TAK ADA LAGI TEMPAT BAGI PEMERINTAHAN  SENTRA LISTIK 

TAK ADA LAGI TEMPAT BAGI PEMERINTAHAN SENTRA LISTIK [1]

 

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto mengatakan, di dalam era globalisasi di mana dunia makin saling tergantung dan berubah cepat, tidak akan ada lagi tempat bagi suatu tatanan pemerintahan yang bersifat sentralistik, yang menyerahkan seluruh keputusan kepada pemerintah pusat. Hal itu bukan saja mustahil dilakukan dalam kondisi perubahan serba cepat, tetapi juga akan menghambat tumbuh dan berkembangnya kreativitas dan prakarsa masyarakat. Presiden mengatakan hal itu ketika menerima para peserta Kursus Singkat Angkatan V Lemhannas Selasa pagi di Bina Graha. Prakarsa dan kreativitas masyarakat tersebut, demikian Kepala Negara, justru menjadi modal utama untuk dapat berlangsung hidup dalam dunia yang amat dinamis. Di lain pihak juga tidak mungkin untuk menyerahkan seluruh kegiatan kepada dinamika masyarakat itu sendiri, kata Presiden. Presiden mengatakan, kita sedang berada dalam lingkungan strategis baru. Dunia terus bergerak ke arab tatanan baru, bukan hanya pada tataran pemerintahan, tetapi menuju wilayah dan masyarakat. Perubahan itu antara lain berasal dari bertambah matangnya wawasan para negarawan, politisi dan budayawan, kemajuan luar biasa buat manusia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta bertambah eratnya hubungan sosial ekonomi antar bangsa. Pada tataran pemerintahan, makin banyak badan yang bersifat multilateral yang dibangun untuk melayani kepentingan bersama.

Sebagai akibatnya, setiap pemerintah harus mengadakan rangkaian penyesuaian untuk memungkinkan berlangsungnya keija sama antar negara. Sedangkan pada tatanan kewilayahan, lanjut Presiden, makin banyak dikembangkan kerja sama ekonomi sosial di daerah perbatasan. Perbatasan tidak lagi di pandang sebagai suatu garis yang menlisahkan dua negara secara mutlak, tetapi lebih sebagai pembeda serta perlambang sejarah, identitas dan wilayah kedaulatan negara­ negara yang bertetangga, Sementara itu, Gubernur Lemhannas Letjen TNI Moetojib dalam laporannya mengatakan, kepada peserta Kursus Singkat Angkatan (KSA) V ini atas petunjuk Presiden telah pula diberikan penataran Manggala BP7 Pusat di Bogor.

Sumber: SUARAPEMBARUAN  (11/07/ 1995)

_____________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 228-229.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: