May 242013
 

Presiden Soeharto Pimpin Sidang Sub-Dewan Stabilisasi Ekonomi[1]

 

SELASA, 16 Mei 1972, Presiden Soeharto yang tiba kembali di tanah air dua hari yang lalu, hari ini memimpin sidang Sub-Dewan Stabilisasi Ekonomi. Dalam sidang itu Presiden antara lain telah menjelaskan tentang hasil-hasil perundingannya dengan pembesar-pembesar pemerintahan Jepang, baik menyangkut bidang politik maupun ekonomi. Dalam hubungan ini Presiden telah memberikan petunjuk-petunjuk dan instruksi kepada menteri-menteri yang berkaitan tentang pernyataan bersama Indonesia-Jepang yang dikeluarkan pada akhir kunjungan Presiden di Jepang. (AFR).



[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, hal. 439.

Apr 302013
 

Presiden Soeharto: Jaga dan Pertahankan Kestabilan Harga Beras

(Instruksikan Kesiapan Menghadapi Delegasi Iran)[1]

 

SELASA, 12 April 1977, Pukul 10.00 pagi ini Presiden Soeharto memimpin sidang Dewan Stabilisasi Ekonomi Nasional di Bina Graha. Dalam sidang Nasional itu telah didengar laporan mengenai laju inflasi yang diperhitungkan dari harga 62 bahan pokok kebutuhan rakyat selama bulan Maret. Diperkirakan bahwa kenaikan hanya sebesar 0,06%. Dengan gejala baik sekarang ini, sidang berpendapat bahwa pegawai negeri bisa memanfaatkan kenaikan gajinya.

Dalam sidang ini Kepala Negara telah memberikan petunjuk agar harga beras dijaga dan dipertahankan kestabilannya. Bahan-bahan pokok lainnya juga perlu mendapatkan perhatian misalnya, minyak goreng dan barang-barang lain yang menggunakan bahan minyak goreng seperti sabun.

Sementara itu Menteri Perdagangan telah melaporkan kepada sidang tentang terjadinya peningkatan permintaan dari luar negeri terhadap bahan-bahan pertanian seperti karet, kopi dan kayu. Untuk itu Presiden Soeharto  menginstruksikan agar Departemen Pertanian secepatnya menyiapkan program kongkrit untuk meningkatkan tanaman dan produksi kopi, dengan jalan mengusahakan penanamannya oleh rakyat dan tidak hanya untuk perkebunan. Ditekankan pula agar penanaman tersebut juga dilakukan oleh para transmigran dengan jalan menanam kopi di pekarangan rumahnya.

 Presiden Soeharto juga menginstruksikan kepada Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi untuk menyediakan segala sesuatu yang perlu guna menghadapi delegasi Iran. Delegasi Iran itu akan datang untuk membicarakan permintaan tenaga kerja di bidang tekstil, listrik dan keramik. (AFR)



[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978, hal. 479.

Mar 232013
 

Presiden Soeharto Menerima Daud Beureuh

(Presiden Soeharto Juga Memimpin Sidang Dewan Stabilisasi ekonomi dan Menerima Para Menteri)[1]

SELASA, 18 MARET  1975, Presiden Soeharto pukul 09.00 pagi menerima Teungku Muhammad Daud Beureueh, seorang ulama dan pemimpin Aceh yang sangat terkenal, di ruang kerjanya di Bina Graha, tidak diketahui persoalan apa yang dibawa kepada Kepala Negara oleh bekas pemimpin gerakan Darul Islam di Aceh itu.

Jam 10.00  pagi Kepala Negara memimpin Sidang Dewan Stabilisasi Ekonomi Nasional di Bina Graha. Sebagai salah satu keputusan sidang ini adalah instruksi Presiden kepada Menteri Negara Ekuin/Ketua Bappenas, Widjojo Nitisastro, Menteri Dalam Negeri, Amirmachmud, dan Menteri Keuangan, Ali Wardhana, untuk mengkoordinasikan usaha perbaikan prasarana sosial, khususnya sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, dan puskesmas-puskesmas di daerah yang terkena musibah bencana alam.

Usai sidang, Presiden mengadakan pertemuan dengan Menteri Negara Ekuin/Ketua Bappenas, Menteri Keuangan, Menteri PAN, dan Gubernur Bank Central, Rachmat Saleh. Tidak diketahui pokok permasalahan yang dibahas dalam pertemuan tersebut.  (AFR)



[1]

[1]      Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978, hal.225.

Mar 172013
 

Presiden Soeharto Menyambut Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia di Indonesia

(Penyelenggaraan Sidang Agar Tidak Berlebih-Lebihan)1

SABTU, 9 Maret 1974, Presiden Soeharto menyambut baik rencana diadakannya Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Sedunia di Indonesia tahun depan. Hal ini diuangkapkan oleh Menteri Negara Kesejahteraan Rakyat, Prof. Sunawar Sukawati SH, usai menghadap Presiden di Bina Graha siang ini. Akan tetapi, menurut Sunawar, Kepala Negara mengharapkan agar penyelenggaraan sidang tersebut tidak berlebih-lebihan. (AFR)

1 Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978 hal. 108-109

Feb 212013
 

SIDANG SUB DEWAN STABILISASI EKONOMI

(Pegawai Negeri Memakai Pakaian Harian Sebagaimana Menteri )1

SELASA 01 PEBRUARI 1972, Presiden Soeharto, dalam sidang Sub Dewan Stabilisasi Ekonomi di Bina Graha hari ini, menganjurkan agar mulai bulan April yang akan datang semua pegewai negeri memakai pakaian harian sebagaimana biasanya dipakai oleh para menteri.

1 Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.

Jan 302013
 

SIDANG SUB DEWAN STABILISASI EKONOMI

Mendorong Industri dan Produksi Pupuk Untuk Pemenuhan Kebutuhan Dalam Negeri[1]

SELASA, 18 FEBRUARI 1969. Sidang sub-Dewan Stabilisasi Ekonomi yang dipimpin oleh Presiden di Istana Merdeka hari ini, membahas masalah industri dan produksi pupuk. Mengenai industri, diputuskan untuk mengadakan peninjauan kembali atas kebijaksanaan pemerintah di bidang perpajakan dan tarif, sehingga memungkinkan industri untuk berkembang secara wajar. Tentang pupuk, pemerintah akan mengusahakan peningkatan produksi pupuk untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri terutama dalam rangka pelaksanaan Repelita. Selain kedua hal itu, sidang juga membahas rencana pembangunan sebuah bonded warehouse, di Indonesia.



[1]     Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.

Jan 302013
 

SIDANG SUB DEWAN STABILISASI EKONOMI[1]

SELASA, 11 FEBRUARI 1969. Presiden Soeharto memimpin sidang Sub Dewan Stabilisasi Ekonomi di Istana Merdeka. Dalam sidang itu antara lain telah dibahas situasi umum dalam bidang impor dan ekspor, Inmas Gotong Royong, dan jalannya pembahasan RUU Anggaran Belanja Tahun 1969/1970



[1]     Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.

Jan 282013
 

SIDANG SUB DEWAN STABILISASI EKONOMI[1]

SELASA, 4 FEBRUARI 1969. Melalui Komandan Korem 074 Surakarta, Kol. Amir Joedowinarno, Presiden Soeharto atas nama pribadi menyerahkan lima buah pompa air kepada rakyat di desa Wuryantoro, Wonogiri. Jenderal Soeharto mengharapkan agar penduduk setempat dapat meningkatkan produksi pangan dengan pompa-pompa tersebut.

Pukul 10.00 pagi Presiden Soeharto membuka sidang Sub-Dewan Stabilisasi Ekonomi bertempat di Istana Merdeka. Sidang tersebut membahas laporan dari menteri-menteri dalam bidang ekonomi tentang persoalan-persoalan yang sedang dihadapi. Dalam laporannya, Menteri Perdagangan Sumitro Djojohadikusumo mengatakan bahwa selaam bulan Januari terdapat kenaikan ekspor Indonesia bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sementara itu Menteri Perhubungan Frans Seda memaparkan rencana departemennya untuk menjual 27 kapal milik Pelni. Menteri Keuangan Ali Wardhana melaporkan tentang usaha agar Indonesia dapat menjadi salah satu direktur eksekutif yang permanen pada Asia Development Bank (ADB).



[1]     Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.

SIDANG SUB DEWAN STABILISASI EKONOMI[1]

 

SELASA, 4 FEBRUARI 1969 . Pada tanggal ini Presiden Soeharto melakukan aktivitas berikut:

·      Melalui Komandan Korem 074 Surakarta, Kol. Amir Joedowinarno, Presiden Soeharto atas nama pribadi menyerahkan lima buah pompa air kepada rakyat di desa Wuryantoro, Wonogiri. Jenderal Soeharto mengharapkan agar penduduk setempat dapat meningkatkan produksi pangan dengan pompa-pompa tersebut

Pukul 10.00 pagi Presiden Soeharto membuka sidang Sub-Dewan Stabilisasi Ekonomi bertempat di Istana Merdeka. Sidang tersebut membahas laporan dari menteri-menteri dalam bidang ekonomi tentang persoalan-persoalan yang sedang dihadapi. Dalam laporannya, Menteri Perdagangan Sumitro Djojohadikusumo mengatakan bahwa selaam bulan Januari terdapat kenaikan ekspor Indonesia bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sementara itu Menteri Perhubungan Frans Seda memaparkan rencana departemennya untuk menjual 27 kapal milik Pelni. Menteri Keuangan Ali Wardhana melaporkan tentang usaha agar Indonesia dapat menjadi salah satu direktur eksekutif yang permanen pada Asia Development Bank (ADB).



[1]    Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.