TANDA PENGHARGAAN KESEHATAN WHO UNTUK PRESIDEN SOEHARTO

TANDA PENGHARGAAN KESEHATAN WHO UNTUK PRESIDEN SOEHARTO

 

 

Jakarta, Kompas

MENURUT rencana, pada hari Senin tanggal 18 Februari ini, Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization, sebuah lembaga Perserikatan Bangsa­Bangsa, akan memberikan tanda penghargaan kesehatan untuk semua “Health For All Golden Medal Award” kepada Presiden Soeharto. Penyerahan medali penghargaan yang baru untuk pertama kalinya akan disampaikan oleh Dirjen WHO, Hiroshi Nakajima.

Penghargaan dalam bidang kesehatan ini, diberikan atas keberhasilan Indonesia melaksanakan program imunisasi kepada anak-anak balita. Program pencegahan penyakit bagi bayi itu juga menjadi program Organisasi Kesehatan Sedunia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Hasil usaha Indonesia mencegah bayi dari penyakit-penyakit seperti diphteri, tetanus, polio, campak, melebihi program PBB. Itulah sebabnya, organisasi kesehatan PBB memberikan penghargaan.

Bagi Presiden Soeharto dan Indonesia, inilah penghargaan ketiga dari lembaga yang bernaung pada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dua penghargaan lainnya adalah dari Organisasi Makanan dan Pertanian Sedunia untuk berhasilnya program swasembada pangan dan penghargaan untuk keberhasilan program Keluarga Berencana.

TINGKAT kesejahteraan suatu bangsa diukur dengan berbagai cara. Di antaranya dengan ukuran tingkat kematian bayi. tingkat tingginya usia rata-rata, tingkat keperluan akan kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, kesehatan, papan.

Sekarang kita ingat suatu adegan, ketika Presiden Soeharto menyaksikan dilakukannya imunisasi terhadap bayi montok di kediaman Jl. Cendana 3 Agustus 1990 (lihat Antara edisi Minggu 17 Februari 91). Itulah momentum dimulainya gerakan imunisasi.

Langkah itu tidak berdiri sendiri. Sebelumnya dicanangkan oleh Kepala Negara, program posyandu, program pelayanan kesehatan terpadu, terutama juga untuk anak­anak balita.

PROGRAM Inpres kesehatan mendahuluinya, sementara tatkata dilontarkan delapan jalur pemerataan, satu di antaranya ialah pemerataan kesehatan dan berdirilah puskesmas, pusat kesehatan masyarakat di seluruh petosok Tanah Air.

Di antaranya untuk program-program yang bertalian dengan kesejahteraan hidup rakyat secara langsung itulah, dimanfaatkan rezeki yang diperoleh dari melonjaknya harga minyak. Di samping dana itu juga dipakai untuk membangun sektor pertanian serta infrastruktur sosial ekonomi seperti jaringan jalan, bendungan, irigasi.

Secara obyektif harus kita akui dan kita hargai, bahwa justru dalam program-program yang secara langsung mempengaruhi kesehatan, kecukupan dan kesejahteraan rakyat banyak itu, Kepala Negara secara langsung pula memberikan perhatian. Di antaranya dengan turun sendiri ke desa-desa, ke tengah-tengah masyarakat.

KITA ingin mencatat penghargaan dan pengakuan lembaga Perserikatan Bangsa­Bangsa ini, karena di depan, kita masih akan menghadapi banyak masalah dan tantangan dalam usaha kita menjadikan bangsa kita cerdas, maju, makmur, sejahtera lahir-bathin.

Apabila kita dihadapkan pada kesulitan, permasalahan dan tantangan, penghargaan bangsa lain atau lembaga internasional atas prestasi kita akan ikut menjadi modal, bahwa kita akan mampu mengatasi kesulitan dan tantangan.

Inilah sesungguhnya, salah satu rahasia keberhasilan bangsa-bangsa yang telah lebih dulu menjadi negara industri adanya kepercayaan diri dan rasa mampu dan karena itu juga mau dan berani mengambil sikap terbuka.

SETIAP kali, pimpinan nasional menegaskan, pembangunan makan waktu dan pembangunan kita laksanakan secara bertahap. Yang barangkali telah kita lalui adalah tahapan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok. Di satu pihak, keberhasilan itu harus dipelihara serta dikembangkan, seperti misalnya swasembada beras, tingkat kematian bayi, tingkat kesehatan masyarakat. Di lain pihak, atas tahap keberhasilan itu, kita dapat melangkah ke tahap berikutnya.

Tahap berikutnya itu, suatu proses industrialisasi, suatu tahapan yang akan membawa masyarakat bangsa kita semakin sanggup membuat dan memanfaatkan ilmu dan teknologi dan karenanya semakin sanggup mandiri dalam pembangunan nasional.

Penghargaan di bidang kesehatan yang diberikan oleh lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa kepada Presiden Soeharto, kita terima sebagai isyarat serta bukti kemauan dan kemampuan kita untuk melangkah lebih lanjut, lebih maju, demi sebesar­besarnya kemakmuran rakyat.

HAL itu bukannya tanpa alasan. Dari keberhasilan di bidang kesehatan, keluarga berencana, pertanian dan lain-lain, kita belajar, masyarakat kita bisa diubah kebiasaan dan orientasinya untuk menyambut usaha-usaha kemajuan.

Perubahan sikap dan orientasi masyarakat itu lebih lancar, apabila masyarakat mengetahui dan merasakan, bahwa demi perbaikan hidup merekalah perubahan itu dilaksanakan. Masyarakat juga lebih lancar diajak melangkah, manakala pemimpin dan pemuka hadir di tengah-tengah mereka.

 

 

Sumber : KOMPAS (18/02/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 573-575.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.