Jul 222013
 
Pak Harto mengundurkan diri, 21 Mei 1998

Balikpapan, 10 September 1998

Kepada

Yth. Bapak Soeharto

di rumah

Hati Saya Hancur[1]

 

Dengan Hormat,

Saya memberanikan diri untuk menulis surat kepada Bapak, karena saya sudah tidak bisa menahan prihatin atas apa yang tengah menimpa diri Bapak.

Bapak Soeharto yang bijaksana, sewaktu mendengar pidato Bapak tanggal 21 Mei 1998 tentang pengunduran diri Bapak, hati saya hancur dan tanpa terasa saya menangis tersedu-sedu. Dengan pengunduran diri Bapak ternyata Negara Indonesia tercinta ini malah menjadi makin parah tidak keruan. Tapi apa boleh buat, saya hanya rakyat jelata yang tidak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan agar Bapak tetap memimpin negara ini.

Keprihatinan dan sakit hati saya bertambah mendengar kabar/isyu dari TV, koran, bahkan  internet yang menjelek-jelekkan nama Bapak. Apalagi tentang kekayaan Bapak yang dibesar-besarkan itu. Tapi begitu mendengar wawancara Bapak di TPI, hati saya sedikit lega, karena paling tidak orang-orang akan berfikir kembali untuk tidak menuduh Bapak yang bukan-bukan.

Saya yakin tidak sedikit orang yang masih bersimpati pada Bapak, karena bagaimanapun juga Bapak memimpin negara ini dengan bijaksana selama 32 tahun hingga Bapak dikenal sebagai Bapak Pembangunan.

Hanya orang-orang yang iri dan ambisiuslah yang tega berbuat begitu pada Bapak. Akhirnya saya hanya bisa mendoakan agar Bapak tetap diberi keimanan dan ketabahan dalam menghadapi situasi seperti ini.

 

 

 

Hormat ananda,

Tri Asih Fitriani

Balikpapan


[1]       Dikutip langsung dari buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998″, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 832. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.