Nov 302016
 

Subchan Djawab Adam Malik: HAK AZASI BUKAN SOAL NASIONAL [1]

 

Djakarta, Abadi

Wkl. Ketua I PB NU H.M. Soebchan Z.E., mengatakan bahwa ia merasa heran mengapa Adam Malik sebagai Menteri Luar Negeri dan diplomat kawakan sampai tidak mengetahui bahwa soal hak azasi manusia (human rights) tidak dibatasi hanja mendjadi soal nasional sadja, tetapi adalah soal ummat manusia, dimana hak azasi manusia itu exceeds national boundaries (melampaui batas2 negara). Lebih2 lagi Indonesia adalah penandatanganan dari Deklarasi Hak2 Azasi Manusia dati PBB.

Demikian tanggapan H.M. Soebchan, Z.E, terhadap pernjataan Menlu Adam Malik baru2 ini dan selandjutnja mengakui bahwa kalau persoalan politik nasional sebagai bangsa merdeka harus diselesaikan sendiri, tetapi praktek2 mendjelang pemilu sekarang ini sudah melampaui soal2 politik, seperti penahanan, penganiajaan, penangkapan tanpa prosedur berlaku, dan pengindjakan terhadap hak2 azasi manusia. Selandjutnja ia bertanja, apakah Adam Malik berlagak tidak tahu ?

Kepribadian Nasional Indonesia

Selandjutnja Wkl. Ketua I PB NU itu bertanja pada Mendagri Amir Machmud, apakah kepribadian nasional Indonesia termasuk penekanan2, intimidasi, pemaksaan2 dan pelanggaran2 hukum jang berlaku?

Apakah melawan djaminan Presiden bahwa pernilu itu akan dilangsungkan setjara umum, langsung, bebas dan rahasia djuga termasuk kepribadian nasional? tanja Soebchan Z.E.

Kemudian ia mengingatkan tentang kata2 Amir Machmud jang menjatakan “kalau perlu saja main kaju untuk memenangkan Golkar”.

Dalam hubungan ini Soebchan Z.E. menandaskan bahwa kepribadian nasional Indonesia ialah kepribadian jang dipantjarkan oleh sila2 dari Pantjasila, a.l. salah satu silanja ialah perikemanusiaan. Dan atas dasar sila inilah Indonesia menandatangani Piagam Hak2 Azasi Manusia dari PBB, katanja.

Tanggapan Terhadap Pangdam Siliwangi

Dalam menanggapi pernjataan Pangdam Siliwangi, Majdjen A.J. Witono, Wkl. Ketua I PB NU itu mengemukakan bahwa dalam memberikan kwalifikasi personil petugas2 sekarang ini, Majdjen Witono termasuk Orba jang djudjur dan penuh integritas: “Saja sadar bahwa pernjataannja itu didorong oleh perasaan bahwa dia bertanggungdjawab atas keamanan ‘daerahnja’, kata Soebchan. Tetapi saja tahu bahwa pernjataan Witono itu didasarkan hanja pada laporan2 dari penguasa2 bawahannja jang sulit untuk bisa dipertjaja akan memberikan laporan jang sebenarnja.

Ditambahkan, apalagi kalau diingat bahwa pedjabat2 itu telah diberi djatah untuk mendapatkan sejumlah suara minimal dalam Golkar dengan menggunakan aparat Angkatan Muda Siliwangi.

Kemudian Soebchan Z.E, mengingatkan tentang, laporan wartawan “Sinar Harapan” tentang penindjauannja on the spot di Indramaju jang djelas membuktikan betapa tidak benarnja laporan2 pedjabat daerah tsb. Andaikata ada djaminan “open tribune” (mimbar terbuka) atau pemeriksaan terbuka, saja akan sebutkan nama2 jang dimintakan oleh Majdjen Witono itu, katanja.

Jang djelas, demikian Soebchan, keluarga dari para korban itupun memberikan kesaksiannja dan banjak diantara mereka jang ngungsi ke Djakarta.

Sebagai comrade ini arm Orba, kata Soebchan Z.E, selandjutnja, saja jakin akan kedjudjuran Majdjen Witono sebagai SAPTA Margais jang konsekwen. (DTS)

Sumber: ABADI (19/06/1971)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 737-738.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: