Sep 202014
 

Resmikan 4 Pabrik Teh Hitam di Tasikmalaya, Presiden Soeharto: Melalui Koperasi, Kelak Petani Miliki Saham Pabrik

SELASA, 8 SEPTEMBER 1987 Empat pabrik teh hitam milik PT Tehnusamba Indah diresmikan Presiden Soeharto pagi ini di desa Margalaksana, Tasikmalaya, Jawa Barat. Keempat pabrik teh ini memiliki keistimewaan-keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan pabrik­ pabrik teh lainnya. Diantara keistimewaannya ialah teh yang diolah disini tidak dihasilkan oleh pabrik-pabrik ini, melainkan seluruhnya berasal dari pucuk-pucuk daun teh yang dihasilkan oleh kebun-kebun teh petani yang tersebar di Jawa Barat. Selain itu, jika pabrik-pabrik teh ini dapat berjalan dengan baik, maka sebagian sahamnya akan dijual kepada petani teh melalui koperasi. Dengan demikian para petani itu akan ikut memiliki pabrik-pabrik ini.
Dalam kata sambutannya, Presiden mengatakan bahwa peresmian pabrik-pabrik teh ini merupakan langkah maju yang kita lakukan untuk meneruskan perjuangan membangun masyarakat maju dan sejahtera yang berkeadilan sosial, khususnya dalam meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan para petani teh. Kerjasama antara pabrik dan petani teh seperti yang dilaksanakan di pabrik-pabrik ini, pemilikan saham oleh petani melalui koperasi kelak, merupakan langkah yang penting dalam usaha kita untuk meletakkan kerangka landasan untuk membangun masyarakat adil dan makmur dalam Repelita IV sekarang ini. Kerangka landasan itu masih akan kita mantapkan lagi dalam Repelita V yang akan kita masuki kurang dari dua tahun lagi. (AFR)

____________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 647. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 202014
 

Presiden Soeharto Menerima Pimpinan DPR

SENIN, 7 SEPTEMBER 1987 Selama 45 menit pagi ini Presiden Soeharto menerima pimpinan DPR di Bina Graha. Mereka datang untuk berkonsultasi tentang inventarisasi permasalahan yang belum terselesaikan dalam masa tugas DPR periode 1982-1987. Permasalahan yang belum terselesaikan itu pada intinya berkaitan dengan kebijaksanaan pemerintah dan yang berkaitan dengan keperluan berbagai undang-undang baru. (AFR)

 

____________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 647. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 202014
 

Resmikan Kampus UI Depok, Presiden Soeharto: Kampus Bukan Menara Gading, Harus Pahami Aspirasi Masyarakat

SABTU, 5 SEPTEMBER 1987 Presiden dan Ibu Soeharto pagi ini menghadiri upacara peresmian penggunaan kampus Universitas Indonesia yang baru di Depok. Kampus baru UI ini terletak di daerah perbatasan antara DKI Jakarta dan Jawa Barat, diatas tanah seluas hampir 400 hektar. Dengan selesainya kampus ini, maka semua fakultas yang berada di Rawamangun, Jakarta Timur, dan sebahagian yang ada di kampus Salemba, Jakarta Pusat, telah dipindahkan ke Depok.

Menyambut hadirnya kampus baru ini, Presiden antara lain mengatakan bahwa sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang tua, maka UI harus menjadi teladan dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Disamping itu, sebagaimana wajarnya dalam kehidupan kampus, maka kegiatan seni budaya pun hendaknya tidak terbengkalai. Sebab, demikian Kepala Negara, kegiatan seni budaya penting artinya guna memberikan wawasan budaya pada warga ak:ademi pada umumnya. Dengan memiliki wawasan budaya —disamping perkenalan dan penguasaan ilmu dan teknologi— akhimya akan benar-benar menjadikan kampus ini sebagai pusat intelektual yang dapat memuliakan derajat manusia dan kemanusiaan.

Ditambahkan oleh Presiden bahwa menjadi pusat kegiatan intelektual yang demikian tidak berarti berubahnya warga kampus itu menjadi suatu masyarakat yang tertutup dan steril. Kampus harus bersikap terbuka terhadap dunia di luarnya dan harus memahami aspirasi masyarakat luas. Bahkan kampus harus mengambil bagian dalam upaya besar pembangunan bangsa. Ini semua mungkin, jika segenap warga kampus bukan saja memahami rencana-rencana pembangunan, melainkan terlebih-lebih menghayatinya sebagai amanat bersama. Ditegaskan oleh Kepala Negara bahwa sudah sirna zamannya universitas diibaratkan sebagai menara gading (AFR)

__________________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 646. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 202014
 

Presiden Soeharto Menerima Kontingen SEA Games XIV

KAMIS, 3 SEPTEMBER 1987 Pukul 10.00 pagi ini, bertempat di halaman tengah istana, Presiden Soeharto menerima kontingen Indonesiake SEA Games XIV. Presiden mengharapkan agar anggota kontingen yang berjumlah 700 orang itu berjuang semaksimal mungkin, sehingga dapat meraih prestasi yang setinggi-tingginya. Dikatakannya bahwa bagi Indonesia merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan tersendiri menjadi tuan rumah pesta olahraga tersebut. Oleh karena itu merupakan suatu kehormatan pula untuk menjadi anggota kontingen Indonesia pada SEA Games, karena pemilihan tersebut berarti bangsa Indonesia telah memberikan kepercayaan kepada kontingen dalam mengemban tugas. (AFR)

____________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 645. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 202014
 

Sidang Kabinet, Gubernur BI Laporkan Surplus Ekspor

RABU, 2 SEPTEMBER 1987 Sementara itu didalam sidang hari ini Gubernur Bank Sentral melaporkan mengenai arus balik dollar AS ke Bank Sentral yang terjadi sejak tanggal 23 Juni sampai dengan akhir Agustus yang lalu. Gejala ini menunjukkan kepercayaan masyarakat kepada rupiah. Dalam bubungan ini Bank Indonesia telah membeli dollar lebih dari US$1 miliar. Menurut Arifin Siregar, paling tidak US$550 juta merupakan pengembalian dari masyarakat baik dari basil ekspor maupun uang yang tadinya diparkir di luar negeri. Dikatakannya bahwa tindakan yang diambil oleh pemerintah membuat masyarakat percaya bahwa tidak akan ada devaluasi dan pembatasan lalu lintas devisa sebagaimana dilontarkan oleb sementara pengusaha. Ia juga menjelaskan bahwa cadangan devisa di bulan Mei tercatat sebesar US$5,2 miliar dan jumlah ini meningkat menjadi US$6,251 miliar pada Juli 1987.
Dilaparkan pula kepada sidang bahwa uang yang beredar pada bulan Juni lalu tercatat sebesar Rp12,1 triliun. Sementara itu laju inflasi bulan Agustus yang lalu adalah 0,54%, dan inflasi tahun anggaran, yaitu dari April sampai Agustus sebesar 3,17% serta tingkat inflasi tahun takwim sebesar 4,70%. Mengenai kegiatan ekspor dilaporkan terdapat surplus sebesar US$247 juta; surplus ini merupakan hasil ekspor yang sebesar US$1.421,8 juta berbanding dengan impor sebesar US$1.174,8 juta. (AFR)

 

 

_______________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 645. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 202014
 

Sidang Kabinet, Presiden Soeharto Perintahkan Menteri KLH Berantas Hama Babi

RABU, 2 SEPTEMBER 1987 Sidang kabinet terbatas bidang Ekuin yang dipimpin oleh Presiden Soeharto berlangsung pagi ini di Bina Graha. Didalam sidang hari ini Presiden Soeharto telah memerintahkan Menteri KLH agar meningkatkan pemberantasan hama babi yang sangat merugikan rakyat di beberapa daerah, seperti Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan. Kepada Menteri Negara KLH diperintahkan pula untuk menelaah cara­-cara penanggulangan serangan gajah ke lahan pertanian dan rumah penduduk di sejumlah daerah di Sumatera. (AFR)

Catatan:

- Dalam catatan yang lain Emil Salim menuturkan soal gajah yang masuk ladang penduduk ini Presiden Speharto memberi instruksi sederhana : Selamatkan Masyarakat dan Gajah”. Jadi tidak dengan membasmi binatang

____________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 645. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

 

Sep 202014
 

Menerima Evaluasi Dampak Porkas Sepakbola, Presiden Soeharto: Dapat Diteruskan Asal Ada Izin dan Perbaikan

SELASA, 1 SEPTEMBER 1987 Penyelenggaraan Porkas Sepakbola dapat diteruskan sepanjang izinnya masin diberikan dengan perbaikan­-perbaikan. Demikian petunjuk yang diberikan Presiden kepada Menteri Sosial, Nani Sudarsono, yang mengbadapnya di Bina Graba pagi ini. Menteri Sosial menemui Kepala Negara untuk melaporkan basil team evaluasi dampak Porkas. (AFR)

Catatan:

- Soal Porkas (Undian Olah Raga Berhadiah) dalam rangka menghimpun dana olah raga/sepak bola, sempat memunculkan polemik di masyarakat karena praktek di lapangan disinyalir ada unsur perjudian. Belum kami temukan dokumen aslinya, bagaimana konsep sebenarnya dari program tersebut. Dalam catatan di atas, Presiden Soeharto memberi arahan “bisa dilanjutkan dengan perbaikan”. Definisi dari perbaikan dari catatan di atas juga belum kami dapatkan dokumen pendukung

___________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 645. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 202014
 

Buka Raker Deparpostel, Presiden Soeharto: Kegiatan Pariwisata & Ekspor Non Migas Harus Diperjuangkan Mati-Matian

SENIN, 29 SEPTEMBER1986 Bertempat di Istana Negara, pada jam 10.00 pagi ini Presiden Soeharto membuka rapat kerja Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi. Dalam amanatnya Kepala Negara mengatakan bahwa keputusan mendevaluasi mata uang rupiah baru-baru ini merupakan keputusan yang sangat berat dan sulit bagi pemerintah. Namun, setelah mempertimbangkan dengan saksama dan dalam waktu yang cukup lama, maka pemerintah harus berani mengambil keputusan yang berat dan sulit itu demi kelangsungan pembangunan jangka panjang.
Dikatakannya bahwa tujuan utama devaluasi adalah untuk menjamin agar dalam tahun-tahun yang akan datang neraca pembayaran kita dalam keadaan yang sehat, sehingga mampu mendukung kelanjutan pembangunan. Untuk itu jalan yang paling utama adalah meningkatkan penerimaan devisa negara dari ekspor non-migas dan pariwisata, untuk mengimbangi penurunan yang sangat tajam dari penerimaan devisa dari sektor migas.
Karena itu, demikian ditegaskan Presiden, peningkatan kegiatan kepariwisataan dan ekspor non-migas merupakan medan juang yang harus kita perjuangkan secara mati-matian. Devaluasi mata uang rupiah kita merupakan peluang yang harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk menarik wisatawan luar negeri dan peningkatan ekspor non-migas itu. (AFR)

_________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 508. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Sep 202014
 

Jaga Pasokan Bahan Baku Mebel Dalam Negeri, Presiden Soeharto: Hentikan Ekspor Kayu Ramin Papan Pendek

SABTU, 27 SEPTEMBER 1986 Hari ini Presiden Soeharto menginstruksikan agar ekspor kayu ramin dalam bentuk papan pendek dan papan sempit dihentikan. Adapun maksud penghentian ekspor kayu ramin dalam bentuk yang demikian adalah untuk menjaga supaya bahan baku bagi industri mebel dalam negeri dapat terpenuhi. Oleh karena itu, ekspor ramin dalam bentuk papan lebar (board) tetap diizinkan.
Demikian dikatakan Menteri Kehutanan Soedjarwo setelah diterima Presiden Soeharto pagi ini di Bina Graha. (AFR)

 

 

____________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 508. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

 

Sep 202014
 

Lindungi Petani, Presiden Soeharto Instruksikan Pemusnahan Bawang Putih Selundupan

 

KAMIS, 25 SEPTEMBER 1986 Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Pangan, Ir Wardoyo, menghadap Presiden Soeharto di Bina Graha pagi ini. Usai menghadap Kepala Negara ia mengatakan bahwa ia telah diinstruksikan untuk memusnahkan seluruh bawang putih selundupan dan jangan dilelang seperti yang dilakukan selama ini. Menurut Presiden, pemusnahan tersebut perlu dilakukan untuk menjaga kestabilan harga di dalam negeri dan melindungi para petani bawang putih sekaligus merangsang para petani untuk menanam bawang putih. (AFR)

 

___________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 507. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003