Dec 302013
 

Presiden Soeharto: Kendalikan Segi Lingkungan Pengembangan Wilayah JABOPUNCUR[1]

SENIN, 24 DESEMBER 1979, Presiden mengingatkan Menteri PPLH, Emil Salim, untuk mengendalikan pengembangan wilayah Jakarta-Bogor­Puncak-Cianjur. Pengendalian yang dimaksudkan itu antara lain dengan memperhitungkan segi-segi lingkungan hidup, termasuk masalah sampah. Demikian dikatakan Emil Salim setelah ia menghadap Kepala Negara pagi ini di Bina Graha. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 236. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Dec 172013
 

Presiden Soeharto Jalani Operasi Kandung Empedu[1]

SENIN, 15 DESEMBER 1975, Presiden Soeharto hari ini menjalani operasi kandung empedu di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta. Operasi tersebut berlangsung dengan memuaskan. Sehubungan dengan operasi ini Kepala Negara diharuskan beristirahat selama lebih kurang satu minggu. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 311. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Oct 282013
 

Presiden Soeharto Ramah Tamah Dengan Para Perintis Kemerdekaan[1]

 

RABU, 15 OKTOBER 1980 Bertempat di Istana Negara, hari ini Presiden Soeharto mengadakan ramah tamah dengan para Perintis Kemerdekaan yang berdomisili di DKI Jakarta. Dalam kata sambutan yang tanpa teks, Presiden mengatakan bahwa walaupun cita-cita kemerdekaan belum seluruhnya tercapai, namun hasil pembangunan yang dilaksanakan sejak Pelita I sampai sekarang ini patut disyukuri, karena hal itu merupakan karunia Tuhan. Dikatakannya bahwa kita harus mensyukurinya, karena keadaan kita sekarang lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun yang lalu, lebih-lebih dengan masa penjajahan.

Diakui oleh Kepala Negara bahwa basil pembangunan yang dicapai sekarang ini belum dapat dikatakan sesuai dengan yang dicita-citakan bersama. Karena itulah kita bertekad untuk melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan. Semuanya itu memerlukan waktu dan pengorbanan. (AFR).



[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 345-346. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta, Tahun 2003.

Oct 082013
 

Presiden Soeharto Menerima Sjekh Al-Azhar[1]

 

SABTU, 9 OKTOBER 1971 Sjekh Al-Azhar Prof. Moh. Al-Fahham yang disertai oleh dua orang alim ulama dan seorang qari dari Republik Persatuan Arab hari ini diterima oleh Presiden Soeharto di Istana Merdeka. Mereka diantar oleh Menteri Agama Mukti Ali dan Duta Besar RPA di Jakarta, Ali Sawky El-Hadidy. Presiden Soeharto menjelaskan kepada para tamunya tentang masalah dakwah Islam, dimana Indonesia menghadapi kekurangan dana. Dijelaskan oleh Presiden bahwa untuk mengatasi kekurangan itu, ia mengumpulkan dana dari zakat dan subsidi haji, yang kemudian semuanya dikembalikan lagi kepada umat Islam dalam bentuk bantuan untuk kegiatan-kegiatan dakwah, disamping perbaikan masjid, madrasah dan lain-lain. (AFR).



[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 375. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Aug 182013
 

Amanat Presiden Soeharto Pada Ketua dan Sekertaris Proyek, Duta Besar dan Gubernur

Amanat Presiden Republik Indonesia Soeharto kepada Para Ketua Proyek dan Sekretaris-sekretaris Proyek, Para Duta Besar RI yang sedang berada di Jakarta, Para Gubernur Seluruh Indonesia tanggal 28 Maret 1968 di Jakarta. Naskah selengkapnya dikemukakan sebagai berikut:

Aug 032013
 

Presiden Soeharto Hadiri KTM ASEAN Ke-2[1]

 

SELASA, 6 AGUSTUS 1968, Pukul 10.00 WIB pagi ini Presiden Soeharto menghadiri pembukaan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ASEAN yang ke-2 di Jakarta. Dalam sambutannya Presiden antara lain mengatakan bahwa pembangunan ekonomi dan stabilisasi wilayah merupakan dua masalah yang harus dapat diserasikan, sebab keduanya saling berkaitan. Dalam hubungan ini Presiden mengatakan bahwa pembangunan ekonomi akan memantapkan stabilitas wilayah ini dan sebaliknya stabilitas yang mantap akan melancarkan kerjasama pembangunan ekonomi. Konferensi Tingkat Menteri ASEAN ke-2 ini, yang dihadiri oleh para menteri luar negeri negara-negara ASEAN, Indonesia, Malaysia, Filiphina, Singapura dan Muangthai, akan berlangsung sampai dengan besok.(AFR).



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 33. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Jul 302013
 

Presiden Soeharto Bahas Pengembangan Jabodetabek[1]

SELASA, 06 Juli 1976 Pukul 10.00 pagi ini Presiden Soeharto memimpin sidang Dewan Stabilisasi Ekonomi Nasional di Bina Graha. Didalam sidang, Menteri Negara Ekuin/Ketua Bappenas telah melaporkan tentang pengembangan daerah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi atau Jabodetabek. Menurut Prof. Widjoyo Nitisastro, pengembangan ini perlu dilakukan dalam rangka menghadapi tekanan penduduk yang semakin membesar di DKI Jakarta, yang disebabkan oleh pesatnya perkembangan Industri.

Presiden belum memberikan suatu keputusan mengenai konsep pengembangan Jabodetabek ini,  sebab akan mempelajarinya lebih lanjut. Kendatipun demikian, Kepala Negara menyarankan agar terlebih dahulu dibentuk team pengembangan daerah Jabodetabek, baru kemudian ia akan memberikan instruksi-instruksi tentang pelaksanaan lebih lanjut.(AFR)



[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978“, hal 375-376. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin, diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta tahun 2003.

Jul 282013
 

Keterangan Pers Presiden Soeharto[1]

SELASA, 08 Juli 1975, Siang ini, pukul 14.00 waktu setempat, Presiden dan Ibu Soeharto meninggalkan Tokyo menuju Jakarta. Pesawat Garuda DC-8 Siliwangi, yang menerbangkan Presiden Soeharto dan rombongan dalam perjalanan muhibah kali ini, mendarat di bandar udara internasional Halim Perdanakusuma pada jam 09.00.

Dalam penerbangan kembali ke tanah air malam ini, Presiden Soeharto memberikan keterangan pers mengenai kunjungan ke berbagai negara sahabat yang baru saja diakhirinya. Dikatakan oleh Kepala Negara bahwa dalam kunjungan ke Iran, Yugoslavia, Kanada, Amerika Serikat dan Jepang, ia telah memanfaatkan waktunya untuk mendiskusikan masalah-masalah bilateral, regional, dan internasional dengan pimpinan negara-negara tersebut dalam rangka memantapkan hubungan bilateral. Ia telah menjelaskan kepada pimpinan negara-negara yang dikunjunginya itu mengenai Wawasan Nusantara, Timor Portugis, OPEC, hubungan Indonesia-RRC, dan masalah penyatuan kembali Korea. (AFR).



[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978“, hal 266. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin, diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta tahun 2003.