Jun 152015
 

Presiden Soeharto Menerima Laporan Peningkatan Penanaman Modal[1]

KAMIS, 14 JANUARI 1982 Setelah menghadap Kepala Negara untuk memberikan laporan tentang situasi penanaman modal pada tahun 1981 dan perkiraan penanaman modal tahun 1982, Ketua BKPM, Ir. Soehartojo, mengemukakan bahwa jumlah penanaman modal di Indonesia dalam tahun 1982 ini naik 60% daripada tahun 1981. Dikatakannya bahwa perkiraan yang optimis ini didasarkan pada usaha BKPM untuk mengembangkan dan menawarkan beberapa proyek. (AFR)

____________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 517-518. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 152015
 

Menkop Bustanil Arifin Laporkan Harga Kebutuhan Pokok Stabil Pasca Kenaikan BBM[1]

 

RABU, 13 JANUARI 1982 Kepala Bulog, Bustanil Arifin, menghadap Kepala Negara di Istana Merdeka pagi ini. Ia datang untuk memberi laporan kepada Presiden mengenai pengaruh kenaikan BBM terhadap harga bahan pokok. Usai menghadap, ia mengatakan bahwa harga bahan kebutuhan pokok terutama beras, gula, terigu dan kedelai, tidak akan melonjak. Ada kenaikan, tetapi hanya sebesar 1%, yaitu sebagai akibat naiknya harga BBM. (AFR)

___________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 517. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 152015
 

Menerima Dubes Yugoslavia, Presiden Soeharto: Kesejahteraan Negara-Negara Non Blok Sumbang Perdamaian Dunia[1]

RABU, 13 JANUARI 1982 Pukul 10.00 pagi ini, bertempat di Istana Merdeka, Presiden Soeharto menerima surat kepercayaan Duta Besar Yugoslavia, Miodrag Trajkovic. Membalas pidato Duta Besar Trajkovic, Kepala Negara mengatakan bahwa jikalau negara-negara Non Blok dapat membangun dirinya, dapat maju dan hidup sejahtera, maka jelas keadaan itu merupakan sumbangan yang sangat berarti bagi perdamaian dunia dan cita-cita seluruh umat manusia. Karena itu, kendatipun kewaspadaan dewasa ini memang perlu kita tujukan pada bahaya ketegangan dunia, namun perhatian kita sama sekali tidak boleh beralih dari tugas yang sangat besar, ialah membangun bangsa-bangsa tadi. Dalam rangka itulah, kata Presiden, kedua negara perlu terus menjajagi kemungkinan untuk meningkatkan hubungan dan kerjasama ekonomi dan pembangunan, kerjasama teknik dan kebudayaan. (AFR)

 

_________________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 517. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 112015
 

Presiden Soeharto Serahkan Bantuan Kendaraan Untuk Ketiga Organisasi Politik[1]

 

SENIN, 11 JANUARI 1982 Pukul 10.00 pagi ini, Presiden Soeharto menyerahkan sumbangan dana dan kendaraan kepada ketiga organisasi politik yang akan menjadi kontestan dalam pemilihan umum yang akan datang. Dalam penyerahan yang berlangsung secara simbolis di Bina Graha itu, Kepala Negara menyerahkan masing-masing 15 mobil dan uang Rp 200 juta kepada PPP, Golkar, dan PDI. (AFR)

__________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 516-517. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 112015
 

Buka Raker Humas, Presiden Soeharto Minta Aparat Penerangan Kembangkan Sikap Keterbukaan[1]

SENIN, 11 JANUARI 1982 Pukul 09.00 pagi ini Presiden Soeharto membuka Rapat Kerja Kepala Humas Pemerintah Daerah dan Unsur Penerangan Departemen Penerangan seluruh Indonesia yang berlangsung di Balai Sidang, Jakarta. Dalam kata sambutannya, Kepala Negara meminta agar semua aparatur penerangan dan kehumasan mengembangkan sikap keterbukaan. Jelaskanlah kepada masyarakat apa-apa yang perlu diketahui agar mereka mengerti duduk persoalan yang sebenarnya. Dengan demikian rakyat pasti ikut memikul tanggungjawab bersama untuk mengatasi kesulitan dan dengan sadar mau bertahan dan merasakan kepahitan. Demikian kata Presiden. (AFR)

_______________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 516-517. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 112015
 

Presiden Soeharto: Pembangunan Agama Bagian Tak Terpisahkan dari Pembangunan Nasional[1]

 

KAMIS, 7 JANUARI 1982 Presiden dan Ibu Soeharto malam ini menghadiri peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW yang diadakan di Istana Negara. Dalam amanatnya, Presiden mengatakan bahwa kita menyadari sepenuhnya bahwa agama merupakan unsur yang penting bagi kehidupan bangsa kita. Karena itu dengan sadar kita menempatkan pembangunan kehidupan beragama sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam kerangka pembangunan nasional. Adalah tantangan bagi kita semua untuk selalu meningkatkan kehidupan beragama, sehingga masyarakat kita mempunyai ketahanan mental spiritual yang tangguh. Lebih dari itu, dengan peningkatan kesadaran beragama kita mengharapkan makin meningkat pula kepekaan moral dan kepekaan sosial bangsa kita.

Ditambahkan oleh Kepala Negara bahwa dengan meningkatnya kehidupan keagamaan, kita harapkan pembangunan bangsa kita mempunyai landasan rohani yang mantap untuk mewujudkan cita-cita nasional bangsa kita, yaitu masyarakat adil dan makmur, lahir maupun batin. Salah satu aspek dari keberagamaan kita adalah kesadaran kita untuk selalu mensyukuri karunia dan anugrah Tuhan yang kita peroleh. Diantara hasil usaha kita yang wajib kita syukuri adalah hasil-hasil pembangunan yang kita capai selama ini. (AFR)

____________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 516. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 112015
 

Presiden Soeharto Sampaikan Nota Keuangan Tahun 1982/1983[1]

 

SELASA, 5 JANUARI 1982 Pukul 10.00 pagi ini Presiden Soeharto menyampaikan Keterangan Pemerintah tentang RAPBN Tahun 1982/1983 didepan sidang pleno terbuka DPR. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto mengatakan bahwa Pemerintah tetap berpegang teguh pada prinsip APBN berimbang yang dinamis. Pemerintah memperhitungkan bahwa penerimaan dan pengeluaran akan dapat berimbang pada jumlah lebih dari Rp 15,6 triliun. Ini berarti APBN 1982/1983, mengalami kenaikan lebih dari 12% jika dibandingkan dengan anggaran tahun lalu. Dari jumlah tersebut, Rp13,75 triliun berasal dari penerimaan dalam negeri, sedangkan sejumlah Rp 1,85 triliun berasal dari penerimaan pembangunan dari luar negeri. Penerimaan dalam negeri itu naik 12,1% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sedangkan penerimaan pembangunan naik 13,8%.

Selanjutnya dikatakan bahwa pengeluaran rutin direncanakan akan berjumlah Rp 7 triliun lebih sedikit, yang berarti turun 6,7% jika dibandingkan dengan pengeluaran rutin dalam APBN sekarang. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan subsidi-subsidi, termasuk subsidi BBM. Dengan pengeluaran rutin yang lebih efisien itu, maka kita akan memperoleh tabungan Pemerintah sebesar Rp 6,78 triliun, 40% lebih tinggi jika dibandingkan dengan keadaan dalam APBN sekarang. Ditambah dengan penerimaan pembangunan yang bersumber dari luar negeri sebesar Rp 1,82 triliun, maka keseluruhan anggaran pembangunan akan mencapai Rp 8,6 triliun lebih; ini berarti suatu kenaikan sebesar 34,5%. Dengan demikian dalam RAPBN tahun 1982/1983 nanti anggaran pembangunan akcin lebih besar daripada anggaran rutin.

Demikian gambaran Kepala Negara mengenai pokok-pokok RABPN 1982/1983. (AFR)

 ________________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 515-516. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 112015
 

Kumpulkan Pejabat Tinggi, Presiden Soeharto Instruksikan Cegah Kelangkaan Barang Akibat Kenaikan BBM[1]

 

SENIN, 4 JANUARI 1982 Selama hampir satu jam pagi ini di Cendana, Presiden Soeharto mengadakan pertemuan dengan sejumlah menteri dan pejabat tinggi. Menteri-menteri yang hadir dalam pertemuan itu adalah Menko Ekuin, Menteri PAN/Wakil Ketua Bappenas, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Pertambangan dan Energi, dan Menteri/Sekretaris Negara. Para pejabat tinggi yang ikut hadir adalah Sekretaris Kabinet, Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan, dan Direktur Utama Pertamina.

Usai pertemuan itu, Menteri/Sekretaris Kabinet, Sudharmono, mengatakan bahwa menyusul kenaikan harga BBM, maka tarif listrik dan angkutan akan mengalami kenaikan dalam bulan ini juga. Dikatakannya pula bahwa dalam pertemuan itu, Presiden juga menginstruksikan kepada semua instansi, khususnya yang menangani distribusi barang-barang supaya menjaga jangan sampai terjadi kekurangan barang-barang, baik BBM atau bahan pokok lainnya, di pasaran. (AFR)

______________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 515. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 112015
 

Pemerintah Umumkan Kenaikan Harga BBM[1]

 

SENIN, 4 JANUARI 1982 Mulai pukul 00.00 hari ini, Pemerintah memberlakukan harga baru BBM di dalam negeri. Melalui Keputusan Presiden No. 1/1982, ditetapkan bahwa pemerintah memutuskan menaikkan harga jual BBM di dalam negeri yang berlaku mulai jam 00.00 tanggal 4 Januari 1982. Latar belakang dinaikkannya harga BBM menurut Menteri Subroto adalah untuk mengalihkan sebagian biaya subsidi BBM kepada biaya pelaksanaan pembangunan. Sebab dalam APBN sebelumnya terdapat beban yang sangat berat karena jumlah subsidi yang besar untuk BBM. Untuk mengurangi besarnya subsidi BBM itu, maka pemakai BBM agar turut memikul beban pembangunan bersama-sama demi memperlancar pembangunan. (AFR)

________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 515. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jun 102015
 

Presiden Soeharto Sampaikan Belasungkawa Kepada Keluarga Korban Musibah Tampomas II[1]

 

SELASA, 27 JANUARI 1981 Malam ini Menteri Perhubungan, Rusmin Nuryadin, melaporkan tentang musibah yang menimpa kapal Tampomas II di perairan Masalembo kepada Presiden Soeharto di Cendana.

Sehubungan dengan peristiwa itu, melalui Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono, hari ini Presiden atas nama pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia turut bersedih atas musibah tenggelamnya KM Tampomas II, dan menyampaikan rasa belasungkawa yang sebesar-besarnya kepada keluarga para korban yang meninggal. (AFR)

__________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 390. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003