Sep 302014
 

Presiden Soeharto Berikan 125 Alat Pemecah Kopi Untuk Rakyat Timor Timur

 

RABU, 30 SEPTEMBER 1987 Gubernur Timor Timur, Mario Viegas Carascalao, diterima Presiden Soeharto pagi ini di Bina Graha. Ia menghadap Kepala Negara untuk melapor mengenai perkembangan Timor Timur selama ini.
Pada kesempatan itu Presiden telah memberikan bantuan berupa 125 unit alat pemecah kopi untuk rakyat Timor Timur. Presiden mengharapkan agar alat tersebut dapat disalurkan dan dimanfaatkan dengan sebaik-bainya, mengingat lahan kopi yang terdapat di Timor Timur cukup luas, yaitu sekitar 580.000 hektar. (AFR)

__________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 651. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 302014
 

Indonesia Bicarakan Kemungkinan Peluncuran Satelit Palapa B-2R dengan Roket Ariane Prancis

SELASA, 29 SEPTEMBER 1987 Indonesia akan membicarakan lebih serius mengenai kemungkinan peluncuran satelit komunikasi Palapa B- 2R dengan roket Ariane milik Prancis, setelah Exim Bank dari Amerika Serikat tidak dapat memenuhi permintaan kredit untuk harga satelit tersebut. Demikian dikatakan oleh Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, Achmad Tahir hari ini usai melaporkan masalah tersebut kepada Presiden di Bina Graha. Sebagaimana diketahui, semula Palapa B-2R direncanakan diluncurkan dengan roket Delta milik AS. (AFR)

___________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 651. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 292014
 

Presiden Soeharto Harapkan Swasta Nasional Garap Industri Hulu

SENIN, 28 SEPTEMBER 1987 Siang ini, bertempat di Bina Graha, Presiden Soeharto menerima Dewan Pengurus Harian dan Majelis Pertimbangan Kadin Indonesia. Dalam pertemuan itu Kepala Negara mengharapkan agar kaum pengusaha Indonesia meningkatkan kiprah mereka dalam pembangunan ekonomi, misalnya lebih mencurahkan perhatian pada usaha industri hulu yang belum banyak digarap, seperti pengolahan biji besi menjadi pellet. Menurut Presiden, untuk menggarap industri hulu itu, pihak swasta nasional bisa bekerjasama dengan pihak asing. (AFR)

___________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 651. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 292014
 

Presiden Soeharto Resmikan Sejumlah Gedung IPB

SABTU 26 SEPTEMBER 1987 Setelah upacara wisuda, Presiden dan Ibu Soeharto, bertempat di Gelanggang Olahraga IPB di kampus Darmaga, meresmikan tiga fasilitas baru. Fasilitas-fasilitas pendidikan itu adalah gedung Fakultas Teknologi Pertanian, gedung Laboratorium Analisis dan Produksi Benih, Fakultas Politeknik Pertanian, serta gedung Lembaga Sumber Daya Informasi dan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup. Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Presiden. (AFR)

____________________________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 651. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

 

Sep 292014
 

Mewakili Orang Tua Wisudawan IPB, Presiden Soeharto: Sarjana Memikul Kewajiban Moral Lebih Besar

SABTU 26 SEPTEMBER 1987 Presiden Soeharto mengingatkan bahwa menjadi sarjana tidak berarti segala-galanya. Karena tidak sedikit orang yang tidak mempunyai kesempatan mengenyam pendidikan tinggi dan tidak menjadi sarjana, namun hidupnya ternyata dapat memberi makna bagi dirinya sendiri, keluarga, orang lain dan bagi masyarakat. Kendati demikian, para sarjana memikul kewajiban moral lebih besar untuk mengabdi kepada rakyat, karena sesungguhnya seluruh rakyat Indonesia ikut membiayai mereka dalam menyelesaikan pendidikan sampai di jenjang perguruan tinggi.
Demikian di katakan Kepala Negara ketika ia mewakili para orang tua sarjana memberikan sambutan pada acara wisuda sarjana IPB hari ini di Bogor. Presiden Soeharto bertindak mewakili orang tua sarjana pada acara tersebut karena puterinya, Siti Hutami Endang Adiningsih, tahun ini menamatkan pendidikannya di Fakultas Matematik dan Ilmu Pasti Alam.
Menyinggung peranan para sarjana pertanian dalam pembangunan, Kepala Negara mengingatkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab besar, baik saat ini maupun masa mendatang. Karena pertani.an merupakan pusat dan medan juang serta penggerak pembangunan. Pembangunan pertanian itu mulia nilainya karena bagian terbesar masyarakat Indonesia adalah kaum tani yang sedang bergulat untuk menaikkan taraf hidup mereka. (AFR)

Sep 292014
 

Presiden Soeharto Minta Hubungan Penerangan Indonesia-Uni Soviet Ditingkatkan

RAIBU, 23 SEPTEMBEIR 1987 Presiden Soeharto meminta kepada Menteri Penerangan Harmoko agar mengembangkan peningkatan hubungan penerangan Indonesia-Uni Soviet. Menurut Kepala Negara, pengembangan hubungan bidang penerangan itu penting mengingat bahwa upaya yang dilakukan Indonesia sekarang ini untuk meningkatkan ekspor non-migas memerlukan dukungan infonnasi. mengenai ekonomi dan perdagangan.
Demikian dikatakan Menteri. Harmoko seusai ia melapor kepada Kepala Negara di Cendana tentang hasil kunjungannya ke Uni Soviet baru-baru ini. Ditambahkannya bahwa dalam peningkatan hubungan informasi bidang ekonomi dan perdagangan itu, Kepala Negara juga memberi petunjuk supaya dikembangkan terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan ekspor hasil pertanian Indonesia seperti kelapa sawit, karet alam, teh, dan kopi. (AFR)

_____________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 651. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 262014
 

Pencetakan Sawah Swadaya Capai 122.700 Ha, Presiden Soeharto Instruksikan Untuk Dilanjutkan

KAMIS, 17 SEPTEMBER 1987 Seusai melapor kepada Presiden Soeharto siang ini di Istana Merdeka, Menteri Muda Wardoyo mengatakan bahwa Presiden telah menginstruksikan agar Departemen Pertanian meneruskan usaha pencetakan sawah. Selanjutnya dikatakan pula oleh Menteri Wardoyo bahwa selama ini terdapat hambatan berupa anggaran, sehingga kegiatan pencetakan sawah diarahkan pula kepada usaha-usaha swadaya. Pencetakan sawah yang dilakukan dengan usaha swadaya selama Pelita IV mencapai areal 122.700 hektar, sedangkan pencetakan sawah melalui kredit hanya mencapai 12.439 hektar. (AFR)

______________________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 650. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 252014
 

Presiden Soeharto Ajak Para Alumni ITB Garap Pengolahan Rotan Untuk Pasar Internasional

KAMIS, 17 SEPTEMBER 1987 Bertempat di Bina Graha, selama hampir satu jam, pagi ini Presiden menerima 14 orang pimpinan Ikatan Alumni ITB. Mereka menghadap Kepala Negara untuk melaporkan tentang terbentuknya ikatan alumni tersebut.
Pada kesempatan itu Presiden mengajak para alumni ITB untuk ikut menggarap pengolahan rotan yang perdagangannya di seluruh dunia bernilai sekitar satu miliar dollar AS. Dikatakan oleh Presiden, jika Indonesia mampu memperoleh US$500 juta saja dari keseluruhan nilai perdagangan tersebut, maka hal itu sudah cukup berarti. (AFR)

_____________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 650. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 252014
 

Presiden Soeharto Menerima Utusan Khusus Presiden Pakistan

KAMIS, 17 SEPTEMBER 1987 Presiden Soeharto pagi ini di Istana Merdeka menerima Dr Basharat Jazbi, utusan khusus Presiden Pakistan, Zia ul Haq. Usai bertemu Kepala Negara, Dr Jazbi yang pernah menjadi Menteri Kesehatan dan Lingkungan Hidup itu mengatakan bahwa ia menyampai surat dari Presiden Zia untuk Presiden Soeharto. Akan tetapi ia menolak mengungkapkan isi surat tersebut. (AFR)

______________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 650. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 252014
 

Silaturahmi dengan Anggota DPR/MPR, Presiden Soeharto: Pembangunan Kita Telah Berjalan Ke Arah Yang Benar

SABTU, 12 SEPTEMBER 1987 Pukul 20.00 malam ini Presiden Soeharto menghadiri acara silaturahmi dengan para anggota DPR bertempat di Gedung DPR/MPR. Acara ini diadakan dalam rangka akan berakhirnya masa bakti anggota DPR ini dalam waktu tiga minggu mendatang, dan diganti dengan anggota­anggota baru hasil pemilihan umum yang lalu.
Dalam kata sambutannya, Kepala Negara mengatakan bahwa walaupun didorong oleh rasa tanggungjawab yang besar, walaupun yang kita katakan atau yang kita lakukan semata-mata karena tugas-tugas kenegaraan, namun apa yang kita maksud dengan baik bisa saja terasa lain bagi pihak lain. Kita menyadari bahwa hal itu mungkin terjadi selama ini, selama kita mengembangkan hubungan kerjasama antara Dewan dengan Pemerintah.
Kekurangan dan kelemahan tentu masih ada. Namun kita yakin bahwa kita telah berjalan pada arah yang benar. Selama lima tahun kita telah berusaha dengan penuh tanggungjawab untuk melaksanakan pembangunan politik yang diamanatkan oleh GBHN 1983, yang antara lain memantapkan berfungsinya dan saling berhubungannya antara lembaga-lembaga tinggi negara berdasarkan UUD 1945. (AFR)