Oct 142014
 

Kuat Pada Prinsip, Rendah Hati Dalam Sifat

Soerjadi

(Wakil Ketua MPR/DPR Masa Bakti 1988-1992/ PDI)

Sejak masih pelajar SMA di Yogya saya sudah mengenal nama Pak Harto sebagai Panglima Divisi Diponegoro di Semarang. Pada masa itu banyak pemimpin ABRI yang dikenal sampai keluar lingkungan militer. Artinya pada waktu itu KSAD, Menpangad, dan panglima-panglima divisi merupakan figur-figur atau tokoh-tokoh yang dikenal dalam masyarakat luas. Antara lain adalah Pak Harto. Saya mengenal beliau melaJui koran, radio dan majalah karena pada waktu itu saya masih sangat muda dan belum terlibat sama sekali dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat politik praktis. Keluarga isteri sayalah yang mengenal keluarga beliau lebih dahulu. Jalinan perkenalan ini terjadi pada waktu mereka berada di Semarang. Hubungan antara ayah mertua saya yang pada waktu itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah dan Pak Harto sebagai Panglima Diponegoro berjalan dengan erat dan baik. Mereka, Pak Harto dan Pak Hadisubeno, mertua saya, sama-sama mempunyai prinsip yang kuat dan tegas dalam menghadapi bahaya komunisme. Disamping itu hubungan antar keluarga juga terjalin dengan baik dimana pada waktu itu ibu mertua saya suka mengantarkan masakan kegemaran keluarga beliau yaitu sayur lodeh. Sampai sekarangpun ia masih sering mengantarkan ratus yaitu alat pewangi kain, yang dibuatnya sendiri, kepada lbu Tien dan teman-teman lainnya.
Pertemuan saya yang pertama kali dengan Pak Harto terjadi pada waktu pemberontakan G-30-S/PKI. Saya datang ke rumah beliau di Jalan H Agus Salim sekitar jam 9.00 malam bersama dengan beberapa aktivis PNI. Seperti kita ketahui, pada waktu terjadinya coup yang gagal tersebut, PNI telah pecah menjadi dua kubu. Saya adalah salah seorang dari kelompok Osa-Usep. Kami datang menemui beliau karena kami beranggapan hanya beliaulah yang dapat memberikan informasi yang dapat dipegang, karena begitu semrawutnya berita-berita yang tersiar, padahal waktu itu saya diserahi tugas untuk membina GMNI yang juga sudah terpecah.
Mengapa kami pergi kepada beliau? Karena menurut pendapat kami, beliau pada waktu itu kami anggap sebagai tokoh militer yang paling senior setelah Pak Nasution. Selain itu beliau sebagai perwira tinggi telah mengambil prakarsa untuk memegang tanggungjawab kepemimpinan TNI-AD sehubungan dengan pemberontakan PKI dan gugurnya hampir seluruh pimpinan teras TNI-AD, sehingga posisi beliau menjadi sentral.
Kesan saya yang pertama pada waktu itu adalah, saya berhadapan dengan seorang pemimpin militer yang low profile dan sederhana, baik dalam sikap maupun tutur katanya. Sama sekali tak ada kesan garang atau angker. Di situ beliau memberikari gambaran dan pandangan-pandangan mengenai situasi politik yang berkembang pada waktu itu. Ternyata Pak Harto adalah seorang yang menunjukkan rasa tanggungjawab yang besar dalam menghadapi situasi negara yang bersifat darurat. Pada waktu itu kami tidak mengira kalau pada akhirnya beliaulah yang akan menggantikan Bung Karno sebagai Presiden, karena dalam dialog tidak terkesan sedikitpun ambisi beliau ke sana.
Pertemuan saya yang kedua adalah di Kostrad bersama-sama dengan teman-teman dari KAMI, dimana saya pada waktu telah menjadi ketua Umum GMNI. Kemudian masa-masa selanjutnya saya beberapa kali beraudiensi dengan Pak Harto dalam rangka kerja organisasi GMNI dan KNPI. Sesudah saya menjadi pimpinan PDI, dan memegang jabatan yang sekarang ini, sebagai pimpinan DPR, pertemuan-pertemuan formal sering terjadi sebagai konsekuensi dari tugas-tugas saya sebagai Wakil Ketua DPR tersebut.
Pertemuan yang tidak formal terjadi bila saya mengantarkan ibu mertua saya berkunjung kepada keluarga beliau yang ketika itu telah pindah ke Jalan Cendana. Saling kunjung-mengunjungi ini memang sudah terjalin sejak dahulu; bahkan setelah pernikahan saya juga diajak keluarga mertua untuk sowan kepada beliau berdua untuk mohon doa restu. Suatu hal yang biasa pada keluarga Jawa untuk mengunjungi seseorang yang kita anggap tua atau yang kita hormati seusai atau sebelum melakukan suatu langkah yang besar dalam hidup kita. Saya kira pada masyarakat yang lainpun berlaku hal yang sama. Pada waktu itu, tahun 1969, Bapak Soeharto telah menjadi Presiden dan saya adalah anggota DPR-GR.
Komunikasi yang kami pergunakan terhadap beliau adalah bahasa Jawa halus kalau dalam pertemuan yang tidak formal. Tetapi dalam pertemuan-pertemuan formal saya selalu memakai bahasa Indonesia dan beliaupun demikian pula, meskipurr dalam menyata¬ kan hal-hal tertentu saya tidak kuasa untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia. Jadi untuk kata-kata tertentu saya tetap memakai bahasa Jawa halus sesuai dengan unggah-ungguh paramasastra Jawa. Secara pribadi memang saya dihadapkan pad a suatu dilema pribadi. Di satu segi saya sebagai seorang pimpinan, bagaimanapun kualitasnya, saya dituntut untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia, tetapi dalam berhadapan dengan orang tua atau orang yang saya hormati, saya tidak dapat melepaskan diri dan tidak mampu menerobos unggah-ungguh tersebut. Apalagi kalau yang saya hadapi adalah orang Jawa, dan karena saya orang Jawa, maka sukarlah untuk tidak memegang etika Jawa tersebut. Pak Harto selalu berbahasa Indonesia dengan• semua orang termasuk kepada para pembantunya. Bahkan dengan para tamu asingpun bahasa Indonesia tetap dipakainya.

“Kalau bahasa Inggris dapat dipakai di mana-mana oleh orang-orang yang bukan Inggris, mengapa kita tidak menggunakan bahasa kita sendiri?” demikian pendapat beliau.

Pak Harto adalah seorang yang selalu membuka diri terhadap suatu masalah yang kita hadapi, meskipun hal tersebut bukan men¬jadi wewenangnya. Berperannya saya dalam pimpinan PDI yaitu sebagai Ketua Umum sekarang, meskipun tidak langsung, adalah juga karena persetujuan beliau. Bermula dari Konggres PDI ke-3 tahun 1986, yang tidak mampu untuk menyusun secara langsung pimpinan PDI. Akhirnya kongres lalu mengambil keputusan untuk menyerahkannya pada pemerintah, dalam hal ini Presiden melalui Menteri Dalam Negeri sebagai pembina politik dalam negeri, dengan harapan bahwa Presiden akan dapat inemberikan jalan keluar. Akhirnya pimpinan PDI terbentuk dan ternyata saya dipercaya sebagai Ketua Umum PDI. Komposisi dan personalia DPP PDI tersebut ternyata mendapat sambutan yang sangat positif baik dari warga PDI maupun masyarakat umum, khususnya karena DPP yang baru tersebut terdiri dari orang-orang muda.
Untuk memilih pimpinan Badan Legislatif basil Pemilu 1982, misalnya, lobby dengan Bapak Presiden sebagai Bapaknya rakyat Indonesia ini tak dapat dihindarkan oleh semua pihak. Secara formal dan legal saya memang dipilih sebagai Wakil Ketua oleh DPR dan MPR lewat fraksi-fraksi yang ada, tetapi saya yakin bahwa pandangan dari Presiden juga tidak dapat diabaikan. Hal ini tidak berarti bahwa DPR berada dibawah Presiden, karena kita semua mengetahui bahwa dalam UUD 1945 kedudukan DPR adalah sejajar dengan eksekutif; keduanya harus bersama-sama sebagai pasangan kerja.
Sikap beliau sangat terbuka terhadap usul atau saran yang kami kemukakan dan selama saya memegang jabatan baik sebagai pimpinan partai maupun sebagai wakil dalam lembaga legislatif, saya tidak pernah merasakan adanya komunikasi yang kaku. Beliau itu cukup responsif. Contohnya pada waktu kami meminta doa restu untuk maju ke kongres, beliau memberikan tanggapan demikian:

“Ya silakan, partai kan mempunyai otonomi. Silakan maju kalau memang mendapat dukungan, tetapi kan harus dipersiapkan segalanya supaya nanti semuanya bisa berjalan dengan baik. Pemerintah tidak akan mencampuri, silakan jalan”.

Jadi beliau selalu memberikan spirit tetapi juga menunjukkan batasan-batasan untuk sesuatu yang akan kami lakukan kalau hal tersebut akan membawa manfaat tentunya.
Pada waktu saya menghadapi suatu masalah yang berkaitan dengan pelanggaran disiplin partai oleh para anggota PDI yang “nakal-nakal”, saya berusaha menghadap beliau untuk mengutarakan masalah tersebut. Saya berpendapat bahwa saya harus menyampaikannya karena teratasinya kemelut dalam Kongres ke-3 PDI adalah karena campur tangan beliau. Jadi dapat dikatakan bahwa secara formal lahirnya PDI sekarang ini atau DPP PDI hasil Kongres ke-3 adalah atas peranan beliau. Wajarlah kalau kami selalu menyampaikan perkembangan PDI kepada beliau.
Pertama-tama saya meminta maaf pada beliau bahwa kami akan menindak salah seorang anggota DPP yang keanggotaannya adalah juga melalui tangan beliau, tetapi karena sesuatu hal yang prinsip, dan masalah ini tentu saja kami uraikan pada Pak Harto, kami terpaksa akan memecat dan kemudian me-recall-nya. Beliau bisa mengerti sepenuhnya, karena menurut beliau tindakan DPP PDI tersebut merupakan bagian dari usaha menegakkan disiplin nasional. Hanya beliau meminta agar segala sesuatunya haruslah dilaksanakan sesuai dengan aturan permainan yang telah digariskan dalam AD/ART partai.
Dari pengalaman-pengalaman di atas saya berpendapat bahwa beliau akan selalu memberikan jalan keluar berupa petunjuk-petunjuk maupun memberikan nasihat-nasihat mengenai apa yang sebaiknya dilakukan berkaitan dengan suatu kegiatan ataupun pelaksanaan suatu program dan apa yang harus dihindarkan supaya nantinya jangan menghadapi kesulitan. Contoh lain misalnya pada waktu sebagai Ketua Umum saya bersama-sama dengan DPP PDI menghadap Pak Harto untuk memperkenalkan diri, beliau dengan jernih sekali melihat dan menunjukkan permasalahan-permasalahan PDI. Beliau memberikan saran dan nasihat mengenai apa-apa yang perlu dilakukan dan apa-apa yang sebaiknya dihindarkan. Dalam menyampaikan nasihat tersebut, beliau selalu menggunakan ungkapan-ungkapan filosofis yang sangat dalam. Saya merasakan bahwa setiap petunjuk dan nasihat beliau selalu mengandung kearifan.
Dalam hidup saya ini, saya mempunyai tiga idola dan semua saya kagumi yaitu, Bung Karno, Kennedy dan Pak Harto. Semuanya presiden dengan kebesarannya sendiri-sendiri sesuai dengan zaman dan tantangan pada waktu itu. Kebesaran Bung Karno adalah kemampuannya menyadarkan dan menumbuhkan harga diri bangsa ini, yang telah dijajah selama 350 tahun, dan juga kemampuannya mempersatukan bangsa Indonesia dengan kondisi masyarakat kita, yang menurut istilah Mpu Tantular adalah ber-bhinneka yang kemudian dapat menjadi tunggal yang akhirnya kita mengenalnya dengan istilah Bhinneka Tunggal Ika. Kita lihat saja umpamanya India yang terdiri dari satu benua, sampai sekarang masih tetap dipusingkan oleh persoalan integrasi nasionalnya karena timbulnya bermacam persoalan seperti regionalisme, bahasa, agama dan lain-lainnya. Kita harus mengakui bahwa tumbuhnya Indonesia yang bersatu dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika tak dapat dilepas¬kan dari peranan Soekarno. Demikian juga peranan Bung Karno dalam usaha mengangkat Indonesia dalam percaturan politik dunia dengan membangun solidaritas Asia-Afrika melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Disamping membangkitkan solidaritas dunia ketiga lewat gerakan Non-Blok dan lain-lain.
Kekaguman saya pada Kennedy, adalah bermula dari suatu peristiwa yang kecil, tetapi yang tak pernah bisa saya lupakan. Pada zaman Kennedy, Amerika Serikat bagian selatan masih sangat rasialis, di sana ada sekolah untuk kulit putih dan kulit hitam yang masing-masing terpisah. Pada saat itu ada seorang anak kulit hitam yang nekad mau masuk ke sekolah kulit putih, karena merasa bahwasebagai warganegara ia mempunyai hak yang sama. Ia mendaftarkan diri dan memenuhi segala persyaratan yang diminta, sehingga sekolah tersebut menerimanya sebagai murid. Namun ternyata ia ditolak oleh masyarakat kulit putih, terutama yang anak-anaknya bersekolah di sana. Masalah tersebut muncul dalam berita-berita surat kabar.
Kennedy sebagai Presiden memerintahkan militer untuk melindungi dan menjamin hak anak itu untuk bersekolah di sekolah tersebut. Kelihatannya memang sederhana, masalah anak yang mau masuk sekolah; tetapi bagi saya kepemimpinan Kennedy telah memberikan kesan yang mendalam, dan saya mengaguminya. Mengapa? Karena, Kennedy betul-betul menghayati apa yang dinamakan hak-hak asasi, hak politik dan pendidikan, serta tanpa ragu-ragu mem¬bela dengan segala risikonya. Ia mengajarkan orang untuk menghargai hak seseorang secara konsekuen.
Pada Pak Harto, konsistensi akan prinsip yang telah digariskan merupakan kekuatan yang menimbulkan kekaguman saya. Seperti kita ketahui, prinsip yang digariskan oleh pemerintah Orde Baru adalah menegakkan kehidupan konstitusional dengan tekad melak¬sanakan UUD 1945 secara konsekuen dan memegang teguh Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. Kedua hal inilah yang harus tercermin pada semua aspek kegiatan kehidupan ke-negaraan. Kenyataannya perjuangan kita selama ini adalah memang demikian. Pembangunan yang kita pacu ini baik dalam bidang fisik, ekonomi ataupun mental spiritual selalu kita usahakan agar tetap berlandaskan pada kedua hal tersebut.
Proses pembangunan ideologi sebagai dasar kehidupan bernegara dapat berjalan dengan halus dan konsisten sehingga tanpa disadari kita telah sampai kepada suatu konsensus nasional dimana Pancasila telah menjadi satu-satunya asas dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita sudah lebih dari 40 tahun menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara, tetapi selama itu kita melihat bahwa disamping Pancasila berkembang pula ideologi-ideologi lain dengan subur, yang bahkan sebenarnya bertentangan dengan Pancasila, sehingga mempunyai akibat terpecah-belahnya masyarakat dan kekuatan pembangunan kita.
Terwujudnya pembangunan ideologi kita adalah karena tekad Presiden untuk secara konsisten berjalan di atas prinsipnya. Bagai¬mana beliau menggarap hal tersebut, saya sebagai seorang politisi, benar-benar kagum. Perubahan yang dilakukan beliau selalu berjalan dengan halus, terencana dan konsisten, sehingga banyak orang yang tak bisa menangkap esensi dari proses perubahan tersebut, tiba-tiba seperti tersentak ternyata bahwa kita telah sampai kepada konsensus tersebut. Lahirnya satu-satunya asas adalah jelas melalui tangan beliau.
Didalam hal ini PDI sebetulnya mempunyai andil yang cukup berarti. Pada tahun 1975, kita telah memutuskan UU tentang Parpol dan Golkar (UU No. 3/1975) dimana dalam salah satu pasalnya ditetapkan bahwa parpol dan Golkar (pada akhirnya ormas juga), harus berasaskan Pancasila. Tetapi disamping itu masih diharuskan untuk memiliki ciri asas sebagai tambahan. Umpamanya Golkar adalah kekaryaan, PPP adalah Islam, dan PDI sebenarnya tidak mempunyai ciri asas seperti pada Golkar dan PPP. Bagi PDI, kalau sudah Pancasila ya Pancasila saja. Memang akhirnya PDI dengan terpaksa menerima disahkannya UU No.3 tahun 1975. Tetapi PDI tetap tidak bisa menemukan hal yang dipersyaratkan tersebut. Hal ini merupakan beban bagi PDI, sehingga dalam Kongres PDl ke-2 tahun 1981, dengan tegas PDI mengambil keputusan prinsipil. Dalam hal ini PDI mencoret ciri asasnya, sehingga PDI hanya berpegang dan memiliki Pancasila sebagai satu-satunya asas.
Sebenarnya tindakan tersebut melanggar UU No.3 tahun 1975, tetapi hal ini kami lakukan demi komitmen dan konsistensi kita kepada Pancasila dan Orde Baru. Ternyata dalam Sidang Umum tahun 1983, MPR mengambil keputusan (dalam Tap MPR yang tertuang dalam GBHN) bahwa Pancasila ditetapkan sebagai satu-satunya asas untuk parpol dan Golkar (UU No. 3/1985). Dan pada akhirnya juga untuk ormas yang dituangkan dalam UU No.8 tahun 1985. Jadi perjuangan monumental bangsa yang tertuang dalam UU No. 3 tahun 1975 dan UU No. 8 tahun 1985 telah terwujud atas ketegasan dan kerja keras Pak Harto. Ini boleh kita anggap sebagai penutup dari perjuangan dalam bidang pembangunan politik bangsa tahap pertama, yaitu pembentukan lembaga-lembaga politik secara normatif dan kultur politik sesuai UUD 1945. Sesudah itu mestinya kita sudah harus memasuki tahap kedua, yaitu memfungsikan dalam UUD 1945.
Kita boleh beranggapan bahwa sejak 1985 semua yang bersifat normatif dalam kehidupan politik, yaitu semua supra-struktur seperti MPR, DPR, Presiden, DPA, MA, Bepeka, sudah terpenuhi. Demikian juga infra-struktur seperti parpol, Golkar, ormas, pers, dan lain-lain sudah terpenuhi. Dan yang tak kalah pentingnya, menyangkut ideologi negara telah terjadi suatu konsensus nasional, yaitu Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tetapi masalahnya apakah semua lembaga politik tersebut telah memenuhi fungsinya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh UUD 1945? Oleh karena itulah pembangunan politik tahap kedua pada dasarnya adalah berkenaan dengan dimensi fungsional dan substansial dari lembaga-lembaga tersebut. Pancasila jangan hanya dinyatakan sebagai satu-satunya asas saja, tetapi ia harus betul-betul merupakan acuan tingkah laku semua segi hidup negara. Presiden tidak henti-hentinya menekankan masalah ini. Sekarang hanya tinggal kesadaran pada seluruh rakyat dan semua kelompok/organisasi, baik yang formal maupun yang non-formal, untuk menegakkan kesadarannya sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Disiplin nasional seperti yang selalu diserukan Pak Harto, dan baru-baru ini juga oleh Menteri Dalam Negeri Rudini, sebenarnya adalah prasyarat, prasarana atau sarana untuk dapat memperkuat proses fungsionalisasi maupun materialisasi lembaga-lembaga tersebut. Tanpa disiplin semuanya akan merupakan slogan saja. Disiplin nasional harus dimulai dari disiplin pribadi, terutama para pemimpin, baru dikembangkan ke semua arah. Umpamanya gerakan kebersihan. Ini adalah hal yang sederhana tampaknya, tetapi kalau para pejabat ikut melakukannya, maka ini akan merupakan suatu langkah yang baik untuk menumbuhkan disiplin dalam masyarakat. Orang membuang sampah dan puntung rokok di mana mana, itu menunjukkan bahwa pada dasarnya orang tersebut tak mengetahui di mana tempatnya berada, bukan sekadar tak tahu tempat sampah. Juga umpamanya kita membudayakan antrian, hal yang ringan tetapi kalau semua bisa dilakukan, maka disiplin nasional tentu akan membudaya bagi kita semua. Ibu Tien dan Pak Harto telah banyak memberikan contoh dengan ikut terjun langsung ke masyarakat, umpamanya dalam kerja bakti membersihkan lingkungan. Memang semuanya adalah suatu proses, tetapi berlangsungnya suatu proses juga memerlukan suatu kedisiplinan yang tinggi.
Tekad Pak Harto untuk menjalankan UUD 1945 terlihat juga dalain pembangunan perekonomian kita. UUD 1945 pasal 33 menempatkan koperasi sebagai sistem perekonomian kita. Pada mulanya koperasi dimasukkan dalam suatu departemen dengan penanggungjawab seorang direktur jenderal. Tetapi kemudian berdiri sendiri dengan adanya Menteri Muda Koperasi dan sekarang
telah menjadi departemen tersendiri yaitu Departemen Koperasi. Ini merupakan contoh konsistensi beliau dalam segi kelembagaan. Sedangkan dalam segi operasionalnya, beliaulah yang memerintahkan dibentuknya BUUD/KUD di seluruh Indonesia. Konsepsi Pak Harto ini harus dioperasionalkan dengan tindakan-tindakan nyata dilapangan oleh aparat pelaksana tersebut agar mampu memberikan bobot terhadap koperasi itu dalam praktek di masyarakat sebagaimana digariskan dalam pasal 33 UUD 1945.
Hal tersebut perlu segera dikerjakan karena sekarang ini sudah mulai ada suara-suara yang mengatakan bahwa perekonomian kita sudah cenderung mengarah ke liberalisme. Untuk menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak benar, maka kita hanya dapat menjawab dengan tindakan-tindakan kongkrit, yaitu menumbuhkembangkan koperasi di tengah-tengah kehidupan masyarakat dengan segala kebijaksanaan pemerintah secara menyeluruh. Dalam arti, semua departemenyang terkait harus mendukung secara ter koordinir sehingga akhirnya akan mampu menempatkan koperasi benar-benar sebagai tulang punggung atau soko guru perekonomian kita. Seperti kata Pak Mubyarto, kalau dalam pembangunan kita mengenal trilogi pembangunan, maka dalam perekonomian ketiga hal tersebut bisa dianalogikan yaitu: stabilitas adalah tanggungjawab sektor negara, pertumbuhan adalah tanggungjawab sektor swasta, dan pemerataan adalah tanggungjawab sektor koperasi.
Dikaitkan dengan program tinggal landas, maka koperasi harus digenjot untuk masa lima tahun mende}tang agar mampu menempatkan dirinya sejajar dengan sektor-sektor lainnya. Political will sudah ada pada Presiden, sekarang hanya tinggal political adion dari para pembantu beliau untuk mengoperasionalkan hal tersebut dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan di lapangan. Koperasi harus digerak¬kan oleh orang-orang yang bersemangat koperasi.
Kehidupan demokrasi yang teratur sesuai dengan budaya masyarakat kita telah terbentuk dibawah kepemimpinan beliau Hal tersebut baru kita rasakan kalau umpamanya kita membandingkan¬nya dengan demokrasi yang berkembang di India. Banyak orang mengatakan bahwa demokrasi di sana hebat. Apakah demokrasi yang diikuti dengan pembunuhan-pembunuhan pada waktu pemilihan seperti di Lok Sabha cermin dari demokrasi yang baik? India sampai sekarang belum dapat mengatasi masalah yang paling mendasar bagi suatu bangsa, seperti masalah bahasa, agama dan regionalisme, dimana Indonesia telah menyelesaikannya jauh sebelum kemerdekaan, yaitu pada tahun 1928 yang tertuang dalam Sumpah Pemuda yang diciptakan/ dilahirkan oleh para pemuda yang masih sangat muda usianya.
Kitapun telah mempunyai konsep SARA yang dicetuskan di bawah kepemimpinan Pak Harto sehingga kita tidak lagi mengalami ketegangan-ketegangan yang disebabkan oleh permasalahan yang bersumber pada perbedaan agama, suku atau ras, dimana banyak bangsa yang sampai sekarang masih terus dipusingkan oleh hal-hal tersebut. Di sinilah kita dapat menunjukkan kebesaran bangsa kita kepada dunia internasional, betapa besarnya rasa tangg ngjawab dan toleransi kita demi kesatuan bangsa, yang sekaligus menunjukkan kedewasaan dan kematangan bangsa Indonesia.
Selama saya menjadi pimpinan formal baik sebagai pemimpin partai maupun sebagai pimpinan DPR, saya merasakan adanya kepercayaan yang ditumpahkan kepada saya. Begitu pula kalau saya perhatikan para pembantu beliau, semuariya mendapat Iimpahan kepercayaan. Beliau selalu membedkan perhatian yang penuh, artinya kami semua mendapatkan keleluasaan untuk bekerja melaksanakan tanggungjawab. Apalagi terhadap lembaga kepartaian, saya tidak merasakan adanya intervensi beliau. Beliau baru campur tangan kalau kami memintanya, seperti halnya dalam kongres PDI ke-3. Mengenai anggapan orang bahwa eksekutif cenderung lebih kuat dari legislatif, bukankah hal itu telah tercermin dalam UUD 1945 yang mengatakan bahwa kekuasaan legislatif tidak berada di tangan DPR, tetapi dipegang Presiden, meskipun harus dengan persetujuan DPR? Jadi ini bukan berarti ada dominasi dati Presiden atau campur tangan Presiden dalam legislatif, melainkan memang demikianlah pengaturannya dalam UUD 1945. Bukankah kita ingin melaksanakan UUD 1945 dengan konsekuen?
Jadi tidaklah benar kalau ada yang mengatakan bahwa DPR itu lumpuh, tidak bisa atau tidak mampu menyuarakan suara rakyat, semata-mata karena pemerintah terlalu kuat. Kalau hanya me¬nyuarakan aspirasi rakyat, DPR sudah cukup membuktikannya. Masalahnya adalah bagaimana sesudah suara tersebut disampaikan kepada pemerintah? Mekanisme proses inilah, yang sampai sekarang, belum ada aturannya. Inilah barangkali yang merupakan ,salah satu permasalahan yang harus dirumuskan sebagai bagian dari usaha untuk menyempurnakan kehidupan konstitusional. Demikian juga misalnya terdapat pasal dalam UUD yang mengatakan bahwa perjanjian dengan negara lain harus diratifisir oleh DPR, tetapi sampai hari ini belum ada undang-undang yang mengaturnya. Sebagai akibatnya tidak jelas kriterianya mana perjanjian yang benar behar perlu diratifikasi, mana yang cukup hanya diketahui oleh Presiden, dan mana yang cukup ditangani oleh menteri saja. Dengan segala kekurangan yang selalu ada pada setiap kepemimpin-an, namun menurut pendapat saya, komitmen beliau untuk menegakkan kehidupan konstitusional merupakan salah satu kekuatan dan sekaligus juga prestasi beliau dalam masa kepemimpinan selama ini. Dalam menegakkan kehidupan konstitusional ini beliau melahirkan suatu motto:

“pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila”.

Dengan motto tersebut Indonesia telah menggebrak pembangunan sehingga menghasilkan hal-hal spektakuler di dunia, yaitu pembangunan kependudukan dan pertanian yang mendapat pengakuan dan penghargaan dunia. Keberhasilan program KB dan pencapaian swasembada beras merupakan bukti keberhasilan dan hasil kerja keras seluruh rakyat dibawah pimpinan beliau.
Yang membuat saya heran adalah Pak Harto mempunyai daya ingat yang kuat sekali. Beliau mengetahui hampir semua hal sampai yang sekecil-kecilnya. Sekali suatu hal kita bicarakan maka beliau akan mengingat hal itu meskipun beberapa tahun telah dilewati. Hal-hal ini yang kadang membuat heran para pembantu beliau.
Suatu hari kami bersama-sama pergi ke Tapos, Pembicaraan menyangkut pula hal-hal yang berkaitan dengan peternakan dan pertanian. Diluar dugaan saya, beliau bercerita segala hal mengenai peternakan dan pertanian begitu mendalam dan mendetail seperti beliau itu seorang dokter hewan atau seorang insinyur pertanian saja. Pada waktu kami tanyakan, mengapa beliau dapat mengetahui semua itu dengan baik, jawabnya selalu:

“Sebagai seorang anak petani, tentu saja saya mengetahui hal-hal yang berkenaan dengan pertanian dan peternakan”.

Kalau kita perhatikan maka penguasaan beliau terhadap suatu masalah secara baik, baik makro maupun mikro, ternyata bukan hanya menyangkut bidang pertanian saja, tetapi juga di bidang-bidang lainnya. Oleh karena itu perlu jadi perhatian bahwa siapapun yang akan berbicara dengan Pak Harto harus siap secara mendetail, karena pasti akan dibawa ke arah itu oleh beliau.
Sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga Jawa, wajarlah kalau nilai-nilai Jawa sangat mewarnai tindak dan cara beliau bersikap. Prinsip-prinsip filsafat Jawa betul-betul dipegang dan dijalankannya. Seperti prinsip nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, yang berarti “menyerang tanpa pasukan, menang tanpa mempermalukan”; atau miku/ dhuwur mendhemjero. Yang pertama tampak pada waktu beliau melemparkan suatu gagasan politik yang dilakukan dengan halus dan tanpa menimbulkan konflik, umpamanya dalam hal pembangunan ideologi kita. Pepatah yang kedua contohnya adalah dalam halnya Bung Karno. Beliau selalu mengatakan Bung Karno adalah seorang pemimpin dan beliau pulalah yang tidak setuju tuntutan agar Bung Karno diajukan ke pengadilan. Falsafah tut wuri handayani, selalu beliau pergunakan dalam kaitan kerja dengan para pembantu beliau, yang selalu diberikan kepercayaan yang penuh. Tegas, kebapakan, bijak dan rendah hati adalah sifat-sifat yang melekat pada pribadi beliau dan sifat-sifat beliau yang seperti inilah yang menempatkan beliau sebagai seorang pemimpin yang berhasil.
Semakin dekat hubungan kita dengan beliau, saya yakin semakin banyak catatan yang dapat kita buat sebagai pelajaran atau tuntunan, khususnya bagi generasi muda. Sebagai pemimpin dan negarawan besar sudah sewajarnya bila rakyat dan khususnya generasi muda menjadikan gaya, konsepsi dan nilai-nilai kepemimpinan Pak Harto sebagai salah satu referensi dalam belajar politik pada umumnya, dan kepemimpinan pada khususnya.
Sebagai orang yang mencintai dan bangga akan bangsa ini, secara mutlak saya yakin bangsa Indonesia akan selalu dikaruniai putera-putera yang besar oleh Tuhan sesuai dengan kebesaran bangsa dan negara Indonesia itu sendiri. Karena, hanya putera-putera bangsa yang besar yang mampu membawa republik tercinta ini menjadi besar atau berwibawa.

***

Oct 142014
 

Buka Kongres Pemuda/KNPI, Presiden Soeharto Harapkan Sumbangan Pemuda dalam Pembangunan

RABU, 28 OKTOBER 1987 Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Presiden Soeharto pagi ini membuka Kongres V Pemuda/KNPI di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Dalam amanatnya, Kepala Negara antara lain mengatakan bahwa dalam Repelita V kita harus memperdalam dan memperluas pembangunan kita. Kita juga harus dapat memperkecil kemungkinan timbulnya hambatan-hambatan yang dapat mengurangi lajunya pembangunan. Apa yang dapat dikerjakan oleh segenap pemuda Indonesia sebagai sumbangan bagi pelaksanaan pembangunan, khususnya pelaksanaan Repelita V, itulah yang kita harapkan akan menjadi pusat pemikiran dalam Kongres Pemuda/Kongres KNPI yang ke-5 ini. (AFR)

________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 661-662. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Oct 142014
 

Penyelamat Pancasila

H Jailani Naro

(Wakil ketua MPR/DPR masa bakti 1987-1992, Partai Persatuan Pembangunan)

Tahun 1966 angin lama yang menyesakkan dada tiba-tiba terhenti. Angin baru yang menyegarkan mulai berhembus. Letnan Jenderal TNI Soeharto membubarkan PKI untuk memenuhi rasa keadilan di hati rakyat Indonesia. Nama Letnan Jenderal TNI Soeharto mendapat tempat khusus di hati rakyat dan dalam sanubari saya.
Tahun 1968, suatu kesempatan emas hinggap kepada saya. Saya berkenalan dengan Bapak Presiden Republik Indonesia Jenderal TNI Soeharto. Perkenalan ini terjadi dalam rangka pembentukan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Sebagai salah seorang utusan dari kelompok pemrakarsa berdirinya Parmusi, saya mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan dengan Bapak Soeharto.
Tahun 1971-1978. Tugas-tugas saya sebagai Wakil Ketua DPR memungkinkan saya untuk sering melakukankontak/komunikasi dengan Presiden Soeharto, baik dalam rangka dinas maupun hubungan pribadi.
Tahun 1978-1987. Tugas-tugas saya sebagai Wakil Ketua DPA-RI memperpendek jarak antara saya dengan Pak Harto, demikian panggilan akrab rakyat Indonesia kepada Bapak Soeharto. Disamping tugas-tugas saya sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan, memungkinkan pula bagi saya untuk bertemu dengan Pak Harto secara face to face (pertemuan empat mata).
Lintasan waktu dan peristiwa seperti diuraikan di atas, memungkinkan saya untuk memiliki segumpal pengalaman dan kesan tentang Pak Harto, baik sebagai kepala negara maupun sebagai pribadi.
Banyak hal yang dapat dicatat dari Presiden Soeharto sebagai kepala negara. Jiwa kenegarawanan, jiwa kepemimpinan dan jiwa politisi berpadu dalam dirinya. Sikap tegas dan berani yang diambilnya di langkah awal kepemimpinannya telah menentukan jalannya sejarah bangsa. Dibawah panduan Pancasila dan UUD 1945, Bapak Soeharto menata kembali kehidupan bangsa, setelah mengalami situasi gawat, terancamnya kehidupan negara Republik Indonesia, akibat pengkhianatan G-30-S/PKI.
Dengan Surat Perintah 11 Maret 1966, Bapak Soeharto membubarkan PKI, kemudian membersihkan kabinet dari anasir-anasir PKI. Usaha selanjutnya adalah menumpas sisa-sisa G-30-S/PKI, serta melakukan penyelesaian terhadap mereka yang terlibat. Dalam menyelesaikan berbagai masalah rumit tersebut, Pak Harto bertindak penuh perhitungan. Pak Harto menyelesaikan berbagai masalah dengan bijaksana. Sebagai pemimpin yang berpandangan jauh ke depan, yang memikirkan masa depan bangsa dengan seksama, Pak Harto tidak terpengaruh oleh sorak sorai masyarakat dan tidak gentar oleh tekanan-tekanan. Sebagai contoh dalam hal ini adalah ketika “Kesatuan Aksi” mendesak untuk mengadili Presiden Soekarno, Pak Harto menolaknya.
Menelusuri langkah-langkah keoemimpinan Pak Harto dalam membenahi kehidupan bangsa Indonesia, dapat ditemui beberapa hal yang dapat dijadikan tonggak sejarah. Pertama, pembubaran PKI; pembersihan kabinet dari anasir-anasir PKI dan usaha memperbaiki ekonomi rakyat. Tiga hal ini merupakan tuntutan hati nurani rakyat, yang dikenal dengan istilah Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). Kedua, pelaksanaan pemilihan umum tahun 1971. Pemilihan umum ini merupakan pemilihan umum pertama pada era Orde Baru yang diikuti oleh sembilan partai politik dan satu Golongan Karya. Pemilihan umum dimaksudkan untuk memilih anggota DPR dan menyusun anggota MPR. Dan ini merupakan starting point dari Orde Baru dalam rangka membentuk suatu sistem penyelenggaraan negara dan menyusun kalender pemerintahan dalam siklus lima tahunan. Ketiga, pencanangan pembangunan nasional. Sidang Umum MPR menetapkan GBHN, yang pada hakikatnya adalah suatu Pola Umum Pembangunan Nasional.
Tonggak-tonggak sejarah itu, yang merupakan tahap-tahap penting perjuangan bangsa dalam rangka mempertahankan negara dan mengisi kemerdekaan, tidak dapat dilihat terpisah dari kepemimpinan Pak Harto. Kepemimpinan Pak Harto telah terbukti sukses. Keberhasilan pembangunan telah memahatkan nama Pak Harto dalam pembangunan bangsa. Sidang Umum. MPR tahun 1983 telah menetapkan pemberian gelar “Bapak Pembangunan” kepada Presiden Soeharto.
Pak Harto tampil di saat bangsa Indonesia sedang berada dalam keadaan krisis ideologi dan krisis kepercayaan diri. Saat itu Pancasila dan UUD 1945 terancam keampuhannya, karena pukulan-pukulan politik yang dialami bangsa Indonesia. Krisis di atas ditambah lagi dengan krisis ekonomi. Oleh sebab itu dibutuhkan seorang pemimpin yang dapat berpikir jauh ke depan, yang berpikir tentang hari depan bangsa. Dengan kearifan yang tinggi dan kebijaksanaan yang paripurna, Pak Harto menghimbau semua potensi bangsa, ABRI, teknokrat, kekuatan sosial-politik, dan institusi-institusi masyarakat untuk bersama-sama membenahi kehidupan negara.
Penekanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara diletakkan pada landasan Pancasila dan UUD 1945. Untuk memperbaiki kehidupan rakyat, perlu dilakukan renovasi dan pembaharuan dalam kehidupan bangsa. Untuk ini, pembangunan nasional adalah jawabannya. Oleh karena itu Pak Harto menghimbau seluruh rakyat untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Himbauan Pak Harto yang berwibawa dan penuh pengertian itu telah menyentakkan kesadaran rakyat. Pembangunan membalung ketat di hati rakyat dan nama Pak Harto sebagai Bapak Pembangunan terukir dalam sanubari rakyat.
Apa yang saya paparkan di atas, tidak untuk menyanjung dan memuji Pak Harto secara berkelebihan. Sebagai Wakil Ketua MPR/DPR yang dilantik pada tahun 1971, saya memperoleh beberapa kesempatan untuk berkonsultasi dan mendapatkan buah pikiran dari Pak Harto. Pemikiran-pemikiran yang dituangkan Pak Harto di awal kepemimpinannya itu menyentakkan seluruh kesadaran saya untuk mendarma baktikan diri bagi nusa dan bangsa.
Dalam album pribadi saya, Pak Harto tertulis sebagai “Pahlawan Penyelamat Pancasila”. Pak Harto telah menyelamatkan bangsa ini, dan sekaligus mengangkat harkat dan martabat bangsa. Pemikiran-pemikiran Pak Harto telah meningkatkan semangat juang saya dalam menegakkan Pancasila dan UUD 1945, sekalipun untuk itu saya telah masuk kedalam berbagai cobaan.
Ada beberapa aspek kepemimpinan Pak Harto yang dapat saya serap, diantaranya adalah ketegasan dan kewibawaan, serta kearifan dan kebijaksanaannya. Sebagai Wakil Ketua DPA (1978-1988) saya mengenal langsung corak kepemimpinan Pak Harto. Pak Harto seorang pemimpin yang tegas dan berwibawa namun tidak melepaskan sikap hormat dan sikap santun yang merupakan ajaran dasar etika bangsa timur.
Belakangan pengetahuan saya tentang Pak Harto bertambah lagi. Pada suatu hari, saya mengantar beberapa orang anggota DPR untuk mendapatkan bahan-bahan/masukan dari Presiden, sebelum delegasi DPR yang saya pimpin berangkat ke Belgia. Ada dua hal yang dikemukakan oleh Pak Harto kepada kami. Pertama, masalah lingkungan hidup, dan kedua, soal Timor Timur. Dalam masalah lingkungan hidup ini; menurut Presiden, negara-negara di Eropa menginginkan agar Indonesia menjadi paru-paru dunia, mengingat sudah sangat berkurangnya pohon-pohon kayu yang tersedia di negara-negara lain.

“Permintaan mereka itu jelas tidak adil. Sebab negara-negara di Eropa sudah menikmati hasil hutan mereka selama ini. Mengapa kita sekarang yang harus mereka batasi untuk memanfaatkan hasil hutan kita, padahal kita sangat membutuhkan dana dari hasil hutan itu untuk pembangunan”, ujar Presiden

Selanjutnya dikatakan oleh Pak Harto bahwa kalau mereka benar-benar menginginkan Indonesia jadi paru-paru dunia, sebenarnya kita bisa menyediakan berjuta-juta hektar hutan yang ditumbuhi alang-alang untuk tujuan tersebut, dan tidak harus melarang kita memanfaatkan hasil hutan kita sendiri.
Menyangkut masalah Timor Timur, Presiden mengingatkan kepada kami bahwa kita tidak mau andainya masih ada pihak yang ingin mengungkit-ungkit masalah penggabungan daerah itu kedalam wilayah Republik Indonesia. Bahwa Timor Timur sudah menjadi wilayah yang sah dari Republik Indonesia adalah suatu kenyataan dan ini harus dipahami oleh semua pihak. Dalam hubungan ini, Presiden berpesan agar kami dapat menjelaskan kepada mereka yang ingin mengetahui selama perjalanan kami ke Belgia.

“Kemukakan apa adanya. Jelaskan apa yang telah kita perbuat di daerah itu dan betapa kemajuan yang telah dicapai di sana (Timor-Timur), dalam masa hanya belasan tahun saja, dibandingkan dengan masa 400 tahun lebih daerah itu diduduki kaum penjajah Portugal”, ujar Presiden kepada kami.

Selanjutnya Presiden mempersilakan bila ada yang ingin berkunjung untuk melihat dengan mata sendiri tentang apa yang sudah kita kerjakan di Timor Timur.
Berbicara mengenai masalah Timor Timur ini saya berpendapat bahwa ini juga merupakan suatu prestasi dari pemerintah Orde Baru dibawah pimpinan Pak Harto. Dengan penggabungan wilayah itu kedalam wilayah Republik Indonesia, maka itu merupakan perwujudan cita-cita Wawasan Nusantara kita. Di sini kelihatan lebih jelas lagi bahwa kearifan dan kebijaksanaan yang dimiliki Pak Harto adalah salah satu sikap pemimpin yang didambakanbanyak orang. Dengan penuh bijaksana, Pak Harto menyatakan pandangan-pandangan yang berbeda. Dengan landasan konstitusi Pak Harto bekerja keras untuk menggalang persatuan dan kesatuan bangsa. Persatuan dan kesatuan bangsa adalah syarat mutlak menjadi bangsa yang mandiri.
Perubahan fisik dan perubahan kultural, yang terjadi akibat pembangunan di segala bidang kehidupan, menghendaki suatu kearifan baru dalam memimpin bangsa dan negara. Sebab, dalam masyarakat yang sedang membangun terdapat beragam pendapat dan bermacam situasi. Menyadari hal ini, Pak Harto secara arif mengisyaratkan perlunya kesatuan ideologi dan kesatuan sikap bagi kekuatan sosial-politik. Isyarat ini ditangkap oleh lembaga. MPR dan DPR; maka dengan itu lahirlah UU No. 3 Tahun 1975 juncto UU No. 3 Tahun 1985. Undang-undang ini menyebutkan bahwa ketiga organisasi sosial-politik (PPP, Golkar dan PDI) berada pada posisi yang sama. Sama haknya, sama kewajibannya, sama fungsinya dan sama-sama berasaskan Pancasila. Dengan terbentuknya peran ketiga organisasi sosial-politik ini, maka dengan sendirinya terbentuk pula struktur-struktur politik baru. Ini adalah sesuatu yang alamiah dan merupakan konsekuensi logis dari perubahan itu sendiri: bila peran berubah, maka dengan sendirinya strukturpun berubah pula.
Didalam politik luar negeri, Pak Harto pun telah menunjukkan kearifan dan kebijaksanaannya yang telah memberi kesan bernilai tinggi. lni terjadi pada waktu Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-4; bertindak sebagai tuan rumah ketika itu adalah Filipina. Sebagaimana yang telah kita ketahui, keadaan Filipina pada waktu itu sedang tidak menentu dan posisi Presiden Corazon Aquino sangat terancam oleh adanya pemberontakan yang dilakukan Kolonel Honasan. Disamping itu ada ancaman-ancaman serta usaha-usaha untuk menggagalkan konferensi tersebut.
Beberapa kekuatan sosial politik di tanah air termasuk PPP telah menyarankan agar Pak Harto mengundurkan keberangkatannya ke konferensi tersebut, demi keamanan. Selain daripada itu adalah mengingat bahwa tidak lama lagi akan berlangsung Sidang Umum MPR 1988 dan Pak Harto sudah dicalonkan untuk menjadi Presiden masa bhakti selanjutnya. Namun saran-saran itu tidak dipenuhi oleh Pak Harto. Beliau tetap memutuskan untuk menghadiri KTT ASEAN ke-4 itu. Sebelum berangkat, saya berkesempatan bertemu dengan beliau dan persoalan ini saya kemukakan kembali. Pak Harto memberikan penjelasan bahwa:

“Justru pada saat Filipina memerlukan dukungan moral inilah, saya harus datang. Sebab kalau saya tidak datang, akan memperbesar keraguan. Keragu-raguan sudah timbul pada Lee Kuan Yew dan Mahathir”.

Kebijaksanaan dan rasa solidaritas Pak Harto ini benar-benar sangat mengagumkan. Filipina dan negara-negara ASEAN lainnya sangat memuji dan menghargai tindakan Pak Harto.
Sikap tegas dan berwibawa serta sikap arif dan bijaksana yang merupakan aspek-aspek kepemimpinan Pak Harto, membuat orang “damai” bekerja di bawah koordinasinya. Saya yang menggeluti bidang politik, yang senantiasa dihantam gelombang isu dan fitnah, merasa “aman”. Karena saya yakin bahwa Pak Harto tidak akan menanggapi berbagai isu secara dangkal. Berbagai isu yang muncul harus diletakkan pada konteks yang lebih luas dan pada tahap yang lebih mendalam.
Goresan kesan-kesan saya tentang Pak Harto, tidak saja lahir dari hubungan pragmatisme politik (kerangka dinas) seperti itu, tetapi penting pula kesan-kesan dari hubungan pribadi. Yang dapat saya tangkap dari hubungan saya dengan Pak Harto selama ini adalah, ramah tamah dan penuh kekeluargaan merupakan ciri esensial dari kepribadian Pak Harto. Hubungan saya dengan Pak Harto, yang terbina karena pengaruh afeksi, telah meninggalkan kesan yang mendalam di hati saya. Waktu itu, bulan November tahun 1981, saya mendapat kemalangan; ayahanda saya meninggal dunia. Pak Harto beserta lbu Tien datahg melayat. Betapa terharunya saya dan keluarga, karena Bapak Kepala Negara dan Ibu Negara datang mengunjungi rumah kami dalam suasana kami sedang berduka.
Dalam keluarga Pak Harto menjalar suatu rasa kekeluargaan yang mendalam, terlihat oleh suasana kekeluargaan yang hidup. Sikap santun, sikap hormat dan hubungan penuh kasih dalam keluarga Pak Harto, patut dijadikan teladan. Betapa mengesankan melihat suatu peristiwa, yang rasanya tidak mungkin terjadi pada upacara formal. Peristiwanya terjadi ketika ada upacara penyambutan Presiden dan Ibu Tien yang baru saja kembali dari perjalanan muhibah ke luar negeri. Saat itu, Presiden melihat cucunya ikut menjemput, beliau langsung membungkuk untuk mencium dan kemudian menggendong sang cucu. Ini betul-betul suatu peristiwa yang sangat mengesankan dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang.
Keteladanan lain yang diperlihatkan Pak Harto, yang kiranya juga perlu menjadi perhatian dan ditiru oleh generasi muda bangsa, adalah rasa hormat yang selalu beliau tunjukkan terhadap orang yang lebih tua. Setiap tahun beliau selalu sungkem terhadap mertua beliau, kemudian dilanjutkan dengan lbu Tien yang sungkem kepada Pak Harto, dan seterusnya putera-puteri kepada kedua orang tua mereka. Hal ini sebenarnya bukanlah sekadar menjalankan kebiasa¬ an yang sudah ada, melainkan lebih memperlihatkan suatu rasa kekeluargaan yang mendalam dalam keluarga Pak Harto. Tampak sekali bahwa sikap sopan-santun, sikap hormat dan hubungan.penuh kasih sayang selalu diutamakan. Hal ini menambah kecintaan rakyat Indonesia terhadap Pak Harto.
Sikap hidup yang ditampilkan Pak Harto, baik sebagai kepala negara, sebagai pemimpin bangsa dan sebagai pribadi, tentu tidak terlepas dari peranan penting pendamping beliau, Ibu Tien Soeharto. Orang bijak mengatakan: ”Dibelakang seorang lelaki besar, berada seorang wanita besar”. Ibu Tien Soeharto begitu aktif memperbaiki keadaan sosial masyarakat. Rumah sakit, sekolah taman kanak-kanak, dan berbagai sarana kehidupan sosiallainnya telah didirikannya. Selain itu, Ibu Tien adalah pemrakarsa pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang pada awal pembangunan banyak mendapat tantangan.
Saya, yang waktu itu adalah Wakil Ketua MPR/DPR, sangat mendukung gagasan tersebut, dan ikut mengamankan rencana itu. Dewasa ini, dalam era peningkatan pariwisata sebagai sumber devisa negara, terlihat jelas manfaat yang besar dari Proyek Taman Mini tersebut. Kekayaan budaya Indonesia yang dipergelarkan di masing masing stand di Taman Mini itu menarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia. Disamping itu manfaat nyata bagi rakyat Indonesia adalah menunjang prinsip Wawasan Nusantara sebagai satu kesatuan budaya. Hal ini berarti sesuai dengan apa yang tercantum dalam GBHN, yang menyatakan bahwa “budaya Indonesia pada hakekatnya adalah satu, sedangkan corak ragam yang ada menggambarkan kekayaan budaya bangsa yang menjadi modal dan landasan pengembangan budaya bangsa seluruhnya, yang hasil-nya dapat dinikmati bangsa”.
Putera-puteri Pak Harto juga aktif bergerak di bidang sosial; terutama Ny. Indra Rukmana, yang panggilan akrabnya “Mbak Tutut”. Mbak Tutut tidak segan-segan datai1g ke daerah kumuh untuk menyampaikan bantuan kepada rakyat. Bila terjadi bencana alam, Mbak Tutut segera turun ke lokasi musibah dan berada di tengah-tengah rakyat yang sedang menderita. Di tingkat internasional, Mbak Tutut kini duduk sebagai Ketua Lembaga Transfusi Darah.
Sebagai penutup, bila kita melihat kembali perjalanan kehidupan bangsa kita selama dua dekade terakhir, mau tidak mau, suka atau tidak suka, dengan jujur kita hams mengatakan bahwa semua yang telah berhasil kita capai adalah berkat tangan dingin, kegigihan, dan kemauan keras Presiden Soeharto. Walaupun demikian, sebagai umat beragama, kita tentu tidak lupa menyampaikan rasa syukur ke hadirat Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, atas segala bimbingan dan rahmat yang telah diberikan-Nya kepada kita semua.
Merakit pengalaman dan kesan yang saya miliki tentang Pak Harto, baik sebagai kepala negara, sebagai pemimpin bangsa, maupun sebagai pribadi, maka terlihat jelas bahwa Pak Harto adalah seorang pemimpin yang telah bekerja keras untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Untuk menyelamatkan Pancasila dan UUD 1945, Pak Harto telah merisikokan diri, berjuang tanpa pamrih, untuk mencapai suatu maksud luhur, yaitu keselamatan bangsa dan negara. Bila orang mau menggunakan kacamata bening, dan mau meraup semua fenomena yang ada, serta membedah fenomena itu dari kutub positif, maka akan diakuinya bahwa Pak Harto memang sukses dalam memimpin bangsa dan rakyat Indonesia. Jasa-jasa Pak Harto dalam membangun bangsa ini tidak akan terbalas hanya dengan sebutan-sebutan: “Bapak Pembangunan“, “Penyelamat Pancasila” dan lain lainnya.

***

Oct 142014
 

Menerima Peserta Rapim ABRI, Presiden Soeharto Singgung Doktrin Catur Dharma Eka Karma

SABTU, 24 OKTOBER 1987 Pagi ini, pada jam 09.00, Presiden Soeharto menerima 165 peserta Rapat Pimpinan ABRI tahun 1987 di Istana Negara. Pada kesempatan itu, Panglima ABRI Jenderal LB Murdani telah menyampaikan laporan mengenai hasil-hasil yang dicapai Rapim tersebut kepada Kepala Negara.
Dalam amanatnya, Presiden mengatakan bahwa suasana sekarang sudah jauh berbeda dengan suasana tatkala Doktrin Catur Dharma Eka Karma (Cadek) dilahirkan pada tahun 1967. Dikatakannya bahwa selama 20 tahun terakhir ini bangsa kita telah melaksanakan pembangunan di segala bidang sambil terus menerus mengembangkan kehidupan bangsa dan negara yang makin tertib dan teratur. Dalam kurun waktu itu pula Doktrin Cadek telah mampu mengantarkan ABRI makin dewasa, kekar dan tegar seperti hari ini. Oleh karena itu, Presiden menyambut dengan baik upaya generasi penerus untuk menyempurnakan dan mengadakan pembaharuan-pembaharuan terhadap Doktrin Cadek itu dengan harapan agar falsafah nilai-nilai luhur hakiki TNI/ABRI tetap dipegang teguh, dianut, dan dilestarikan. (AFR)

_____________________________
Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 661. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Oct 142014
 

Menerima Laporan Kebakaran Pabrik Tekstil, Presiden Soeharto Instruksikan Keselamatan dan Keamanan Kerja

KAMIS, 22 OKTOBER 1987 Presiden Soeharto menginstruksikan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pelindustrian untuk bersama-sama memperhatikan masalah keselamatan dan keamanan kerja. Instruksi ini dikeluarkan Presiden sebagai tanggapannya atas laporan Menteri Tenaga Kerja, Sudomo, mengenai kasus kebakaran perusahaan konfeksi Nido, di Jakarta, yang telah mengakibatkan 21 orang karyawannya meninggal dunia.
Setelah menghadap Kepala Negara siang ini di Istana Merdeka, Menteri Sudomo mengatakan bahwa kasus ini tetap akan diajukan ke pengadilan. Dikatakannya pula bahwa untuk melaksanakan instruksi Presiden itu, departemannya akan membentuk sebuah team khusus. Team khusus ini akan mendatangi perusahaan industri kecil seluruh Indonesia guna melihat dari dekat segi-segi keselamatan dan keamanan kerja di perusahaan-perusahaan tersebut. (AFR)

 

 

_____________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 660-661. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Oct 142014
 

Menerima Utusan Khusus Cory Aquino, Presiden Soeharto Dukung KTT ASEAN di Manila

KAMIS, 22 OKTOBER 1987 Jose Conception, utusan khusus Presiden Cory Aquino, menghadap Presiden Soeharto di Istana Merdeka pagi ini. Ia menemui Presiden untuk menyampaikan surat dari Presiden Filipina itu.
Setelah bertemu dengan Presiden, Conception yang adalah juga Menteri Perdagangan dan Industri Filipina itu mengatakan bahwa Presiden Soeharto sangat mendukung penyelenggaraan KTT ASEAN di Manila. Menurutnya, Presiden Soeharto juga menekankan betapa pentingnya KTT itu, khususnya bagi pembangunan ekonomi di kawasan ASEAN. Oleh karenanya Presiden memandang perlu bagi semua menteri ekonomi untuk mempelajari hal-hal penting dan usul-usul yang akan disampaikan guna dipertimbangkan oleh masing-masing Kepala Negara dalam pertemuan tersebut. (AFR)

__________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 660-661. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Oct 142014
 

Pasrah, Proporsional Dan Bertanggungjawab

Muhamad Arifin (Laksdya. TNI; Kepala Staf Angkatan Laut)

Pada beberapa kesempatan menghadap, misalnya di Tapos, PaK Harto menyempatkan untuk mengingatkan kepada kita semua, betapa kita harus percaya pada Tuhan Yang Maha Esa dan percaya kepada kekuasaan-Nya. Maka kitapun harus percaya kepada takdir manusia yang telah digariskan oleh Tuhan. Akan terjadilah segala sesuatu yang telah menjadi kehendak Tuhan atas diri manusia dan terhadap segala isi alam semesta ini. Menghadapi kejadian-kejadian tersebut janganlah terlalu gembira, rerlalu susah, maupun menyesal, seyogyanyalah kita rendah hati dan berserah kepada kekuasaan-Nya. Demikian pula atas kekuasaan-Nya diciptakan pula hal-hal yang biasa, istimewa, sangat istimewa maupun luar biasa istimewanya. Menghadapi hal-hal yang demikian marilah kita bersikap wajar tidak perlu heran, tidak perlu terperangah, karena semuanya adalah kehendak Tuhan.
Juga mengenai kekayaan, kedudukan, kekuasaan, meskipun manusia wajib berikhtiar namun semuanya terjadi karena kehendak-Nya. Ada saatnya datang, juga ada saatnya pergi sesuai dengan kehendak-Nya. Bila kita selalu menyadari bahwa itu semua datangnya dari Tuhan maka sebenarnyalah kita ini hanya melaksanakan kewajiban. Maka janganlah sewenang-wenang, janganlah mentang¬mentang. Pak Harto sering mengungkapkan hal ini dengan filsafat Jawa: aja kagetan, aja gumunan, nanging uga aja dumeh.
Ada beberapa peristiwa yang sedikit banyak bisa menggambarkan makna dari istilah aja kagetan. Sebagai contoh tat kala Pak Harto menghadap Presiden Soekarno di lstana Bogor untuk melaporkan tentang inisiatif beliau mengambil komando dan mengambil alih sementara pimpinan Angkatan Darat. Beliau menjelaskan bahwa langkah yang diambil adalah untuk mengisi kekosongan pimpinan dan lagi hal itu merupakan kebiasaan yang sudah berjalan bahwa orang kedua dalam urutan komando (second in command) adalah Panglima Kostrad yang dewasa itu ada di tangan Pak Harto. Namun ternyata pada saat itu Presiden Soekarno telah mengangkat Mayor Jenderal Pranoto sebagai Pelaksana Harian. Menghadapi situasi yang demikian ternyata Pak Harto tidak “kaget”. Pengendalian emosi yang didasari oleh kematangan jiwa yang beralaskan sikap pasrah, menuntun beliau untuk secara rendah hati patuh dan taat atas keputusan Presiden. Tidak ada istilah menentang atasan di kamus beliau meskipun tidak sesuai/sepaham pandangan.
Setelah berhasil dalam langkah pertamanya semenjak memegang komando dan kendali Angkatan Darat, sikap percaya diri semakin nampak dan sikap aja dumeh terkesan makin mengendap dalam pribadi beliau. Keberhasilan mengemban suatu tugas bukan berarti harus mengurangi sikap rendah hati seseorang. Ini dibuktikan berkali-kali dalam setiap langkah dan tindakan beliau. Bahkan sampai saat sekarang ini walaupun Pak Harto telah menjadi Presiden, namun senantiasa meluangkan waktu untuk bertatap muka sekaligus bertanyajawab dengan rakyat mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi, seperti layaknya seorang Bapak terhadap anak-anak. Beliau jauh dari sikap mentang-mentang.
Pada kesempatan lain kami mencoba meresapi dan menghayati ajaran atau cara pandang yang bagaimanakah yang bisa kita petik dengan diumumkannya makam keluarga di Mangadeg. Satu pertanyaan menggelitik, kenapa membangun makam? Setelah mengikuti penjelasan-penjelasan dari beliau dan melihatnya, maka saya berkesimpulan bahwa hal tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian yang utuh dari langkah lainnya terutama dalam bekerja keras dalam pembangunan. Kami sampai kepada suatu pengertian bahwa seharusnyalah kata-kata atau petuah yang mengatakan didalam menghadapi duniawi, bekerjalah terus seolah-olah engkau akan hidup seribu tahun lagi. namun menghadapi saat harus menghadap Sang Pencipta bersiap-siaplah seolah-olah waktu itu adalah esok hari.
Itulah agaknya yang dipesankan Pak Harto kepada kita semua: menghadapi masa pembangunan ini marilah kita berjuang, bekerja keras seolah-olah kita masih hidup seribu tahun lagi, namun menghadapi saat dipanggil bersiaplah seolah-olah waktu itu adalah esok hari. Siapkanlah batin maupun lahir agar bila waktu itu tiba tidak merepotkan orang lain. Didalam menyiapkan diri untuk menghadapi “panggilan” tersebut diingatkan pula kepada kita semua untuk berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berusaha mengendalikan kehidupan kita agar selalu berbuat baik.
Kami mencoba mencari istilah yang bisa menggambarkan uraian tersebut diatas tentang hubungan Pak Harto dengan Sang Pencipta yang sekaligus juga menjadi contoh untuk kita semua, kami temukan dalam istilah Jawa yaitu: mahdep (red=menempatkan hati selalu bersandar kepada Tuhan) yang dalam bahasa Indonesia belum dapat kami temukan padanannya, namun lebih kurang artinya adalah: menghadap secara tepat dan mantap ke arah yang benar, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam pada itu bagaimana seyogyanya sikap kita terhadap orang tua, Pak Harto secara tandas memberikan dengan ungkapan mikul dhuwur mendhem jero. Ungkapan ini kurang lebih berarti bahwa kita harus mampu menghormati orang tua dan menjunjung tinggi nama baik orang tua serta sekaligus juga harus mampu mengubur kesalahan orang tua sedalam-dalamnya. Pengertian orang tua di sini sangat luas, tidak terbatas pada orang tua kandung namun juga termasuk guru, pemimpin, pelindung, pahlawan dan lain-lain. Terhadap mikul dhuwur mendhem jero ini diberikan contoh aplikasinya bagaimana penghargaan beliau terhadap almarhum orang tua kandung, orang tua angkat, mertua, kepada Bung Karno, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, Pak Yani dan lain-lain.
Hubungan Pak Harto dengan rakyat kecil digambarkan dengan istilah tepa selira. Harus bisa merasakan keprihatinan, kesengsaraan rakyat kecil sehingga tergugah untuk mencari akal, mencari siasat bagaimana caranya mengangkat mereka dari lembah kesengsaraan. Juga tepa selira ini bisa diartikan dengan pengertian gak sempit dalam tindakan sehari-hari, yaitu bila pekerjaan itu ditujukan kepada diri sendiri menyakitkan, janganlah diperbuat kepada orang lain atau sesama. Rasa tepa selira Pak Harto tercerrnin dalam bentuk mendirikan sebuah yayasan untuk menunjukkan rasa terima kasihnya guna membalas budi orang-orang kecil yang pernah menolong, seperti para petani yang di masa agresi Belanda kedua dan sesudah serangan umum 1 Maret 1949 telah banyak membantu. Yayasan itu diberi nama Yayasan Pembangunan Territorium Empat. Didalam perkembangannya yayasan derni yayasan bermunculan seperti yang kita lihat dewasa ini merupakan wadah bagi para dermawan untuk berkesempatan beramal dengan sasaran yang telah terencana. Menjadi dermawan itu baik tetapi menjadi dermawan dan mernberikan kesempatan orang lain menjadi dermawan itu lebih baik lagi.
Contoh lain adalah hubungan Pak Harto dengan sahabat karib waktu remaja dulu. Suatu saat beliau menyempatkan diri untuk memanggil teman-teman tersebut di kediaman di Jalan Cendana untuk suatu acara santai/nostalgia. Suasana akrab dan hangat meliputi pertemuan ini. Dari kehangatan dan keakraban dalam pertemuan tersebut, Pak Harto dapat rnenangkap suatu hal yang sangat berharga, yaitu bahwa mereka tidak merasa kecewa dengan keadaannya yang sekarang, bahkan rnereka menerimanya dengan ikhlas dan penuh kesadaran bahwa setiap orang itu mempunyai nasib sendiri-sendiri. Manusia hanya sekadar menjalani apa yang menjadi kehendak Sang Pencipta. Lahir, jodoh dan mati hanya Tuhanlah yang tahu, kita berusaha Tuhanlah yang menentukan. Itulah mungkin sekilas makna yang dapat diambil lewat pertemuan dengan teman-teman beliau itu. Pak Harto merasa terharu dengan sikap teman-teman larnanya sewaktu rnasih remaja dahulu. Mernang hidup ini sudah ada yang rnengatur. Justru dengan sifat pasrah yang ditunjukkan oleh teman-teman ini, beliau yang dianugerahi kernampuan lebih,. makin tergugah untuk mencari jalan yang lebih mantap untuk meningkatkan kesejahteraan jasmani dan rohani semua teman beliau, yaitu rakyat Indonesia.
Kemudian marilah kita serap cara-cara Pak Harto memandang dan menempatkan diri dalam permasalahan. Misalnya pada kejadian sekitar 40 tahun yang lalu pada saat pasukan Belanda yang semula berada di Yogya, oleh perjanjian Roem-Royen diharuskan meninggalkan Yogya. Semula direncanakan akan diadakan upacara serah terima kekuasaan dari Belanda kepada Polisi Rl. Mendengar rencana tersebut Pak Harto serta merta tidak menyetujui, karena upacara tersebut tidak pada tempatnya. Beliau berpendirian bahwa Belanda tidak berkuasa di Yogya, mengapa harus menyerahkan kekuasaan tersebut? Dan lagi kenyataan bahwa Belanda belum berhasil merampas kekuasaan itu dari kita. Biarlah mereka meninggalkan Yogya begitu saja, kemudian anak-anak biar muncul dan setelah itu menyerahkan masalah keamanan kepada Kepolisian RI. Dari peristiwa tersebut nampak bahwa Pak Harto sangat teliti dalam memandang suatu permasalahan sehingga dapat mendudukkan permasalahan tersebut secara proporsional.
Marilah kita lihat juga cara Pak Harto menangani permasalahan pembinaan yaitu waktu beliau mendapatkan tugas untuk meningkatkan kemampuan tempur Resimen 15 di Solo sekitar tahun 1952/1953. Situasi saat itu jelas bahwa sasaran dan rencana latihan belum ada, apalagi sarana dan prasarana latihan. Lalu dari mana harus dimulai? Jalan yang ditempuh adalah, pertama, mendidik instruktur dulu; mereka diambil dari bintara-bintara terpilih dari kompi. Latihannya cukup berat sehingga menghasilkan bintara instruktur yang tangguh. Kemudian mereka disebar kembali ke batalyon masing-masing untuk memimpin latihan. Pelaksanaan latihan di batalyon terdiri dari dua tahap: tahap I adalah latihan perorangan, kemudian tahap II latihan kerjasama dalam batalyon. Di sini sekali lagi nampak betapa beliau sangat teliti dan tepat memilih persoalan pokok dari suatu permasalahan. Selebihnya dalam hal kepemimpinan ini beliau menyarikan sebagai berikut: bahwa seorang pemimpin atau perwira harus senantiasa sadar tentang apa yang dilakukannya. Ia juga harus bersifat lebih baik dari yang dipimpin, jujur, tidak licik dan harus menyadari bahwa kekuasaan bersumber dari kepercayaan yang diberikan anak buah atau rakyat.
Pada sisi lain, pandangan dan sikap beliau terhadap komunisme sudah beliau tunjukkan sejak menjadi Panglima TT-IV/Diponegoro dengan pangkat kolonel. Pada saat itu kepada Presiden Soekarno telah diutarakan betapa bahayanya PKI terhadap Pancasila. Sikap ini beliau pegang teguh, sehingga beliau selalu waspada terhadap bahaya komunisme. Terbukti pada tahun 1965 beliau dapat mengambil keputusan yang bersejarah atas dasar keyakinan yang beliau pegang ini.
Ada lagi langkah Pak Harto yang mengesankan sewaktu menjabat Panglima TT-IV/Diponegoro ini, yaitu kegiatan bidang kesejahteraan. Setelah beliau mengenal lebih jauh kondisi kesejahteraan para prajurit yang memprihatinkan, maka pemecahannya adalah dibangunnya kegiatan koperasi di seluruh kesatuan TT-IV/Dipone goro. Beliau memilih untuk memberikan pancing dan mengajarkan cara memacing daripada memberikan ikannya. Perhatian terhadap kesejahteraan ini akhirnya meluas lingkupnya tidak hanya lingkup prajurit namun meliputi rakyat di wilayah TT-IV /Diponegoro. Diambillah langkah-langkah kongkrit untuk membantu meringan¬ kan beban yang dipikul oleh rakyat di bidang kesejahteraan ini. Keinginan untuk meringankan beban rakyat banyak ini akhirnya menjadi perhatian yang serius dari Pak Harto, dan menjadi salah satu pegangan utama dalam memimpin negara selanjutnya.
Semasa Trikora, Pak Harto diserahi tugas sebagai Panglima Komando Mandala. Operasi ini rnengerahkan kekuatan yang terbesar yang pernah dilakukan Indonesia, sehingga penunjukan beliau sebagai Panglima memang merupakan suatu kehormatan namun sekaligus pula merupakan tantangan. Beliau patuh dan sungguh¬ sungguh melaksanakan perintah betapa pun beratnya. Kesungguhan Bangsa Indonesia dalam melaksanakan Tri Komando Rakyat itu sangat mempengaruhi jalannya perundingan di PBB, sehingga Amerika Serikat menggunakan pengaruhnya agar Belanda bersedia meninggalkan Irian Barat. Kesungguhan dan keteguhan hati Pak Harto dalam melaksanakan operasi ini menjadi catatan tersendiri bagi kita semua.
Kemudian pada peristiwa G-30-S, begitu selesai mendengar siaran RRI tentang’ “Gerakan 30 September” serta mendengarkan keterangan dari beberapa perwira, beliau telah dapat mengidentifikasi bahwa gerakan itu merupakan pemberontakan yang didalangi oleh PKI dengan tujuan untuk merebut kekuasaan negara secara paksa. Menghadapi situasi yang demikian ini Pak Harto langsung menentukan sikap: untuk menghadapinya. Keputusan Pak Harto dalam menentukan sikap ini sekian kali dibicarakan sekian kali pula menarik perhatian kita semua. Kita mengetahui dari teori pengambilan keputusan didalam proses perencanaan militer, seorang panglima dapat mengambil keputusan setelah mengetahui secara lengkap keadaan lawan yang meliputi keunggulan, kelemahan, dislokasi, keadaan medan operasi, dan mengenal benar keadaan pasukan sendiri baik keunggulan, kelemahan serta tugas pokok.
Bila elemen-elemen yang disebutkan dalam teori -tersebut kita hadapkan kepada situasi saat itu, maka kita dapatkan bahwa tidak semua elemen terpenuhi. Taruhlah Pak Harto karena kepekaannya telah dapat mengidentifikasi tentang lawan, namun aspek kekuatan sendiri maupun kawan belum dapat dipastikan saat itu, dimana situasi tidak menentu. Keberanian dan kepercayaan pacta diri beliau serta keteguhan akan tujuanlah yang berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan ini. Selanjutnya didalam melaksanakan keputusan tersebut beliau tidak serta merta, akan tetapi dengan langkah-langkah yang seksama. Kemudian peliau mendapatkan kekuatan hukum untuk bertindak, sehingga tindakan-tindakan beliau dapat mencapai tujuan tanpa menentang atasan.
Masih banyak sebenarnya contoh-contoh yang mengesankan lainnya, tidak hanya dalam bidang kemiliteran saja namun juga bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Agaknya di samping kekuatan lahiriah masih ada kekuatan batiniah yang selalu menuntun Pak Harto dalam mendudukkan setiap permasalahan secara tepat/proporsional. lbarat nakhoda kapal, beliau setiap saat mengetahui di manakah posisi dewasa ini, mengetahui posisi yang akan dituju, mengetahui bagaimana caranya membawa kapal menuju ke posisi yang dituju melalu.i haluan yang telah ditentukan. Pengibaratan ini berlaku untuk lingkup regional, nasional maupun internasional. Seperti halnya dalam hubungan Pak Harto dengan Sang Pencipta saya berikan istilah mahdep, maka untuk menggambarkan bagaimana hubungan dan peran Pak Harto dengan sesama umat, lingkungan dan permasalahan, saya gunakan istilah dunung. Istilah ini kurang-lebih berarti bahwa melihat setiap permasalahan secara proporsional, mendudukkan atau mengarahkan setiap permasalahan pacta tempatnya serta mampu memberikan teladan.
Didalam proses pemecahan masalah, Pak Harto sering mengingatkan kita agar menggunakan cipta, rasa, karsa. Data-data yang diterima oleh seseorang tentu saja tidak semua digunakan, tetapi dipilih yang bermanfaat; proses demikian disebut seleksi.
Seleksi ini sangat dipengaruhi oleh kecerdasan, pengalaman serta kepentingan seseorang. Kemudian data-data yang telah terpilih tadi masuk dalam proses yang berikut yaitu interpretasi atau cipta dengan mengandalkan ratio. Hasil interpretasi seterusnya dikaji dicocok-cocokkan dengan tujuan perjuangan, nilai-nilai moral, nilai-nilai estetika dan nilai-nilai lainnya yang dimiliki oleh seseorang atau di “rasa-rasa”, maka jadilah kini persepsi.
Dari persepsi inilah akan muncul respons atau niat atau krenteg atau karsa yang berwujud dalam tingkah laku. Terlihat bahwa peranan persepsi seseorang sangat penting bahkan sangat menentukan respons atau tingkah laku selanjutnya. Apabila persepsi seseorang terhadap suatu masalah tidak tepat, maka sudah dapat diduga bahwa langkah yang akan diambil tidak akan tepat pula. Maka setiap menghadapi masalah, seseorang dituntut untuk memiliki persepsi yang tepat atau yang proporsional, atau dengan kata lain harus selalu dunung. Memang dalam teori kelihatannya mudah dilaksanakan, namun dalam kenyataannya di lapangan tidak sesederhana dalam teori. Beliau menekankan perlunya latihan memecahkan persoalan agar tajam.
Untuk melaksanakan keputusan ataupun buah pikiran, Pak Harto sangat kaya akan siasat, baik yan bersifat “mengajak” sampai dengan yang “keras”, dari yang kelihatan santai sampai dengan yang sangat serius, serta memiliki keberanian, kekuatan, kemampuan dan keteguhan didalam melaksanakan siasat yangdi pilih. Dengan suatu ciri, siasat mariapun yang ditempuh, semuanya telah direncanakan masak-masak, yaitu: dengan tujuan yang jelas, cara pencapaian tujuan yang kongkrit, dengan sarana dan prasarana yang memadai serta keyakinan akan kebenaran tujuan perjuangan. Selain itu semua, ada satu faktor yang sangat membantu didalain kelancaran pelaksanaan di lapangan, yaitu adanya wibawa atau karisma atau kekuatan dalam ”memasukkan” kehendak dalam “memberikan” pengaruh. Oleh sebab itu beberapa pejabat sering memberikan komentar “tahu-tahu masuk wuwu“, atau dengan kata lain tanpa disadari mengiyakan apa yang diputuskan, apa yang dikehendaki Pak Harto. Untuk faktor ini, apakah bisa dipelajari, dilatih atau memang merupakan pembawaan sejak lahir, hanya beliau yang tahu.
Sebagai contoh marilah kita liliat proses pencapaian posisi From Rice Importer to Self-sufficiency. Dari produksi beras 12,2 juta ton pacta tahun 1969 menjadi 25,8 juta ton pada tahun 1984. Didalam kegiatim meningkatkan produksi pangan, beliau menentukan tujuan secara jelas yaitu: secara bertahap mencapai swasembada pangan, meningkatkan pendapatan, meningkatkan mutu gizi, dan meningkatkari tingkat hidup petani.
Kondisi para petani saat itu pada umumnya miskin, keterampilan dalam hal bertani masih rendah, tidak mampu mendapatkan bibit unggul, pupuk, juga obat anti hama. Sementara itu untuk memperluas laban pertanian membutuhkan biaya yang sangat besar, sehingga pemecahan yang paling tepat adalah dengan menaikkan produktivitas dan produksi padi pacta areal yang telah ada melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Pemecahan masalah ini selanjutnya dirumuskan dalam kebijaksanaan nasional yang menyeluruh dan terkendali, dengan tetap membuka inisiatif dan tanggungjawab petani sendiri. Para petani diberikan pengerti,an, diajak, dibimbing dan’ dibantu serta diarahkan melalui program intensifikasi untuk secara bertahap meningkatkan produksinya. Kadang-kadang beliau turun ke lapangan memberikan “penyuluhan” langsung kepada para petani. Begitu mendetail penguasaan teknis beliau, sehingga muncul komentar: “Mantri tani kalah ‘rek” (bahkan penyuluh pertanian saja kalah). Tentang penguasaan teknis ini ternyata yang beliau miliki tidak hanya dalambidang pertanian saja melainkan juga di bidang perikanan, keluarga berencaha, ekononii, politik serta dalam bidang-bidang lainnya. Nampak beliau sangat tekun mempelajari hal-hal yang menjadi tanggungjawab beliau.
Ada lagi yang sangat mengesankan yaitu pada penyelenggaraan KTT Asean di Manila. Situasi saat-itu boleh dikatakan bahwa Manila khususnya dan Filipina pada umumnya masih belum aman. Masih banyak gerakan-gerakan yang menentang Presiden Cory Aquino. Sementara beberapa tokoh ASEAN masih ragu-ragu untuk menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam KTT ASEAN, di pihak lain banyak saran-saran dari dalam negeri yang mengusulkan agar Pak Harto,tidak hadir atau KTT ASEAN tidak dilaksanakan di Manila. Sekali lagi dengan caranya yang khas beliau memutuskan akan hadir dan juga memberikan jaminan kepada Presiden Cory ba:hwa beliau juga akan membantu agar stabilitas keamanan tercapai sehingga KTT berjalan dengan lancar. Tentu saja pernyataan beliau ini sangat berpengaruh terhadap tokoh-tokoh ASEAN lainnya, seliingga serta merta mereka akhirnya menyatakan kesediaan untuk menghadiri KTT tersebut. Dan memang beliau memenuhi janjinya hadir dalam KTT dan menjamin stabilitas keamanan di Manila sehingga KTT dapat berjalan denagn lancar.
Contoh-contoh lain masih banyak, namun kesemuanya dapatlah disarikan dalam kalimat berikut ini. Bahwa beliau sangat jeli didalam melihat sesuatu permasalahan, kemudian dapat menemukan persoalan pokok dari permasalahan yang ada, mencari pemecahannya, menemukan siasat yang tepat untuk melaksanakannya kemudian memiliki keyakinan akan kebenaran perjuangan, keberanian, kemampuan dan kekuatan serta keteguhan hati untuk melaksana¬ kannya serta bertangg ngjawab akan hasilnya. Bila dicarikan istilah yang tepat untuk menggambarkan sifat-sifat bersebut maka akan kita dapatk.an dalam istilah Jawa yaitu sembada.
Tentang keberhasilan ini beliau pernah memberikan penjelasan: ”Setelah rencana disusun secara seksama maka sebelum melangkah saya tidak lupa berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa kiranya berkenan merestuinya”. Suatu ungkapan yang rendah hati.
Dengan apa yang bisa kita serap dalam uraian terdahulu marilah kini kita pakai untuk menghimpun pandangan beliau tentang pengembangan laut dan Angkatan Laut. Ini bisa kita lihat melalui perhatian beliau, pernyataan-pernyataan beliau dalam temu wicara dengan mereka yang berkecimpung di bidang “kelautan”, serta pada kesempatan menghadap beliau.
Misalnya saja, beliau mempunyai perhatian yang besar terhadap kegiatan perikanan laut, budi daya ikan laut, budi daya rumput laut, dan kerang mutiara. Terasa sekali penghargaan Pak Harto terhadap semangat dan keuletan para nelayan tersebut. Bahkan dengan cara nya yang khas beliau ingin membangkitkan niat dan menyebarluaskannya kepada lapisan masyarakat di luar para nelayan ini untuk terjun dan menggeluti usaha kegiatan laut. Pada kesempatan-kesempatan tersebut beliau menekankan pula antara lain perlunya pengetahuan yang mendalam tentang sifat-sifat ikan, siklus kehldupan, angka lestari terhadap kerang mutiara, rumput laut dan sekaligus juga menguasai teknologi yang diperlukan serta peningkatan sarana penunjang kegiatan tersebut.
Sementara itu, pada kesempatan lain, yaitu pada peresmian pengoperasian instalasi pengeboran minyak di lepas pantai utara Pulau Madura, beliau antara lain menekankan ten tang pentingnya penguasaan teknologi off-shore drilling, serta teknologi pemeliharaan dan perbaikannya. Disamping juga beliau mengharapkan agar tenaga-tenaga yang mengawaki anjungan pengeboran minyak ini baik tingkat manajer, teknisi serta maintainers secara bertahap haruslah menuju kepada kondisi, yang seluruhnya merupakan putera-putera pertiwi nusantara ini. Penelitian demi penelitian tentang kekayaan di dasar laut, di dalam laut dan laut pada umumnya haruslah makin efektif sehingga eksplorasi dan eksploitasi kekayaan ini makin bermanfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Seiring dengan itu beliau mengingatkan pula agar dipikirkan perlindungan hukum yang memadai bagi mereka. Hal ini mengingat pada adanya kepentingan eksploitasi kekayaan laut ini dimiliki pula oleh negara lain.
Kemudian pada kesempatan meresmikan dioperasikannya kapal-kapal penumpang dan peluncuran kapal niaga hasil galangan kapal kita sendiri, beliau menekankan pentingnya sarana dan prasarana angkutan laut ini. Tidak hanya secara fisik mengangkut penumpang ataupun mendistribusikan hasil-hasil pembangunan dan sarana pembangunan, melainkan juga secara moral dapat menyatukan wilayah nusantara, dapat menyatukan rasa kesatuan dan persatuan. Pencegahan pelanggaran lalu lintas laut, kegiatan SAR juga mendapatkan perhatian dari beliau. Selain perlindungan hukum juga harus terjamin adanya rasa aman bagi mereka yang terjun ke laut ini. Mencegah digunakannya wilayah laut kita oleh kepentingan negara lain yang merugikan kepentingan sendiri, dan menciptakan keamanan untuk menjamin terpenuhinya kepentingan nasional di wilayah laut kita sendiri.
Marilah kita peras uraian tentang perhatian dan harapan harapan Pak Harto di atas. Bila kita kelompok-kelompokkan, maka ditemukan ada lima bidang kegiatan, yang meliputi:

  1. Bidang industri dan jasa maritim.
  2. Bidang kapal-kapal niaga.
  3. Bidang kapal-kapal perang.
  4. Bidang kekayaan laut baik hayati maupun non hayati.
  5. Ketenagakerjaan bidang kelautan yang menunjang bidang-bidang di atas.

Uraian tersebut di atas kita temukan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. Marilah sekarang kita dekati dengan pendekatan keamanan. Kalau kita perhatikan benar-benar uraian-uraian dan langkah-langkah beliau dalam bidang pertahanan, secara garis besar dapat kita temukan sebagai berikut:

  1. Membangun dan membina ketahanan nasional dengan melalui pembangunan di semua faset kehidupan. Dengan dimilikinya ketahanan nasional ini, maka negara Rl akan dapat berdiri kokoh dan kuat ibaratnya karang di tengah laut.
  2. Pertahanan negara menggunakan pola defensif aktif. Kalau kita harus menyerang lawan, maka hal itu bukan bermaksud untuk menduduki wilayah negara lawan, namun untuk menghancurkan lawan di kandangnya agar tidak menyerang kita. Dan bila tidak berhasil dihancurkan di kandangnya, maka akan dihancurkan di perjalanan, yaitu di laut/udara. Dan kalau masih tidak berhasil maka akan dihancurkan di darat. Untuk itulah walaupun masih ada keterbatasan-keterbatasan, namun pengadaan kapal-kapal perang strategis seperti kapal selam, fregat, korvet, kapal-kapal pendarat amfibi, kapal-kapal patroli, kapal ranjau, pesawat terbang pengintai dan helikopter mendapat prioritas. Juga tentang alih teknologi di bidang pertahanan ini perlu digalakkan, perlu lebih digiatkan lagi agar lebih efektif. lndustri per kapalan nasional yang menghasilkan peralatan utama untuk kepentingan pertahanan ini telah terasa mulai menunjukkan hasilnya, juga industri peralatan dan mesin-mesin penunjang lainnya. Pak Harto meresapi benar detak-detak kehidupan laut ini.
  3. Diusahakan punya pabrik sistem senjata sendiri (lndustri Strategis) seperti PT PAL. PT Pindad, IPTN, PT INKA. PT Dahami, PT Krakatau Steel, PT Boma Bisma Indra, PT Barata Indonesia, PT INTI, dan LEN.
  4. Menciptakan hubungan yang baik dengan negara-negara tetangga untuk menciptakan ketahanan regional yang mantap.

Selaku generasi penerus yang mendapat kepercayaan menjabat sebagai Kepala Staf TNI-AL, saya menangkap bahwa isyarat yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan Pak Harto di atas adalah bahwa sudah waktunya pengembangan kekuatan laut ini lebih digiatkan. Bila isyarat ini diterjemahkan dalam bahasa pembangunan, maka hal itu berarti bahwa pengembangan kekuatan laut ini haruslah diprogramkan secara matang dan mantik didalam Pembangunan Nasional Jangka Panjang ke-2 mendatang.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 1982 pasal30 ayat (2) maka TNI-AL bertugas:

  1. Selaku penegak kedaulatan negara di laut mempertahankan keutuhan seluruh perairan dalam yurisdiksi nasional serta melindungi kepentingan nasional di dan atau lewat laut, bersama-sama dengan segenap komponen kekuatan pertahanan keamanan negara lainnya.
  2. Mengembangkan potensi nasional menjadi kekuatan pertahanan keamanan negara di bidang maritim.
  3. Menjamin keamanan segala usaha dan kegiatan dalam rangka hal sebagaimana dimaksud huruf 1 dan 2 di atas.

Untuk melaksanakan tuntutan tugas dengan wilayah laut yang begitu luas, sementara itu di sisi lain dihadapkan kepada keterbatasan-keterbatasan yang ada, maka pengembangan kekuatan AL ini harus dilakukan secara bertahap. Pada saatnya nanti akan dimiliki suatu kekuatan laut yang tangguh (blue water navy) dan mampu mengamankan seluruh perairan yurisdiksi nasional dalam rangka penegakan hukum dan kedaulatan negara di laut serta menjamin terlindungnya kepentingan nasionaldi dan atau lewat laut, bersama¬sama dengan segenap komponen kekuatan pertahanan lainnya.
Dalam melaksanakan tahapan di atas, maka dituntut adanya perhitungan-perhitungan yang cermat terhadap kemungkinan¬kemungkinan digunakannya corong corong pendekat oleh lawan untuk menyerang wilayah atau bagian wilayah negara kita. Perencanaan pengembangan kekuatan AL haruslah mengindahkan faktor¬faktor di atas. Untuk itulah maka disiplin dan profesionalisme bagi personil TNI-AL merupakan suatu keharusan, sehingga pembinaan sumber daya, pembinaan kemampuan serta pembinaan kekuatan laut ini betul-betul dapat efektif dan efisien.
Untuk •mencapai tujuan bidang hankam, baik fungsi hankam maupun fungsi sospol tersebut, maka langkah yang sudah, sedang dan akan diambil oleh TNI-AL adalah sebagai berikut:
1. Mempersatukan pendapat/persepsi para perwira TNI-AL melalui forum seminar dan telah menghasilkan konsep kebijaksanaan pimpinan TNI-AL dan telah disyahkan menjadi kebijaksanaan pimpinan TNI-AL (Jakpimal) periode 1989-1993.
2. Menterjemahkan Jakpimal tersebut kedalam program¬program kegiatan tahunan, triwulan dan harian yang meliputi pembinaan kekuatan dan penggunaan kekuatan.
Kemudian untuk mencapai tujuan bidang Binpotnasmar diambil langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menyatukan pikiran mereka-mereka yang berkecimpung di bidang laut, melalui forum-forum diskusi parsial, diskusi terpusat bahkan seminar tingkat nasional.
2. Meningkatkan kegiatan rutin yang sudah dilakukan selama ini yang merupakan kerjasama dari komponen-komponen maritim seperti armada-niaga, armada perang, dan industri/ jasa maritim.

Menurut hemat TNI-AL realisasi pengembangan kekuatan laut, baik ditinjau dari kesejahteraan maupun keamanan, dapat ditempuh dengan langkah-langkah yang saling terkait. Antara lain sebagai berikut:
1. Meningkatkan dan membangkitkan minat dan niat pemerintah dan rakyat untuk “terjun ke laut”;
2. Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan melalui pendidikan;.
3. Meningkatkan kegiatan survey dan pemetaan laut agar lebih mengenal sifat, potensi, batas laut kita;•
4. Meningkatkan dan mengembangkan hasil-hasil industri maritim baik dari tingkat perahu-perahu kecil sampai dengan kapal-kapal niaga dengan tonage 5000 ton;
5. Meningkatkan dan mengembangkan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya laut;
6. Menyempurnakan dan menerbitkan sarana hukum meliputi perundang-undangan, peraturan yang dapat menjamin dan mendorong usaha-usaha di bidang maritim;
7. Meningkatkan dan mengadakan sarana dan prasarana penunjang kelancaran kegiatan kelautan;
8. Meningkatkan dan mengembangkan AL untuk melaksanakan kegiatan pengamanan dan pertahanan negara di laut bersama-sama dengan unsur-unsur lainnya.
Langkah-langkah yang harus mendapatkan prioritas dipilih dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang lebih dominan. Oleh karena itu sektor-sektor yang diprioritaskan tersebut akan mampu mendorong atau menarik sektor-sektor lainnya menuju terciptanya suatu kesatuan kekuatan laut yang tangguh dan self-propelled sebagai sasaran akhir pengembangan. Di sinilah terasa pentingnya perencanaan terpadu antar departemen, sehingga sumber daya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efisien dan efektif.
Demikianlah telah kami coba untuk menghimpun hal-hal yang mengesankan yang beliau ajarkan dan contohkan kepada kita semua yang secara singkat dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, hendaknya kita semua ini dimanapun, kapanpun selalu mahdep (red= selalu menyandarkan hati kepada Tuhan). Kedua, menghadapi sesama, lingkungan dan permasalahan hendaklah kita selalu dunung (red=menempatkan segala sesuatunya secara proporsional). Ketiga, didalam memecahkan masalah, melaksanakan keputusan dan pemikiran hendaklah kita selalu sembada (red =menyelesaikan masalah, kerja tuntas).
Di dalam tulisan ini seolah-olah sifat madhep, dunung, dan sembada kelihatan terpisah satu sama lain, namun sebenarnya ia merupakan satu kesatuan dalam diri manusia. Pembedaan antara seseorang dan orang lainnya adalah terletak pada kadar dari masing-masing sifat tersebut. Makin tinggi kadarnya makin besar karya seseorang.
Dalam rangka pengembangan kekuatan laut, beliau mengharapkan kiranya beberapa bidang kelautan dapat digarap secara serius sebagai kerangka pembangunan nasional jangka panjang kedua. Antara lain misalnya industri dan jasa maritim, armada niaga, armada perang, ketenagakerjaan matra laut, serta kekayaan laut-baik hayati maupun non-hayati. TNI-AL telah mencoba menerjemahkan harapan beliau tersebut kedalam langkah-langkah yang saling terkait, sebagaimana telah saya kemukakan di atas.
Itulah hal-hal yang saya resapi, hayati dan berusaha mengamalkannya. Harapan saya juga adalah agar hal-hal tersebut dapat dihayati serta diamalkan oleh generasi penerus. Namun demikian, semuanya berpulang kepada-Nya, karena semua ini terjadi karena kehendak Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang

***

_______________

Sumber: Muhamad Arifin, ” Pasrah, Proporsional DanBertanggungjawab”, dalam buku “Diantara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 835-850

Oct 142014
 

Buka Konvensi Asosiasi Perminyakan, Presiden Soeharto:Perusahaan Asing Harus Mengerti Arah dan Tujuan Pembangunan Indonesia

SELASA, 20 OKTOBER 1987 Presiden Soeharto, pada jam 09.00 pagi ini, membuka Konvensi Tahunan ke-16 Indonesian Petroleum Association di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Dalam kata sambutannya, Kepala Negara mengatakan bahwa untuk mendorong investasi di bidang industri minyak dan gas bumi ini, Pemerintah Indonesia pada dasarnya menyetujui dilakukannya perpanjangan kontrak production sharing yang telah ada berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, Pemerintah juga akan terus berusaha untuk memperbaiki iklim investasi, agar roda­roda pembangunan di bidang minyak dan gas ini dapat berjalan dengan lebih lancar lagi. Pemerintah juga sangat menghargai sikap para kontraktor usaha bagi hasil yang selama ini selalu menunjukkan kerjasama yang baik dan berharap agar sikap yang positif ini dapat terus dipelihara.
Dikatakan pula oleh Presiden bahwa pengertian pihak perusahaan asing terhadap semangat, arah, dan tujuan pembangunan Indonesia sangatlah penting. Pemerintah Indonesia akan memberikan perlakuan yang wajar yang memungkinkan perusahaan-perusahaan minyak asing untuk menikmati keuntungan dari modal yang ditanamnya di negeri ini. Dalam hubungan ini Kepala Negara menyatakan keyakinannya bahwa perusahaan­perusahaan yang menanamkan modalnya disini pada umumnya, dan perusahaan-perusahaan minyak khususnya, dapat ikut berperan dalam mendorong pembangunan nasional Indonesia tanpa harus mengorbankan tujuan-tujuan perusahaan itu sendiri. (AFR)

 

 

________________________________

 

Oct 132014
 

Presiden Soeharto Panen Bawang Putih dan Resmikan Laboratorium Hepatika di NTB

KAMIS, 15 OKTOBER 1987 Presiden dan Ibu Soeharto melakukan kunjungan kerja sehari di NTB dalam rangka rangka menyaksikan panen raya bawang putih dan peresmian Laboratorium Hepatika Bumi Gora Nusa Tenggara Barat. Dalam kunjungan kerja ini ikut pula Ibu Umar Wirahadikusumah.
Acara panen raya bawang putih berlangsung pada jam 11.00 pagi di desa Sembalun, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur. Peresmian panen raya ini ditandai dengan pemukulan kentongan oleh Presiden, yang dilanjutkannya dengan mencabut bawang putih yang ditanam di sawah. Pencabutan juga dilakukan oleh Ibn Tien dan Ibn Umar, disaksikan oleh ribuan penduduk setempat.
Setelah itu Kepala Negara meresmikan Laboratorium Hepatika yang diprakarsai dan dikelola sepenuhnya oleh swasta, yaitu Yayasan Hati Sehat. Ketika meresmikan laboratorium yang terletak di Mataram itu, dalam amanatnya Presiden mengungkapkan rasa kagum dan bangganya. Sebab, demikian Kepala Negara, laboratorium yang menunjukkan keberhasilan terobosan teknologi di bidang kesehatan ini justru terjadi di kota Mataram, kota yang jauh dari pusat-pusat ilmu pengetahuan yang kita kenal dan langkanya fasilitas-fasilitas ilmiah yang memadai. Hal ini membuktikan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengembangkan kewiraswastaan, profesionalisme, penguasaan teknologi, dan pengelolaan sarana yang terbatas secara efisien, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi pembangunan kesehatan.
Lebih jauh dikemukakan oleh Kepala Negara bahwa upacara siang ini bukan upacara peresmian sebuah proyek raksasa. Dilihat dari wujudnya, yang kita saksikan disini memang sesuatu yang tidak besar. Akan tetapi ada kebesaran lain yang tidak kalah penting, yaitu terobosan yang kita buat dalam teknologi kesehatan. (AFR)

____________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 659-210. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Oct 122014
 

Menerima Surat Kepercayaan Dubes Argentina, Presiden Soeharto: Jarak Tidak Jadi Penghalang Saling Pengertian Indonesia-Argentina

RABU, 14 OKTOBER 1987 Pagi ini, di tempat yang sama, Kepala Negara juga menerima surat kepercayaan dari Duta Besar Argentina yang baru, Omar Ricardo del Azar Suaya. Dalam kata sambutannya, Presiden mengatakan bahwa tanpa terasa, hubungan baik dan kerjasama yang terjalin antara kedua negara telah berjalan 30 tahun; kenyataan ini membuktikan bahwa jarak yang jauh tidak merupakan penghalang dalam membina saling pengertian antara kedua negara. Dengan memperhatikan kenyataan itu, Presiden membenarkan ucapan Duta Besar Suaya bahwa setelah lebih dari tiga dasawarsa tonggak pertama yang kita tanam menjadi makin kokoh dengan berlalunya waktu karena dipupuk kerjasama dan saling pengertian. (AFR)

________________________________

Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 658. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003