Sep 172013
 

Pimpin Sidang Dewan Stabilisasi Polkam, Presiden Soeharto Jelaskan Soal Zakat[1]

 

SELASA, 9 SEPTEMBER 1974 Presiden Soeharto pukul 10. 00 pagi ini membuka sidang Dewan Stabilisasi Politik dan Keamanan Nasional di Bina Graha. Dalam sidang tersebut Kepala Negara telah memberikan penjelasan mengenai kegiatannya sebagai amil zakat. Dikatakannya bahwa ia telah mengumpulkan zakat dari dan menyalurkannya kepada kaum muslimin yang berhak. Jumlah zakat yang terkumpul saat ini adalah sebanyak Rp63 juta, dan sebahagiannya telah disalurkan. Dikatakan oleh Kepala Negara bahwa merasa perlu menjelaskan hal ini untuk menghindarkan timbulnya kesalahpahaman di sebagian kalangan masyarakat. (AFR).



[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 284. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta, Tahun 2003.

 

Aug 162013
 

Sambutan Presiden Soeharto Pada Penutupan Sidang MPRS

Sambutan Presiden Republik Indonesia  Soeharto pada Penutupan Sidang Umum MPRS, tanggal 27 Maret 1968 di Jakarta. Naskah pidato selengkapnya dikemukakan sebagai berikut:

Aug 112013
 

Presiden Soeharto Tentukan Perutusan Perundingan Indonesia-Soviet[1]

SELASA, 19 AGUSTUS 1969, Dalam sidang Sub-Dewan Stabilisasi Ekonomi di Istana Merdeka hari ini, Presiden Soeharto telah menentukan susunan perutusan Indonesia yang akan berunding dengan delegasi ekonomi Uni Soviet. Menurut rencana, delegasi Soviet akan tiba di Jakarta pada tanggal 24 Agustus. Dalam kesempatan itu Presiden telah memberi petunjuk-petunjuk yang dapat dipakai sebagai pedoman di dalam perundingan dengan pihak Uni Soviet. (AFR).



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 151. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Jun 262013
 

Sambutan Pak Harto: Sidang Lengkap Dewan Gereja VI

Sambutan Pejabat Presiden Republik Indonesia Jenderal Soeharto pada Sidang Lengkap Dewan Gereja VI, pada tanggal 29 Oktober s/d 10 November 1967 di Makasar, Sulawesi Selatan. Pidato selengkapnya dikemukakan dikemukakan sebagai berikut:

Mar 232013
 

Presiden Soeharto Menerima Daud Beureuh

(Presiden Soeharto Juga Memimpin Sidang Dewan Stabilisasi ekonomi dan Menerima Para Menteri)[1]

SELASA, 18 MARET  1975, Presiden Soeharto pukul 09.00 pagi menerima Teungku Muhammad Daud Beureueh, seorang ulama dan pemimpin Aceh yang sangat terkenal, di ruang kerjanya di Bina Graha, tidak diketahui persoalan apa yang dibawa kepada Kepala Negara oleh bekas pemimpin gerakan Darul Islam di Aceh itu.

Jam 10.00  pagi Kepala Negara memimpin Sidang Dewan Stabilisasi Ekonomi Nasional di Bina Graha. Sebagai salah satu keputusan sidang ini adalah instruksi Presiden kepada Menteri Negara Ekuin/Ketua Bappenas, Widjojo Nitisastro, Menteri Dalam Negeri, Amirmachmud, dan Menteri Keuangan, Ali Wardhana, untuk mengkoordinasikan usaha perbaikan prasarana sosial, khususnya sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, dan puskesmas-puskesmas di daerah yang terkena musibah bencana alam.

Usai sidang, Presiden mengadakan pertemuan dengan Menteri Negara Ekuin/Ketua Bappenas, Menteri Keuangan, Menteri PAN, dan Gubernur Bank Central, Rachmat Saleh. Tidak diketahui pokok permasalahan yang dibahas dalam pertemuan tersebut.  (AFR)



[1]

[1]      Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978, hal.225.

Mar 172013
 

Presiden Soeharto Menyambut Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia di Indonesia

(Penyelenggaraan Sidang Agar Tidak Berlebih-Lebihan)1

SABTU, 9 Maret 1974, Presiden Soeharto menyambut baik rencana diadakannya Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Sedunia di Indonesia tahun depan. Hal ini diuangkapkan oleh Menteri Negara Kesejahteraan Rakyat, Prof. Sunawar Sukawati SH, usai menghadap Presiden di Bina Graha siang ini. Akan tetapi, menurut Sunawar, Kepala Negara mengharapkan agar penyelenggaraan sidang tersebut tidak berlebih-lebihan. (AFR)

1 Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978 hal. 108-109

Feb 212013
 

SEMASA KESATUAN AKSI MAHASISWA BERMUNCULAN

(Presiden Soekarno Sambil Menunjukkan Telunjukknya: “Nyoto, Kau Tolol, Mengobarkan Peristiwa yang Terkutuk Itu”)1

Pada tanggal 6 Oktober 1965 Presiden Soekarno memanggil kabinet untuk bersidang di Istana Bogor. Saya pun dipanggilnya untuk datang dan memberikan laporan mengenai situasi.

Hadir dalam kesempatan ini Lukman dan Nyoto dari PKI. Juga hadir Subandrio dan dr. Leimena.

Suasana jauh dari murung atau sedih di tengah sidang itu. Padahal baru kemarin para Pahlawan Revolusi dimakamkan. Saya merasa tidak enak di tengah suasana yang banyak gelak dan tawa. Saya kesal melihat orang-orang PKI hadir dalam kesempatan ini, sementara saya sudah yakin, bahwa mereka pasti punya hubungan dengan penculikan dan pembunuhan teman-teman saya itu.

Waktu saya diminta bicara, saya terangkan apa yang saya ketahui mengenai kejadian dan situasi hari-hari itu.

Nyoto menyangkal tanggung jawab PKI terhadap kudeta yang gagal itu. Malahan dia menuduh dengan apa yang dinamakannya “Dewan Jenderal”.

Dalam pada itu Presiden Soekarno dalam kesempatan itu menunjukkan telunjuknya kepada Nyoto dan berkata, “Nyoto, kau tolol, mengobarkan peristiwa yang terkutuk itu. Peristiwa ini menghancurkan nama komunis. Itu satu tindakan kekanak-kanakan.”

Setelah sidang kabinet di Bogor itu, di Jakarta saya menerima kabar sedih. Ade Irma Suryani, yang baru saja menginjak umur lima tahun, meninggal dunia pada tanggal 6 Oktober 1965 lewat pukul 22.00. Putri Jenderal Nasution itu dirawat di RSPAD enam hari, setelah mengalami tembakan dari jarak satu meter oleh G.30.S/PKI dan menderita luka-luka parah.

Esok harinya, tanggal 7 Oktober, anak yang tidak berdosa itu dimakamkan di pekuburan Blok P Kebayoran.

*

Rakyat sudah membakar gedung PKI yang ada di Kramat. Saya perintahkan supaya tidak chaos.

Komando Aksi Pengganyangan G.30.S atau “KAP Gestapu” bersama-sama dengan organisasi masyarakat yang sebelum ini selalu beradu-hadapan dengan PKI berkumpul di Taman Sunda Kelapa dan menuntut pembubaran PKI. Front Nasional membawa spanduk-spanduk dan meneriakkan tuntutan: “Bubarkan PKI !, Gantung Aidit !, PKI Anti Tuhan !, PKI Biadab !, Gantung PKI dan begundal-begundalnya!”.

KAP Gestapu/Front Pancasila yang menjadi penegak dalam penumpasan PKI di tengah masyarakat. Berdampingan dengan kami.

Kesatuan Aksi-Kesatuan Aksi pun muncul. Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) disusul oleh Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia, Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia, dan lain-lain.

Saya harus pegang kendali di tengah jalannya semua gerakan ini, sementara saya tetap ingat kepada siapa saya harus menengadah. Saya harus dekat kepada-Nya.

Pada masa-masa itu saya tidak punya pikiran sedikitpun untuk menjatuhkan Bung Karno. Di mata saya beliau tetap pemimpin yang berjasa, sekalipun beliau punya penilaian lain terhadap apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965 itu. Tetapi saya tidak memandang perlu terus menerus mengemukakan pendirian saya tentangnya di depan orang banyak itu, kecuali pada saat-saat yang tepat.

Di hari-hari berikutnya didapat kabar mengenai tertangkapnya Untung, gembong Gestapu itu, pada tanggal 11 Oktober 1965. Sekian waktu kemudian ia diajukan ke sidang pengadilan dan dijatuhi hukuman mati. Aidit yang lari dari Halim ke Yogya dengan naik pesawat AURI itu, tertangkap oleh Yon G dalam satu operasi yang dipimpin langsung oleh Kolonel Jasir Hadibroto, Komandan Brigif-4. Ia mati, ditembak sewaktu akan melarikan diri, pada tanggal 22 November 1965, menurut laporan yang sampai pada saya.

Sementara itu Hari Pahlawan telah diisi dengan acara berdo’a di pusara para Pahlawan Revolusi kita di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dalam kesempatan ini Bung Karno pun hadir dan menyebarkan bunga di atas makam para Pahlawan Revolusi kita itu.

Setelah itu saya keluarkan instruksi yang berisikan dasar-dasar kebijakan penertiban dan pembersihan personil sipil dari G.30.S/PKI di kompartemen-kompartemen, departemen-departemen dan lembaga-lembaga serta badan-badan lainnya dalam aparatur pemerintahan.

Sahirman, gembong G.30.S di Jawa Tengah, yang merebut Studio RRI Semarang waktu meletus G.30.S itu, ternyata lari ke daerah Gunung Merapi. Begitu juga kawan-kawannya (Ex. Kolonel) Maryono, (ex. Letkol.) Usman. Di daerah Merapi itu memang dulu di tahun 1950 pernah ada gerombolan “Merapi Merbabu Complex” (MMC) yang ekstrim kiri dan PKI turut di dalamnya.

Sarwo Edhie turun tangan lagi dengan Komando Operasi Merapinya di bulan Desember 1965, dan Sahirman serta kawan-kawannya dapat di tumpas di sana.

Begitulah warna suasana sewaktu melakukan penumpasan atas G.30.S/PKI dan sisa-sisanya.

Tetapi hal ini tidak berarti selesai, sebab, selang beberapa waktu kemudian muncul lagi gerpol-gerpolnya.

1Penuturan Presiden Soeharto, dikutip langsung dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982

Feb 212013
 

SIDANG SUB DEWAN STABILISASI EKONOMI

(Pegawai Negeri Memakai Pakaian Harian Sebagaimana Menteri )1

SELASA 01 PEBRUARI 1972, Presiden Soeharto, dalam sidang Sub Dewan Stabilisasi Ekonomi di Bina Graha hari ini, menganjurkan agar mulai bulan April yang akan datang semua pegewai negeri memakai pakaian harian sebagaimana biasanya dipakai oleh para menteri.

1 Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.