Aug 312014
 

Sampaikan Pidato Kenegaraan, Presiden Soeharto: Parpol Hendaknya Tegaskan Asas Pancasila

SENIN, 16 AGUSTUS 1982 Pukul 10.00 pagi ini, dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-37, Presiden Soeharto menyampaikan pidato kenegaraannya didepan rapat pleno terbuka DPR. Dalam amanatnya, Kepala Negara berbicara panjang lebar mengenai kepolitikan Indonesia sejak kemerdekaan, sebagai latarbelakang pembangunan dalam bidang politik dewasa ini. Dikatakannya, sekarang kita masih harus melanjutkan, merampungkan dan membulatkan secara tuntas proses pembaharuan kehidupan politik. Yang perlu dibulatkan dan ditegaskan adalah asas yang dianut oleh setiap partai politik dan golongan karya.
Semua kekuatan sosial politik seharusnyalah menegaskan bahwa satu-satunya asas yang digunakan adalah Pancasila, demikian ditegaskan Presiden. Dikemukakannya bahwa adanya asas lain -disamping asas Pancasila- yang menjadi ciri khas dari partai itu akan merangsang unsur-unsur ekstrim untuk lebih menonjolkan asas yang lain itu pada saat-saat perjuangan politik mencapai bentuknya yang nyata, seperti pada masa-masa menjelang pemilihan umum. Berlandaskan pada kenyataan serta belajar dari pengalaman pahit itu, maka semua kekuatan politik, khususnya partai politik, sebaiknya hanya mengikatkan diri pada asas Pancasila. Dengan demikian partai yang bersangkutan akan dapat tumbuh semakin kokoh dan makin memperoleh kepercayaan dari rakyat.
Menyinggung mengenai pembangunan, dikatakan oleh Presiden bahwa dalam proses itu tidak jarang terjadi perbedaan kecepatan perubahan dan pertumbuhan antara sektor yang satu dengan sektor yang lain, antara golongan yang satu dengan golongan yang lain, antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, antara orang yang satu dengan orang yang lain. Inilah yang kadang-kadang menimbulkan kesan seolah-olah pembangunan kita melahirkan kehampaan dan kekacauan tata nilai, memperbesar ketidakadilan serta mempersempit tanggungjawab dan partisipasi rakyat.
Kadang-kadang ada yang memberi gambaran seolah-olah dalam era pembangunan ini kita telah terhinggapi penyakit yang sudah begitu parah, ketidakadilan begitu merajalela, sehingga kita akan mengalami kegagalan total. Namun hendaknya janganlah kita bersikap destruktif dan kalap, seolah-olah hari depan kita diliputi kegelapan. Seharusnya kita tetap mempunyai kepercayaan kepada kemampuan bangsa kita untuk terus menerus menjamin adanya kesinambungan, peningkatan, koreksi dan pembaharuan dalam kehidupan kita sebagai bangsa dan negara, karena ternyata kita telah mencapai banyak kemajuan dalam pembangunan bangsa selama ini.
Mengenai kemajuan itu, Presiden mencatat bahwa stabilitas ekonomi kita mantapkan, ditengah-tengah keadaan dunia yang dilanda inflasi yang berkepanjangan. Dalam tahun 1981 yang lalu laju inflasi adalah 7%, sedangkan dalam tahun 1980 sebesar 16%. Untuk tahun anggaran 1981/ 1982 laju inflasi adalah 9,8%. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga BBM setinggi 60%, sehingga mempengaruhi tingkat inflasi dalam bulan Januari 1982 yang mencapai 4,7%.
Seterusnya dikatakan Kepala Negara bahwa untuk bulan-bulan selanjutnya dalam tahun 1982 kenaikan harga sangat terkendali, sehingga dalam tujuh bulan pertama tahun 1982 -setelah bulan puasa dan lebaran­ tingkat inflasi berada dibawah 7%. Untuk bulan-bulan berikutnya dalam tahun 1982 ini diharapkan keadaan harga-harga tetap stabil, sehingga laju inflasi tidak akan melonjak.
Demikian antara lain gambaran umum tentang hasil pembangunan yang dikemukakan Presiden Soeharto dalam pidato kenegaraannya. (AFR)

Aug 312014
 

Presiden Soeharto Resmikan Pemugaran Makam Bung Hatta

KAMIS, 12 AGUSTUS 1982 Presiden dan Ibu Soeharto jam 10.00 pagi ini meresmikan pemugaran makam Bung Hatta di pemakaman umum Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Cungkup makam ini direncanakan sendiri oleh Presiden Soeharto.
Dalam kata sambutannya, Kepala Negara mengatakan bahwa dalam menghadapi berbagai tantangan yang menghadang, kita banyak bisa belajar dari Bung Hatta, diantaranya ialah watak yang teguh dan integritas yang utuh. Hidup Bung Hatta memperlihatkan keteguhan sikap dan pendirian yang tidak goyang sedikitpun, betapapun besarnya godaan dan cobaan yang dihadapinya.
Lebih jauh dikatakan oleh Presiden bahwa sebagai pejuang dan pemikir, Bung Hatta ikut merumuskan Pancasila. Penghormatan kita terhadap Bung Hatta sebagai pendiri negara ini yang ikut merumuskan dasar negara itu kita lambangkan dalam ukuran lantai pertama cungkup makam yang berukuran 5×5 meter. Bung Hatta juga seorang muslim yang saleh, yang teguh imannya dan kuat taqwanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Angka 5 melambangkan keislaman Bung Hatta yang kuat. Angka 5 menunjukkan 5 Rukun Islam dan sembahyang 5 waktu. Dan Bung Hatta tidak pernah mempertentangkan Pancasila dengan Islam, Pancasila dengan agama. Memang Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, Pancasila tidak bertentangan dengan agama yang mana pun. Justru dalam masyarakat Pancasila-lah agama mempunyai tempat untuk berkembang subur. Sebaliknya, kesuburan perkembangan agama akan memperkuat Pancasila. Demikian ditegaskan Kepala Negara. (AFR)

_______________________

Sumber: Buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 577-578. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Aug 292014
 

Menerima Memperdag Irak, Presiden Soeharto Tekankan Pentingnya GNB

 

RABU, 11 AGUSTUS 1982 Pukul 09.45 pagi ini Presiden Soeharto menerima Menteri Perdagangan Irak, Hassan Ali Nassar, yang menghadap sebagai utusan pribadi Presiden Saddam Husein. Dalam pembicaraan dengan utusan pribadi pemimpin tertinggi Irak itu, Presiden Soeharto telah menekankan pada pentingnya usaha konsolidasi Gerakan Non Blok demi persatuan di kalangan negara-negara anggotanya. Usaha konsolidasi ini terutama ditujukan untuk memperkokoh dasar-dasar gerakan itu. (AFR)

 

 

____________________________

Sumber: Buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 577. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Aug 292014
 

Presiden Soeharto Resmikan Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi

SELASA, 10 AGUSTUS 1982 Dengan menumpang helikopter dari landasan utama Halim Perdanakusuma, Presiden dan Ibu Soeharto pagi ini tiba di Sukamandi, Jawa Barat. Disini Presiden meresmikan Balai Penelitian Tanaman Pangan. Balai ini menghasilkan bibit-bibit unggul, cara bercocok-tanam yang tepat, cara menanggulangi berbagai hama penyakit dan penanganan pasca-panen.
Dalam amanatnya, Kepala Negara mengatakan bahwa teknologi pertanian sangat penting, agar kita dapat terus meningkatkan produksi pertanian dan sekaligus memperbaiki mutu hasil-hasil pertanian. Melalui tehnologi pertanian yang tepat, kita akan dapat memanfaatkan dan mendayagunakan sumber-sumber daya alam yang dimiliki untuk kemakmuran rakyat yang sebesar-besarnya. Karena itulah dalam membangun bidang pertanian kita memerlukan makin banyak pula balai-balai penelitian. (AFR)

_______________________________

Sumber: Buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 576-577. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Aug 292014
 

Buka Konferensi Insinyur ASEAN, Presiden Soeharto: Membangun Industri Suatu Keharusan

 

SENIN, 9 AGUSTUS 1982 Pagi ini, bertempat di Istana Negara, Presiden Soeharto meresmikan pembukaan Konferansi Organisasi­ organisasi Insinyur ASEAN. Dalam amanatnya, Kepala Negara mengatakan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih rendah antara lain disebabkan oleh belum mampunya masyarakat membangun industrinya. Oleh sebab itu, pembangunan industri memang merupakan suatu keharusan. Namun diingatkan oleh Presiden, bahwa pembangunan industri itu harus benar-benar dapat membawa kesejahteraan kepada rakyat.
Selanjutnya dikatakan bahwa dalam membangun industri, Indonesia berusaha untuk mengembangkan dan menggunakan teknologi tepat guna, yaitu teknologi yang dapat menunjang peningkatan produksi, perluasan kesempatan kerja dan pemerataan pendapatan. Dengan demikian Indonesia mengharapkan akan dapat menghindarkan diri dari hal-hal yang kurang baik. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa Indonesia tidak mau menyerap teknologi maju untuk membangun industrinya secara besar-besaran dalam upaya mencapai kesejahteraan rakyat. (AFR)

___________________________

Sumber: Buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 576. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Aug 292014
 

Peringati Hari Koperasi, Presiden Soeharto: Kecintaan Berkoperasi Perlu Ditanamkan Bagi Kalangan Muda

SABTU, 7 AGUSTUS 1982 Hari Koperasi ke-35 pagi ini diperingati dalam suatu upacara sederhana di Istana Negara. Dalam kata sambutannya, Presiden Soeharto menyerukan kepada pimpinan dan pengurus koperasi serta para pencinta dan anggota-anggota koperasi untuk terus membangkitkan kesadaran dan kepercayaan masyarakat kepada koperasi. Kepala Negara menandaskan, kesadaran dan kepercayaan masyarakat kepada koperasi itu akan bangkit jika koperasi benar-benar dapat dirasakan manfaatnya dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tanpa adanya kesadaran dan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi, maka koperasi tidak akan memiliki kekuatan, sekalipun Pemerintah memberikan bantuan yang sangat besar.
Diingatkan pula bahwa koperasi yang bernafaskan semangat kekeluargaan dan gotong royong serta dijadikan salah satu sokoguru ekonomi nasional itu harus dapat bergerak maju dengan segala kreativitas sendiri dengan tanggung jawab segenap anggota. Kecintaan pada koperasi juga perlu ditanamkan pula dikalangan generasi muda dan seluruh lapisan masyarakat dengan membangun dan mengembangkan koperasi di lingkungan masing-masing. (AFR)

___________________________

Sumber: Buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 575-576. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Aug 292014
 

Presiden Soeharto Menerima Surat Pribadi PM Zenko Suzuki

KAMIS, 5 AGUSTUS 1982 Presiden Soeharto hari ini menerima surat pribadi dari PM Zenko Suzuki. Surat tersebut disampaikan oleh ketua delegasi Parlemen Jepang, Mazumi Ezaki, yang menghadap Kepala Negara di Cendana siang ini. Mazumi yang disertai oleh anggota delegasi lainnya, Tadashi Kuranari, Ippei Kaneko, dan Taro Nakayama, tidak bersedia mengungkapkan isi surat itu. (AFR)

________________________________

Sumber: Buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 575. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Aug 282014
 

Presiden Soeharto: Sukses Sidang Umum MPR, Harus DIikuti Sukes Dalam Pelaksanaannya

KAMIS, 5 AGUSTUS 1982 Pukul 10.00 pagi ini, Presiden dan Ibu Soeharto menghadiri upacara peringatan hari ulang tahun ke-8 Dharma Wanita yang diadakan di Istora Senayan, Jakarta. Dalam amanatnya, Kepala Negara mengingatkan bahwa betapapun suksesnya sidang umum MPR itu, betapapun baiknya keputusan MPR, namun yang terpokok adalah pelaksanaannya. Karena itu disamping kita berusaha untuk mensukseskan sidang umum MPR, kita juga hams siap-siap untuk dengan sepenuhnya turut melaksanakan apa yang diputuskan oleh wakil-wakil rakyat kita itu. Ini adalah sesuai dengan prinsip pembangunan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demikian antara lain dikatakan Presiden. (AFR)

_____________________________

Sumber: Buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 575. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Aug 282014
 

Menerima Abdul Gafur, Presiden Soeharto: Penting Memberi Pemuda, Landasan Pancasila dan UUD 1945

 

SENIN, 2 AGUSTUS 1982 Pukul 09.00 pagi ini Menteri Muda Urusan Pemuda, Abdul Gafur, menghadap Kepala Negara di Cendana. Pada kesempatan itu Presiden Soeharto memberikan petunjuk-petunjuk kepadanya mengenai strategi pembinaan dan pengembangan generasi muda 10 tahun mendatang. Dalam petunjuknya, Presiden menekankan pada pentingnya memberikan landasan yang kuat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 kepada generasi muda dalam menghadapi Repelita IV dan V. Dengan demikian diharapkan mereka tidak terombang ambing atau ikut dalam pikiran-pikiran politik tertentu yang dapat menghambat pem­ bangunan bangsa Indonesia. Presiden mengingatkan pula pentingnya pendidikan keterampilan bagi generasi muda ditingkatkan di masa mendatang supaya mereka menjadi tenaga yang terampil dan produktif dalam pembangunan. (AFR)

__________________________

Sumber: Buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 575. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Aug 222014
 

Presiden Soeharto Menerima Pengurus Pepabri

 

SENIN, 31 AGUSTUS 1981 Pengurus Besar Pepabri jam 09.00 pagi ini menghadap Presiden Soeharto di Bina Graha. Para pengurus Pepabri yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah HI Widyapranata, R Sukardi, G Wagiman, R Moedjoko Koesoemodirdjo, RT Hamzah, GPH Djatikusumo, Prof. dr. Satrio, H Mansyur, dan R Memet Tanumidjaja. Dalam pertemuan itu mereka mengharapkan kesediaan Presiden Soeharto untuk dicalonkan sebagai Presiden RI pada tahun 1983 mendatang. (AFR)

__________________________________

Sumber: Buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 460. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003