Oct 082014
 

Kata Sambutan Presiden Soeharto Untuk Buku Turnamen Golf Pembinaan Tuna Netra

Kata Sambutan Presiden Soeharto untuk Buku Turnamen Golf Pembinaan Tuna Netra tanggal 15 Oktober 1995 di Jakarta. Naskah selengkapnya dikemukakan sebagai berikut:

Sep 162014
 

Kata Sambutan Presiden Soeharto Pada Turnamen Golf Tuna Netra

Kata Sambutan Presiden Soeharto pada Turnamen Golf Tuna Netra tanggal 22 Januari 1995 di Jakarta. Naskah selengkapnya dikemukakan sebagai berikut:

Oct 132013
 

Presiden Soeharto Menerima Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia)[1]

SENIN, 15 OKTOBER 1973 Pukul 11.00 pagi ini Presiden Soeharto menerima pengurus pusat Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia) di Istana Merdeka. Kunjungan mereka kepada Kepala Negara merupakan keputusan rapat pleno lengkap pengurus pusat Pertuni pertama tahun 1973, dan dilakukan dalam rangka Hmi Tongkat Putih Internasional yang jatuh pada tanggal 15 Oktober. Organisasi tunanetra nasional ini dipimpin oleh Wali Utama Moh. Ali Partokoesoemo, Wakil Wali Utama, Hr. Roebandhi, dan Sekretaris Umum, Anton Pratista Sastraningrat. (AFR).



[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 59. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta, Tahun 2003.

May 152013
 

Presiden Soeharto: Semua Warga Negara Berhak Mengenyam Hasil Perjuangan[1]

RABU, 5 Mei 1971, Pada jam 9.00 pagi ini Presiden Soeharto menerima kedatangan Menteri Luar Negeri Australia, LHE Bury, di Istana Merdeka. Hubungan ekonomi kedua negara merupakan pokok pembicaraan dalam pertemuan itu. Selain itu, Menteri Luar Negeri Bury menyampaikan undangan pemerintah Australia kepada Presiden Soeharto untuk dapat berkunjung ke Negeri Kangguru tersebut dalam tahun ini. Presiden Soeharto menerima baik undangan ini namun belum dapat menentukan waktu kunjungannya.

Sementara itu di tempat yang sama, pukul 12.00 siang, Presiden dan Ibu Tien Soeharto telah menerima sebanyak 40 orang tuna netra yang tergabung dalam Federasi Kesejahteraan Tuna Netra Indonesia. Mereka memohon kesediaan Presiden untuk menjadi pelindung organisasi tersebut. Presiden menyatakan kesediaannya, dan mengatakan bahwa sebagai Kepala Negara ia wajib melindungi semua organisasi yang tidak bertentangan dengan cita-cita perjuangan rakyat. Ia juga mengatakan bahwa semua warga negara Indonesia, baik yang lengkap panca inderanya maupun yang tidak, mempunyai hak yang sama dalam mengenyam hasil perjuangan rakyat, yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. (AFR)


[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, hal. 325.