Mar 102013
 

Terinspirasi Presiden Soeharto Gadis Cilik Amerika Sumbang Irian Barat

(Maureen dan Keempat Saudaranya Menyumbangkan Uang Saku Untuk Anak-Anak Irian Barat)[1]

SENIN, 30  Maret 1970, Seorang gadis cilik dari Amerika Serikat, Maureen Ann, telah menyumbang uang sebesar 17 dolar untuk proyek kemanusiaan di Irian Barat. Maureen tergerak hatinya setelah membaca harian Los Angeles Times tentang proyek kemanusiaan yang dilancarkan oleh Presiden Soeharto beberapa waktu yang lalu. Ia dan keempat saudaranya, yang berusia 2-10 tahun, telah menyumbangkan uang saku mereka untuk membantu anak-anak di Irian Barat. (AFR)



[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, hal 212

Mar 092013
 

Meninjau Proyek Bimas Gotong Royong

(Pengadaan Alat Pertanian Dianjurkan Agar Diusahakan Secara Kolektif Tiap Desa)1

RABU, 12 MARET 1969, Pagi-pagi sekali hari ini Presiden dan Ibu Soeharto berangkat menuju Kecamatan Cibinong di kabupaten Subang, Jawa Barat. Ini adalah dalam rangka peninjauan terhadap pelaksanaan proyek Bimas gotong royong Ciba. Pada kesempatan itu Presiden dan Ibu Tien turut panen di sawah yang sudah di-bimas-kan. Di desa itu pula, baik Presiden maupun Ibu Tien mewawancarai para petani yang sawahnya termasuk dalam proyek Bimas gotong royong Ciba tersebut. Disamping menyambut gembira usaha Bimas ini, mereka juga minta agar Presiden langsung turun tangan dalam moderninasi pertanian, yaitu dengan menyediakan traktor kecil dan penyemprot hama. Menanggapi permintaan para petani tersebut, Presiden Soeharto menganjurkan alat-alat yang diperlukan itu diusahakan secara kolektif oleh tiap-tiap desa. Presiden juga menyarankan agar para petani menggunakan huller untuk menggiling padi mereka. (AFR)

1 Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973, hal 106

Mar 042013
 

MENERIMA 30 KEPALA SUKU DAN DELAPAN WAKIL WANITA IRIAN BARAT

(Presiden Soeharto Menyerahkan Gong dan Bendera Merah Putih Kepada Masing-Masing Kepala Suku Irian Barat)[1]

RABU, 05 MARET 1969, Presiden Soeharto malam ini di Istana Negara menerima 30 orang kepala suku dan delapan wakil wanita Irian Barat. Dalam acara ramah tamah tersebut, Presiden di damping oleh Ibu Tien Soeharto, Menteri Dalam Negeri dan Ibu Amir Machmud, serta Pembantu Khusus Luar Negeri untuk urusan Irian Barat, Soedjarwo Tjondronegoro, SH. Dalam kata sambutannya, Presiden mengatakan bahwa kita harus membangun negara kita. Untuk itu kita harus membangun daerah kita sendiri, kabupaten kita sendiri, lingkungan kita sendiri, bahkan mulai dengan membangun kampung kita sendiri. Namun ini tidak berarti pembangunan kita bercerai berai karena ia merupakan bagian dari pembangunan nasional. Dan untuk mencanangkan pembangunan di daerah-daerah di Irian Barat, Presiden Soeharto pada kesempatan itu telah menyerahkan sebuah gong kepada masing-masing kepala suku, disamping bendera merah putih dan foto Presiden sebagai kenang-kenangan.

Sementara itu, seorang kepala suku yang bertindak sebagai Ketua Gerakan Merah-Putih, dan juga mewakili kepala-kepala suku lainnya, membacakan sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa Irian Barat adalah mutlak wilayah negara kesatuan RI. Pernyataan yang senada juga disampaikan oleh seorang wanita Irian Barat, yang dalam hal ini diwakili oleh Ny. Omin, seorang anggota-DPR-GR.



[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973

Feb 072013
 

MUSYAWARAH KERJA IKAHI DAN RULE OF LAW

(Penegakaan Hukum Harus Diabdikan Kepada Terwujudnya Kesejahteraan Seluruh Rakyat Yang Berdasarkan Pancasila)[1]

SABTU, 14 PEBRUARI, Datuk Syed Ibrahim bin Omar Alsegaff, seorang tokoh ulama dari Singapura, pagi hari mengunjungi Presiden Soeharto di jalan Cendana, Jakarta. Dalam pertemuan itu ia menyampaikan minatnya terhadap proyek kemanusiaan Irian Barat, gagasan Presiden Soeharto menyentuh hati banyak orang. Dalam rangka itulah ia mengunjungi Presiden dan mengemukakan nita untuk mengangkat 10 anal asal Irian Barat tersebut. Disamping itu ia juga menghadirkan sebuah Al-Qur’an kepada Presiden Soeharto.

Pada hari itu dalam amanat tertulisnya pada pembukaan musyawarah kerja IKAHI, Presiden Soeharto menegaskan bahwa tegaknya hukum merupakan salah satu unsur yang mutlak, baik karena alasan pragmatis maupun idiil. Proses pengadilan yang cepat dan tepat akan memperbesar kepercayaan masyarakat terhadap pengadilan dan memperlancar tegaknya rule of law. Lebih jauh Presiden mengatakan bahwa syarat-syarat menjadi hakim ialah bahwa seorang hakim harus mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, mempunyai keyakinan mengenai nilai-nilai keadilan, pendirianyang kuat, pengetahuan hukum yang mendalam dan sikap yang terpuji baik di dalam maupun di luar pengadilan. Presiden juga menegaskan bahwa penegakan hukum haruslah diabdikan kepada terwujudnya kesejahteraan seluruh rakyat yang berdasarkan Pancasila.


[1] Dikutip Langsung dari Buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973

Jan 292013
 

PENGUMPULAN DANA UNTUK IRIAN BARAT[1]

MINGGU, 4 JANUARI 1970, Presiden Soeharto melancarkan suatu program pengumpulan dana bagi rakyat di Irian Barat. Kegiatan yang diselenggarakan di Istana Bogor ini dimeriahkan oleh sejumlah artis ibukota. Dalam sambutannya Presiden Soeharto mengatakan bahwa proyek kemanusiaan ini sebenarnya hanya dimaksudkan untuk menghimbau para dermawan yang artawan untuk membantu putera-puteri Irian Barat dalam bidang pendidikan. Tetapi kenyataannya segala lapisan masyarakat telah turut membantu.



[1]     Dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973.

Jan 272013
 

KEPALA SUKU IRIAN BARAT MANTAN PEMBELOT MENGHADAP PRESIDEN

 

SABTU, 11 JANUARI 1969. Presiden Soeharto hari ini menerima abang beradik Mayor (Tituler) Lodewijk Mandatjan dam Kapten (Tituler) Barens Mandatjan di Istana Merdeka. Lodewijk Mandatjan adalah seorang kepala suku di daerah kepala burung Irian Barat, yang semula termasuk salah seorang kepala suku yang setia kepada Republik, tetapi kemudkan berbalik gagang yang agaknya karena kekecewaan-kekecewaan yang mereka hadapi. Kini mereka telah kembali ke pangkuan Ibu pertiwi.

Mandatjan bersaudara menjelaskan kepada Presiden Soeharto bahwa mereka kembali atas kemauan sendiri. Pada kesempatan ini, Presiden Soeharto mengatakan bahwa ia menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan dalam kehidupan rakyat di Irian Barat. Akan tetapi, Presiden menegaskan bahwa kebahagiaan tidak turun dari langit, melainkan harus dicapai dengan bekerja keras, dengan mengusahakan pembangunan. Barulah dengan demikian kita akan dapat memperbaiki kehidupan rakyat setahap demi setahap.

Presiden juga menegaskan kembali tekad pemerintah untuk membangun Irian Barat sejak daerah itu diperoleh kembali dari Belanda tahun 1963. Menurut Presiden, yang menjadi masalahnya sekarang ialah bagaimana pembangunan Irian Barat dapat diwujudkan secepatnya. Kepada kedua Mandatjan, Presiden Soeharto juga menjelaskan   tentang penentuan pendapat rakyat, di mana diminta bantuan mereka untuk ikut mensukseskannya.