Jul 132018
 

TAJUK RENCANA : MEMACU SEMANGAT MEMBANGUN DAN JATIDIRI[1]

Jakarta, Suara Karya

DALAM sambutan pada upacara peresmian proyek-proyek pembangunan di Propinsi Sulawesi Selatan, Kamis kemarin,  Presiden  Soeharto,  antara lain menegaskan, pembangunan kita adalah pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Kesejahteraan rakyat itu jelas telah meningkat. Tetapi, kita tetap menyadari bahwa tugas-tugas di hadapan kita tetap besar,” kata Presiden.

Ditegaskan lebih lanjut,

“Kita memahami bahwa pembangunan tidak selalu berjalan mulus. Selalu ada tantangan, hambatan dan gangguan. Karena itu dalam melaksanakan pembangunan kita harus selalu memelihara semangat membangun.” Dikatakan Presiden bahwa kita harus melihat perjuangan bangsa kita sebagai proses bersambung yang tidak terputus – putus ; sebagai proses perjuangan dengan landasan masa lampau untuk membangun hari ini dan hari nanti, untuk generasi yang sekarang dan generasi yang akan datang.

DALAM apa yang ditegaskan Presiden terkandung filosofi bahwa membangun adalah proses perjuangan berkesinambungan yang hanya dapat mencapai tujuan dengan memelihara semangat membangun. Karena dalam membangun selalu ada tantangan, hambatan dan gangguan.

Kita ingin menggaris bawahi hal ini karena dengan berbagai perubahan mendasar yang melanda dunia, kualitas tantangan, hambatan dan gangguan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam melanjutkan pembangunan, eksternal dan internal akan meningkat.

Mengenai ideologi, misalnya, dengan bangkrutnya kesisteman berdasarkan ideologi komunisme, dan tampilnya ekonomi pasar sebagai paradigma yang makin mendunia, disadari atau tidak, Pancasila berhadapan dengan tantangan-tantangan yang tidak bisa dianggap enteng.

Secara substantif tantangan-tantangan itu akan semakin berat karena pengamalan Pancasila melalui pembangunan yang berkelanjutan masih dalam proses untuk sampai pada suatu format yang dalam dirinya melekat daya tangkal terhadap ancaman, entah apa pun wujudnya dan dari mana pun datangnya.

SELAIN itu, untuk memasuki proses lepas landas dan pembangunan jangka panjang tahap II (PJPT II), kita semua menyadari kualitas manusia Indonesia harus ditingkatkan. Harus diakui pelaksanaan pembangunan selama PJPT telah meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Tetapi, bagi negara berkembang umumnya, termasuk Indonesia, era globalisasi yang ditunjang dan diisi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, membawa tantangan-tantangan di semua bidang yang kualitatif makin tinggi.

Oleh karena itu timbul pertanyaan, apakah upaya kita untuk meningkatkan kualitas manusia akan dapat menyalip kemajuan Iptek yang melaju pesat? Atau paling tidak, mensejajarinya sehingga kita tidak menjadi obyek kemajuan Iptek itu?

Kita ingin minta perhatian yang sungguh-sungguh mengenai hal ini. Sebab, jika upaya untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia hanya sampai batas yang menyebabkan kita tetap menjadi obyek kemajuan Iptek, dikhawatirkan kerisauan kita akan kehilangan jatidiri akan benar-benar menjadi kenyataan.

DALAM konteks itulah niat sangat mendasar apa yang diingatkan oleh Presiden Soeharto agar kita memelihara semangat membangun. Menurut hemat kita, untuk menanggapi pelbagai tantangan itu bangsa Indonesia tidak hanya perlu memelihara semangat membangun, tapi justru harus lebih memacunya sehingga dalam menanggapi tantangan-tantangan itu kita tidak terseret untuk kehilangan jatidiri.

Untuk itu, demokrasi Pancasila yang berdimensi demokrasi politik, demokrasi ekonomi, demokrasi sosial budaya memerlukan pemantapan format yang makin memadukan seluruh unsur kekuatan nasional. Dengan kepemimpinan nasional yang dilaksanakan oleh Presiden Soeharto selama ini, tantangan-tantangan itu betapapun beratnya akan dapat diatasi.

Sumber : SUARA KARYA (17/07/1992)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 583-585.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: