Mei 172017
 

TAK BENAR LULUSAN PENDIDIKAN TINGGI SWASTA KALAH MUTU DARI NEGERI

Presiden Soeharto, Jumat pagi, membantah anggapan yang mengatakan lulusan pendidikan tinggi swasta kalah mutunya dibanding dengan lulusan pendidikan tinggi negeri. Dalam sambutannya ketika menerima para peserta Rapat Kerja

Pimpinan Sekolah Tinggi dan Akademi Swasta se-Indonesia di Istana Negara, Kepala Negara menilai anggapan tsb merupakan anggapan yang keliru. Rapat kerja yang baru pertama kali ini diikuti 200 peserta.

Dikatakan, sebagian anggapan yang keliru ini memang ada alasan2nya. Namun perlu disadari, tingkat kedudukan suatu lembaga pendidikan tinggi seharusnya dinilai dari lulusan yang dihasilkannya pengembangan potensi pribadinya, perkembangan dalam kemampuan profesionalnya, perkembangan dalam kematangan sikap dan wataknya.

Untuk keperluan pengembangan, Presiden Soeharto mengatakan, perguruan tinggi swasta al. harus berani memberikan informasi yang jujur dan jelas kepada masyarakat.

"Ini diperlukan agar di kalangan masyarakat dapat ditumbuhkan pengertian dan kesadaran bahwa masalah yang dihadapi tidak mungkin dapat dipecahkan dengan baik oleh kalangan perguruan tinggi swasta sendiri tanpa bantuan masyarakat," kata Presiden.

Tanggung Jawab

Mengenai tanggung jawab perguruan tinggi swasta, Presiden Soeharto mengemukakan, tanggung jawab itu tidak saja diartikan sebagai tanggung jawab dan partisipasinya dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi melainkan juga harus diartikan sebagai pengakuan terhadap hak masyarakat untuk mengetahui berbagai kenyataan dan kegiatan yang berlangsung di lingkungan perguruan tinggi swasta serta efektivitasnya.

Presiden Soeharto menekankan dengan memberi informasi yang jujur dan luwes maka masyarakat akan lebih adil dan obyektif dalam menilai mutu pendidikan tinggi yang diselenggarakan kalangan swasta.

Pemberian informasi ini juga diperlukan untuk dapat menumbuhkan dan meningkatkan dukungan nyata dari masyarakat baik moral maupun keuangan yang diperlukan bagi pengembangan dan peningkatan mutu perguruan tinggi swasta, Kepala Negara menambahkan.

Mengenai bantuan pemerintah Kepala Negara mengatakan akan membantu pertumbuhan dan perkembangan perguruan tinggi swasta, al. melalui peningkatan program2 pembinaan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan perguruan tinggi ybs.

Dengan demikian maka dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif untuk mencapai tujuan yang semaksimal mungkin.

Magang

Presiden mengatakan pembangunan sangat memerlukan tenaga2 lulusan tingkat pendidikan dalam berbagai bidang keahlian, keterampilan dalam jumlah yang besar. Untuk itu agar para lulusan akademi dan sekolah tinggi dapat segera terjun dalam pembangunan mereka perlu mendapat latihan keterampilan yang memadai dalam profesi mereka.

Dalam hubungan ini Presiden menyarankan agar para lulusan itu diberi kesempatan melatih diri melalui cara ”magang”. Cara ini merupakan bagian dari sistem ganda dalam pendidikan profesi yaitu sistem pendidikan yang memadukan jalur teori denganjalur praktik nyata di lapangan.

Dikemukakan untuk pelaksanaan sistem ganda ini diperlukan kerja sama dengan kalangan dunia usaha baik yang bergerak di bidang industri maupun jasa. Dalam hubungan ini Presiden berpesan agar pengaturan pelaksanaannya diatur sebaik2nya sehingga efektif dan efisien demi kepentingan para sarjana, dunia usaha maupun masyarakat umumnya.

Lebih lanjut dikatakan mutu pendidikan perlu ditingkatkan terus menerus untuk mengejar ketinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Pendidikan tinggi yang sehat tidak hanya mempelajari berbagai kenyataan di masa lampau sekarang dan masa depan masing2 secara terpisah, melainkan hams mempelajari kaitan2 antara masa lampau, sekarang dan masa depan," kata Presiden.

Dikemukakan perubahan apapun yang ada dalam sektor ekonomi, sosial maupun politik bila tidak dimulai dengan pendidikan maka perubahan2 itu pasti cenderung mengalami kegagalan. Oleh karena itu kemajuan bangsa pertama sekali terletak di bidang pendidikan, lebih khusus lagi di bidang pendidikan tinggi, demikian Presiden. (DTS)

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber: SINAR HARAPAN (02/10/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 525-527.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: