pembangunan. Tanpa disiplin masyarakat juga tidak akan dapat memanfaatkan hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai dengan sebaik-baiknya.

Jalan-jalan yang dibangun misalnya, tidak akan memberikan manfaat untuk waktu yang lama jika masyarakat pemakai jalan tidak memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku. Begitu pula, semua harus ikut menjaga dan memelihara semua yang telah dibangun dengan susah payah, seperti jembatan, saluran irigasi, pembangkit listrik dan seterusnya.

“Oleh karena itu saya minta agar supaya peningkatan kesadaran hidup berdisiplin ini benar-benar mendapat perhatian kita bersama. Karena keberhasilan pembangunan untuk sebagian terbesar ditentukan oleh manusia pelaksanaannya, maka sesungguhnya pembinaan dan peningkatan kesadaran hidup berdisiplin juga menjadi bagian dari pembangunan itu sendiri.”

Berbagai proyek yang diresmikan Kepala Negara itu bemilai Rp 270,3 miliar. Yang diresmikan itu meliputi proyek Departemen Pekerjaan Umum, Perhubungan, Agama, Tenaga Kerja, Pertambangan dan Energi, Transmigrasi, Pertanian, Penerangan serta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Karo Humas Pemda Tingkat I Aceh, Drs Ramli Dahlan mengatakan proyek KruengAceh merupakan pengendalian banjir, mengamankan 25.000 ha sawa dan pemukiman penduduk di Aceh Besar dan Kodya Aceh bernilai Rp 138,76 miliar salah satu yang diresmikan. Juga proyek irigasi yang tersebar di seluruh Aceh dengan dana Rp 17,6 miliar dari dana APBN dan ADB untuk mengairi sawah teknis 5.400 ha.

Sumber:  SUARA PEMBARUAN  (27/05/1992)

_______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 546-547.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: