Jul 172017
 

SUMBER DAYA ALAM HARUS DIKELOLA TANPA MERUSAK LINGKUNGAN HIDUP

Presiden Soeharto pada Hari Lingkungan Hidup:

Adalah tidak bertanggung jawab jika sumber-sumber alam yang ada sekarang dikuras habis sehingga tidak ada lagi yang tersedia bagi generasi-generasi yang akan datang.

“Kita memang harus memanfaatkan sumber daya alam untuk pembangunan. Namun sejalan dengan itu, kita juga harus mengelolanya sehingga tidak merusak lingkungan.”

Presiden Soeharto mengingatkan hal itu pada upacara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di lstana Negara Selasa kemarin.

Menurut Kepala Negara, pola pembangunan yang dilaksanakan harus dapat melestarikan kemampuan hidup lingkungan dan sebaliknya kelestarian kemampuan lingkungan hidup harus menunjang pembangunan. Karena itu menurut Kepala Negara, harus disadari bahwa dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan, perlu dijaga kelestarian lingkungan.

“Semboyan kita adalah pembangunan tanpa kerusakan,” tegasnya. Dalam tanggung jawab untuk memelihara lingkungan hidup yang baik tersebut maka menurut Presiden, kemampuan untuk mengendalikan diri sangatlah penting,

Penghargaan Kalpataru

Kepala Negara dalam kesempatan itu telah menyerahkan penghargaan Lingkungan Hidup Nasional Kalpataru 1984 kepada para pemenangnya.

Untuk kelompok penyelamat Lingkungan dimenangkan oleh Kelompok Tani Desa Pongkai, Kecamatan XIII, Kota Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, kelompok PKK Desa Kaliboja, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, kelompok tani Desa Getas Anyar, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, serta Pondok Pesantren Hidayatullah, Desa Gunung Tembak, Kecamatan Teritip, Kodya Balikpapan, Kalimantan Timur.

Untuk Kelompok Perintis Lingkungan dimenangkan oleh Adnan Sutan Samik dari Desa Kamang Hilir Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat serta H. San Munadi dari Desa GunungTiga, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Untuk Kelompok Pengabdi Lingkungan diraih oleh Waras Subroto dari Desa Kedung Rejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dan Jobanis Bollov dari DesaAsatipo Kecamatan Wamena Kabupaten Jayawijaya, Irian Jaya.

Selain mendapat trophy Kalpataru yang berlapis emas murni bernilai tak kurang dari Rp. 1 juta para pemenang juga mendapat hadiah uang.

Untuk Kelompok Penyelamat Lingkungan masing-masing Rp 5 juta sedangkan untuk Kelompok Perintis Lingkungan dan Pengabdi Lingkungan masing-masing Rp 2,5 juta.

Hadir dalam upacara kemarin Nyonya Tien Soeharto, Wakil Presiden dan Nyonya Karlinah Umar Wirahadikusumah. pimpinan DPA dan DPR serta sejumlah menteri kabinet pembangunan.

Tekanan Berat

Menurut Presiden Soeharto, lingkungan hldup umat manusia dewasa ini sedang menghadapi tekanan-tekanan yang berat. Tidak saja karena jumlah penduduk yang terus bertambah tetapi juga karena tingkat konsumsinya yang makin meningkat. Hasil pembangunan bangsa-bangsa telah meningkatkan pendapatan sehingga memungkinkan bangsa-bangsa itu menaikkan tingkat konsumsi mereka.

Tetapi bagi negara yang sedang membangun seperti halnya Indonesia, kata Kepala Negara, kenaikan pendapatan sebagai hasil pembangunan tidak bijaksana jika digunakan sepenuhnya untuk merungkatkan tingkat konsumsi.

Sebagian dari kenaikan pendapatan tadi, harus disisihkan sebagai modal pembangunan selanjutnya. “Karena itu kita perlu mengendalikan tingkat konsumsi kita.”

Usaha mengendalikan tingkat konsumsi, kata Presiden pula, mempunyai arti penting untuk mengurangi tekanan pada sumber daya alam dan mencegah kerusakan lingkungan.

“Pengalaman pembangunan negara-negara maju membuktikan bahwa tingkat konsumsi yang tidak terkendali menghasilkan pola hidup yang boros sehingga menguras sumber daya alam dan merusak lingkungan,” kata Kepala Negara.

Tugas Bersama

Diingatkan, pelaksanaan pembangunan yang menjaga lingkungan bukanlah kewajiban pemerintah semata-mata, tetapi merupakan tugas bersama pemerintah dan masyarakat.

Ruang lingkup lingkungan terlalu luas dan terlalu beraneka ragam untuk dipikul terpisah dan tersendiri oleh pemerintah dan masyarakat masing-masing. Masing-masing lingkungan memiliki ciri-ciri dan permasalahan sendiri. Permasalahan lingkungan banyak tersebar di daerah sehingga memerlukan penanggulangan di tempat.

Dalam keadaan seperti itu menurut Presiden, sangatlah penting peranan kelompok­kelompok masyarakat yang terhimpun dalam lembaga-lembaga swadaya masyarakat untuk memecahkan masalah lingkungan.

“Lembaga-lembaga swadaya masyarakat paling cepat merasakan dan paling berkepentingan untuk menanggulangi masalah lingkungan di tempat masing-masing,” ujar Kepala Negara.

Tema peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini adalah “Membangkitkan Swadaya Masyarakat di bidang Lingkungan Hidup”. Berdasarkan tema ini, menurut Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup Emil Salim, bagian terbesar peringatan dilaksanakan oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat, baik secara tersendiri maupun bersama.

Kegiatan-kegiatan itu antara lain Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) menyelenggarakan lomba kebersihan Jamban di lingkungan sekolah-sekolah Perwari serta penggalakan usaha pembibitan di cabang-cabang untuk program penghijauan.

Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) bersama menyelenggarakan lomba cipta iklan lingkungan hidup di majalah dan surat kabar. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menerbitkan “Neraca Tanah Air 1984” yang menilai keadaan lingkungan di tanah air.

“Berbakti tanpa pamrih bekerja secara swadaya, mampu berdiri sendiri, adalah ciri-ciri yang perlu dikembangkan secara lebih luas dalam kalbu masyarakat Indonesia, terutama untuk mampu menghadapi tantangan lingkungan hidup di masa depan,” kata menteri.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang dijadikannya trophy Kalpataru sebagai rebutan aparat pemerintah daerah untuk hiasan kantornya (Kompas, 5 Juni 1984), Emil Salim berkilah : “Justru di situlah letak prestise Kalpataru sehingga semua pihak ingin memilikinya.”

Tetap Incognito

Dalam jumpa pers yang diadakan di kantor KLH kemarin siang Emil Salim mengakui sinyalemen adanya ekses dalam proses pencalonan di daerah.

Kompas kemarin memberitakan adanya beberapa Pemda yang menggoda tim penilai dari pusat agar calon dari daerah mereka yang dimenangkan.

“Sinyalemen itu masuk akal. Bahkan kemarin memang ada Pemda yang protes karena calon dari daerahnya tersisih. Yang kita nilai memang bukan hanya usul dari Pemda, tapi juga dari jalur tak resmi. Pada akhirnya yang menentukan adalah bobot para calon sendiri. Nyatanya yang kita pilih adalah tokoh-tokoh atau kelompok yang berani melawan arus. tidak bisa dan di atas rata-rata,” ujarnya. (RA)

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (06/06/1984)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 903-906.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: