TAK BENAR, PRESIDEN SOEHARTO AKAN BERKUNJUNG KE TAIWAN

TAK BENAR, PRESIDEN SOEHARTO AKAN BERKUNJUNG KE TAIWAN[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Menteri Luar Negeri Ali Alatas membantah berita yang menyatakan bahwa Presiden Soeharto akan melakukan kunjungan ke Taiwan selesai menghadiri pertemuan puncak para pemimpin Asia dan Uni Eropa (ASEM) di Bangkok, awal Maret mendatang.

Mengutip Kantor Berita Reuters, pers Taiwan minggu lalu memberikan rencana kunjungan Presiden Soeharto secara pribadi ke negeri tersebut. Kunjungan itu disebutkan dilakukan selesai Pak Harto menghadiri pertemuan ASEM.

“Sama sekali itu tidak benar. Tidak ada dasar dan fakta sama sekali. Entah darimana berita-berita semacam itu muncul. Tapi, dapat saya katakan bahwa berita itu sama sekali tidak benar,” ujar Menlu, menjawab pers sebelum berlangsungnya Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekku Wasbang dan Prodin  di Bina Graha, Jakarta, Rabu.

Tahun 1994 Presiden Taiwan Lee Teng Hui bertemu secara tidak resmi dengan Pak Harto di Bali tatkala ia berkunjung ke tempat tersebut. Ditanya apakah kali ini juga terjadi hal yang sama. Menlu Alatas mengatakan,

“Kalau soal kunjungan Pak Harto ke Taiwan, saya dapat mengatakan sekali lagi dengan tegas, bahwa itu tidak benar, tidak mungkin.”

Apakah dengan demikian Indonesia tetap  mengakui prinsip satu Cina, ia menjawab

“Yaaa… itu tetap. inikan soal lain toh. Soal kunjung-mengunjungi, Jangan dicampuradukkan mengenai upaya untuk meredakan ketegangan Cina dan Taiwan, dijelaskan, sudah ada saluran-salurannya sehingga bukan menjadi tugas negara-negara lain untuk mencampurinya. Diperkirakan sudah ada persetujuan dan kesepakatan-kesepakatan yang tentu diikuti Indonesia dengan penuh perhatian. Tentunya Indonesia akan prihatin jika terjadi ketegangan, tetapi di lain pihak optimis bahwa hal itu akan diatasi berdasarkan kesepakatan-kesepakatan dari kedua belah pihak.”

 

Pulau Galang

Ditanyakan masalah pengembalian pengungsi di Pulau Galang, menurut Alatas pemerintah kini sedang mengusahakan penyelesaiannya pada tahun ini. Bukan hanya di Indonesia. Semua tempat pengungsian pun belum selesai. Akan tetapi dikatakan, bagi Indonesia hal itu menjadi lebih mendesak karena Pulau Galang akan merupakan bagian dari proyek Barelang.

Pemerintah sedang mengusahakan untuk mempercepat pemulangan mereka ke Vietnam, bagi yang tidak lulus skrinning. Untuk dianggap sebagai pengungsi maupun penempatan di negara ketiga bagi yang memang sudah terbukti pengungsi murni dan ini sedang dilaksanakan.

Menjawab keengganan masyarakat menerima mereka, Alatas mengemukakan persoalannya bukan karena enggan tapi memang setelah beberapa waktu berjalan, kemudian agak lamban sehingga kini sedang digiatkan kembali. Angka-angkanya ia tidak ingat, namun diperkirakan berjalan terus dan hanya sedikit mengalami kelambatan.

Sebagian dari mereka yang tidak lulus skrinning sudah pulang ke negaranya setelah diberikan penjelasan yang memadai. Memang ada sejumlah pengungsi yang bersikap keras, tapi kata Alatas, pemerintah optimis bahwa pada akhirnya semua akan bisa pulang. Hanya soal kecepatannya.

“Kita ingin terlaksana tetap dengan kerja sama UNHCR secara lebih cepat.” Ucapnya.

Di Vietnam mereka diperlakukan dengan baik. Hanya saja yang tinggal di luar itu perlu diyakinkan, dan ini merupakan suatu proses yang kadang-kadang agak lama. Yang pengungsi murni dikembalikan, tapi lanjut Alatas, justru yang benar-benar pengungsi justru berhak untuk ditampung di negara ketiga dan yang bukan pengungsi harus kembali ke Vietnam. (N-1)

Sumber :  SUARA KARYA (O8 /02/ 1996)

__________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Pertama, 2008, hal 165-167.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.