Mar 222018
 

Tajuk Rencana : EROPA YANG DIKUNJUNGI PRESIDEN ADALAH EROPA YANG SEDANG BERUBAH

 

 

Jakarta,Kompas

DUA kekhususan diberikan oleh Mensesneg Moerdiono kepada kunjungan kenegaraan Presiden dan Ny.Tien Soeharto ke Jerman. Ini kunjungan seorang presiden dari luar yang pertama ke negeri itu setelah bersatu sejak 3 Oktober 1990. Yang kedua, kunjungan berlangsung, ketika sedang terjadi perubahan besar di Jerman dan di Eropa Timur, yakni transformasi yang cepat dan mendasar dalam bidang politik dan ekonomi.

Kita bias menambahkan kekhususan yang lain.Misalnya, kunjungan dilakukan. Tatkala Eropa Baru dihadapkan pada pengalaman yang pahit, yakni pecahnya perang antara republik anggota federasi dengan pemerintahan federal Yugoslavia.

Kejadian di Yugoslavia mendramatisir perubahan mendasar dan cepat yang Bertempat di Eropa.

Dalam kaitan itu, kita cenderung mencatat apa yang tampil ketika Menlu Amerika Serikat James Baker berkunjung ke Albania, benteng terakhir system komunis di Eropa Timur. Ia, pejabat Amerika Serikat itu, dielu-elukan oleh massa seperti menyongsong datangnya dewi kemerdekaan dan kebebasan!

TENTU saja, ada kepentingan bilateral yang akan menjadi bahan pertemuan Presiden Soeharto dengan para pemimpin pemerintahan dan kalangan swasta Jerman.

Namun, jika justru pada momentum ini, Kepala Negara Republik Indonesia bertamu ke Jerman, memang konteks perubahan besar itulah yang lebih kuat gatingnya. Inilah kesempatan untuk sekali lagi mengamati transformasi serta dampaknya untuk Eropa, dunia dan bagian-bagian lain seperti Indonesia.

DALAM putaran perubahan itu, Jerman berada dijantungnya. Penyatuan kembali Jerman Barat dan Jerman Timur, diperkirakan makan waktu lebih lama. Dikhawatirkan, bagaimanapun juga. Uni Soviet akan memperlambatnya.

Ternyata perkiraan itu meleset. Penyatuan kembali ke Jerman lebih cepat dan lebih lancar dari perkiraan. Proses yang ternyata lebih lama dan lebih rumit, penyesuaian Jerman Timur kedalam system yang berlaku di Jerman Barat, tentara penyesuaian dalam bidang sosial ekonomi.

Kelancaran transformasi Negara-negara Eropa Timur kedalam system ekonomi pasar dan pemerintahan pluriform tidak sama. Penyesuaian politik lebih cepat dari penyesuaian ekonomi di Polandia, Cekoslowakia,Hongaria.

Akan lebih rumit bagaimana hubungan negara-negara Eropa Timur yang telah menjadi Negara demokrasi dan berekonomi pasar dengan Eropa Barat.

Integrasi Eropa Barat yang direncanakan berlaku akhir 1992 tidak memperkirakan akan harus menghadapi negara-negara Eropa Timur yang lepas dari Uni Soviet dan berpindah ke system social Barat dan masuk akal juga ingin menjadi bagian dari integrasi Eropa.

Pengalaman Yugoslavia sementara itu mengungkapkan suatu sikap waspada terhadap kemungkinan rapuh dan disintegrasi suatu entitas politik oleh kerawanan­kerawanan etnis. Latarbelakang semacam itu tidak hanya hadir di Yugoslavia.

Tujuan integrasi Eropa Barat untuk memperoleh keunggula ekonomi, perdagangan, ilmu dan teknologi dihadapkan pada tantangan dan permasalahan baru. Pada waktunya, perkembangan baru itu akan bias menjadi tambahan kekuatan, namun untuk sementara masih akan lebih merupakan keruwetan.

Tiga criteria muncul dari transformasi yang berlangsung di Eropa Timur. Dan setiap Negara yang menjalani pembahan, tampil dengan tiga criteria sistem ekonomi pasar, pemerintahan demokrasi yang dilambangkan dalam sistem politik pluriform-banyak partai serta hak-hak asasi manusia.

Kriteria itu dalam masyarakat Amerika Serikat bahkan telah menjadi semacam credo, suatu formulasi baru dari doktrin Amerika sejak berakhirnya Perang Dunia/hingga zaman sekarang.

AMATLAH diperhatikan, bagaimana Eropa Baru akan melihat dunia yang dekat maupun yang jauh. Kini, masuk akal, apabiIa mereka memusatkan perhatian ke Eropa Timur dan ke Uni Soviet. Apalagi setelah terbukti, peranan mereka efektif dalam melerai pertikaian di Eropa Timur. Hal itu terbukti dari muhibah yang berhasil dari 3 Menlu Eropa Barat ke Yugo minggu lalu.

Dalam kunjungannya di Jerman, Presiden Soeharto akan mengingatkan agar focus perhatian Eropa Barat ke Eropa Timur dan ke Uni Soviet, tidak menelantarkan atensi mereka kebagian-bagian dunia lainnya, termasuk Asia, Asia Tenggara, Indonesia. Kita akan juga mengingatkan agar Eropa Baru menjadi suatu entitas kekuatan politik,ekonomi, ilmu-teknologi dan kebudayaan yang bercerah sehingga bisa menemukan posisinya sendiri dan mengembangkan peranannya sendiri yang konstruktif.

Gejala keunggulan Jepang misalnya, jangan semata-mata ditinjau dari kompetisi dan potensi ancaman, namun agar juga dilihat, bahwa terhadap nilai-nilai umum yang menyangkut paham politik, ekonomi, ilmu dan teknologi, ternyata ikut berbicara kuat konteks nilai-nilai dan kebudayaan lokal.

Demikianlah, maka sikap menggurui apalagi yang arogan,tidaklah pada tempatnya. Yang lebih wajar ialah sikap saling belajar dan berbagi bersama.

UNTUK kita, Indonesia misalnya, apa yang setiap kali akan menjadi kesadaran baru dari perubahan-perubahan besar yang terjadi di Eropa Timur dan dibagian­-bagian dunia lainnya? Bahwa negara-negara itu, bahwa bagian-bagian dunia itu,berubah serta membuat langkah-langkah maju, tanpa lebih dulu bertanya atau menunggu kita. Dengan kata lain, kitapun harus melangkah maju, jika tidak ingin semakin ketinggalan.

Bahwa meskipun sarat oleh konteks lokal dan karena itu menunjukkan bentuk yang beragam, dimana-mana kekuatan yang lebih besar sekarang ialah emansipasi kemanusiaan, perluas, cakrawala, penguasaan dan pendalaman ilmu dan teknologi serta kita suka atau tidak suka,arusnya ekonomi pasar. (SA)

 

 

Sumber : KOMPAS(04/07/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 67-68.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: