Apr 192015
 

Presiden Soeharto Resmikan Pabrik Semen Indarung[1]

RABU, 23 JUNI 1987 Masih berada di Sumatera Barat, sore ini Presiden dan Ibu Soeharto meresmikan Pabrik Semen Unit III-B PT Semen Padang di Indarung. Selesainya Unit III-B pabrik Semen Padang ini merupakan hasil kerjasama antara dua negara yang sedang membangun, yaitu Indonesia dan India.

Dalam kata sambutannya, Presiden mengatakan bahwa meskipun pembangunan pabrik ini inengalami keterlambatan, namun rampungnya pembangunannya membuktikan bahwa kerjasama antara bangsa-bangsa yang sedang membangun bukanlah suatu impian. Kerjasama ini mempunyai makna yang lebih besar lagi, sebab yang kita bangun disini adalah pabrik yang menggunakan teknologi mutakhir. Dalam hubungan ini, Kepala Negara mengharapkan agar semua pengalaman dalam membangun pabrik ini dapat menjadi pelajaran yang berharga dalam membangun pabrik­pabrik lainnya di masa-masa mendatang. (AFR)

___________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 619-620. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 192015
 

Presiden Soeharto Resmikan PIR Ophir dan Sejumlah Proyek di Pasaman Sumatera Barat[1]

RABU, 23 JUNI 1987 Pukul 07.00 pagi ini Presiden dan Ibu Soeharto berangkat ke Sumatera Barat dalam rangka kunjungan kerja selama satu Pasaman dan Indarung. Di Pasaman, pagi ini Presiden meresmikan Perkebunan Inti Rakyat Ophir, proyek irigasi di Batang Kapar, Batang Kenaikan I, Batang Alin dan Batang Tinggiran, serta peningkatan jalan dan jembatan.

Menyambut proyek-proyek tersebut, Kepala Negara mengatakan bahwa dalam melaksanakan pembangunan, kita memang harus terns memperkuat dan memperluas pembangunan pertanian. Sebabnya ialah karena untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila yang menjadi tujuan pembangunan kita itu, kita harus terlebih dahulu membangun landasan yang kuat dan kukuh. Landasan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila itu tidak lain adalah adanya industri yang kuat dengan dukungan pertanian yang tangguh.

Selanjutnya dikatakan pula bahwa masyarakat yang menjadi cita-cita pembangunan itu juga hanya akan terwujud jika taraf hidup lapisan terbesar masyarakat kita dapat meningkat terus menerus. Karena bagian terbesar dari rakyat kita adalah kaum petani, maka tidak boleh lain, pembangunan harus berarti meningkatkan taraf hidup petani. (AFR)

_______________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 619-620. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 192015
 

Diterima Presiden Soeharto, Menlu Mochtar Laporkan Pesan Pangeran Sihanouk[1]

SELASA, 22 JUNI 1987 Pukul 10.00 pagi ini Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja menghadap Presiden Soeharto di Bina Graha. Ia datang untuk melapor tentang pesan yang diterimanya dari pemimpin pemerintah Koalisi Kamboja, Pangeran Sihanouk. Dalam pesannya itu, Sihanouk antara lain membantah berita-berita yang menyatakan bahwa ia mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai Presiden CGDK. (AFR)

__________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 619. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 192015
 

Rintis Pelestarian Hutan dengan Sistem “Banjirkap”, Abdul Wahab Dianugerahi Satya Lencana Pembangunan oleh Presiden Soeharto [1]

SABTU, 20 JUNI 1987 Pukul 10.00 pagi ini Presiden Soeharto menghadiri acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diadakan di Istana Negara. Acara peringatan ini ditandai dengan penganugerahan tanda kehormatan Satya Lencana Pembangunan oleh Presiden Soeharto kepada Abdul Wahab Syahranie (almarhum) dan Ir A Salmon Mustafa. Abdul Wahab Syahranie dinilai berjasa merintis pengembangan lingkungan hidup dalam menjaga kelestarian hutan, dengan mencegah penebangan kayu dengan sistem “Banjirkap”. Sedang Salmon Mustafa berjasa dalam merintis upaya pengendalian dan pencegahan pencemaran lingkungan dari limbah industri.

Dalam sambutannya Kepala Negara mengatakan bahwa setelah berhasil membangkitkan kesadaran masyarakat mengenai arti lingkungan hidup, kewajiban kita selanjutnya adalah menuangkannya kedalam tindakan nyata. Dari segi pengelolaan Iingkungan, mulai tanggal 5 Juni tahun ini kita mulai memberlakukan keharnsan analisa dampak lingkungan bagi kegiatan-kegiatan penting yang dapat mempengaruhi kemampuan lingkungan hidup. Ini mernpakan langkah yang lebih maju untuk mewujudkan pembangunan berwawasan lingkungan. Namun diingatkan oleh Presiden bahwa langkah-langkah seperti ini harus kita lakukan di semua sektor, agar upaya kita benar-benar dapat melestarikan kemampuan lingkungan untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan pada pembangunan jangka panjang 25 tahun yang kedua. (AFR)

____________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 618-619. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 192015
 

Menerima Ketua Bappenas, Presiden Soeharto Memperoleh Laporan Hasil Sidang IGGI[1]

JUM’AT, 19 JUNI 1987 Selama dua jam pagi ini Presiden Soeharto menerima laporan dan penjelasan Menteri/Ketua Bappenas, JB Sumarlin, tentang hasil sidang IGGI ke-30 yang berlangsung di Den Haag, Negeri Belanda. Seusai pertemuan itu Sumarlin mengatakan bahwa menurut Kepala Negara keputusan IGGI yang memberi pinjaman lunak kepada Indonesia merupakan suatu kepercayaan dari anggota-anggota IGGI, sehingga kita. dapat melanjutkan pembangunan. Dikatakannya bahwa bantuan sebesar US$3,161 miliar itu akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek di beberapa daerah yang mendapat prioritas. Proyek-proyek yang akan dibiayai dengan pinjaman lunak itu ialah pengadaan air bersih, pembangunan pertanian, perkebunan, pertambakan, pengembangan pelabuhan, rumah sakit, serta industri kecil dan menengah. (AFR)

___________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 618. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 192015
 

Diterima Presiden Soeharto, Emil Salim Jelaskan Pembicaraannya dengan Pemimpin Kamboja[1]

KAMIS, 18 JUNI 1987 Menteri Negara KLH Emil Salim pagi ini mengadakan pembicaraan selama lebih kurang satu jam dengan Presiden Soeharto di Cendana. Setelah bertemu Kepala Negara, ia mengatakan bahwa ia telah melaporkan kepada Presiden tentang pembicaraan yang dilakukannya dengan pemimpin Kamboja, Pangeran Sihanouk, dan Deputi Menteri Luar Negeri Vietnam, Vu Xuan Ang, di Pyongyang pekan lalu. Namun ia tidak bersedia menjelaskan mengenai isi pembicaraan tersebut, karena baik Sihanouk maupun Vu Xuan Ang meminta agar hasil pembicaraan tersebut tidak disiarkan. (AFR)

______________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 617-618. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 192015
 

TMII Dihibahkan ke Pemerintah, Pengelolaan dilakukan Yayasan Harapan Kita Secara Mandiri[1]

RABU, 17 JUNI 1987 Yayasan Harapan Kita pagi ini menghibahkan seluruh kompleks TMII kepada pemerintah. Penghibahan ini ditandai dengan penandatanganan akte oleh Presiden Soeharto, atas nama pemerintah dan negara, dan Ibu Tien Soeharto selaku Ketua Umum Yayasan Harapan Kita, di hadapan notaris Koesbiono Sarmanhadi. Acara yang berlangsung di Cendana pada jam 10.00 pagi ini disaksikan pula oleh Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono, serta para pengurus Yayasan Harapan Kita lainnya, yaitu Ibnu Sutowo, Nyonya Ali Murtopo, Nyonya Sudjono Humardani, Nyonya Muhono, Nyonya Widya Latief, dan Sampoemo.

Pada kesempatan itu Presiden Soeharto menyatakan terima kasih dan penghargaannya kepada Yayasan Harapan Kita yang telah berhasil membangun TMII menjadi tempat menampilkan seni budaya berbagai daerah di Indonesia. Dikatakan oleh Kepala Negara bahwa sekarang ini TMII bukan saja menjadi tempat rekreasi wisata, tetapi juga telah berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan rasa cinta tanah air, membina rasa persatuan, mengenal seni budaya dan membina kerajinan tangan. Lebih jauh dikatakan Presiden bahwa dengan adanya pengalihan hak, maka untuk inventarisasi seluruh kekayaan TMII akan dilakukan perubahan atas sertifikat tanahnya. Namun demikian pengelolaannya masih ditangani oleh Yayasan Harapan Kita yang akan diatur dengan suatu Keputusan Presiden. Tetapi diharapkan agar pengelolaan TMll dilakukan secara bisnis, sehingga TMII bisa mandiri dan tidak perlu disubsidi pemerintah. (AFR)

____________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 617-618. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 192015
 

Diterima Presiden Soeharto, Mentan Laporkan Peningkatan Produksi Beras[1]

SELASA, 16 JUNI 1987 Pagi ini, pada pukul 10.15, Menteri Pertanian Achmad Affandi juga diterima oleh Presiden di Bina Graha. Ia datang untuk melapor tentang perkembangan produksi beras. Dikatakannya bahwa produksi beras tahun ini akan mencapai 28,03 juta ton, sehingga melebihi target yang ditetapkan sebanyak 27,34 juta ton. Peningkatan produksi ini disebabkan adanya supra Insus di bagian utara Jawa Barat seluas 270.000 hektar. Oleh karena itu areal supra Insus direncanakan akan diperluas lagi di daerah-daerah lain, seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan masing-masing 500.000 hektar. Dilaporkannya pula bahwa produksi padi supra Insus cukup tinggi, yaitu melebihi 10 ton setiap hektarnya. (AFR)

_____________________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 616-617. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 192015
 

Menerima Kastaf AB Prancis, Presiden Soeharto Harapkan Kerjasama Pendidikan dan Peralatan Militer [1]

SELASA, 16 JUNI 1987 Presiden Soeharto mengharapkan berkembangnya lebih lanjut kerjasama antara Indonesia dan Prancis di bidang pendidikan dan peralatan militer. Harapan tersebut dikemukakan Kepala Negara kepada Kepala Staf Angkatan Bersenjata Prancis, Jenderal Jean Saulnier, yang pagi ini melakukan kunjungan kehormatan di Bina Graha. Kepadanya Presiden telah menjelaskan tentang politik yang dijalankan Indonesia dan peranan ABRI dalam melaksanakan politik tersebut. (AFR)

___________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 616-617. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Apr 192015
 

Presiden Soeharto Berikan Bantuan Biaya Pembangunan Pencegah Erosi Pura Tanah Lot[1]

MINGGU, 14 JUNI 1987 Presiden Soeharto memberikan bantuan sebesar Rp558 juta kepada pemerintah daerah Bali guna membiayai pembangunan pengaman/pencegah erosi di obyek wisata Pura Tanah Lot. Bantuan ini diperlukan untuk menghindarkan pura tersebut dari kikisan ombak Samudra Hindia. Bantuan tersebut diserahkan Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono kepada Gubemur Bali. (AFR)

__________________

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 616. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003