Jan 262015
 

Presiden Soeharto Resmikan Jembatan Krasak Jawa Tengah[1]

 

 

KAMIS, 27 JANUARI 1977 Presiden Soeharto hari ini meresmikan jembatan Krasak di Jawa Tengah. Dalam sambutannya, Presiden Soeharto meminta agar seluruh anggota masyarakat sadar menjaga kelestarian lingkungan, menjauhi tindakan-tindakan seperti penggundulan hutan, ataupun kendaraan umum yang melebihi berat muatan, dan perbuatan­perbuatan lain yang dapat mengakibatkan rusaknya jalan dan jembatan. Peresmian jembatan yang terletak antara Magelang-Yogya itu, Kamis pagi disaksikan beberapa menteri, antara lain Emil Salim, Radius, Sumarlin, Subroto dan Sudharmono. (AFR)

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 449. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jan 262015
 

Presiden Soeharto Menerima Laporan Pembebasan Kapal Pertamina dari Pengadilan Singapura[1]

 

RABU, 26 JANUARI 1977 Menteri Perdagangan Radius Prawiro dan Menteri PAN Sumarlin, didampingi oleh Menteri Sekretaris/Negara Sudharmono SH, diterima oleh Presiden Soeharto di Bina Graha pagi ini jam 10.00. Pada pertemuah ini Menteri Perdagangan dan Menteri PAN telah melaporkan tentang gugatan yang diajukan oleh Bruce Rappaport kepada Pemerintah Indonesia. Dilaporkan bahwa Pengadilan Singapura dalam keputusannya segera membebaskan kapal Pertamina yang bernama “Teluk Nibung” dengan nomor lambung 1017 pada tanggal 29 Januari yang akan datang. Hal ini disebabkan karena pengadilan beranggapan bahwa pihak penggugat, Bruce Rappaport, tidak dapat membuktikan kebenaran gugatannya. Dengan demikian telah tiga kapal yang dibebaskan dari empat buah kapal yang ditahan; satu lagi masih ditahan karena persoalannya masih dalam proses naik banding.

Presiden Soeharto menyambut baik laporan tersebut dan menyatakan bahwa apapun yang dilakukan Indonesia adalah yang sebenarnya. Selain itu, Menteri Perdagangan juga melaporkan hasil pertemuan menteri-menteri perdagangan ASEAN yang berlangsung di Manila baru-baru ini. Dalam konferensi tersebut telah ditandatangani persetujuan dasar tentang pemberian preferensi untuk komoditi negara-negara ASEAN. Hasil persetujuan tersebut nantinya secara resmi akan ditandatangani oleh para menteri luar negeri negara-negara ASEAN pada tanggal 24 Februari. (AFR)

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 446-447. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jan 262015
 

Presiden Soeharto Menerima Wakil Presiden Iraq, Bahas Pembaruan Kesepakatan Perdagangan[1]

 

 

SELASA, 25 JANUARI 1977 Hari ini jam 10.00 pagi Presiden Soeharto menerima kunjungan kehormatan Wakil Presiden Iraq, Taha Muhyddin Marouf, beserta rombongan. Pertemuan ini dilanjutkan dengan pembicaraan khusus antara Presiden Soeharto dengan Wakil Presiden Iraq yang berlangsung sampai satu jam. Sesudah pembicaraan tersebut, diadakan tukar menukar tanda mata. Presiden Soeharto telah memberikan ukiran kerajinan perak, sedangkan Wakil Presiden Iraq memberikan sebuah pohon kurma dari perak yang berbuah emas.

Sementara itu anggota rombongan dari Iraq telah mengadakan pembicaraan pula dengan mitranya dari Indonesia. Menteri Perdagangan Iraq, Gubemur Bank Sentral Iraq dan staf telah mengadakan pembicaraan dengan pihak Indonesia yang terdiri dari Menteri Pertambangan M Sadli, Direktur Pertamina Piet Harjono, Gubemur Bank Sentral Rachmat Saleh, dan Duta Besar Indonesia untuk Iraq. Sedangkan pada bagian lain Menteri Luar Negeri Adam Malik telah mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iraq Suadru Hamady. Hasil pertemuan ini dituangkan dalam suatu komunike bersama antara Republik Indonesia dan Iraq.

Malam ini Wakil Presiden Iraq mengadakan jumpa pers di Wisma Tamu Istana Jakarta. Dalam keterangannya ia menyimpulkan bahwa beberapa pokok persetujuan yang telah dicapai sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak hari ini. Dikatakannya bahwa Iraq memahami sepenuhnya posisi Indonesia dalam persoalan Timor Timur. Kedua Pemerintah sepakat untuk memperbaharui hubungan-hubungan dalam segala bidang, terutama perjanjian perdagangan yang ditandatangani tahun 1960. Sedangkan mengenai OPEC telah disepakati untuk tetap mempertahankah persatuan dalam organisasi itu. (AFR)

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 445-446. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jan 262015
 

Lantik 6 Dubes, Presiden Soeharto: Perdamaian dan Pembangunan Kunci Keselamatan Semua Orang [1]

 

SABTU, 22 JANUARI 1977 Pukul 11.10, Presiden Soeharto melantik beberapa duta besar Indonesia untuk beberapa negara di Istana Merdeka. Para duta besar tersebut adalah Duta Besar Ilen Suryanegara untuk Tunisia, Duta Besar Suffri Jusuf untuk Laos, Duta Besar Marsekal Madya Sudarsono untuk Filipina, Duta Besar Drs. Adiwoso Abubakar untuk Brasilia, Duta Besar Ferdi Salim untuk Venezuela, dan Duta Besar Laksamana Muda Koen Djaelani untuk Yugoslavia. Pada kesempatan ini Presiden Soeharto antara lain mengatakan bahwa dunia saat ini sedang bergerak penuh dengan dinamika, sehingga tatanan dan wajah dunia akan berubah dengan cepat. Semua itu memberikan harapan-harapan dan juga kadang-kadang menimbulkan kecemasan. Namun kita wajar mempunyai harapan atas hari depan dunia kita ini, karena tampaknya semua bangsa telah sadar bahwa perdamaian dunia dan pembangunan bangsa-bangsa merupakan kunci bagi keselamatan semua orang. Oleh sebab itu langkah harus dikerahkan pada tujuan yang sama yaitu memperkuat perdamaian dan meningkatkan pembangunan. Maka dalam rangkaian ini diharapkan agar para duta besar tidak semata-mata hanya melaksanakan tugas rutin saja, tetapi juga harus dapat membangun kerjasama dengan negara dimana mereka ditempatkan sesuai dengan apa yang telah kita gariskan. (AFR)

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 446. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jan 262015
 

Presiden Soeharto Menerima Surat Kepercayaan Dubes Italia [1]

 

SABTU, 22 JANUARI 1977 Pagi hari ini jam 10.00 di Istana Merdeka, Presiden Soeharto menerima surat kepercayaan dari Duta Besar Italia untuk Indonesia, Elio Pascarelli. Dalam pidato balasannya, Presiden Soeharto antara lain menyatakan bahwa ia sangat mengharapkan kunjungan Presiden Italia ke Indonesia sebagai balasan dari kunjungannya ke Italia tahun 1972. Selain itu juga diharapkan adanya hubungan yang semakin baik antara kedua bangsa dan negara. (AFR)

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 446. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jan 262015
 

Presiden Soeharto Putuskan Bantuan Korban Banjir Jakarta[1]

 

JUM’AT, 21 JANUARI 1977 Untuk meringankan penderitaan korban banjir di Ibukota, hari ini Presiden Soeharto memutuskan memberikan bantuan sebanyak 50 ton beras untuk setiap daerah walikota yang daerahnya terkena banjir. Dalam rangka ini pula, Presiden Soeharto telah memanggil Menteri Perdagangan ad interim Sumarlin, Kepala Bulog Bustanil Arifin, Direktur Utama Pertamina Piet Harjono, dan Direktur Pembekalan Dalam Negeri Pertamina Yudo Sumbogo, di kediaman Jalan Cendana. Kepada mereka Kepala Negara memberikan pengarahan dan petunjuk mengenai langkah-langkah yang harus diambil demi menjaga kelancaran arus barang-barang kebutuhan pokok, seperti gula dan minyak. Juga diharapkan agar harga barang-barang kebutuhan pokok itu dapat dikendalikan. (AFR)

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 445-446. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jan 262015
 

Presiden Soeharto Tinjau Banjir Ibukota dari Udara[1]

 

KAMIS, 20 JANUARI 1977 Siang ini, Presiden Soeharto dengan didampingi Ibu Tien Soeharto telah meninjau daerah banjir di Ibukota Jakarta dari udara. Dengan menaiki pesawat helikopter milik Pertamina, Presiden tinggal landas dari Parkir Timur Senayan menuju daerah industri Pulogadung, Cakung, Grogol, Pulomas dan Jalan Jakarta Bypass. Selama peninjauan ini Presiden Soeharto beberapa kali mengabadikan daerah banjir tersebut dari udara dengan kameranya. (AFR)

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 445. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jan 262015
 

Mukti Ali Laporkan Rencana Kunjungan Menteri Waqaf Arab Saudi[1]

KAMIS, 20 JANUARI 1977 Pada jam 09.00 pagi ini di kediaman Jalan Cendana, Jakarta, Presiden Soeharto menerima Menteri Agama Mukti Ali. Setelah menghadap, Menteri Agama menjelaskan kepada pers bahwa ia melaporkan pada Presiden Soeharto tentang rencana kunjungan Menteri Agama dan Waqaf Arab Saudi, Abdullah Abdul Wasi’, ke Indonesia, pada tanggal 28 Januari sampai 2 Februari mendatang. Menurut jadwal yang telah disepakati, maka dalam kunjungannya tersebut akan dibicarakan beberapa hal, antara lain masalah jemaah haji Indonesia. Disamping itu, Mukti Ali juga melaporkan kepada Presiden tentang adanya undangan dari Pemerintah Jepang kepada Ulama Indonesia. Juga dilaporkan hasil kunjungan Menteri Agama ke Kupang, serta masalah pelaksanaan Pekan Orientasi Ulama dan Khatib tingkat provinsi yang akan diadakan pada bulan Januari. (AFR)

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 445. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jan 262015
 

Presiden Soeharto Sumbang Korban Banjir Aceh[1]

 

RABU, 19 JANUARI 1977 Presiden Soeharto menyumbang Rp 15 juta untuk korban banjir di Aceh. Sumbangan tersebut diserahkan kepada Gubemur Aceh, Muzakkir Walad, ketika ia menghadap Presiden di Bina Graha, hari ini. Dalam penjelasannya, Gubemur Aceh mengatakan bahwa sumbangan tersebut akan digunakan untuk membangun kembali rumah-rumah para korban banjir di Kampung Bengga, Kecamatan Tangse, Kabupaten Aceh Pidie. Selain sumbangan berupa uang, Presiden juga memberikan 1.000 lembar sarung. (AFR)

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 445. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jan 262015
 

Bertemu Presiden Soeharto, Jaksa Agung Laporkan Penyitaan 9 Kapal Taiwan Pelanggar Batas Perairan[1]

 

RABU, 19 JANUARI 1977 Di tempat yang sama, di Bina Graha, Presiden Soeharto siang ini juga telah menerima laporan dari Jaksa Agung Ali Said SH mengenai adanya kapal-kapal nelayan Taiwan yang melanggar wilayah perairan Indonesia. Kesembilan kapal berbendera Taiwan itu kini ditahan di Kalimantan Timur, dengan status disita oleh negara. Selanjutnya kapal­ kapal tersebut diserahkan kepada Departemen Keuangan yang akan memikirkan lebih lanjut penyelesaian atau pemanfaatannya berdasarkan petunjuk Presiden Soeharto. (AFR)

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 445. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003