Sep 192013
 
Cover Buku Incognito Pak Harto

Almarhum H.M. Soeharto, atau biasa dipanggil Pak Harto, ketika menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia kedua sering melakukan perjalanan diam-diam untuk mengunjungi rakyatnya. Dalam perjalanan incognito itu, Pak Harto mendengar keluh kesah, harapan rakyatnya. Pak Harto juga berbincang dengan para tokoh masyarakat, ulama, pejabat setempat, tentang apa yang seharusnya dilakukan dalam membangun Negara dan Bangsa Indonesia.

Form Pembelian dibawah

Gagasan

Buku “INCOGNITO PAK HARTO – Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya” merupakan sebuah usaha dari Mahpudi-penulisnya untuk memperlihatkan bukti-bukti perjalanan itu.  Bukti itu tiada lain berupa foto-foto yang lama tersimpan dalam ribuan tumpukan album foto kenegaraan yang ada di Museum Purnabhakti Pertiwi-Jakarta. Foto-foto tersebut merekam perjalanan incognito  yang pertama kali dilakukan Pak Harto (1970) segera setelah diangkat sebagai Presiden Mandataris MPR. Perjalanan itu terdiri atas  dua episode, menyusuri kampung dan desa yang dilakukan Pak Harto dari Jakarta hingga Banyuwangi di Jawa Timur.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih baik tentang perjalanan bersejarah tersebut, penulis bersama tim melakukan perjalanan napak tilas yang diberi nama Ekspedisi Incognito Pak Harto 2012. Perjalanan dilakukan dalam dua etape pula yakni : Etape Pertama pada 3 – 6 Mei 2012 & 13 – 14 Mei 2012 dan Etape Kedua pada 5 – 11 Juni 2012. Selama ekspedisi, tim mengunjungi lokasi-lokasi yang diyakini pernah disambangi oleh Pak Harto, mewawancari sejumlah saksi sejarah yang masih hidup, serta mendokumentasi sejumlah temuan yang masih terdapat di lokasi.

Ekspedisi mulai dirintis sejak awal tahun 2012 dan dijalankan melalui beberapa tahap:

Tahap pertama, studi menetapkan untuk fokus pada foto dokumentasi perjalanan tahun 1970. Mengapa? Diketahui Pak Harto berkali-kali melakukan perjalanan incognito, dan dokumentasi menunjukkan bahwa perjalanan tahun 1970 merupakan perjalanan incognito yang pertama kali dilakukan Pak Harto segera setelah menjabat sebagai Presiden. Ini tentu memiliki makna tersendiri, baik dari sisi materi yang diperoleh maupun dinamika yang terdapat di dalamnya.

Tahap kedua, tim melakukan digitalisasi foto-foto yang terdapat dalam album, ini untuk memudahkan proses studi berikutnya serta penyajian hasil ketika dituangkan di atas buku. Bagaimana pun album berikut fotonya tidak mungkin diperlakukan secara leluasa, baik karena usianya yang sudah tua sehingga mudah rusak, juga menjaga agar foto tetap tersimpan dengan aman di museum. Digitalisasi dilakukan dengan teknik scanning yang mengubah gambar menjadi data dengan resolusi tinggi dan dilakukan di tempat penyimpanan album dimaksud.

Tahap ketiga, rekonstruksi perjalanan incognito Pak Harto. Melalui foto-foto tersebut diperoleh gambaran yang rinci kapan Pak Harto melakukan perjalanan, kota atau desa atau daerah mana saja yang dikunjungi, siapa pula yang mendampingi atau ditemui pada saat perjalanan dilaksanakan. Bersyukur pada setiap album terdapat suatu daftar foto yang dibuat oleh Arief Anwar, Staf Khusus Presiden yang bertugas pada bagian dokumentasi. Dari daftar ini diketahui waktu kegiatan dan tempat yang dikunjungi. Sayangnya, dalam hal identitas orang-orang yang berada dalam foto tak dicantumkan dalam keterangan tersebut. Ini merupakan pekerjaan sendiri, meski sebagian orangnya masih hidup namun diperlukan pengenalan yang baik, mengingat profil orang-orang berjarak lebih dari 40 tahun dengan kondisi saat ini tentu ada banyak yang telah berubah.

Tahap keempat, napak tilas lokasi-lokasi yang pernah dikunjungi Pak Harto. Pendekatan ini dilakukan dengan maksud untuk menggali informasi dari para saksi sejarah yang masih hidup di daerah yang penah dikunjungi seputar kedatangan Pak Harto, memahami dan mengenali lokasi-lokasi itu sendiri, serta menemukan peninggalan atau artefak kehadiran Pak Harto dalam rangka incognito. Seperti juga incognito Pak Harto tahun 1970, maka ekspedisi napak tilas dilakukan dalam dua etape.

Temuan Hasil Ekspedisi

Dari perjalanan yang dilakukan oleh tim ekspedisi dapat  disampaikan sejumlah temuan menarik yakni:

Pertama, memori publik tentang kehadiran Pak Harto ke dalam komunitasnya dalam rangka incognito masih terawat dengan baik, bahkan meski para pelakunya sudah wafat,. Ternyata kisah kehadiran Pak Harto di daerah mereka diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.

Kedua, secara keseluruhan memori publik tentang incognito Pak Harto sangat positif dan berkesan sangat mendalam. Ingatan mereka terhadap sosok Pak Harto sebagai Presiden seperti tak berubah. Pada sebagian masyarakat bahkan mengelu-elukan harapan akan kedatangan sosok seperti itu pada masa kini.

Ketiga, pada beberapa lokasi jejak sejarah perjalanan incognito masih dapat dikenali dan bahkan dirawat dengan baik (foto kenangan, bangunan bantuan Pak Harto, tandatangan pada buku tamu, prasasti, dan masjid atau pesantren).

Keempat, Pada beberapa komunitas kehadiran Pak Harto juga berkembang menjadi folklore yang  menguatkan ketokohan Pak Harto maupun tokoh-tokoh setempat yang ditemui Pak Harto.

Kelima, Pak Harto benar-benar menjalankan ingonito dengan cara yang sederhana, baik kendaraan yang digunakan maupu tempat-tempat yang dipilih untuk beristirahat atau menginap (mess proyek, rumah dinas militer, rumah kepala desa, warung makan tepi jalan, hingga penginapan biasa).

Keenam, Pak Harto tak segan untuk mendatangi langsung dan berbincang-bincang tentang proyek yang sedang dikerjakan, penduduk yang tengah terkena penyakit kulit, petani yang sedang bekerja di sawah, serta pengrajin logam yang membuat alat-alat pertanian.

Ketujuh, pada setiap lokasi yang dikunjungi Pak Harto secara khusus menyempatkan diri berkunjung kepada kyai-kyai atau ulama dan santri di pesantren. Pada setiap pesantren yang dikunjungi Pak Harto selalu ditindaklanjuti dengan memberikan bantuan berupa pembangunan asrama, maupun perbaikan masjid. Sejak pertemuan itu hubungan baik terus dibangun Pak Harto hingga akhir hayatnya.

Kedelapan, Saat bertemu dengan rakyatnya dalam incognito, Pak Harto melakukan berbagai aktivitas komunikasi, yang utama adalah tatap muka dengan pemuka masyarakat (bupati, camat, kepala desa, ulama/kyai), dan rakyat jelata. Selain itu Pak Harto juga melakukan komunikasi kelompok dengan menggelar pertemuan dengan para pamong desa, pelaksana proyek, hingga warga sekitar. Dan yang menarik Pak Harto juga memanfaatkan film sebagai media komunikasi dengan memutar film penyuluhan di halaman balai desa. Pada kesempatan itu Pak Harto menyampaikan pesan-pesan serta ajakannya dihadapan ratusan masyarakat yang berkumpul.***

Resensi Buku

“INCOGNITO PAK HARTO – Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya”

  • Judul Buku: Incognito Pak Harto, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya
  • Tebal: 279 halaman
  • Penulis: Mahpudi

Sekitar  tahun 1970-an, almarhum Presiden Soeharto kerap mengadakan kunjungan diam-diam (incognito) ke desa-desa. Benar-benar incognito, karena dilakukan secara rahasia, dengan menggunakan mobil jeep  bukan mobil kepresidenan. Jeep yang digunakan Toyota Hardtop yang populer ketika itu dan dapat masuk ke pelosok-pelosok desa. Rombongan incognito Pak Harto ketika itu tidak lebih dari tiga kendaraan  termasuk ajudan dan pengawal presiden. Begitu rahasianya kunjungan diam-diam itu hingga dilakukan tanpa memberitahukan kepada para menteri, apalagi pejabat daerah setempat. Pak Harto ingin mendapat informasi langsung dari sumber pertama, rakyat yang diajaknya berdialog.

Begitu rahasianya kunjungan itu, sehingga wartawan Antara, Pattirajawane, yang ketika itu bertugas di Istana sejak masa Bung Karno, diminta datang oleh Kepala Dokumentasi dan Media Massa Setneg, Dwipayana, yang lebih akrab di kalangan teman-teman pers dengan panggilan Pak Dipo. ‘’Besok Anda berangkat ikut Presiden Soeharto,’’ kata Pattirajawane menirukan kata-kata Pak Dipo. Dia juga mengingatkan bahwa perjalanan tersebut rahasia dan tak boleh seorang pun tahu. Juga istri dan kantor, tidak boleh tahu. Keesokan harinya, berangkatlah dia, antara lain bersama Saidi, fotografer yang menjadi kepercayaan Pak Harto. Patti sengaja dipilih, karena selain senior, juga menguasai bahasa Jawa yang banyak digunakan Pak Harto dalam berdialog saat menemui rakyat kecil.

Setelah bergabung dengan Pak Harto di Bekasi  seperti dipesankan Pak Dipo rombongan menuju Majalengka. Dalam kunjungan ini Pak Harto mengaku sebagai Pak Mantri. Rupanya karena di perjalanan sering berdialog dengan rakyat, di antara para pedagang di pasar dan petani di persawahan, ada yang tahu bahwa yang mengaku Pak Mantri itu adalah Presiden Soeharto. Rupanya, seorang kepala desa tidak siap menyambutnya. Hingga terpaksa tengah malam menggedor sebuah toko milik Cina untuk membeli kain blacu guna dijadikan sepriei untuk tidur Pak Harto. Di sini, Pak Harto mandi di sumur.

Ketika berada di Cilacap, Jawa Tengah, saat meninjau SD Inpres, Pak Harto rupanya melihat ketidakberesan pembangunan gedung sekolah yang disubsidi pemerintah itu. Ia menendang dinding sekolah dengan sepatunya dan ternyata dinding itu ambruk.‘’Siapa anemer (pemborong) bangunan ini?’’ tanyanya sambil sekali lagi menendang dinding yang keropos. Dia minta agar pihak pemborong bertanggung jawab terhadap bangunan tersebut. Suatu hari, ketika berada di Jawa Tengah, kedatangan diam-diam Pak Harto diketahui banyak orang. Pasalnya, ada yang mengenalinya dan akhirnya kunjungan yang sebelumnya dirahasiakan itu terbongkar. Kontan saja, bupati, gubernur, dan para pejabat Pemda berdatangan memburunya. Masih dalam penyamaran, ketika berada di Gunung Kidul, ada rapat di kelurahan. Mereka tidak tahu yang masuk adalah Pak Harto yang minta agar rapat diteruskan setelah berhenti sejenak. Ketika itu, rapat membahas soal pupuk. Pak Harto yang anak petani itu mengoreksi cara-cara dan ukuran penggunaan pupuk. Di Kemusuk, desa tempat kelahirannya, Pak Harto menginap di kediamannya.

Begitu rahasianya kunjungan Pak Harto ke desa-desa itu, sampai Ismail Saleh yang ketika itu menjadi sekretaris kabinet dan pemimpin umum LKBN Antara tidak tahu. Ketika kembali ke Jakarta setelah menyertai Pak Harto, Pattiradjawane dipanggilnya. Pak Ismail memarahinya kenapa tidak memberi tahunya. ‘’Saya ini Sekretaris Kabinet, kenapa kamu tidak kasih tahu saya,’’ kata Ismail Saleh seperti dituturkan Patti.

Di kediamannya, di Jl Cendana, menjelang ulang tahunnya yang ke-64, pada 8 Juni 1985, Pak Harto pernah menerima rombongan tamu istimewa, jumlahnya sekitar 50 orang. Mereka adalah murid SD Petukangan, dan siswa Jakarta International School, Cilandak — keduanya di Jakarta Selatan. Mereka datang guna membacakan puisi untuk Pak Harto yang dengan tekun duduk bersama Ibu Tien. Puisi itu merupakan cuplikan riwayat hidup Pak Harto yang dibacakan sebagai hadiah ulang tahun dari murid-murid SD tersebut. Puisi itu berjudul Putra Pertiwi dan dibacakan oleh murid-murid Jakarta International School, dicuplik dari buku biografi Anak Desa. Yang tak kalah menyentuh adalah ungkapan hati anak-anak SD Petukangan pada Pak Harto, ‘’Semoga panjang umur, semoga sering tersenyum.’’

Dalam usia yang semakin tua, Pak Harto memang mendapat tempat tersendiri di hati anak-anak. Lebih dari 23 ribu surat setahun dikirim anak-anak dari berbagai pelosok Tanah Air kepadanya. Dan, isinya pun khas anak-anak — lugu dan spontan. Mereka misalnya minta perangko, foto Presiden sekeluarga, sampai minta dikirimi sepeda mini. Sebagian besar permintaan itu dikabulkan oleh Pak Harto.

Demikian Resensi mengenai Incognito Pak Harto, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya, semoga Resensi ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.

atau

Isi Form dibawah untuk Pemesanan Online

Isikan nama, Email, HP, Judul & Isi Pesan (Mohon diisikan Nama dan Alamat Pengiriman). Kami akan segera menghubungi untuk ketersediaan buku, biaya beli buku + biaya pengiriman.

Your Name (required)

Your Email (required)

Your Phone (required)

Subject

Your Message

Pembelian juga bisa melalui: Sifastore, Toko Bagus, Berniaga & Kaskus

Apr 072013
 

Presiden Soeharto Incognito Kunjungi Gunung Kidul

(Meninjau Sendiri Penyakit Kelaparan)[1]

SELASA, 18 APRIL  1972, Secara incognito siang ini, Presiden Soeharto meninjau daerah Gunung Kidul di Yogyakarta. Dalam peninjauan ini Presiden ingin memeriksa sendiri kebenaran berita tentang adanya HO (penyakit kelaparan) di daerah itu. Pada kesempatan itu, Presiden telah menyerahkan bantuan berupa 30 ton beras, dua ton ikan asin, dan obat-obatan. Kepada rakyat, Presiden menganjurkan untuk bertransmigrasi. (AFR)



[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, hal. 432.

Apr 042013
 

Presiden Soeharto Memulai Incognito Ke Jawa Barat dan Jawa Tengah

(Pejabat Daerah Dihimbau Kompak dan Efektif Menunaikan Tugasnya)[1]

SENIN, 6 APRIL 1970, Presiden memulai kunjungan incognito ke Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kunjungan yang diadakan bertepatan dengan awal pelaksanaan tahun kedua Pelita I ini, merupakan inspeksi langsung Presiden Soeharto di daerah pedesaan. Tempat-tempat yang ditinjau hari ini adalah desa-desa Binong, Subang, Sindang, dan Kertasmaya, semuanya di Propinsi Jawa Barat. Di tempat-tempat tersebut Jenderal Soeharto berdialog dengan para petani, disamping melihat secara langsung pembangunan jalan, pengairan dan irigasi di pedesaan Jawa Barat itu. Malam ini Presiden bermalam di desa Tambi, sebuah desa di Indramayu, dan meninjau akibat banjir di sana.

Kepada para korban banjir di daerah tersebut Presiden menyumbang sebanyak 100 ton bahan makanan, selain obat-obatan dan vitamin. Ini masih ditambah lagi oleh Presiden dengan bantuan kredit sebesar tiga juta rupiah untuk pengembangan palawija di daerahn Jatibarang, kabupaten Indramayu. Pada waktu menyerahkan bantuan-bantuan tersebut Kepala Negara sempat secara tidak langsung mengkritik pejabat-pejabat di daerah itu, sebab setelah diperiksa ternyata ada penderita bencana banjir yang hingga kini baru menerima setengah kilogram beras, padahal bantuan Gubernur Jawa Barat sudah diserahkan tanggal 13 Maret yang lalu. Oleh karena itu Presiden mengharapkan agar bantuan yang diberikan itu bisa segera mencapai rakyat yang menderita.

Kepada para pejabat daerah-daerah yang ditemuinya, Presiden berpesan agar didalam menunaikan tugas, betul-betuk kompak dan efektif, terutama didalam pembinaan rakyat. Sebab bila tidak kompak, maka yang menjadi korban adalah rakyat, yaitu para petani sendiri. Para pejabat diminta oleh Presiden untuk membantu menyukseskan Bimas di daerahnya. Namun dipesankan agar pelaksanaan Bimas jangan sekali-sekali dipaksakan kepada rakyat. Rakyat seharusnya diberi bimbingan dan penerangan sehingga memahami tujuan Bimas yaitu untuk meningkatkan produksi padi dan pendapatan petani.(AFR)



[1]     Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, hal. 215-216.

Mar 152013
 

KENANGAN TAK TERLUPAKAN

Penuturan : Sujarwo - Reporter  RRI  (1954-1976) [1]

 

Pak Harto berusaha untuk tidak mempunyai musuh, untuk itu beliau selalu akomodatif. Sebagai orang Jawa yang kental dalam spiritual, beliau mempercayai adanya “wisik” yang untuk orang awam secara langsung sulit dibuktikan. Saya percaya, tindakan-tindakan Pak Harto sebagian besar berdasarkan “wisik” yang diterimanya.

Sujarwo pada saat ini adalah anggota “Persaudaraan Wartawan Istana” paling senior, dengan usianya yang sudah mencapai 88 tahun (2013). Berpengalaman meliput kegiatan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto dalam kurun waktu pengabdiannya sejak tahun 1954 hingga 1976 di Istana Kepresidenan. Mengawali kariernya di Radio Republik Indonesia (RRI) dan ia pun salah-seorang pendiri buletin KNI. Mengenal Pak Harto sejak awal revolusi (1946-1949), saat terjadinya “Serangan Oemoem Satu Maret”. Ia menjadi bagian dari Pasukan Wehrkreise III, yang bertugas di Magelang, bertanggungjawab menghambat tentara Belanda di Semarang yang menuju ke Yogyakarta. Letnan Kolonel Soeharto adalah Komandan Wehrkreise III. Setelah tahun 1949 itu, ia bertemu Pak Harto seusai berlangsungnya demobilisasi dan pemulihan pemerintahan. Ia hijrah ke Jakarta dan ketika sudah bertugas di Radio Republik Indonesia (RRI)meliput kegiatan Presiden Soekarno, dilanjutkan meliput kegiatan Presiden Soeharto hingga tahun 1976.

Mengingat usianya yang sudah uzhur, maka Koordinator Tim Pewawancara (Koos Aroemdanie) yang mengunjungi rumahnya di Padalarang, Jawa Barat, kemudian menuliskan penyampaian panjang mengenai kegiatan liputannya. Walau usianya sudah 87 tahun, namun daya ingatnya masih bisa kami andalkan. Segudang pengalamannya sebagai Tentara Pelajar semasa perjuangan kemerdekaan melawan penjajahan Belanda, bergerilya di daerah Magelang dan Kedu tergabung di dalam Pasukan Werhkreise III. Kemudian menjadi guru dan reporter  RRI. Berkat pengalamannya itu, ia pun kerap disebut bak kamus berjalan. Kini Sujarwo menjadi anggota Legiun Veteran RI yang masih aktif mengikuti pertemuan-pertemuan yang berlangsung setiap bulan.

 

Meliput Situasi Pasca G-30-S/PKI:

Tuntutan Rakyat dan Mahasiswa

Sujarwo menyayangkan saat terjadinya kudeta G-30-S/PKI, tak berada di Jakarta. Bersama sejumlah wartawan ibukota lainnya, Sujarwo mengikuti Menteri Perindustrian Teksil Mayor Jenderal Ashari Danudirdjo ke Jawa Timur, meresmikan Pabrik Tekstil Grati di Grati pada tanggal 1 Oktober 1965. Oleh karena itu, ia tak berkesempatan berada di Kantor Pusat RRI, Jakarta, sehingga tak bisa menjadi peliput pertama dalam peristiwa tragis tersebut. Namun hari-hari selanjutnya pasca peristiwa kudeta PKI itu, ia bisa aktif meliput seputar kegiatan Pak Harto.

Tatkala Indonesia berhasil mengatasi peristiwa G-30-S/PKI, di bawah Komando Panglima KOSTRAD, Mayor Jenderal Soeharto, menurut penuturan Sujarwo, selanjutnya Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) Jenderal Abdul Harris Nasution, bertindak cepat. Jenderal berbintang empat inipun merespons tuntutan mahasiswa dan rakyat, agar segera dilakukan pergantian Pimpinan Nasional. Setelah melalui proses tarik-ulur di dalam tubuh MPRS dan DPR-GR, Jenderal Nasution berhasil membawa Soeharto menempati posisi Pejabat Sementara Presiden (1967).

Selaku Ketua MPRS, Jenderal A.H. Nasution menyampaikan penunjukkan Ketua Presidium Kabinet Ampera, Letnan Jenderal Soeharto itu kepada Presiden Soekarno. Dalam percakapan antara Presiden Soekarno dengan Jenderal Nasution tersebut, sempat ditanyakan alasan Ketua MPRS memilih Soeharto. Dengan tegas Nasution menyampaikan bahwa selama ini Soeharto memiliki reputasi militer yang sangat baik. Selain itu telah berhasil mengatasi kemelut yang ditimbulkan oleh PKI.

Pak Harto: “Saya Cuma Tentara”

Sebagai Panglima KOSTRAD, Mayor Jenderal Soeharto berhasil cepat mengatasi kekejaman Partai Komunis Indonesia dalam melakukan kudeta pada tanggal 30 September 1965. Lebih jauh, selaku Pejabat  Presiden Pak Harto pun sudah berupaya sekuat tenaga melaksanakan pemulihan kondisi keamanan, ketertiban serta perkembangan politik di dalam negeri. Di sisi lain, keresahan mahasiswa dan rakyat menilai munculnya “dualisme” Kepemimpinan Nasional. Yakni, antara Bung Karno selaku Presiden de facto dengan Pak Harto selaku pengendali pemerintahan sebagai Pejabat Presiden. Sejumlah Kesatuan Aksi yang diprakarsai oleh Kesatuan Aksi Mahasiwa Indonesia (KAMI) — yang terbentuk tahun 1966 — menyerukan tuntutan “Tritura”. Tak lepas pula, menuntut agar MPRS melakukan pergantian pimpinan nasional. Begitulah setidak-tidaknya yang sempat berkembang di tengah-tengah masyarakat dan para mahasiwa. Kesan ini makin mengemuka saat-saat menjelang Sidang Istimewa MPRS. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan situasi tersebut MPRS segera menentukan sikap.  Apalagi demonstrasi sudah marak di mana-mana, tidak saja di Jakarta.

Sujarwo yang tak pernah absen meliput saat demi saat perkembangan situasi dan kondisi pasca G-30-S/PKI itu, menjadi saksi bagaimana perjuangan Ketua MPRS Jenderal Nasution mencalonkan Soeharto sebagai calon tunggal pengganti Soekarno, dengan pertimbangan ; Pertama, secara rasional suku Jawa adalah mayoritas dan sejak awal perjuangan tokoh-tokoh nasional yang muncul mayoritas dari suku Jawa. Kedua, secara kultural masyarakat suku Jawa akomodatf dan toleran. Ketiga, prestasi militer dan kepemimpinan Pak Harto sudah terbuktikan.

 Kesimpulan akhir Jenderal Nasution, untuk jangka yang cukup lama Indonesia masih harus dipimpin oleh seseorang yang berasal dari Jawa. Pada saat itu Jenderal Soeharto dinilai sebagai  “orang Jawa” yang sering ditafsirkan menganut filosofi Jawa dan memenuhi persyaratan menjadi Presiden RI. “Ketokohan Pak Harto pada tahun-tahun itu sangat menonjol, demikian pula prestasi militer sebelumnya. Masyarakat dan mahasiswa utamanya, mendesak agar segera dilakukan pergantian pimpinan nasional”, kata Sujarwo.

Jenderal A.H. Nasution selaku Ketua MPRS dan pemrakarsa pencalonan Soeharto segera menemui Bung Karno. Beliau menyampaikan bahwa Jenderal Soeharto adalah calon tunggal untuk menjadi Presiden RI, dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas serta menilik bobot kepemimpin yang dimiliki Soeharto. Selain itu kenyataan bahwa kekuatan arus bawah mendukung tampilnya Soeharto menjadi pemimpin nasional. Maka sudah sepatutnya bila Jenderal Soeharto ditetapkan sebagai Presiden. Ketika Jenderal Nasution menyampaikan hal ini kepada Bung Karno, beliau dalam bahasa Belanda memberikan komentarnya :

“Silahkan saja, saya mempunyai jalan sendiri”, kata Bung Karno, yang juga disampaikan Sujarwo dalam bahasa Belanda.

 Sujarwo masih ingat, menjelang pengusulan Jenderal Soeharto sebagai calon Presiden RI, dalam sidang-sidang MPRS yang diadakan di Gedung Istora Senayan, beliau berhadapan dengan seluruh elemen masyarakat yang terwakili di DPR Gotong-Royong serta MPRS. “Mereka menanyakan kesiapan Pak Harto untuk memimpin Bangsa dan Negara Indonesia”, kata Sujarwo, yang dijawab Pak Harto  dengan kerendahan hati ;

“Saya ini kan cuma tentara. Kalau perang saya bisa, tapi untuk jadi Presiden saya ini hanya sekuku hitamnya Bung Karno” kata Pejabat Presiden Soeharto.

Ketika Pak Harto mengucapkan jawaban tersebut, banyak yang menilai suatu ekspresi sifat Pak Harto yang selalu “low profile”.  Namun demikian, tekad memilih Pak Harto sebagai pengganti Bung Karno, tak surut.

“Pada saat itu tidak ada tokoh lain yang dianggap mampu memimpin Bangsa Indonesia. Apalagi situasi dan kondisi negara baru saja mengalami gejolak G-30-S/PKI. Maka jadilah Jenderal Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia ke II, yang disyahkan oleh MPRS pada Sidang Istimewa ke V, tahun 1968 ” ,kata Sudjarwo.

Maka jadilah Jenderal Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia ke II, yang disyahkan oleh MPRS pada Sidang Istimewa ke V, tahun 1968.  Seluruh Pimpinan Angkatan Laut, Angkatan Udara serta POLRI bersama-sama Angkatan Darat turut mendukung Jenderal Soeharto menjadi Presiden RI menggantikan kepemimpinan Soekarno. Jenderal Soeharto dilantik menjadi Presiden RI ke II pada tahun 1968. Proses penetapan Pak Harto dari Pejabat Sementara Presiden menjadi Presiden memakan waktu sekitar enam bulan. Tetapi pengangkatan menjadi Presiden RI ke II itu, oleh Pak Harto diisyaratkan agar pengangkatannya tersebut secara konstitusional harus melalui pemilihan umum. Tahun 1971, kemudian digelar pemilihan umum pertama yang diselenggarakan Pemerintah Orde Baru.

Berangkat dari situasi inilah (1967), kemudian Pak Harto yang sudah menjadi Pejabat Presiden mengumpulkan para tokoh sembilan partai politik yang masih eksis, PNI, NU, Murba, PSII, Parkindo, Khatolik, Perti, Partindo-IPKI dilengkapi gengan kehadiran tokoh Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Berbekal dengan ketenangan beliau dalam pertemuan ini, Soeharto menanyakan; Negara Republik Indonesia ini mau dibawa kemana? Menanti jawaban dengan penuh kesabaran, ternyata tokoh-tokoh kesembilan partai politik tersebut tidak satu pun yang bisa menyampaikan konsep pembangunan Republik Indonesia, di tengah-tengah pemulihan keamanan akibat timbulnya gejolak tragedi G-30-S/PKI.

Singkat ceritera, menilik situasi umum di negeri ini serta kesenjangan konsep bernegara dari partai-partai politik yang saat itu masih menikmati eksistensinya, maka pihak Angkatan Darat memprakarsai diadakannya seminar yang berlangsung di SESKOAD, Bandung. Di sini muncul konsep-konsep pembangunan ekonomi yang dihadirkan oleh kelompok “Berckley” dipimpin Prof.Dr. Widjojo Nitisastro. Selain para Jenderal berpengaruh, antara lain A.H. Nasution, M. Panggabean, tampil pula para pakar ekonomi; Prof. Sadeli, Prof. Subroto, Emil Salim dan Ali Wardhana  serta tokoh-tokoh lain-lainnya. Dari hasil seminar itu kemudian dikembangkan menjadi Seminar Hankam (ABRI). Hasilnya antara lain ;

  • Integrasi dikalangan militer, rakyat dan seluruh unsur politik (partai-partai), apapun konsekwensinya.
  • Terjaminnya situasi keamanan, apapun konsekwensinya. Karena faktor keamanan merupakan syarat utama bagi berlangsungnya pembangunan.
  • Kepemimpinan pembangunan Bangsa dan Negara tidak dipercayakan kepada partai politik, tetapi pada peran unggul ABRI. Dari konsep ini kemudian terjadi perubahan sistim kepartaian di Indonesia, sembilan partai diperas menjadi dua partai PPP dan PDI diperkuat oleh ABRI serta peranan Sekber Golkar.

Dikemudian hari hasil-hasil seminar tersebut dijadikan landasan utama pilar pembangunan Pemerintahan Orde Baru di bawah Kepemimpinan Presiden Soeharto. Pilar pembangunan tersebut dijabarkan oleh BAPPENAS yang dipimpin oleh Prof.Dr. Widjojo Nitisastro, yang kemudian menghasilkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) lalu dimplementasikan melalui tahapan-tahapan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA).

 

Panggilan di Pagi Hari: Bung Karno Wafat

Pagi itu Sujarwo masih berada di rumahnya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tiba-tiba ia menerima berita agar segera ke Istana Kepresidenan di Jalan Merdeka Utara. Penting! Begitu pesan yang diterimanya. Ia pun segera bergegas menuju ke Istana dengan penuh tanda-tanya. “Ada apakah gerangan?”. Ada sedikit rasa gusar pada dirinya.

Setibanya di Istana, ia diminta segera masuk ke ruangan di mana Presiden Soeharto sedang memimpin rapat. Di situ terlihat para Menteri Kabinet, para tokoh sembilan partai; PNI, NU, Parkindo, Murba, Khatolik, PSII, Perti, Partindo, IPKI dan Sekber Golkar.  Nampak pula lengkap seluruh putera-puteri Bung Karno serta Ketua DPR/MPR. Suasana hening.

“Melihat suasana di dalam ruangan itu, saya sempat berdebar-debar. Pasti rapat penting,” ujar Sujarwo.

Menyimak sejenak pembicaraan di dalam ruangan itu, ternyata memang sedang berlangsung rapat penting. Hari itu tanggal 21 Juli 1970. Bung Karno, mantan Presiden Republik Indonesia ke I wafat. Terdengar Presiden Soeharto hati-hati menanyakan kepada seluruh anggota keluarga Bung Karno, bagaimana prosesi pemakaman dan di mana keluarga akan memakamkan Bung Karno? Mbak Megawati, puteri Bung Karno selaku juru bicara keluarga segera menjawab, bahwa seluruh putera-puteri yang mewakili keluarga besar Bung Karno menyerahkan seluruhnya kepada pemerintah, di mana tempat pemakaman serta prosesi pemakaman Bung Karno.

Semua terdiam sejenak. Suasana hening. Kemudian Pak Harto memutuskan; Bung Karno akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan “Bendo Gerit” di Blitar (Jawa Timur), di mana sang ibundanya Idayu Nyoman Rai dimakamkan. Putera-puteri yang hadir dalam rapat pun setuju.  Keputusan bulat, Bung Karno akan dimakamkan di Blitar.

“Keputusan Mbak Mega menyerahkan semua kepada pemerintah adalah keputusan yang bijaksana. Selaku proklamator dan mantan Presiden RI ke I sudah seharusnya menjadi perhatian, kewajiban serta tanggungjawab pemerintah atas prosesi pemakaman Bung Karno,”  kata Sujarwo.

Selepas rapat tersebut, ia dipanggil Menteri Penerangan Boediardjo. Radio Republik Indonesia diminta menyiarkan langsung dari Blitar pada upacara prosesi pemakaman Bung Karno. Esok pagi pukul 05.00 Sujarwo diminta siap di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma untuk mendahului jenazah Bung Karno, menuju Blitar. Keesokan harinya, bersama Menteri Penerangan Budiardjo, ia terbang dengan pesawat udara milik TNI-AU menuju Malang. Kemudian dilanjutkan perjalanan darat menuju Blitar.

“Sepanjang perjalanan dari Malang ke Blitar, saya melihat masyarakat berjajar. Mereka berwajah duka, banyak yang menangis atas kepergian Bung Karno, sang proklamator”, tambahnya.

Pemakaman Bung Karno:Tak Mampu Siaran Langsung

Setibanya di Blitar, ia segera mengamankan seluruh peralatan siarannya. Sebagai seorang veteran — ia pernah menjadi tentara pelajar pada saat perjuangan kemerdekaan RI — memaklumi bahwa saat itu situasi politik  masih rawan, sehingga pedoman RRI, Tri Prasetya tak dilupakannya. Peralatan siaran RRI jangan sampai dikuasai oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan.

 Ia segera mencari tempat tertinggi untuk bisa memasang antene, alat utama siaran langsung RRI. Ia sendiri harus memanjat  sampai mencapai puncak pohon kelapa tertinggi. Tetapi antene tak berfungsi, ketinggian pohon kelapa itu tak mencukupi untuk mengaktifkan sambungan melakukan siaran langsung yang bisa dipancarkan ke seluruh negeri. Ia pun panik, bagaimana mungkin prosesi pemakaman sang proklamator dan mantan Presiden RI tak bisa disiarkan secara langsung.

 “Ya, akhirnya saya maklum. Blitar kota kecil pada saat itu masih belum maju. Melalui bantuan Stasiun RRI Surabaya pun tetap tidak bisa,” tukasnya. Akhirnya laporan pandangan mata prosesi pemakaman Bung Karno hanya bisa dilakukan melalui siaran tunda.

 Ada rasa penyesalan yang begitu dalam di hati sanubarinya. Selaku reporter  RRI, ia tak mampu menyiarkan langsung prosesi pemakaman itu. Menurutnya, padahal ia sebagai reporter RRI sempat bertugas meliput kegiatan-kegiatan Presiden Soekarno.

“Saya sungguh menyesal. Prinsip saya, manusia bisa salah dan bisa benar tergantung dari sisi mana kita meniliknya. Bung Karno adalah seorang Proklamator dan pernah menjabat Presiden RI pertama. Ini tak bisa dipungkiri sampai kapan pun,” kata Sujarwo, menerawang mengenang pengalaman di Blitar.

Semula Presiden Soeharto hendak menjadi Inspektur Upacara pada pemakaman Bung Karno. Tetapi urung, karena pihak keamanan negara menilai situasi dan kondisi sosial-politik serta keamanan masih rawan. Khususnya di seputar Blitar. Presiden kemudian menugaskan Jendral M. Panggabean yang tatkala itu menjabat selaku Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI, menjadi Inspektur Upacara. Upacara pemakaman berjalan lancar dan khidmat, rakyat berjejal-jejal memadati Kota Blitar. Semuanya berkabung, rakyat di seluruh Nusantara menangis, kehilangan sang Proklamator.

 Perjalanan IncoqnitoPak Harto

Satu di antara tak banyak wartawan yang turut-serta dalam perjalanan  inqocnito pertama Pak Harto ke berbagai daerah, adalah Sujarwo. Rekan wartawan lainnya – yang masih diingatnya – adalah Haryo Saputro (Harian Berita Buana), Purnomo dan Willy Karamoy  (TVRI) serta August Parengkuan (Kompas). Sekretaris Militer Presiden, Tjokropranolo dan Pengawal Kapten CPM Eddie Nalapraya juga berada di dalam rombongan. Satu lagi yang diingatnya, Soebiyanto petugas yang mengatur kendaraan rombongan Presiden. Route incoqnito saat itu menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Jawa Barat hingga ke Pulau Dewata (Bali). Sepanjang perjalanan tersebut, perhatian Pak Harto ditujukan pada tempat-tempat penimbunan pupuk untuk para petani, pabrik obat-obatan, kondisi lahan pertanian, sistim pengairan, waduk-waduk, pola pertanian, kondisi kehidupan para petani, sistim penjualan gabah/beras petani serta harga gabah/beras para petani. Satu hal yang perlu dicatat, tak satu pejabat pun di setiap tempat yang beliau kunjungi, yang mengetahui kehadiran Pak Harto.

Perjalanan diawali ke Provinsi Jawa Barat, beberapa desa dikunjungi Pak Harto tanpa rasa lelah.  Di provinsi ini Pak Harto antara lain mengunjungi desa-desa di Kabupaten Cianjur, Subang dan Jatibarang. Ketika berada di salah-satu desa di Cianjur, tiba-tiba Sekretaris Militer Presiden, Tjokropranolo menghampirinya.

RRI dipanggil Bapak,” ujar Pak Nolly (demikian panggilan akrab Tjokropranolo), seraya menunjuk ke arah di mana Pak Harto berada. Setengah berlari Sudjarwo menghampiri Pak Harto. Dan ia agak terkejut melihat Pak Harto sedang tergeletak santai di atas dipan terbuat dari bambu, tengadah ke atas di dalam rumah gubuk milik salah seorang Kepala Desa.

“Bagaimana kesan saudara setelah masuk-keluar kampung,” tanya Pak Harto.

“Saya rasa Bapak lebih tahu, dan semuanya sudah saya rekam,”  jawab Sudjarwo.

“Bukan, kesan Anda itu apa?”  desak Pak Harto.

Sujarwo segera mengemukakan, setelah melihat kenyataan para petani maka sebaiknya Undang-Undang Agraria perlu ditinjau kembali. Karena bila Undang-Undang Agraria tidak disempurnakan, akan menjadi lahan empuk untuk dasar kampanye Barisan Tani Indonesia (BTI) – aliansi atau anak organisasi PKI- yang kita semua belum tahu eksistensinya, walaupun PKI telah dibubarkan.

“Pak Harto hanya diam, dan seperti biasa mengangguk-anggukan kepala beliau (manggut-manggut),” jelasnya.

 Entah dari mana informasinya, keesokan paginya ketika Pak Harto sedang berdialog dengan salah seorang petani, muncul Gubernur Jawa Barat Solichin GP. Sesaat setelah berdialog, petani mempersilahkan rombongan Pak Harto untuk singgah dirumahnya. Setiba di rumah petani, Pak Solichin menanyakan, siapa yang sedang berbicara dengan dirinya itu? Petani menjawab, petugas pertanian. Pak Solichin kemudian menunjukkan gambar Presiden Soeharto yang kebetulan dipasang di dinding rumah petani. Dengan perasaan malu, kikuk dan salah-tingkah, petani memohon maaf, karena tidak mengenali wajah Presiden Soeharto.

Dari Jawa Barat incoqnito dilanjutkan ke Jawa Tengah, menuju satu desa di Slawi dan bermalam di rumah salah seorang Lurah. Masyarakat setempat menjadi heboh, Presiden menginap di rumah Lurah dan di kampung itu tak satu pun yang memiliki tempat tidur layak untuk seorang Presiden. Tetapi Pak Harto dengan tenang dan senyumnya, meminta agar tidak perlu memaksakan mencari tempat tidur. Entah dari mana, akhirnya Pak Lurah bisa mendapat pinjaman tempat tidur untuk Pak Harto. Beliau mandi di sumur rumah Pak Lurah, tak ada yang tabu bagi Pak Harto.  Semua dijalani dengan santai dan wajar.

 Di sini rombongan incoqnito kembali dikejutkan dengan kedatangan Gubernur Jawa Tengah Munadi (alm) bersama Panglima Daerah Militer (Pangdam) VII/Diponegoro Kolonel Surono (alm), yang kemudian menikmati makan bersama Pak Harto dengan lauk seadanya yang disiapkan oleh Pak Lurah dan masyarakat disekitarnya.

Dari peninjauan Pak Harto dibuktikan bahwa para petani di desa-desa sekitar Slawi ternyata sudah melaksanakan program Panca Usaha Pertanian, yakni ; bibit unggul, pupuk, irigasi, obat-obatan dan tehnik penggarapan sawah yang baik. Dari Slawi lalu menuju Magelang mengunjungi Candi Borobudur serta beberapa desa disekitarnya. Pak Harto menyempatkan mengelilingi Candi Borobudur, bahkan cukup lama berada di bangunan Stupa-Stupa.

Dari sini menuju ke arah Yogyakarta, berhenti di Desa Tempel kemudian mengunjungi Waduk Gajah Mungkur. Di tempat ini Pak Harto memberikan pengarahan kepada pengurus waduk, karena waduk tersebut bertautan dengan irigasi pertanian di Kabupaten Wonogiri. Waduk Gajah Mungkur ini walaupun musim kemarau tidak pernah kekeringan, air selalu mengalir sempurna. Entah sekarang!

Setelah beberapa desa di Jawa Tengah dikunjungi, Pak Harto menuju Jawa Timur. Di provinsi ini juga mengunjungi beberapa lahan pertanian, di Desa Weringintelu, perhatian Pak Harto tertuju pada keistimewaan desa tersebut, yang melaksanakan “turinisasi”. Penanaman pohon Turi dilakukan di sepanjang pematang sawah, pohon turi ini sangat bermanfaat, serbaguna. Pak Harto berpesan, agar penanaman pohon Turi terus dikembangkan dan bisa dijadikan contoh bagi para petani di desa-desa dan di daerah-daerah lainnya.

Di Gresik, mengunjungi pabrik obat-obatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan usaha pertanian. Beliau mendorong agar pabrik obat-obatan segera mengembangkan produksinya agar para petani bisa melakukan usahanya tanpa kendala. Tetapi yang paling menarik ketika berkunjung di Banyuwangi. Beliau sangat terkesan dengan kesenian khas Banyuwangi yang belum pernah beliau saksikan. Pak Harto sangat menikmati tari-tarian serta alunan musik tradisional Banyuwangi. Dikemudian hari, rombongan kesenian tradisional Banyuwangi itu di undang ke Jakarta dan mendapat kesempatan dipromosikan oleh pemerintah.

Meninggalkan Banyuwangi, missi incoqnito Presiden Soeharto dilanjutkan ke Pulau Dewata (Bali), menyeberangi lautan menggunakan ferry. Perjalanan masih tetap ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat. Di sini Pak Harto meninjau sistim pertanian khas Bali, subak. Beliau saat itu mempunyai pemikiran, bagaimana sistim subak dapat diterapkan di tempat-tempat lainnya. Setelah memenuhi seluruh agenda incoqnito, Pak Harto dan rombongan bermalam di Istana Tampak Siring (Gianyar). Di sini, Ibu Tien Soeharto telah menantikan kedatangan Presiden Soeharto.

Selama meliput kegiatan Presiden Soeharto, ia berulangkali mengikuti perjalanan ke daerah-daerah maupun ke luar negeri. Namun selaku mantan reporter RRI yang telah mulai uzhur, ia menyerahkan kepada rekan-rekan yuniornya untuk menuangkan kisah-kisah pengalamannya yang juga menjadi pengalaman rekan-rekan wartawan/reporter lainnya.\

***

 

 

 



[1] Hasil Wawancara Koos Arumdanie, Februari 2013

Feb 012013
 

Perjalanan Rahasia Pak Harto1)

Tri Soetrisno 2)

Pak Harto dikenal sebagai pemimpin yang selalu memperhatikan keadaan bawahannya bahkan sampai pada hal-hal kecil. Pak Harto selalu dapat bersikap tenang namun penuh perhitungan. Pak Harto juga senantiasa mengambil keputusan dengan tegas, cermat, dan bijaksana, serta menyampaikan pada saat yang tepat.

Semua keputusan Pak Harto, baik menyangkut masalah besar maupun kecil, selalu didasarkan pada pertimbangan rasional, akal sehat, hati nurani, dan nilai-nilai keagamaan. Pak Harto selalu berfikir, bertindak, dan bertujuan secara integral-komprehensif, dalam dimensi yang realistis-pragmatis, dalam kerangka konsepsional-strategis. Beliau juga selalu mengemukakan buah pikiran, langkah tindakan, keinginan-keinginannya secara bulat dan utuh berdasarkan wawasan yang luas serta pertimbangan yang matang dan mendalam.

BERBURU TANPA MENEMBAK

Saya berkenalan dengan Pak Harto di masa Operasi Pembebasan Irian Barat tahun 1962. Ketika itu Mayor Jenderal Soeharto ditunjuk  Presiden Soekarno menjadi Panglima Komando Mandala yang berpangkalan di Sulawesi. Suatu malam saya mendapat tugas ikut rombongan Pak Harto berburu di hutan di Kendari, Sulawesi Tenggara. Saya bertugas membawa lampu sorot, namun saya perhatikan Pak Harto tidak pernah menembak selama berburu, yang menembak hanya para asisten. Cukup lama saya berusaha mencari jawaban mengapa Pak Harto tidak sekalipun menembak.

Pada saat bersamaan, malam itu pasukan TNI tengah diterjunkan di Irian Barat, salah satunya adalah Benny Moerdani. Saya seharusnya diterjunkan tetapi malah mendapat tugas ikut berburu. Setelah direnungkan ternyata berburu di malam hari itu hanya alasan agar kami semua tidak tidur. Rupanya Pak Harto merasa ikut mendampingi pasukannya yang tengah diterjunkan di malam hari yang sama di Irian Barat.

Jadi Pak Harto ikut mendampingi secara batin ketika anggotanya menjalankan tugas mulia. Pak Harto tidak berleha-leha melainkan beliau memikirkan keselamatan anak buahnya yang diterjunkan di kawasan yang masih dikuasai Belanda. Tidak tidur pada malam penerjunan itu merupakan laku prihatin Pak Harto mendampingi perjuangan pasukannya. Kecenderungan turut berkorban melalui perilaku batiniah yang sering kali dilakukan Pak Harto serta hasil dari perenungan-perenungan beliau, menjadikan Pak Harto seorang ahli strategi ulung yang mampu mengarahkan kecenderungan masa depan secara tepat.

Saya ingat betul pada masa awal pemerintahan Orde Baru, Pak Harto berulangkali meyakinkan perlunya bangsa ini memprioritaskan penanganan ekonomi. Beberapa tahun kemudian terbukti langkah kebijaksanaan beliau itu sangat tepat. Ketika dunia mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan, bangsa Indonesia saat itu telah sempat memperbaiki kehidupan perekonomiannya sehingga telah memiliki ketahanan yang cukup untuk menghadapi berbagai ragam tantangan dan ujian.

DIOMELI PEJABAT DAERAH

Sama sekali saya tidak menduga akan dipilih menjadi ajudan Pak Harto pada tahun 1974. Setiap ajudan Presiden harus bisa berfikir dan bertindak cepat, serta menyiapkan segala sesuatu dengan tepat dan cermat. Saya pun bertugas hingga tahun 1978.

Suatu hari Pak Harto ingin melakukan kunjungan incognito. “Siapkan kendaraan, sangat terbatas. Alat radio dan pengamanan seperlunya saja dan tidak perlu memberitahu siapapun,” instruksi Pak Harto. Perjalanan itu berlangsung dua pekan, bersifat rahasia. Bahkan Panglima ABRI pun tidak diberitahu. Hanya kalangan terbatas yang boleh tahu, antara lain Ketua G-I/S Intel Hankam Mayjen TNI Benny Moerdani.

Bisa dibayangkan seorang presiden akan berkeliling ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat secara rahasia, diam-diam. Saya juga sempat khawatir. Selain itu yang ikut Dan Paspanpres Kolonel Munawar, Komandan Pengawal, satu ajudan, Dokter Mardjono, dan mekanik Pak Biyanto yang mengurus kendaraan. Pada saat itu Indonesia memasuki Pelita II. Sebagai kepala negara Pak Harto merasa harus turun langsung untuk melihat sendiri bagimana program-program pemerintah dilaksanakan. Dengan begitu situasi di daerah dan desa-desa bisa dilihat apa adanya, sekaligus presiden dapat masukan langsung dari masyarakat.

Kami tidak pernah makan di restoran, menginap di rumah kepala desa, atau rumah-rumah penduduk. Untuk urusan logistiknya, selain membawa beras dari Jakarta, Ibu Tien membekali sambal teri dan kering tempe. Kami benar-benar prihatin saat itu dan saya melihat Pak Harto sangat menikmati perjalanan keluar masuk desa itu.

Serahasia apa pun, perjalanan incognito itu bocor juga lantaran ada warga desa yang mengetahui kemudian menyampaikan kepada aparat setempat. Rombongan pun sempat di curigai, apakah benar Presiden Soeharto berkunjung tanpa pengawalan? Akhirnya saya harus menjelaskan bahwa benar Pak Harto sedang melakukan perjalanan rahasia. Pada saat rombongan kecil itu tiba di sebuah kabupaten di Jawa Timur, pejabatnya pun geger. Sayalah yang lantas menjadi sasaran omelan mereka yang marah karena merasa tidak diberi kesempatan menyambut presiden sepantasnya. Padahal itu semua atas kemauan Pak Harto.

Ketika ber-incognito di Jawa Tengah, saya menyaksikan Pak Harto sangat hafal lika-liku jalan disana. Maklum beliau banyak berjuang di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, kemudian menjadi Pangdam IV Diponegoro. Waktu itu saya yang mengemudikan mobil. Tiba di suatu persimpangan tanpa bertanya saya jalan terus, ternyata saya salah jalan tetapi Pak Harto tidak marah dan tersenyum saja.

Seluruh hasil perjalanan itu dicatat. Presiden menjadikan hasil kunjungan rahasia itu sebagai masukan. Secara obyektif kemudian diketahui daerah-daerah mana yang telah berhasil dan daerah-daerah mana pula yang masih perlu ditingkatkan. Semua dicek ulang di dalam rapat kabinet. Dengan begitu menteri tidak bisa berbohong. Kalau jelek ya harus bilang jelek, kalau bagus ya bilang bagus karena Pak Harto mengetahuinya.

Perjalanan incognito itu berakhir di Istana Cipanas. Semua tentu sudah sangat lelah, namun Pak Harto justru meminta para anak buah yang ikut agar makan terlebih dahulu, padahal biasanya pemimpin yang makan duluan baru anak buah. Itulah good leadership, yang saya warisi dari Pak Harto sebagai komandan pasukan. Beliau mendahulukan anak buah untuk hal-hal yang mendasar seperti soal makan.

SEKEPING PIZZA TERAKHIR

Perhatian Pak Harto terhadap bawahan memang luar biasa. Suatu ketika anak kedua saya yang bernama Taufik Dwi Cahyono yang biasa kami panggil Cheppy terkena letusan petasan di matanya. Akibatnya, Cheppy tidak bisa melihat. Mendengar musibah itu Pak Harto memanggil saya. Diperintahkannya saya untuk membawa Cheppy ke rumah sakit di Boston, USA, dengan biaya pribadi Pak Harto.

Cheppy mendapat mukjizat, matanya dapat melihat kembali. Itulah perhatian besar Pak Harto.

Menjelang akhir hidupnya, saya ingat suatu ketika sedang membacakan Surat Yasin di dekat pembaringan Pak Harto. Tiba-tiba Pak Harto perlahan memanggil saya kemudian mengucapkan, “Pizza.” Saya sempat bingung karena hari sudah malam. Namun, akhirnya pizza permintaan Pak Harto bisa didapatkan. Kami makan pizza bersama dan ternyata itulah kenangan terakhir dengan Pak Harto. Mungkin sebenarnya Pak Harto menyampaikan kata “pisah” —perlahan-lahan— tetapi kami menangkapnya “pizza”.

____________________________________

1.  Penuturan Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno  sebagaimana dikutip dari Buku “Pak Harto The Untold Stories”, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2011.

2. Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno  pernah menjadi Pangdam Jaya. Sesudah menjabat Panglima ABRI (1988-1992), ia dipercaya menjadi Wakil Presiden (1993-1998). Lahir pada tahun 1935 di Surabaya, Try Sutrisno menjadi salah satu penerima tongkat estafet regenerasi dari angkatan ‘45. Bapak tuju anak ini mengenal Pak Harto sejak tahun 1961, ketika Operasi Pembebasan Irian Barat digelar.

Jan 272013
 
Incognito, Membaur, Masyarakat

PRESIDEN SOEHARTO SERING INCOGNITO/KUNJUNGAN MENDADAK

Presiden Soeharto sering melakukan incognito, kunjungan langsung kepada masyarakat tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kunjungan itu terkadang hanya diiringi oleh ajudan tanpa rombongan besar. Masyarakat yang dikunjungi juga tidak diberitahu terlebih dahulu. Dalam incognito itu Presiden Soeharto membaur dengan masyarakat bawah dan menanggalkan atribut kebesarannya sebagai presiden.

Melalui incognito ini Presiden Soeharto menyerap secara langsung problematika yang ada dalam masyarakat dan tidak hanya mengandalkan informasi dari pembantu-pembantunya. Hal ini menjadikan para pembantu-pembantu dan pejabat-pejabat di daerah berpacu lebih serius untuk menjalankan tugasnya, karena jika bekerja asal-asalan, Presiden lebih mengetahui problematika yang sebenarnya.

Intensitas presiden melakukan incognito ini menjadi salah satu faktor kenapa roda pemerintahan dan program pembangunan terlaksana dengan baik. Bukan sebagaimana tudingan sebagian orang selama ini yang menyatakan kepemimpinannya otoriter. Ketika pimpinan tertinggi memahami hal detail problematika yang dihadapi masyarakatnya, maka para pembantu dan pejabat-pejabat di daerah tidak dapat mengarang cerita tentang kesuksesan di daerahnya jika tidak sesuai fakta.

Presiden Soeharto merupakan sosok bersahaja, bahkan sering mampir di warung-warung penduduk kala melakukan incognito. Berdialog menemui masyarakat sedang bekerja dan menginap di kampung-kampung penduduk. Maka sangat wajar jika program-programnya memperoleh dukungan penuh dari segenap masyarakat.

Galeri Foto:

  • soeharto 239 INCOGNITO (KUNJUNGAN MENDADAK)
  • soeharto 240 INCOGNITO (KUNJUNGAN MENDADAK)
  • soeharto 241 INCOGNITO (KUNJUNGAN MENDADAK)
  • soeharto 243 INCOGNITO (KUNJUNGAN MENDADAK)
  • soeharto 242 INCOGNITO (KUNJUNGAN MENDADAK)
  • soeharto 244 INCOGNITO (KUNJUNGAN MENDADAK)
  • soeharto 245 INCOGNITO (KUNJUNGAN MENDADAK)
  • soeharto 246 INCOGNITO (KUNJUNGAN MENDADAK)