Apr 112014
 

Peserta Konferensi Komite Konsultatif Hukum Asia Afrika Diterima Presiden Soeharto[1]

SELASA, 29 APRIL 1980, Presiden Soeharto pagi ini di Istana Negara menerima 300 orang peserta Konferensi Komite Konsultatif Hukum Asia Afrika yang ke-21, yang berlangsung di Bandung dari tanggal 24 April sampai tanggal 1 Mei. Menteri Kehakiman, sebagai penyelenggara, melaporkan kepada Kepala Negara bahwa konferensi ini terdiri atas dua jenis sidang besar. Sidang pertama merupakan sidang untuk memperingati Konferensi Asia-Afrika dan berlangsung pada tanggal 25 sampai 26 April. Sidang kedua merupakan sidang-sidang teknis yang diselenggarakan dari tanggal 28 April sampai 1 Mei. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 290. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 112014
 

Hadiri Seperempat Abad KAA, Presiden Soeharto: KAA Menunjukkan Masa Depan Dunia[1]

 KAMIS, 24 APRIL 1980, Presiden Soeharto hari ini menghadiri acara peringatan seperempat abad Konferensi Asia-Afrika. Dalam acara yang berlangsung di Gedung Merdeka itu, Presiden mengatakan bahwa yang berbicara di Bandung seperempat abad yang lalu itu bukan hanya negarawan-negarawan terkemuka dari Asia dan Afrika saja, melainkan juga ratusan juta umat manusia yang disengsarakan oleh tata dunia lama yang tidak adil. Mereka menyuarakan, menyatukan diri dan bertekad bulat untuk membangun dunia baru yang lebih berperikemanusiaan dan dapat memberikan kesejahteraan bersama. Menurut Kepala Negara, mereka bukan hanya merancang masa depan Asia-Afrika sendiri, melainkan telah menunjukkan jalan bagi masa depan seluruh umat manusia di dunia. Demikian antara lain dikatakan Presiden mengenai peranan Konferensi Asia-Afrika. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 289. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 112014
 

Presiden Minta Menpora Tangani Kenakalan Remaja[1]

SELASA, 22 APRIL 1980, Presiden Soeharto menghendaki agar Menteri Muda Urusan Pemuda, Abdul Gafur, mengadakan penjajakan tentang kemungkinan menghidupkan kembali organisasi Persatuan Orang tua Murid dan Guru (POMG) untuk menggantikan BP3 yang ada sekarang ini. Saran ini diberikan Presiden sebagai suatu jalan keluar didalam kerangka menanggulangi kenakalan remaja yang terjadi akhir-akhir ini. Melalui POMG, di lingkungan pendidikan pertama, yaitu keluarga, dan lingkungan pendidikan kedua, yaitu sekolah, masalah kenakalan remaja dapat diatasi secara bersama-sama.

Selain itu Presiden Soeharto juga meminta agar dalam menangani masalah kenakalan remaja ini digunakan Keputusan Presiden No. 23/ 1979 tentang Badan Koordinasi Penyelenggaraan Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda. Penanganan kenakalan remaja ini dapat dipikirkan secara bersama-sama oleh pihak-pihak yang berwajib berdasarkan pada Keppres tersebut.

Demikian dikatakan Menteri Muda Urusan Pemuda, Abdul Gafur, setelah menghadap Presiden di Bina Graha pagi ini. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 289. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 112014
 

Presiden Soeharto Resmikan Museum Indonesia[1]

 MINGGU, 20 APRIL 1980, Hari ini Presiden Soeharto meresmikan Museum Indonesia, Anjungan Timor Timur, Taman Mini Kaktus, pameran industri kecil serta bazar dan Emporium Iwapi Taman Mini. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari acara peringatan ulang tahun ke-5 Taman Mini Indonesia Indah.

Dalam kata sambutannya, Presiden mengatakan bahwa di TMII ini, setiap warga bangsa Indonesia dapat lebih mengenal dan makin mencintai tanah airnya, sehingga tumbuhlah kebanggaan nasional dengan baik dan subur. Ini merupakan bagian dari pembangunan bangsa Indonesia. Ditambahkan oleh Kepala Negara bahwa hanya bangsa yang cinta tanah air sajalah yang akan dapat mengatasi segala macam kesulitan dan rintangan yang dihadapinya. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 289. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 112014
 

Menerima Dubes Trinidad & Tobago, Presiden Soeharto: Politik Luar Negeri Indonesia Bebas Aktif[1]

SABTU, 19 APRIL 1980, Selain menerima Duta Besar Sudah Presiden Soeharto juga menerima surat kepercayaan dari Duta Besar Trinidad dan Tobago untuk Indonesia, Nathan Hazel. Dalam pidato balasannya Presiden Soeharto antara lain mengatakan bahwa penugasan Duta Besar Nathan Hazel di Indonesia akan membina saling pengertian antara kedua negara dan bangsa yang nantinya akan dapat mengarah pada peningkatan kerjasama, baik di bidang ekonomi, politik maupun sosial budaya. Dikatakannya juga bahwa dunia yang lebih aman, damai, adil dan makmur merupakan tujuan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Demikian antara lain sambutan Presiden. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 288. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 112014
 

Menerima Dubes Sudan, Presiden Soeharto: Kerjasama Asia-Afrika Sangat Penting[1]

SABTU, 19 APRIL 1980, Presiden Soeharto menyatakan keyakinannya bahwa negara-negara Asia-Afrika dengan solidaritas yang sama kuatnya dapat bersatu untuk keberhasilan pembangunan masyarakatnya di masa mendatang. Kepala Negara mengemukakan hal ini dalam pidato balasannya ketika menerima surat kepercayaan Duta Besar Sudan untuk Indonesia, Sayed Ibrahim Taha Ayoub, di Istana Merdeka pagi ini.

Lebih Ianjut dikatakan oleh Presiden Soeharto bahwa dalam kerjasama ekonomi dan sosial untuk pembangunan, sangat penting adanya kerjasama antara negara-negara Asia-Afrika dan dengan negara-negara sedang membangun pada umumnya. Dalam hubungan ini, Presiden Soeharto menyatakan keyakinannya bahwa Sudan dan Indonesia dapat bekerjasama lebih erat untuk memajukan rakyat masing-masing dan ikut mewujudkan kesejahteraan dan perdamaian dunia. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 288. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 082014
 

Tidak Mampu Tingkatkan Operasi, Pemerintam Ambil Alih Perusahaan Bis Kota[1]

SELASA, 17 APRIL 1979, Setelah menghadap Presiden di Bina Graha siang ini, Menteri Perhubungan a.i., Radius Prawiro, mengatakan bahwa ia telah melaporkan tentang keadaan perusahaan bis kota yang tidak mampu lagi meningkatkan operasinya, sehingga Pemerintah mengambil alih pengelolaan perusahaan-perusahaan itu. Perusahaan-perusahaan angkutan kota yang diambil alih oleh Pemerintah itu adalah PT Saudaranta, PT Arion, PT Marantama, PT Muri Asih, PT Solo Bone Agung, PT Medal Sekarwangi, PT Jakarta Transport, dan PT Ajiwirja. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 151. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 072014
 

Presiden Soeharto Menerima Laporan Kunjungan Wapres Adam Malik ke Irak dan Turki[1]

SELASA, 17 APRIL 1979, Setengah jam setelah menerima kunjungan Duta Besar Mesir untuk Indonesia, di tempat yang sama, Presiden Soeharto menerima Wakil Presiden Adam Malik. Dalam pertemuan selama 40 menit itu, Wakil Presiden melaporkan hasil kunjungannya ke Irak dan Turki yang berlangsung dari tanggal 8 sampai dengan 16 April kemarin.

Setelah menemui Presiden Soeharto, Adam Malik mengatakan bahwa Pemerintah belum menetapkan susunan delegasi Indonesia ke KTT Non Blok di Havana. Ia mengatakan bahwa sebelum mengambil sesuatu keputusan, Indonesia akan terus mengikuti persiapan-persiapan yang dilakukan Kuba untuk menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi itu. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 151. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 072014
 

Presiden Soeharto Menerima Pesan Khusus Anwar Sadat[1]

SELASA, 17 APRIL 1979, Pada jam 10.30 pagi ini, bertempat di Bina Graha, Presiden Soeharto menerima kunjungan Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Aly Khashaba. Duta Besar Khashaba mengunjungi Presiden untuk menyampaikan pesan khusus dari Presiden Mesir, Anwar Sadat. Selesai bertemu Presiden Soeharto, ia menolak menjelaskan isi pesan khusus itu. Kepada pers ia mengatakan bahwa dalam pertemuan dengan Presiden Soeharto, ia lebih banyak mendengarkan penjelasan Presiden tentang posisi Indonesia dalam gerakan Non Blok. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 151. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 072014
 

Presiden Soeharto Menerima Utusan Khusus Presiden Fidel Castro[1]

 KAMIS, 12 APRIL 1979. Didampingi Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja, Menteri Industri dan Baja Kuba, Lester Rodrigues Perez, menghadap Presiden Soeharto di Bina Graha pagi ini. Ia datang dalam kapasitasnya sebagai Utusan Khusus Presiden Fidel Castro untuk menyampaikan surat pribadi Kepala Negara Kuba itu kepada Presiden Soeharto. Ikut mendampinginya dalam pertemuan tersebut adalah Duta Besar Kuba untuk Malaysia dan Jepang, Jose A Guera, dan Direktur Jenderal Asia dan Pasifik Departemen Luar Negeri Kuba, Rolando Lopez.

Tidak diungkapkan oleh Utusan Khusus itu mengenai isi pesan pribadi Presiden Castro kepada Presiden Soeharto. Kepada pers ia hanya mengatakan bahwa Indonesia dan Kuba mempunyai pandangan sama mengenai isu-isu politik internasional yang akan dibahas dalam KTT Non Blok VI yang akan berlangsung di Havana, ibukota Kuba, pada bulan Oktober yang akan datang. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 150. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003