Jan 132014
 

Pergantian Pimpinan BAKIN Sutopo Yuwono-Yoga Sugama[1]

SABTU, 26 JANUARI 1974, Kepala Bakin, Letjen. Sutopo Yuwono, dan Mayjen. Yoga Sugama menghadap Presiden Soeharto di Istana Negara pagi ini. Kepada kedua perwira tinggi itu Presiden memberitahukan keputusannya untuk mengalihkan pimpinan Bakin dari Sutopo Yuwono kepada Yoga Sugama. Sekretariat Negara mengumumkan bahwa serah terima jabatan akan dilangsungkan pada hari ini juga. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 96. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Nov 222013
 

Terkait Potensi Subversi, Presiden Soeharto Dengarkan Laporan BAKIN[1]

 

 SENIN, 26 NOVEMBER 1973 Sidang paripurna kabinet yang dipimpin oleh Presiden Soeharto di Bina Graha pagi ini telah mendengarkan laporan Kepala Bakin menyangkut masalah sisa-sisa G-30-S/PKI, subversi, penyelundupan, uang palsu, narkotika, kenakalan remaja dan pengawasan orang asing. Dalam sidang tersebut, Presiden menyerukan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan dapat mengendalikan diri untuk tidak mengambil tindakan-tindakan yang dapat menjurus kearah gejolak dan ketegangan sosial politik. Sebaliknya masyarakat diharapkan untuk meningkatkan ketahanan bangsa sehingga tidak mempan lagi dipengaruhi oleh sisa-sisa G-30-S/PKI dan unsur-unsur subversi lainnya. Sementara itu kepada aparatur negara diinstruksikan untuk terus mengambil langkah-langkah pembersihan di pusat maupun di daerah. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 67. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Jul 232013
 

Soal Malari: Yoga Sugama Menghadap Presiden Soeharto[1]

RABU, 3 Juli 1974  Kepala Bakin, Yoga Sugama, menghadap Presiden Soeharto di Istana Merdeka pagi ini. Selesai pertemuan dengan Kepala Negara, ia mengungkapkan bahwa Pemerintah sudah siap untuk membawa semua pelaku yang terlibat dalam Peristiwa Malari ke pengadilan. Menurutnya, pengadilan subversi untuk mengadili perkara ini akan dapat dijalankan dalam waktu dua atau tiga bulan mendatang. Lebih jauh dikemukannya bahwa pengajuan para pelaku peristiwa itu akan menjadi suatu kejutan bagi masyarakat, sebab selama ini banyak kalangan memperkirakan bahwa pemerintah akan menganggap persoalannya sudah selesai begitu saja.  (AFR).



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978″, hal 135. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.