Apr 302015
 

Lantik 14 Dubes, Presiden Soeharto Tekankan Peningkatan Ekspor Non Migas[1]

SENIN, 31 AGUSTUS 1987 Empat belas duta besar dilantik oleh Presiden Soeharto dalam suatu upacara pagi ini di Istana Negara. Keempatbelas duta besar itu adalah Mayjen. (Purn.) Nasrun Syahrun untuk Turki, Marsda. Rusman untuk Australia, Drs KH. Pudjiwinarto untuk Tunisia, A Kobir Sasradipoera MA untuk Bulgaria, HR Enap Suratman untuk Cekoslowakia, Rony H Kurniadi untuk Vatikan, Letjen. (Purn.) Yogi Supardi untuk Jepang, Drs Suwarno Danusutejo untuk Brazil merangkap Peru, Bolivia, dan Columbia, Teuku Mochtar Thajeb untuk Ethiopia, Drs Yudo Sumbono untuk Venezuela merangkap Trinidad dan Tobago, David Napitupulu untuk Mexico dan Kuba, Sanadji untuk Korea Utara, Ambiar Tamala untuk Polandia, dan Drs Rachadi Iskandar untuk Italia merangkap Malta.

Dalam amanatnya, Kepala Negara antara lain mengatakan bahwa untuk mampu melanjutkan pembangunan, kita harus berhasil dalam mengambil langkah-langkah yang telah kita tetapkan, seperti peningkatan ekspor non-migas, peningkatan arus wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, dan menarik penanaman modal. Oleh sebab itu Presiden Soeharto meminta agar para duta besar dalam melaksanakan tugasnya juga harus aktif berusaha mengembangkan kerjasama ekonomi dengan negara-negara tempat mereka bertugas, khususnya dalam menarik modal, meningkatkan ekspor non-migas, dan meningkatkan arus wisatawan. (AFR)

_______________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 641. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 302015
 

Presiden Soeharto Menerima “Jam Kependudukan” dari PBB[1]

SENIN, 31 AGUSTUS 1987 Pagi ini di Istana Merdeka, Presiden Soeharto menerima penghargaan dari Dana PBB untuk Kependudukan (UNFPA) berupa “Jam Kependudukan”. Direktur Program UNFPA yang berkedudukan di New York, Joseph van Arendonk menyerahkan penghargaan tersebut sebagai rasa terimakasih atas partisipasi Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto dalam peringatan kelahiran bayi kelima miliar pada tanggal 11 Juli 1987. Selain itu penghargaan tersebut diberikan juga atas dasar partisipasi Presiden Soeharto dalam acara film televisi internasional yang berjudul “The day of the Five Billions“. (AFR)

_______________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 641. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 302015
 

Buka Pekan Kerajinan, Presiden Soeharto: Mutu Barang Kerajinan Harus Ditingkatkan[1]

JUM’AT, 29 AGUSTUS 1987 Salah satu tantangan yang harus kita jawab adalah bagaimana kita dapat meningkatkan mutu barang-barang kerajinan, sehingga dapat memberikan sumbangan pada kegiatan pembangunan. Malahan kita harus berusaha sekuat tenaga agar barang-barang kerajinan kita itu menarik minat wisatawan yang datang kemari dan juga harus kita usahakan agar dapat memasuki pasaran dunia. Jika ekspor barang-barang kerajinan itu dapat kita tingkatkan, maka hal itu merupakan langkah penting dalam keseluruhan usaha kita untuk memperbesar ekspor non-migas yang dalam tahun-tahun yang akan datang harus mendapat perhatian kita yang sebesar-besarnya.

Demikian dikatakan Presiden Soeharto ketika pagi ini membuka Pekan Kerajian Indonesia 1987 di Sasono Langen Budoyo, TMII. (AFR)

_____________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 640. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 302015
 

Hadiri Munas Istri Purnawirawan, Presiden Soeharto: Tradisi Sebagai Bangsa Pejuang Harus Dihidup-Hidupkan[1]

RABU, 26 AGUSTUS 1987 Presiden dan Ibu Soeharto pagi ini menghadiri pertemuan silaturahmi dengan para peserta Musyawarah Nasional VI Persatuan Isteri Purnawirawan ABRI (Persip) yang berlangsung di TMII.

Dalam sambutannya, Kepala Negara antara lain mengatakan bahwa agar kita berhasil dan selamat dalam melampaui tahapan pembangunan yang menentukan di tahun-tahun yang akan datang, maka kita perlu terus memperbaharui semangat sebagai bangsa pejuang. Tradisi sebagai bangsa pejuang inilah yang harus terus kita hidup-hidupkan dalam menghadapi tantangan-tantangan dan ujian ujian pembangunan yang terbentang di hadapan kita. Pengalaman perjuangan bangsa kita menunjukkan bahwa dengan bermodalkan semangat juang yang tinggi, kita berhasil merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kita pun yakin bahwa dengan semangat juang yang tinggi, maka kita pasti akan dapat melanjutkan pembangunan dalam tahap-tahap yang akan datang.

Selanjutnya dikatakan Kepala Negara bahwa sebagai isteri purnawirawan ABRI, tentunya tidak sulit bagi para peserta anggota Perip untuk ikut menghidup-hidupkan semangat perjuangan dalam masyarakat kita. (AFR)

____________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 640. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 302015
 

Menerima Abdul Gafur, Presiden Soeharto: Pilih Pimpinan KNPI yang Terjamin Idiologinya Terhadap Pancasila [1]

SENIN, 24 AGUSTUS 1987 Selama setengah jam pagi ini, pada pukul 11.00, Presiden Soeharto menerima Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Abdul Gafur, di Istana Merdeka. Abdul Gafur menghadap Presiden untuk melaporkan tentang kongres KNPI yang akan berlangsung pada bulan Oktober yang akan datang.

Pada kesempatan itu Kepala Negara meminta agar pimpinan KNPI untuk periode yang akan datang dipilih diantara tokoh dan kader pemuda yang betul-betul terjamin pandangan ideologinya terhadap Pancasila. Tetapi diingatkannya agar pemilihan pimpinan KNPI benar-benar berlangsung secara demokratis. (AFR)

___________________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 638-639. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 302015
 

Buka Konferensi International Council on Social Welfare, Presiden Soeharto: Kepuasan Lahiriah Saja Tidak Cukup [1]

SENIN, 24 AGUSTUS 1987 Pukul 10.00 pagi ini, bertempat di Istana Negara, Presiden Soeharto membuka konferensi regional International Council on Social Welfare (ICSW) untuk kawasan Asia dan Pasifik Barat.

Dalam kata sambutannya, Kepala Negara mengatakan bahwa kesejahteraan yang diinginkan Indonesia bukanlah kesejahteraan lahiriah semata-mata. Juga bukan hanya kesejahteraan rohani belaka. Kesejahteraan yang diimpi-impikan adalah kesejahteraan jasmani yang seimbang dengan kepuasan rohani. Karena itulah, demikian Presiden, maka dalam melaksanakan pembangunan, Indonesia tidak saja berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lahiriah masyarakat saja, melainkan juga berusaha untuk dapat memuaskan tuntutan-tuntutan lainnya.

Lebih jauh dikatakannya bahwa pengalaman pembangunan masyarakat­ masyarakat maju yang kita saksikan sampai sekarang juga menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan lahir saja tidak cukup. Kecukupan kehidupan yang serba benda saja bahkan seringkali membuat kehidupan ini terasa kering, tidak ramah dan kejam. Jika hal ini sampai terjadi, maka bukan kesejahteraan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan, melainkan kegelisahan.

Akan tetapi ditegaskannya bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan lahir batin suatu bangsa yang dewasa ini jumlahnya 170 juta orang, memang memerlukan kerja keras dan usaha pembangunan yang tak mengenal lelah dalam kurun waktu yang berjangka panjang. (AFR)

 

____________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 638-639. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 302015
 

Presiden Soeharto Saksikan Pawai Pembangunan Bersama Korps Diplomatik[1]

SABTU, 22 AGUSTUS 1987 Puluhan ribu warga Ibukota dan sekitamya pagi ini menyaksikan Pawai Pembangunan 1987 yang dilepas secara resmi oleh Presiden Soeharto di halaman Istana Merdeka. Pawai ini yang diadakan dalam rangkaian ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke- 42 dan ulang tahun kota Jakarta yang ke-460 itu diikuti oleh 139 kendaraan hias dari berbagai instansi pemerintah dan swasta. Presiden dan Ibu Tien Soeharto menyaksikan pawai tersebut di panggung kehormatan bersama Wakil Presiden dan Ibu Umar Wirahadikusumah serta para menteri Kabinet Pembangunan IV dan korps diplomatik. Pawai yang semarak itu bam berakhir setelah melewati Istana Merdeka selama lebih kurang dua jam. (AFR)

_____________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 638-639. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 292015
 

Presiden Soeharto Resmikan Beroperasinya Reaktor Nuklir GA Siwabessy di Serpong[1]

 

KAMIS, 20 AGUSTUS 1987 Presiden Soeharto pagi ini meresmikan beroperasinya Reaktor Nuklir Serbaguna dan Instalasi Pembuatan Elemen Bahan Bakar Nuklir di Puspiptek, Serpong, Jawa Barat. Reaktor serbaguna ini oleh Kepala Negara diberi nama GA Siwabessy, yaitu seorang profesor yang merintis penggunaan tenaga atom di Indonesia sejak tahun 1954. Reaktor ini dibangun dengan bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Jerman Barat. (AFR)

____________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 638. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 292015
 

Selenggarakan Resepsi Kemerdekaan, Presiden Soeharto Ramah Tamah Dengan Perintis Kemerdekaan[1]

 

SENIN, 17 AGUSTUS 1987 Selepas upacara penurunan bendera, malam ini Presiden dan Ibu Soeharto, yang didampingi oleh Wakil Presiden dan Ibu Umar Wirahadikusumah serta para menteri Kabinet Pembangunan IV beramahtamah dengan Perintis Kemerdekaan, veteran, warakawuri, Angkatan 45 dan lain-lain di Istana Negara. Rangkaian acara peringatan Hari Kemerdekaan berlanjut malam harinya dengan resepsi kenegaraan, dimana korps diplomatik mendapat kesempatan mengucapkan selamat kepada Presiden dan Ibu Soeharto serta Wakil Presiden dan Ibu Umar Wirahadikusuma di Istana Merdeka. (AFR)

__________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 637-638. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 292015
 

Presiden Soeharto Pimpin Upacara Penurunan Bendera Sang Saka Merah Putih[1]

 

SENIN, 17 AGUSTUS 1987 Petang hari ini Presiden Soeharto kembali bertindak selaku Inspektur Upacara dalam upacara penurunan bendera di halaman Istana Merdeka. Upacara ini disemarakkan oleh drumband Polwan dan kelompok-kelompok drumband dari Jakarta dan Surabaya. (AFR)

______________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 637-638. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003