Jul 152015
 

Wasiat Kebangsaan Presiden Soeharto (27): LINGKUNGAN

Pembangunan telah berjalan ratusan tahun di dunia ini. Tetapi baru pada permulaan tahun tujuh puluhan kita lihat dunia mulai sadar dan cemas akan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, sehingga mulai menanggapinya secara sungguh-sungguh sebagai masalah dunia. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 339

***

Dunia kita diciutkan semakin kecil oleh ilmu dan teknologi. Tetapi serentak dengan itu, ilmu dan teknologi telah menimbulkan pula masalah-masalah lingkungan buatan manusia—“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 341

***

MPR sebagai lembaga negara tertinggi yang memegang kedaulatan rakyat di negeri kita mengisyaratkan dalam GBHN supaya dilaksanakan pola pembangunan berwawasan lingkungan. Juga ditegaskan bahwa tujuan pembangunan jangka panjang kita adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan membangun seluruh masyarakat Indonesia. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 340

***

Permasalahan lingkungan dilahirkan oleh manusia sehingga perlu melibatkan manusia secara aktif dalam lingkungan dan meningkatkan dari perusak menjadi pembina lingkungan. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 341

***

Kerusakan sumber daya alam, terutama hutan dan daerah-daerah aliran sungai, bukan saja harus kita cegah, melainkan harus kita kembalikan fungsinya dan kita lestarikan —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 341

***

Kita memiliki tanggung jawab untuk memelihara kelestarian alam yang telah diamanatkan Tuhan kepada kita. Kita tidak boleh melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan kerusakan di muka bumi (Presiden Soeharto, Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 10 Juni 1996)

***

Jul 152015
 

Wasiat Kebangsaan Presiden Soeharto (26): KOMUNIS/PKI & KELOMPOK EKSTRIM

Dikumpulkan Kembali Oleh: Abdul Rohman

Pada kesempatan berdialog, Bung Karno menegaskan “Har, saya ini sudah diakui sebagai pemimpin dunia, konsep Nasakom sudah saya jual kepada bangsa-bangsa di dunia ini. Sekarang saya harus membubarkan PKI, di mana, Har, saya harus menyembunyikan muka saya.” Dengan tenang dan hormat tetapi sungguh-sungguh saya menjawab, “Pak, kalau masalahnya untuk konsumsi dunia luar, gampang, jadikan saya bumper, saya yang akan membubarkan PKI, bukan Bapak, tetapi ke dalam negeri Bapak harus ngegongi (menyetujui).” —Presiden Soeharto

***

Kita menumpas pemberontakan G.30.S/PKI bukan karena alasan-alasan balas dendam, melainkan karena alasan-alasan prinsipil. Tujuan kita yang utama ialah menyelamatkan Pancasila —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 342

***

Kita menghendaki dan melarang partai komunis di bumi Indonesia, karena PKI telah dua kali memberontak dan bertujuan mengubah Pancasila dengan kekerasan—Presiden Soeharto

***

Penyelesaian tahanan PKI kita lakukan sesuai dengan kebesaran jiwa Pancasila, dengan tetap memperhatikan keamanan nasional dan berdasarkan hukum. Mereka yang nyata-nyata tidak bersalah dan dapat kita bawa kembali menjadi warganegara Pancasilais, harus kita terima kembali dalam masyarakat —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 342

***

Terhadap siapa pun yang akan mengembalikan PKI di Indonesia, alat-alat negara akan bertindak dengan tegas —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 343

***

Sekali lagi, setelah sekian banyak kali, saya menyerukan agar kita hati-hati dengan paham-paham yang ekstrim, yang ekstrim kiri dan yang ekstrim kanan. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya

***

Hati-hati dengan pengaruh-pengaruh yang datang dari luar! Kita tidak menginginkan yang lain selain daripada Pancasila dan UUD’45 —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 370

***

Melaksanakan keyakinan dan syariat agama yang dianutnya, tentunya boleh saja. Tetapi jangan sekali-kali menghasut rakyat untuk memberontak. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 406

***

Paham Komunisme bertentangan dengan dasar-dasar Pancasila, harus kita larang penyebarannya dalam masyarakat (Presiden Soeharto, Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 1967)

***

Keseluruhan konsep dasar dan cara-cara mencapai masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila, yaitu masyarakat Indonesia yang berkeadilan sosial, berlainan sama sekali dengan konsep PKI yang berdasarkan komunis (Presiden Soeharto, Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 1967)

***

Pemberontakan PKI yang kedua kalinya, tanggal 1 Oktober 1965, pada hakekatnya adalah pemberontakan terhadap prinsip-prinsip dasar kita Pancasila. Merupakan permulaan babak akhir dari rangkaian usaha PKI mengkhianati, merombak dan akhirnya menghancurkan Pancasila itu sendiri(Presiden Soeharto, Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 1967)

***

Jul 142015
 

Wasiat Kebangsaan Presiden Soeharto (25): ASEAN

Dikumpulkan Kembali Oleh: Abdul Rohman

 

ASEAN secara bersama-sama ingin menyumbangkan peranannya dalam usaha besar menciptakan dunia yang lebih baik, lebih adil dan lebih berperikemanusiaan bagi seluruh umat manusia di bumi kita yang satu ini —Presiden Soeharto

***

ASEAN yang kita cita-citakan, harus mampu mengurus dan menentukan masa depannya sendiri dan (negara anggotanya) memiliki ketahanan nasional. Ketahanan nasional mutlak agar kita mampu dengan selamat melampaui masa-masa yang sulit dalam perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat kita, juga perubahan­perubahan yang terjadi di dunia. —Presiden Soeharto

***

ASEAN telah tumbuh sebagai suatu kekuatan sosial ekonomi potensial di kawasan. Kenyataan ini memberikan kesempatan kepada ASEAN untuk memberi sumbangan kepada perkembangan ekonomi dunia yang lebih membahagiakan semua orang—Presiden Soeharto, Sidang Tahunan ke-17, Menlu ASEAN, 9-07-1984

***

Jul 052015
 

Wasiat Kebangsaan Presiden Soeharto (24): POLITIK LUAR NEGERI

Dikumpulkan Kembali Oleh: Abdul Rohman

 

Jangan kita lupakan bahwa Pembukaan UUD ’45 memberi amanat kepada kita untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia, yangg berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial —Presiden Soeharto, Sarasehan Kebangsaan, 09-05-1994

***

Sementara kita sibuk degan mengatur rumah tangga sendiri dan memajukan pembangunan, perhatian kita tidak boleh lepas dari perkembangan dunia —Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 1980

***

Dunia serba tidak menentu, penuh tantangan & segala kemungkinan. Mengharuskan kita waspada, perkuat ke dalam & perkokoh ketahanan nasional —Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 1980

***

Indonesia lebih suka menamakan politik luar negerinya “bebas dan aktif”, karena bagi Indonesia non-alignment bukanlah suatu politik yang steril, mati, ataupun bertopang dagu. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:480

***

Sejak semula politik luar negeri Indonesia adalah bebas dan aktif yang menolak adanya pakta-pakta militer—“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:480

***

Bagi Indonesia, politik luar negeri non­alignment, tidak sama dengan non-involvement. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:480

***

Non-alignment Indonesia bukanlah didasarkan pada prinsip oportunitas, tetapi telah merupakan sebagian dari identitas bangsa dan negara Indonesia —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:332

***

Indonesia melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif dengan tepat, dinamis dan berinisiatif serta tetap tidak menggantungkan diri kepada negara mana pun di dunia ini —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:479-480

***

Berdasarkan politik luar negeri yang bebas aktif itu, kita lakukan apa yang kita anggap baik tanpa begitu saja mengekor apa yang dilakukan negara lain —Presiden Soeharto

***

Moral Pancasilalah yang membimbing politik luar negeri kita yang bebas aktif itu. —Presiden Soeharto

***

Dunia yang lebih aman, damai, adil dan makmur merupakan tujuan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, —Presiden Soeharto, menerima surat kepercayaan dari Duta Besar Trinidad, 19-04-1980

***

Pelaksanaan politik luar negeri hanya akan sukses jika ada dukungan dari keberhasilan kita di dalam negeri. Dan keberhasilan di dalam negeri itu terutama tergantung pada keberhasilan kita didalam melaksanakan pembangunan untuk meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan rakyat, —Presiden Soeharto, Pelantikan Para Duta Besar, 13-04-1983

***

Dengan keteguhan menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, Indonesia menggunakan setiap kesempatan untuk maju dalam usaha menciptakan perdamaian dunia antara bangsa-bangsa, khususnya perdamaian dan ketertiban regional Asia Tenggara —Presiden Soeharto

***

Dengan bangsa-bangsa di dunia kita berpegangan pada prinsip “hidup berdampingan secara damai”. Saling menghormati kedaulatan masing, tidak mencampuri urusan dalam negeri, dan kerjasama yang saling menguntungkan —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:418

***

Perbedaan dalam sistem ekonomi dan politik saya kira tidak apa-apa, asal kita saling menghormati kedaulatan dalam negeri masing-masing dan berupaya mengusahakan kerjasama yang saling menguntungkan, tanpa turut campur urusan dalam negeri masing-masing. —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:418

***

Mencari perdamaian (dalam politik luar negeri) itu harus dijauhkan adanya sikap konfrontasi, karena sikap itu bukan saja tidak akan menghasilkan apa yang kita harapkan, malahan akan mendatangkan salah pengertian dan bencana —Presiden Soeharto

***

Kerjama sama luar negeri saling menguntungkan (yang) harus kita pegang teguh. (Kerjasama luar negeri) tidak (boleh) mencampuri urusan rumah tangga kita, apalagi mengorbankan kedaulatan bangsa —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 238-239

***

Indonesia mencurahkan usaha keras mendorong terciptanya landasan bagi terwujudnya “tata ekonomi dunia baru” —Presiden Soeharto

***

Membangun tata dunia baru yang adil dan saling menguntungkan bukanlah (hanya untuk) kepentingan negara-negara sedang membangun saja. Akan tetapi juga (untuk) kepentingan negara-negara industri maju sendiri. Lebih dari itu, (tata ekonomi dunia baru yang lebih adil) adalah kepentingan semua umat manusia demi keselamatan bersama. —Presiden Soeharto

***

Negara-negara maju mempunyai tanggungjawab dan kemampuan untuk memberikan kesempatan kepada negara-negara yang sedang membangun untuk maju dalam rangka menggalakkan pembangunan ekonomi dunia yang lebih adil dan merata—“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 4

***

Daripada kemampuan dan modal yang besar yang tersedia (di negara-negara maju) digunakan untuk adu kekuatan senjata yang menjerumuskan kehidupan dan kemanusian ke dalam kesengsaraan dan penderitaan, lebih baik dipergunakan untuk memenuhi tanggung jawab itu (memajukan negara-negara berkembang). Dengan begitu, akan dapatlah terwujud satu tata hubungan dan kerjasama internasional yang mendatangkan keadilan sosial yang merata di seluruh dunia, tujuan yang menjadi idam-idaman kita semua, idam-idaman umat manusia. —Presiden Soeharto

***

Sangat dibutuhkan timbulnya suatu pandangan baru dalam kerjasama ekonomi internasional. Yaitu didasarkan pada pengakmin bahwa dalam dunia yang saling bergantung, harus ada pembagian yang adil. Tidak saja dari beban-beban yang harus dipikul, tetapi juga dari basil pembangunan global. Hal ini hanya dapat dicapai jika lembaga-lembaga internasional dapat bekerja secara merata dan dengan demokratisasi hubungan-hubungan antar-negara —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989: 485

***

Politik luar negeri yang bebas dan aktif harus kita abdikan kepada kepentingan nasional, yaitu pelaksanaan pembangunan secara bertahap yang harus dapat meningkatkan kesejahteraan kita bersama (Pelantikan Duta Besar, 24 Februari 1979)

***

Politik luar negeri yang bebas dan aktif itulah yang akan membimbing kita untuk memantapkan kemerdekaan nasional kita, yaitu: merdeka di lapangan politik dan merdeka di lapangan ekonomi (Pelantikan Duta Besar, 11 April 1981)

***

Usaha memperkuat perdamaian dunia harus disertai dengan perjuangan menjembatani jurang pemisah antara negara maju dan negara yang sedang membangun (Presiden Soeharto, Pelantikan Duta Besar, 27 Oktober 1984)

***

Seorang duta besar tidak hanya mewakili bangsa, melainkan menterjemahkan kepribadian Indonesia, menggambarkan cita-cita dan aspirasi rakyat Indonesia, sehingga dikenal dan dipahami oleh rakyat dan negara dimana ia ditempatkan (Presiden Soeharto, Pelantikan Duta Besar, 7 April 1974)

***

Dalam dunia yang bergerak dengan penuh dinamika, maka seorang duta besar harus menjalankan tugasnya dengan penuh dinamika pula. Jika tidak, maka dia akan gagal (Presiden Soeharto, Pelantikan Duta Besar, 27 Juli 1974)

***

Diplomasi yang dijalankan Indonesia senafas dengan pola dan tata krama diplomasi internasional; dibekali dengan keteguhan hati dan kepercayaan pada diri sendiri, dan tidak bersikap “gagah-gagahan” atau “radikal-radikalan”. Kita harus mampu melakukan diplomasi yang aktif dan dinamis (Presiden Soeharto, Raker Deplu, 3 Maret 1977)

***

Tata internasional baru untuk perdamaian yang lebih langgeng, keadilan sosial dan kemakmuran bersama tidak akan tercapai jika PBB tidak segera disesuaikan dengan perkembangan zaman (Presiden Soeharto, KTT ASEAN, 14 Desember 1995)

***

Jul 052015
 

Wasiat Kebangsaan Presiden Soeharto (23): NASIONALISME

Dikumpulkan Kembali Oleh: Abdul Rohman

 

 

Tradisi gerakan perjuangan dan semangat kebangsaan dalam pergerakan nasional waktu dulu harus tetap dipelihara (oleh generasi hari ini dan yang akan datang) —Presiden Soeharto

***

Mengenai rasa kebangsaan, kita harus bangga menjadi bangsa Indonesia. Kalau kita sudah bangga menjadi bangsa Indonesia, maka menempatkan kepentingan bangsa itu harus di atas segala-galanya, di atas kepentingan pribadi, di atas kepentingan golongan, di atas kepentingan masyarakat. Yang berarti pula, kita harus mengorbankan kepentingan pribadi, kepentingan golongan, bahkan keluarga dan masyarakat, semata-mata untuk memenuhi kepentingan bangsa Indonesia, —Presiden Soeharto, Pidato Pembekalan Anggota DPR, 9-08-1997

***

Tiap-tiap generasi dari bangsa pejuang mempunyai masalah dan tantangan perjuangan tersendiri. Jawabannya pun berlain-lainan —Presiden Soeharto

***

Sebagai bangsa (baru merdeka), kita tergolong bangsa yang muda. Namun, sebetulnya kita adalah bangsa yang mempunyai kebudayaan yang tua. Bukan kebudayaan yang kuno! Tidak !. Tetapi, kebudayaan yang tua. Kuno sama tua itu lain. Sudah beradab-abad kita miliki peradaban yang tidak kalah dengan peradaban dari bangsa-bangsa lain —Presiden Soeharto, Pidato Pembekalan Anggota DPR, 9-08-1997

***

Rasa bangga atas kebangsaan itu dengan sendirinya akan memperkuat turut handerbeni (memiliki) Republik Indonesia. Dengan sendirinya juga akan turut hangrungkebi (membela) Republik Indonesia itu —Presiden Soeharto, Pidato Pembekalan Anggota DPR, 9-08-1997

***

Menghadapi masa-masa sulit tidak boleh membuat kita kehilangan wawasan strategis jangka panjang. —Presiden Soeharto

***

Sebagai pejuang kita harus melihat masa-masa sulit sebagai tantangan perjuangan yang harus dapat kita tundukkan. —Presiden Soeharto

***

Persatuan dan kesatuan harus tetap menjiwai perjuangan (bangsa) kita —Presiden Soeharto, Pidato Pembekalan Anggota DPR, 9-08-1997

***

Dengan semangat sebagai pejuang, dengan persatuan yang kukuh dan dengan kerja keras sekuat tenaga, kita pasti akan berhasil mengatasi masalah-masalah dan tantangan-tantangan yang akan kita hadapi. —Presiden Soeharto

***

Jul 052015
 

Wasiat Kebangsaan Presiden Soeharto (22): WAWASAN NUSANTARA

Dikumpulkan Kembali Oleh: Abdul Rohman

Wawasan Nusantara menekankan pada prinsip kesatuan wilayah, bangsa dan negara yang memandang Indonesia sebagai suatu kesatuan yang meliputi tanah (darat) dan air (laut) secara tidak terpisahkan —“Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989:321

***

Setiap negara yang berdaulat berhak dan berkewajiban untuk mengambil tindakan¬-tindakan yang dipandangnya perlu untuk melindungi keutuhan dan keselamatan negaranya —Presiden Soeharto

***

Jun 152015
 

Presiden Soeharto Menerima Laporan Peningkatan Penanaman Modal[1]

KAMIS, 14 JANUARI 1982 Setelah menghadap Kepala Negara untuk memberikan laporan tentang situasi penanaman modal pada tahun 1981 dan perkiraan penanaman modal tahun 1982, Ketua BKPM, Ir. Soehartojo, mengemukakan bahwa jumlah penanaman modal di Indonesia dalam tahun 1982 ini naik 60% daripada tahun 1981. Dikatakannya bahwa perkiraan yang optimis ini didasarkan pada usaha BKPM untuk mengembangkan dan menawarkan beberapa proyek. (AFR)

____________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 517-518. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 152015
 

Menkop Bustanil Arifin Laporkan Harga Kebutuhan Pokok Stabil Pasca Kenaikan BBM[1]

 

RABU, 13 JANUARI 1982 Kepala Bulog, Bustanil Arifin, menghadap Kepala Negara di Istana Merdeka pagi ini. Ia datang untuk memberi laporan kepada Presiden mengenai pengaruh kenaikan BBM terhadap harga bahan pokok. Usai menghadap, ia mengatakan bahwa harga bahan kebutuhan pokok terutama beras, gula, terigu dan kedelai, tidak akan melonjak. Ada kenaikan, tetapi hanya sebesar 1%, yaitu sebagai akibat naiknya harga BBM. (AFR)

___________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 517. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 152015
 

Menerima Dubes Yugoslavia, Presiden Soeharto: Kesejahteraan Negara-Negara Non Blok Sumbang Perdamaian Dunia[1]

RABU, 13 JANUARI 1982 Pukul 10.00 pagi ini, bertempat di Istana Merdeka, Presiden Soeharto menerima surat kepercayaan Duta Besar Yugoslavia, Miodrag Trajkovic. Membalas pidato Duta Besar Trajkovic, Kepala Negara mengatakan bahwa jikalau negara-negara Non Blok dapat membangun dirinya, dapat maju dan hidup sejahtera, maka jelas keadaan itu merupakan sumbangan yang sangat berarti bagi perdamaian dunia dan cita-cita seluruh umat manusia. Karena itu, kendatipun kewaspadaan dewasa ini memang perlu kita tujukan pada bahaya ketegangan dunia, namun perhatian kita sama sekali tidak boleh beralih dari tugas yang sangat besar, ialah membangun bangsa-bangsa tadi. Dalam rangka itulah, kata Presiden, kedua negara perlu terus menjajagi kemungkinan untuk meningkatkan hubungan dan kerjasama ekonomi dan pembangunan, kerjasama teknik dan kebudayaan. (AFR)

 

_________________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 517. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 112015
 

Presiden Soeharto Serahkan Bantuan Kendaraan Untuk Ketiga Organisasi Politik[1]

 

SENIN, 11 JANUARI 1982 Pukul 10.00 pagi ini, Presiden Soeharto menyerahkan sumbangan dana dan kendaraan kepada ketiga organisasi politik yang akan menjadi kontestan dalam pemilihan umum yang akan datang. Dalam penyerahan yang berlangsung secara simbolis di Bina Graha itu, Kepala Negara menyerahkan masing-masing 15 mobil dan uang Rp 200 juta kepada PPP, Golkar, dan PDI. (AFR)

__________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 516-517. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003