May 222014
 

Pidato Balasan Presiden Soeharto Pada Upacara Penyerahan Surat-Surat Kepercayaan Dubes India

Pidato Balasan Presiden Soeharto pada Upacara Penyerahan Surat-surat Kepercayaan Yang Mulia Vinay Kumar Verma, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik India untuk Republik Indonesia tanggal 25 Juni 1992 di Istana Merdeka, Jakarta. Naskah selengkapnya dikemukakan sebagai berikut:

[scribd id=224544100 key=key-CY5XXPGnRrABKxeQvjYb mode=scroll]

Mar 292014
 

Pidato Balasan Presiden Soeharto Pada Penyerahan Surat Kepercayaan Dubes India

Pidato Balasan Presiden Soeharto pada Upacara Penyerahan Surat-surat Kepercayaan Yang Mulia Ranjit Singh Kaiha, Duta Besar Luar Blasa dan Berkuasa Penuh Republik India untuk Republik Indonesia tanggal 22 Juni 1988 di lstana Merdeka, Jakarta. Naskah selengkapnya dikemukakan sebagai berikut:

[scribd id=214825865 key=key-shazxhg4gdy987g0egy mode=scroll]

Feb 272014
 

Pidato Balasan Presiden Soeharto Pada Penyerahan Surat Kepercayaan Dubes India

Pidato Balasan Presiden Soeharto pada Upacara Penyerahan Surat-surat Kepercayaan Yang Mulia Vinodkumar Chandnaraln Khanna, Duta Besar Luar Blasa dan Berkuasa Penuh Republik India untuk Republlk Indonesia tanggal 23 Februari 1985 di Istana Merdeka, Jakarta. Naskah selengkapnya dikemukakan sebagai berikut:

[scribd id=209122080 key=key-1rwdl2g7dnbwffjf23e5 mode=scroll]

 

Jan 292014
 

Pidato Balasan Presiden Soeharto Pada Upacara Penyerahan Surat-Surat Kepercayaan Dubes India

Pidato Balasan Presiden Soeharto pada Upacara Penyerahan Surat-surat Kepercayaan Yang Mulia Om Prakash Malhotra, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik India untuk Republik Indonesia tanggal 17 Maret 1982 di Istana Merdeka, Jakarta. Naskah selengkapnya dikemukakan sebagai berikut:

[scribd id=202530288 key=key-82uv3ea8hfe1tt9kh6u mode=scroll]

Dec 302013
 

Presiden Soeharto Tiba di Tanah Air[1]

 

KAMIS, 4 DESEMBER 1980, Presiden Soeharto beserta rombongan tiba kembali di tanah air sore ini dari India. Kedatangan Presiden dan Ibu Soeharto di lapangan udara Halim Perdana kusuma disambut oleh Wakil Presiden dan Ibu Adam Malik serta para Menteri Kabinet Pembangunan. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 365. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Dec 302013
 

Masih di India, Presiden Soeharto: Hutang Luar Negeri Untuk Bangun Pabrik dan Sarana Prasarana[1]

 

RABU, 3 DESEMBER 1980, Presiden dan Ibu Soeharto beserta rombongan hari ini terbang ke Agra, lebih kurang 200 kilometer di sebelah selatan New Delhi. Dari lapangan udara, didamping Gubernur Agra beserta isteri, rombongan Presiden langsung menuju Taj Mahal, sebuah monumen cinta yang dibangun oleh Shah Jahan pada tahun 1631. Didalam bangunan yang terbuat dari marmer putih ini terdapat makam Raja Moghul dan permaisurinya. Ibu Soeharto memanfaatkan kunjungan ini untuk meletakkan karangan bunga melati, yang khusus didatangkan dari Jakarta, di pusara Ratu Moghul.

Dari Taj Mahal, Presiden dan Ibu Soeharto mengunjungi Agra Fort, sebuah bangunan yang dibangun pada tahun 1565 oleh kakek Shah Jahan, yaitu Sultan Akbar. Selesai meninjau Agra Fort, sore ini juga Presiden dan rombongan terbang kembali ke New Delhi.

Di New Delhi, malam ini Presiden dan Ibu Soeharto beramah tamah dengan masyarakat Indonesia. Dalam acara tatap muka ini, secara panjang lebar dan tanpa teks, Presiden menguraikan tentang pembangunan yang sedang berlangsung di tanah air. Pada kesempatan itu Kepala Negara menolak anggapan kalangan-kalangan tertentu di Jakarta bahwa bantuan luar negeri tidak dinikmati oleh rakyat kecil ataupun akan membebani anak cucu di kemudian hari.

Membantah pendapat itu, Presiden mengatakan bahwa memang bantuan luar negeri itu tidak bisa langsung dibagi-bagikan kepada rakyat. Sebab, bantuan yang berupa kredit itu dimanfaatkan untuk membangun pabrik ataupun prasarana prasarana yang justru akan meningkatkan pendapatan rakyat pedesaan. Demikian antara lain dikatakan Presiden. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 364. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Dec 302013
 

Presiden Soeharto Lakukan Pembicaraan Resmi dengan PM Indira Gandhi[1]

 

SELASA, 2 DESEMBER 1980, Pada hari kedua kunjungan di India, Presiden dan Ibu Soeharto mengunjungi Samadhi Raj Ghat, yaitu tempat penyimpanan abu Mahatma Gandhi, dimana Presiden meletakkan karangan bunga. Selanjutnya Presiden beserta rombongan mengunjungi Nehru Memorial Museum, bekas kediaman resmi Perdana Menteri India pertama, Jawaharlal Nehru.

Selama satu jam siang ini Presiden meninjau Indian Agriculture Institute yang berada di New Delhi. Disini Presiden Soeharto sangat tertarik akan hasil-hasil riset di bidang kapas dan gandum. Tampak sekali Presiden memberikan perhatian besar terhadap keterangan-keterangan yang diberikan oleh pimpinan lembaga itu mengenai tanaman-tanaman yang menghasilkan minyak dan lemak nabati, makanan ternak, buah-buahan, sayuran, bunga-bunga, masalah-masalah penggunaan tanah, soal-soal genetika, penggunaan isotop atom buat peningkatan panen, irigasi, teknologi produksi, pembibitan padi unggul, dan lain sebagainya.

Siang ini Presiden Soeharto mengadakan pertemuan babak kedua dalam suatu jamuan siang yang diselenggarakan oleh PM Indira Gandhi. Selain membahas perkembangan di Asia Barat, termasuk konflik Irak-Iran, dan Asia Tenggara serta kawasan Samudera Hindia, keduanya juga membicarakan masalah-masalah bilateral. Persoalan Gerakan Non-Blok telah pula mendapat perhatian khusus dalam pembicaraan siang ini. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 364. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Dec 302013
 

Presiden Soeharto Kunjungi India[1]

 

SENIN, 1 DESEMBER 1980, Presiden beserta Ibu Soeharto dan rombongan pukul 12.10 waktu setempat tiba di New Delhi, ibukota India, setelah terbang selama lebih kurang dua jam dari Karachi, Pakistan. Di lapangan udara Palam, Presiden dan Ibu Soeharto disambut upacara kenegaraan oleh Presiden India dan Nyonya Sanjiva Reddy, serta PM Indira Gandhi.

 Membalas pidato selamat datang yang diucapkan Presiden Reddy di lapangan udara Palam itu, Presiden Soeharto mengatakan bahwa dalam pandangan Indonesia, India bukanlah hanya negara dan bangsa yang mewarisi sejarah dan kebudayaan yang tinggi, yang telah berhubungan dengan Indonesia sejak berabad-abad yang lalu. Lebih dari itu, India juga merupakan sahabat dekat yang bantuan dan rasa kesetiakawanannya yang tulus, yang telah diberikannya tatkala Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan, tidak akan dapat dilupakan. Selanjutnya Presiden Soeharto berharap agar kedua negara meningkatkan kerjasama untuk memajukan rakyat masing-masing dan juga memberi peranan bagi kebaikan dunia. Demikian antara lain pidato Presiden.

 Sore ini di New Delhi, Presiden Soeharto mengadakan pembicaraan empat mata dengan PM Indira Gandhi. Pembicaraan yang merupakan babak pertama itu membahas masalah-masalah hubungan dan kerjasama antara kedua negara. Pembicaraan resmi babak kedua akan dilakukan besok pagi.

 Dalam pada itu, perundingan antara para menteri yang menyertai Presiden juga telah berlangsung dengan rekan-rekan mereka dari India. Menteri Koordinator bidang Ekuin, Widjojo Nitisastro, mengadakan perundingan dengan Menteri Perdagangan India, Pranab Mukerjee, sedangkan Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadjajuga berunding dengan Menteri Luar Negeri Narasimha Rao.

Malam ini Presiden dan Ibu Soeharto beserta rombongan menghadiri santap malam kenegaraan yang diselenggarakan oleh Presiden dan Nyonya Sanjiva Reddy. Memberikan sambutan pada jamuan itu Presiden Soeharto mengatakan bahwa dalam kunjungannya yang pertama kali ini ke India ini, ia tidak merasa asing, karena India telah sangat dikenal rakyat Indonesia dan merupakan sahabat tradisionalnya. Lebih jauh dikatakannya bahwa dengan kunjungannya kali ini maka persahabatan diantara kedua bangsa bertambah erat, saling pengertiannya bertambah dalam dan kerjasama makin terbuka luas dalam masa-masa yang akan datang

Di bahagian lain pidatonya, Presiden Soeharto mengatakan bahwa hubungan kerjasama erat antara kedua negara masih juga bertambah dengan catatan-catatan sejarah tatkala kedua negara berdiri di depan barisan yang melahirkan Konferensi Asia-Afrika yang memberi pengaruh besar bagi lahimya negara-negara merdeka di kedua benua. Dan sejarah juga mencatat bahwa akar-akar kekuatan non-blok justru telah mulai tertanam sejak Konferensi Asia-Afrika yang pertama itu. Demikian antara lain dikatakan Presiden Soeharto. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983″, hal 363-364. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Dec 082013
 

Bahas Konflik India-Pakistan, Presiden Soeharto Terima Utusan Istimewa Presiden Yahya Khan[1]

KAMIS, 9 DESEMBER 1971, Utusan istimewa Presiden Pakistan, Mian Ziauddin, diterima Presiden Soeharto malam ini di kediamannya. Ia menghadap Presiden Soeharto untuk menyampaikan pesan Presiden Yahya Khan kepada Presiden Soeharto. Dalam pertemuan ini, Presiden dan Mian Ziauddin telah membicarakan segala hal yang menyangkut konflik perbatasan antara Pakistan dengan India. Konflik ini sekarang telah berkembang menjadi perang terbuka. (WNR).



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 390 Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003