Mar 122013
 

Presiden Soeharto Terima DPP Angkatan 1945

(Jiwa dan Semangat 1945 Harus Diwariskan)[1]

RABU, 1 Maret 1972, Presiden Soeharto pagi ini di Istana Merdeka menerima anggota DPP Angkatan ’45 yang antara lain terdiri atas ketua I Djamin Gintings dan ketua II Ali Sadikin. Pada kesempatan itu Presiden meminta agar jiwa dan semangat ’45 diwariskan kepada generasi yang akan datang sehingga mereka tidak kehilangan pedoman dalam mengembangkan persatuan dan kesatuan nasional. (AFR)



[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, hal 423

Mar 102013
 

Presiden Soeharto Menerima Menteri Luar Negeri Yugoslavia

(Membahas Kerjasama Non Blok dan Penundaan Pembayaran Utang)[1]

SABTU, 28  Maret 1970, Pagi  hari,  Presiden Soeharto menerima Menteri Luar Negeri Yugoslavia, Mirco Tepavac, di Istana Merdeka. Selain membahas masalah-masalah kerjasama Negara-Negara Non-Blok, ada hubungan bilateral antara kedua negara, secara khusus Presiden Soeharto menyampaikan harapannya agar Yugoslavia dapat melakukan penundaan pembayaran kembali utang Indonesia. (AFR)



[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, hal 212

Mar 102013
 

Presiden Soeharto Tiba di Bandara Don Muang Bangkok

(Mengadakan Kunjungan Kehormatan Kepada Raja Bhumipol dan Ratu Sirikit)[1]

KAMIS, 19  Maret 1970, Menandai akhir kunjungan Presiden Soeharto di Malaysia, kedua kepala Negara hari ini mengeluarkan sebuah komunike bersama. Pada pokoknya komunike tersebut memuat kesepakatan untuk melakukan segala sesuatu dalam usaha untuk menjalin hubungan bilateral yang erat dalam bidang ekonomi dan kebudayaan.

Pagi hari, Presiden dan ibu Soeharto beserta rombongan tiba di pelabuhan udara Don Muang, Bangkok, disambut oleh Raja Bhumipol dan Ratu Sirikit. Setelah menerima kunci emas dari Walikota Bangkok Admiral Chalit Kulkamthorn, maka sore harinya Presiden soeharto dan Ibu Seharto mengadakan kunjungan kehormatan kepada Raja Bhumipol dan Ratu Sirikit di Istana Shitralada. Presiden dan Ibu Soeharto dijamu dengan makan malam kenegaraan di Grand Palace.  (AFR)



[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, hal 210-211

Feb 212013
 

SEMASA KESATUAN AKSI MAHASISWA BERMUNCULAN

(Presiden Soekarno Sambil Menunjukkan Telunjukknya: “Nyoto, Kau Tolol, Mengobarkan Peristiwa yang Terkutuk Itu”)1

Pada tanggal 6 Oktober 1965 Presiden Soekarno memanggil kabinet untuk bersidang di Istana Bogor. Saya pun dipanggilnya untuk datang dan memberikan laporan mengenai situasi.

Hadir dalam kesempatan ini Lukman dan Nyoto dari PKI. Juga hadir Subandrio dan dr. Leimena.

Suasana jauh dari murung atau sedih di tengah sidang itu. Padahal baru kemarin para Pahlawan Revolusi dimakamkan. Saya merasa tidak enak di tengah suasana yang banyak gelak dan tawa. Saya kesal melihat orang-orang PKI hadir dalam kesempatan ini, sementara saya sudah yakin, bahwa mereka pasti punya hubungan dengan penculikan dan pembunuhan teman-teman saya itu.

Waktu saya diminta bicara, saya terangkan apa yang saya ketahui mengenai kejadian dan situasi hari-hari itu.

Nyoto menyangkal tanggung jawab PKI terhadap kudeta yang gagal itu. Malahan dia menuduh dengan apa yang dinamakannya “Dewan Jenderal”.

Dalam pada itu Presiden Soekarno dalam kesempatan itu menunjukkan telunjuknya kepada Nyoto dan berkata, “Nyoto, kau tolol, mengobarkan peristiwa yang terkutuk itu. Peristiwa ini menghancurkan nama komunis. Itu satu tindakan kekanak-kanakan.”

Setelah sidang kabinet di Bogor itu, di Jakarta saya menerima kabar sedih. Ade Irma Suryani, yang baru saja menginjak umur lima tahun, meninggal dunia pada tanggal 6 Oktober 1965 lewat pukul 22.00. Putri Jenderal Nasution itu dirawat di RSPAD enam hari, setelah mengalami tembakan dari jarak satu meter oleh G.30.S/PKI dan menderita luka-luka parah.

Esok harinya, tanggal 7 Oktober, anak yang tidak berdosa itu dimakamkan di pekuburan Blok P Kebayoran.

*

Rakyat sudah membakar gedung PKI yang ada di Kramat. Saya perintahkan supaya tidak chaos.

Komando Aksi Pengganyangan G.30.S atau “KAP Gestapu” bersama-sama dengan organisasi masyarakat yang sebelum ini selalu beradu-hadapan dengan PKI berkumpul di Taman Sunda Kelapa dan menuntut pembubaran PKI. Front Nasional membawa spanduk-spanduk dan meneriakkan tuntutan: “Bubarkan PKI !, Gantung Aidit !, PKI Anti Tuhan !, PKI Biadab !, Gantung PKI dan begundal-begundalnya!”.

KAP Gestapu/Front Pancasila yang menjadi penegak dalam penumpasan PKI di tengah masyarakat. Berdampingan dengan kami.

Kesatuan Aksi-Kesatuan Aksi pun muncul. Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) disusul oleh Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia, Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia, dan lain-lain.

Saya harus pegang kendali di tengah jalannya semua gerakan ini, sementara saya tetap ingat kepada siapa saya harus menengadah. Saya harus dekat kepada-Nya.

Pada masa-masa itu saya tidak punya pikiran sedikitpun untuk menjatuhkan Bung Karno. Di mata saya beliau tetap pemimpin yang berjasa, sekalipun beliau punya penilaian lain terhadap apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965 itu. Tetapi saya tidak memandang perlu terus menerus mengemukakan pendirian saya tentangnya di depan orang banyak itu, kecuali pada saat-saat yang tepat.

Di hari-hari berikutnya didapat kabar mengenai tertangkapnya Untung, gembong Gestapu itu, pada tanggal 11 Oktober 1965. Sekian waktu kemudian ia diajukan ke sidang pengadilan dan dijatuhi hukuman mati. Aidit yang lari dari Halim ke Yogya dengan naik pesawat AURI itu, tertangkap oleh Yon G dalam satu operasi yang dipimpin langsung oleh Kolonel Jasir Hadibroto, Komandan Brigif-4. Ia mati, ditembak sewaktu akan melarikan diri, pada tanggal 22 November 1965, menurut laporan yang sampai pada saya.

Sementara itu Hari Pahlawan telah diisi dengan acara berdo’a di pusara para Pahlawan Revolusi kita di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dalam kesempatan ini Bung Karno pun hadir dan menyebarkan bunga di atas makam para Pahlawan Revolusi kita itu.

Setelah itu saya keluarkan instruksi yang berisikan dasar-dasar kebijakan penertiban dan pembersihan personil sipil dari G.30.S/PKI di kompartemen-kompartemen, departemen-departemen dan lembaga-lembaga serta badan-badan lainnya dalam aparatur pemerintahan.

Sahirman, gembong G.30.S di Jawa Tengah, yang merebut Studio RRI Semarang waktu meletus G.30.S itu, ternyata lari ke daerah Gunung Merapi. Begitu juga kawan-kawannya (Ex. Kolonel) Maryono, (ex. Letkol.) Usman. Di daerah Merapi itu memang dulu di tahun 1950 pernah ada gerombolan “Merapi Merbabu Complex” (MMC) yang ekstrim kiri dan PKI turut di dalamnya.

Sarwo Edhie turun tangan lagi dengan Komando Operasi Merapinya di bulan Desember 1965, dan Sahirman serta kawan-kawannya dapat di tumpas di sana.

Begitulah warna suasana sewaktu melakukan penumpasan atas G.30.S/PKI dan sisa-sisanya.

Tetapi hal ini tidak berarti selesai, sebab, selang beberapa waktu kemudian muncul lagi gerpol-gerpolnya.

1Penuturan Presiden Soeharto, dikutip langsung dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982

Feb 082013
 

Kenangan Meliput Kepresidenan

PERHATIAN PAK HARTO KEPADA AWAK MEDIA MASSA

Oleh: Chaeruddin – Cameraman Televisi Republik Indonesia

 

Kenangan indah dan mengesankan. Bahkan bisa saya katakan dengan jujur, sangat membanggakan. Begitu banyak kenangan pribadi saya, ketika menjadi seorang cameraman yang tergabung di bawah naungan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Sebagai seorang Presiden, Pak Harto selalu menegur kami para cameraman, photographer dan lightingman yang bertugas merekam kegiatan beliau. Tegur-sapanya mungkin sangat umum atau sederhana. Tetapi jika itu datang dari seorang Kepala Negara/Kepala Pemerintahan yang disibukkan dengan berbagai permasalahan negara,itu adalah suatu perhatian yang luar biasa yang untuk saya sangat berbekas hingga kini.

Bagaimana saya sebagai salah seorang cameraman bisa berdekatan dengan Pak Harto, saat menjabat selaku Presiden RI ke II? Bertatap muka dan melihat langsung sosok Pak Harto, baru saya alami ketika sudah bergabung dengan TVRI pada tahun 1978. Setelah mengabdi di TVRI selama sembilan tahun, saya mendapat kepercayaan dari Pimpinan, terpilih sebagai salah satu cameraman untuk meliput kegiatan Kepresidenan. Terkejut dan bangga, terpilih dari sekitar 40 cameraman  yang tergabung di TVRI.

Masih membekas di benak saya, wajah beliau yang tenang, berwibawa dan senyumnya selalu tersungging. Ini yang membuat saya selama meliput kegiatan acara-acara Kepresidenan terasa nyaman dan senang dan bangga. Ya saya bangga mempunyai seorang Presiden yang berwibawa dan dihormati oleh para pemimpin dunia.

Serangkaian Peraturan

Tetapi jangan ditanya, bagaimana saya harus terlebih dahulu melalui screening yang sangat ketat, dengan mendatangi Markas Komando Pasukan Pengawalan Presiden (Paspampres) di daerah Tanah Abang untuk memperoleh surat izin liputan di Kawasan Kepresidenan yang dikeluarkan oleh pihak Kemanan Kepresidenan. Kemudian saya masih harus menjalani screening di Sekretariat Negara, setelah itu baru memperoleh Pas Istana yang dikeluarkan oleh Sekretaris Militer Presiden. Namun screening sebagai persyaratan utama tetap harus saya jalani. Seperti juga rekan-rekan senior lainnya, baik yang dari TVRI, RRI maupun yang dari media cetak. Prosedur baku yang harus ditempuh untuk seluruh awak media massa yang ditugaskan meliput kegiatan seorang Presiden dan Wakil Presiden di negeri ini. Dan, bagi saya pribadi penugasan meliput Pak Harto merupakan kebanggaan dan kegembiraan tersendiri bagi saya pribadi!

Dari hasil screening, setiap awak media massa memperoleh “Pas Istana” yang dikeluarkan oleh Sekretaris Militer Presiden. Pas tersebut untuk memasuki Kawasan Kepresidenan, yang harus selalu disiapkan. Bila “Pas Istana” tidak terbawa, jangan harap bisa melangkah masuk mengikuti/meliput kegiatan acara Presiden atau Wakil Presiden.

Di samping peraturan yang menyangkut faktor keamanan yang tercermin pada berlakunya “Pas Istana” itu, awak media massa pun terikat pada tatanan protokoler yang ketat. Setiap mengikuti acara Kepresidenan kami pun diharuskan berpakaian rapi dan sopan. berkemeja bersih dilengkapi dengan dasi atau mengenakan kemeja batik. Pada saat-saat tertentu bila Pak Harto dijadwalkan melangsungkan acara di Istana Negara atau Istana Merdeka, para awak media massa pun diwajibkan mengenakan setelan jas, demikian pula bila mengikuti rombongan beliau dalam perjalanan kunjungan ke luar negeri.

Untuk melaksanakan tugas mulia ini, saya tidak hanya mempersiapkan kamera yang akan dipergunakan meliput kegiatan seorang Presiden. Kamera adalah sarana utama  kelancaran serta terlaksananya tugas dan tanggungjawab. Selain itu, saya juga harus bisa membina hubungan baik dengan para pengawal Presiden. Karena tugas seorang cameraman dalam mengabadikan setiap kegiatan “orang nomer satu” di Indonesia,  mau tidak mau saya  acapkali harus lalu-lalang di seputar Pak Harto. Demikian pula rekan lightingman  dan photographer. Dan para pengawal Pak Harto sangat menentukan bagaimana jarak para cameraman, photographer dan lightingman diperbolehkan mendekati sosok beliau.

Setiap harinya, saya pun harus selalu mencari informasi mengenai acara kegiatan Pak Harto untuk keesokan harinya. Ini biasanya saya lakukan di malam hari, sebelum mengakhiri tugas di kantor stasiun TVRI Pusat, Jakarta. Dalam hal ini saya punya kenangan tersendiri. Seorang photographer khusus Pak Harto, Sdr. Saidi (alm) adalah contact person yang menjadi andalan jadwal kegiatan Pak Harto. Dari Sdr. Saidi inilah  saya selalu memperoleh “bocoran” acara Presiden Soeharto. Dia selalu berbaik hati memberitahukannya. “Ya, besok Bapak ada acara ke sana, atau acara ke sini. Eh, ini jangan disampaikan ke teman-teman lainnya dulu ya. Masih embargo nih,” demikian Saidi selalu berpesan.

Wah, bisa dibayangkan selama sepuluh tahun saya bertugas mengabadikan acara Pak Harto (1985-1995), selalu bisa memperoleh bocoran. Padahal biasanya, teman-teman wartawan lainnya baru bisa memperoleh jadwal acara Presiden pada hari-hari kegiatan acara berlangsung. Bisa dengan menelpon di pagi hari atau langsung mendatangi Kantor Sekretariat Negara, di bagian hubungan masyarakat (humas).

Saya selalu berjanji untuk tidak membocorkannya kepada awak media lainnya. Dengan tertawa saya selalu mengakhiri pembicaraan dengan mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan kerjasamanya. Saudara Saidi kini telah tiada, meninggalkan kita untuk selama-lamanya pada tahun 2010 lalu.

Untuk meliput kegiatan “orang nomer satu” di Indonesia ini, tugas dan tanggungjawab yang dibebankan di pundak profesi cameraman adalah merekam selengkap dan sebaik mungkin kegiatan demi kegiatan Presiden Soeharto dan Ibu Negara. Sehingga saya selalu mempersiapkan kamera sebaik-baiknya demi keamanan dan kelancaran operasional tugas.. Jadwal kegiatan sehari-hari Presiden Soeharto sangat penting bagi creuw TVRI untuk mengantisipasi bila kegiatan Pak Harto dalam sehari dijadwalkan berada didua atau tiga lokasi yang berbeda. Tim harus dapat mempersiapkan berapa kamera dan berapa reporter yang diperlukan, demikian pula estimasi jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lainnya. CreuwTVRIdalam satu timdipersiapkan sebanyak tiga orang. Seorang cameraman, seorang reporter dan seorang lightingman serta dilengkapi seorang pengemudi yang selalu siap melayani kegiatan peliputan acara Presiden.

Perlu diketahui pula, bahwa dalam meliput kegiatan seorang Presiden, bagi saya selalu timbul perasaaan tegang. Rasa was-was selalu menyelimuti diri, khawatir bila apa yang saya abadikan di dalam kamera saya itu tidak sempurna. Maklum, lembaga TVRI menganut sistim apa yang sering disebut sebagai “mono loyalitas”. Kami adalah televisi pemerintah, sehingga kewajiban menanyangkan kegiatan acara-acara Presiden, Ibu Negara dan Wakil Presiden beserta isterinya, adalah mutlak. Sehingga ketika sedang menjalankan tugas peliputan di lingkar Kepresidenan, saya harus selalu mempersiapkan kamera serta diri saya dengan sebaik-baiknya. Rasa lega diri bila hasil“bidikan kamera” sudah tayang di layar kaca TVRI.

 Tegur-Sapa Yang Menyejukan

Kegiatan Pak Harto sehari-hari biasanya berada di kantor Bina Graha atau di kediaman Jalan Cendana No. 8, Jakarta Pusat. Lazimnya para cameramanbersama lightingman dan photographer selalu mendapat kesempatan masuk terlebih dahulu ke ruang kerja beliau. Untuk itu kami harus menunggu izin dari para pengawal Presiden. Ketika Pak Harto telah siap menerima tamunya, pengawal akan memberi izin masuk ke dalam ruang kerja beliau. Pada saat kami masuk, selalu saja Pak Harto menyapa dengan lembut, santun dan penuh keramahan, “Bagaimana, jalan macet ya. Kalian baik-baik saja?”, sapa Pak Harto dengan senyum khasnya.

Atau, bila musim hujan tiba, dengan ramahnya Pak Harto tak lupa menanyakan; “Bagaimana, hujan ya? Deras? Kalian baik-baik saja?”

Kami yang sudah biasa berhadapan dengan beliau hanya bisa menjawab; “Ya Pak.”

Sepanjang sepuluh tahun (1985-1995) saya berkesempatan meliput, mengabadikan kegiatan acara Presiden Soeharto, seingat saya beliau tidak pernah melewatkan tegur-sapanya kepada kami. Sapaan yang beliau lontarkan saya nilai sebagai perhatian Pak Harto pada kami para cameraman serta photographer yang memasuki ruang kerja beliau. Secara pribadi sapaan ini sangat menyentuh hati nurani terdalam, sangat menyejukan. Bayangkan, seorang Presiden menyempatkan menyapa kami-kami yang hanya bertugas sebagai cameraman, lightingman maupun photographer. Saat-saat seperti inilah yang hingga kini masih saya kenang.

Biasanya kami diberi waktu hanya lima menit untuk mengabadikan setiap kegiatan menerima tamu. Setelah merasa cukup, Pak Harto bisanya “berdehem” sebagai tanda (kode) agar para pengawal segera memperingatkan para cameraman dan photographer keluar dari ruangan.

Suatu ketika Pak Harto tidak melaksanakan kegiatan acaranya. Saat itu giliran Keluarga Presiden Soeharto memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan sensus penduduk. Petugas sensus datang di kediaman beliau, sehingga saya meliput acara sensus tersebut. Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto menyambut ramah kedatangan para petugas sensus. Saya bersama rekan lighthingman segera memasuki ruang tamu kediaman Pak Harto, di mana beliau bersama Ibu Negara menerima para petugas sensus.  Di tengah-tengah menjalankan tugas merekam kegiatan sensus, tiba-tiba Ibu Tien menegur saya;

“Sudah-sudah jangan lama-lama. Lampunya itu, Bapak matanya sakit,” ujar Ibu Tien, dengan suara lembut.

 Bayangkan, seorang Ibu Negara menegur langsung dengan lembut! Tentu saja saya dan rekan lightingman sangat terkejut.  Beruntung, rekan lighthingman TVRI secara spontan segera mematikan lampunya. Amanlah semuanya.

Mengenai sinar lampu, saya juga mengalami pengalaman yang penuh teka-teki. Suatu saat creuw tim TVRI meliput kegiatan acara Pak Harto di Istana Negara, Jalan Juanda, Jakarta. Setelah acara berakhir, tiba-tiba Kepala Rumah Tangga Istana pada saat itu, Pak Sampurno memanggil saya, rekan Eddy Maryadi rekan sesama cameraman TVRI dan Sdr. Agung Bharata (cameraman Sekretariat Negara). Kami bertiga diminta memerankan Presiden yang seolah-olah sedang berpidato di atas stage Presiden yang tersedia. Kemudian Pak Sampurno bertanya; “Silau atau tidak?”.

Serentak kami bertiga menjawab, “Tidak Pak!”

“Ah ya kalian masih muda,” tukas Pak Sampurno singkat, langsung berlalu meninggalkan kami. Dan kami bertiga saling melempar pandang.

Saya sempat tengadah ke langit-langit bangunan Istana Negara, mencari-cari kemungkinan terdapat faktor lain yang membuat Pak Harto silau bila berpidato di atas stage tersebut. Sayangnya, saya tidak menemukan penyebab silaunya Pak Harto bila sedang berpidato di atas stage Istana Negara. Hingga akhir masa tugas saya di Kepresidenan, bahkan hingga kini pun teka-teki sinar lampu yang menyilaukan itu belum terjawab juga.

Tegur-sapa Pak Harto yang juga mengesankan untuk saya adalah ketika sekembalinya dari kunjungan ke daerah dan luar negeri. Menjelang saat-saat pendaratan, Pak Harto dan Ibu Tien selalu mendatangi para awak media massa yang mengikuti rombongan beliau. Keduanya menjabat tangan satu persatu seraya menyampaikan terima kasih. Terima kasih beliau itu tentu ditujukan atas partisipasi kami awak media massa yang meliput kegiatan selama Presiden dan Ibu Negara melakukan perjalanan muhibahnya. Karena tak jarang perjalanan Pak Harto berlangsung selama dua minggu dengan susunan acara yang padat. Sehingga peliputan berlangsung marathon.

“Terima kasih. Capek ya”, sapa Pak Harto dan Ibu Tien.

 Bila terdapat rombongan awak media massa yang jatuh sakit dalam perjalanan, beliau pun selalu memberikan perhatiannya dan menanyakan : “Sudah minum obat? Sudah sembuh?”.

Memahami Tugas Jurnalistik

Selain tegur-sapa terhadap kami para cameraman, lightingman dan photographer sebagai perhatian beliau, Pak Harto juga memberikan perhatian terhadap kelancaran kerja kami para awak media massa yang bertugas meliput kegiatan acaranya.  Pernah saya mengikuti acara beliau di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Saat itu Pak Harto sedang menerima Tamu Negara, seorang Presiden yang beliau bawa berkunjung melihat-lihat TMII.  Ketika itu, Presiden Soeharto membawa tamunya ke Gedung  Sasono Langen Budoyo. Saya melihat, betapa fasihnya Pak Harto menjelaskan bangunan secara rinci.  Gedung yang megah itu ditopang pilar-pilar besar yang menjulang tinggi hingga ke atap dan terbuat dari kayu jati  berukir khas Jepara. Penjagaan para pengawal sangat ketat, membuat saya kesulitan merekam momentum penting yang sedang berlangsung. Tetapi apa boleh buat, saya harus bisa menembus penjagaan demi merekam peristiwa itu, apa pun resikonya. Berbekal kehati-hatian dan sopan-santun saya pun memberanikan diri, menerobos di antara kerumunan pendamping Pak Harto, Tamu Negara dan pengawal agar dapat melaksanakan tugas pada jarak sedekat mungkin. Seperti yang telah saya duga, tiba-tiba seorang pengawal langsung menahan badan saya dan melarang mendekati Pak Harto beserta tamunya. Melihat situasi ini,langsung Pak Harto dengan suara lembut berucap, “Biarkan, biar saja. Biarkan saja…”

 Langkah maju saya lakukan dan berhasil merekam momentum dengan sempurna. Rasa lega dan bahagia, sudah memperoleh kesempatan merekam adegan beliau bersama tamunya itu. Di sini saya menilai bahwa Pak Harto selalu memberikan kesempatan bagi tugas cameramanyang sedang meliput kegiatan beliau. Beliau sangat memahami tugas yang disandang para jurnalis atau awak media massa yang acapkali harus mampu menembus “barikade” para pengawalnya.

Peristiwa lain terjadi ketika beliau sedang berada di Provinsi Jawa Timur. Saya pun  berkesempatan turut mengabadikan kegiatan Pak Harto ketika mengunjungi Pacitan dalam rangka meresmikan penggunaan air tanah,  yang keluar dari tanah melalui penggalian dengan mesin bor. Proyek trsebut dimaksudkan untuk mengairi areal persawahan. Ketika itu Pak Harto didampingi Menteri Pertanian Ir. Baharsyah,   Menteri Pekerjaan Umum Ir. Suyono dan Menteri Sekretaris Negara Sudharmono SH.

Sudah menjadi kebiasaan setiap meliput kegiatan Pak Harto, saya selalu waspada mengamati gerak-gerik Pak Harto, agar tidak kehilangan momentum-momentum penting yang beliau lakukan. Tiba-tiba saya melihat Pak Harto berjalan seorang diri ke areal antara persawahan dengan tanah ladang. Perlahan-lahan sayapun mengikuti langkah Pak Harto pada jarak sekitar tiga meter di belakang beliau.  Tiba-tiba Pak Harto membalikkan badan dan bertanya ; “Mau ikut saya ke belakang?”

Saya terkejut, tak mampu menjawab pertanyaan Pak Harto lalu berusaha tersenyum dengan tenang. Ya senyuman malu! Dari pertanyaan beliau itu, saya menganggap bahwa beliau memiliki perhatian yang besar. Bisa saja Pak Harto mendiamkan saya mengikuti beliau dan “kecelek”. Terus-terang saya mengikuti beliau dengan membawa kamera itu karenamengira Pak Harto akan melihat-lihat kondisi persawahan tersebut. Tetapi kenyataannya, Pak Harto hendak “buang air kecil”.

Selama bertugas di lingkar Kepresidenan berulangkali saya berkesempatan mengikuti rombongan Pak Harto ke luar negeri. Serangkaian perjalanan yang sangat berkesan. Satu hal yang juga berkesan adalah ketika beliau berkunjung ke Rumania. Bagi saya, yang mengesankan secara pribadi adalah satu momentum yang mengekspresikan perhatian Pak Harto terhadap para awak media massa yang terlibat dalam liputan kegiatan beliau.  tatkala Presiden Soeharto melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Rumania, Caussceau, di Istana Kepresidenan . Tuan rumah menyambut penuh hormat, ramah dan antusias. Ini bisa terlihat dari sinar mata serta bagaimana eratnya menggenggam tangan Pak Harto, saat berjabatan tangan.

Sesuai tatanan protokoler kami seluruh awak media masih menunggu di luar ruangan pertemuan antara kedua pemimpin itu. Sedangkan Presiden Soeharto sudah berada di ruangan di mana Presiden Caussceau telah berada. Tak lama kemudian petugas protokol dari Presiden Rumania meminta agar awak media dari Indonesia segera masuk ke ruangan Presiden. Setiba kami di dalam ruangan, Pak Harto dengan senyum khasnya memberitahukan kepada Presiden Rumania.

“Saya juga membawa rombongan wartawan dari Indonesia.”.

 Presiden Caussceau pun tersenyum, lalu mengangguk. Bersama teman-teman awak media lainnya serentak tersenyum dan mengangguk hormat. Sekitar 10 menit kami diberi kesempatanmengabadikan pertemuan kedua presiden kemudian bergegas meninggalkan ruang pertemuan.

Alamak, bangganya diri ini! Presiden Soeharto berkesempatan pula memperkenalkan kami semua dari awak media. Bukan main! Itulah sekedar kenangan saya atas perhatian Pak Harto terhadap kami-kami yang bertugas meliput kegiatan Kepresidenan. Momentum-momentum yang pernah saya alami itu kini tinggal menjadi kenangan indah dan berharga yang tidak akan pernah terlupakan.

Feb 082013
 

IDUL ADHA DAN PERBAIKAN PENGELOLAAN HAJI

(Segala Kebijaksanaan dan Pengaturan Haji dibuat Untuk Kepentingan Jamaah haji)[1]

SENIN, 16 PEBRUARI, Menyambut hari raya Idul Adha, pagi hari Presiden Soeharto bersama-sama ummat Islam ibukota melakukan sholat Ied di halaman Istana Negara.

Dalam amanatnya antara lain Presiden kembali menjelaskan kebijaksanaan dan pengaturan haji dibuat semata-mata untuk kepentingan jamaah itu sendiri. Jadi tujuan pengaturan itu bukan untuk memegang hak monopoli dan sama sekali bukan untuk mencari untung.

Presiden mengungkapkan bahwa sejak tahun lalu jemaah haji tidak lagi mendapat subsidi, melainkan sebaliknya telah mengumpulkan dana sebesar Rp. 500 juta. Untuk itu Presiden juga secara khusus menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para jemaah haji yang telah mengumpulkan dana tersebut, karena mereka telah beramal bagi kemajuan Islam dan tanah air. Sehubungan dengan dana tersebut Presiden menjanjikan untuk menggunakannya seefektif mungkin untuk tujuan pembinaan ummat Islam.



[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973

Jan 302013
 

SHOLAT IDHUL ADHA DI ISTANA MERDEKA

Penataan Pengelolaan Zakat dan Ibadah Haji[1]

KAMIS, 27 FEBRUARI 1969. Presiden Soeharto bershalat Idhul Adha di halaman Istana Merdeka bersama-sama umat Islam Jakarta. Pada kesempatan itu Presiden menyerukan kepada ummat Islam untuk giat memberikan zakat yang merupakan suatu kewajiban, karena Islam adalah agama amal. Presiden menjelaskan bahwa demi pemanfaatan zakat itu sebaik-baiknya, maka dalam waktu dekat Presiden akan membentuk suatu panitia perumus pemanfaatan uang zakat yang anggota-anggotanya terdiri dari tokoh-tokoh alim ulama Islam.

Untuk memperlancar pelaksanaan ibadah haji, maka mulai tahun ini penyetoran uang haji harus dilakukan dua tahun sebelumnya. Kebijaksanaan tersebut diambil, karena tahun ini kita mengalami peristiwa yang menyedihkan dalam pengaturan dan pemberangkatan calon jemaah haji.



[1]     Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.

Jan 292013
 

RAPAT MENTERI KABINET[1]

KAMIS 15 JANUARI 1970, Presiden Soeharto di Istana Merdeka hari ini mengadakan rapat dengan menteri-menteri kabinet dan pejabat lembaga-lembaga pemerintahan lainnya mengenai pelaksanaan pembangunan berdasarkan anggaran tahun 1969/1970. Tahun anggaran 1969/1970 merupakan tahun pertama pelaksanaan Pelita.



[1]     Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.

Jan 292013
 

RESEPSI TAHUN BARU 1970[1]

JUM’AT, 1 JANUARI 1970, Presiden dan Ibu Tien Soeharto pada malam hari mengadakan resepsi tahun baru di Istana Merdeka, Jakarta. Resepsi untuk menyambut kehadiran tahun 1970 itu berlangsung secara cukup meriah dan dihadiri oleh para pejabat tinggi pemerintah, kepala perwakilan asing, dan tokoh masyarakat.



[1]     Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.