Mar 042013
 

PRESIDEN SOEHARTO KUNJUNGAN RESMI KE JEPANG

(Menagih Pampasan Perang Secara Halus Kepada Pemerintah Jepang)[1]

KAMIS, 28 MARET 1968, Presiden dan Ibu Tien Soeharto beserta anggota rombongan jam 07.30 hari ini pergi meninggalkan Jakarta untuk melakukan kunjungan resmi ke Jepang dan Kamboja selama satu minggu.

Setibanya di Tokyo hari ini, Presiden Soeharto memberikan penjelasan kepada para wartawan tentang maksud kunjungannya di Jepang. Dalam pernyataan tertulisnya, Presiden Soeharto menjelaskan bahwa selain untuk mengenali Jepang dari dekat, kunjungannya juga dipergunakan untuk bertukar pikiran dengan pemimpin-pemimpin Jepang mengenai masalah-masalah yang menyangkut hubungan dan kepentingan bersama. Juga dinyatakan oleh Presiden bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia sangat menghargai pengertian dan usaha-usaha yang dilakukan Jepang selama ini untuk membantu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi Indonesia dalam bidang ekonomi.

Catatan: Menurut Koos Arumdanie, Wartawan Senior Istana pada masa Presiden Soekarno-Presiden Soeharto, kunjungan Presiden Soeharto yang baru saja dilantik sebagai pejabat itu sebagai upaya menagih secara halus pampasan perang kepada Jepang yang akan dipergunakan untuk mendorong pertumbuhan perekonomian rakyat di Indonesia. Bukan sebagaimana dugaan publik selama ini yang mengasumsikan kunjungan tersebut untuk membuka kran penanaman modal asing di Indonesia. Sedangkan kunjungan ke Kamboja adalah dalam rangka menancapkan tonggak awal stabilitas ASEAN, mengingat keterikatan kesejarahan Kamboja dan Jawa pada masa lalu. Selain itu juga dalam rangka membujuk Oemar Dhani agar bersedia pulang ke tanah air yang kala itu melarikan diri ke Kamboja.



[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973

Feb 212013
 

KUNJUNGAN KENEGARAAN

(Presiden Soeharto Melakukan Kunjungan Kenegaraan Ke Asutralia, Selandia Baru dan Filipina)1

MINGGU 06 PEBRUARI 1971, Pagi jam 10.00 WIB Presiden Soeharto beserta rombongan meninggalkan tanah air menuju negara-negara tetangga: Australia, Selandia Baru dan Filiphina. Keberangkatan Presiden dilepas oleh Ketua MPRS AH. Nasution, Ketua DPR dan para pejabat tinggi lainnya. Terlihat pula putera-puteri Presiden Soeharto turut serta mengantarkan di lapangan udara Kemayoran, Jakarta. Rombongan yang ikut dalam lawatan Presiden ini berjumlah 40 orang, dimana 10 orang diantaranya adalah rombongan resmi, yang antara lain terdiri atas Menteri Luar negeri Adam Malik, Ketua Bappenas Widjoyo Nitisastro, KASAD Umar Wirahadikusumah, Sekretaris Negara Sudharmono dan Sekretaris Militer Tjokropranolo.

Sesudah lebih dari 10 jam terbang, pada jam 21.00 waktu setempat, Presiden Soeharto beserta rombongan tiba dnegan selamat di Camberra. Kedatangan Presiden disambut dengan ramah oleh Gubernur Jenderal Sir Paul Hasluck, Perdana Menteri William McMahon dan pemimpin oposisi (Partai Buruh) Gough Whitlam.

1 Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.

Jan 282013
 

MENERIMA HOWARD P. JONES[1]

SABTU, 1 FEBRUARI 1969 Pagi hari, Presiden Soeharto menerima Howard P. Jones, bekas dutabesar AS di Jakarta. Howard Jones menemui Presiden dalam rangka kunjungan kehormatan. Sebelumnya Presiden Soeharto juga menerima kunjungan kehormatan Wakil Menteri Luar Negeri Yugoslavia JM Dimce Belovsky.


[1]     Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.

Jan 272013
 
Incognito, Membaur, Masyarakat

PRESIDEN SOEHARTO SERING INCOGNITO/KUNJUNGAN MENDADAK

Presiden Soeharto sering melakukan incognito, kunjungan langsung kepada masyarakat tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kunjungan itu terkadang hanya diiringi oleh ajudan tanpa rombongan besar. Masyarakat yang dikunjungi juga tidak diberitahu terlebih dahulu. Dalam incognito itu Presiden Soeharto membaur dengan masyarakat bawah dan menanggalkan atribut kebesarannya sebagai presiden.

Melalui incognito ini Presiden Soeharto menyerap secara langsung problematika yang ada dalam masyarakat dan tidak hanya mengandalkan informasi dari pembantu-pembantunya. Hal ini menjadikan para pembantu-pembantu dan pejabat-pejabat di daerah berpacu lebih serius untuk menjalankan tugasnya, karena jika bekerja asal-asalan, Presiden lebih mengetahui problematika yang sebenarnya.

Intensitas presiden melakukan incognito ini menjadi salah satu faktor kenapa roda pemerintahan dan program pembangunan terlaksana dengan baik. Bukan sebagaimana tudingan sebagian orang selama ini yang menyatakan kepemimpinannya otoriter. Ketika pimpinan tertinggi memahami hal detail problematika yang dihadapi masyarakatnya, maka para pembantu dan pejabat-pejabat di daerah tidak dapat mengarang cerita tentang kesuksesan di daerahnya jika tidak sesuai fakta.

Presiden Soeharto merupakan sosok bersahaja, bahkan sering mampir di warung-warung penduduk kala melakukan incognito. Berdialog menemui masyarakat sedang bekerja dan menginap di kampung-kampung penduduk. Maka sangat wajar jika program-programnya memperoleh dukungan penuh dari segenap masyarakat.

Galeri Foto: