Agu 222017
 

Presiden Soeharto:

SU MPR ’88 PERMULAAN BAIK SELESAIKAN LANDASAN KOKOH

 

 

PRESIDEN Soeharto menegaskan, suksesnya Sidang Umum MPR tahun 1988, merupakan permulaan yang baik untuk menyelesaikan tugas menciptakan landasan kokoh kuat, dan sekaligus mengantarkan Bangsa Indonesia mampu tinggal landas mulai Repelita VI.

“Yang tak kalah pentingnya dari kelanjutan dan suksesnya Sidang Umum tersebut adalah pelaksanaan dari semua putusan yang diambil MPR. Untuk itu semua kekuatan, lapisan dan golongan masyarakat perlu menyusun program kerja yang nyata dalam memikul tanggungjawab bersama melaksanakan kehendak rakyat Indonesia yang diungkapkan dalam GBHN 1988 nanti”, tambah Presiden lagi.

Presiden Soeharto mengemukakan itu Rabu pagi pada acara silaturahmi dengan peserta Munas VI Persatuan Istri Purnawirawan ABRI (PERIP) di Taman Mini Indonesia Indah. Munas ini berlangsung tanggal 24-27 Agustus 1987 di Jakarta diikuti 322 orang dari seluruh Indonesia.

Ketua Umum PP PERIP Nyonya S. Soemario mengatakan Munas bertugas antara lain menyempurnakan AD/ART, atribut, program kerja, pemilihan pengurus baru dan laporan pertanggunganjawab pengurus periode 1981-1987.

PERIP tidak boleh tertinggal dalam ikut melaksanakan GBHN nanti. Rencana kerja itu, menurut Presiden tidak harus merupakan rencana kerja untuk membangun proyek-proyek besar, tapi sesuaikanlah dengan kemampuan yang ada.

Diingatkan Kepala Negara bahwa dalam memberikan sumbangan kepada suksesnya pembangunan, tidak berarti kita harus mengerjakan proyek-proyek besar. Mungkin saja sesuatu golongan atau kelompok dalam masyarakat hanya mampu mengerjakan hal-hal yang kecil.

Tapi jika seluruh lapisan, golongan dan kelompok dalam masyarakat ikut membangun sesuai kemampuan masing-masing, maka semua kegiatan tadi akan merupakan sumbangan besar bagi pembangunan.

Makin Terasa

Pada bagian lain Presiden mengatakan dalam tahap tinggal landas nanti, dengan tetap berpedoman pada sasaran pembangunan jangka panjang yang telah ditetapkan, maka harus makin terasa dan nyata adanya kemajuan, kesejahteraan, pemerataan dan keadilan sosial.

Karena itulah landasan yang kokoh kuat harus kita wujudkan dalam Repelita V. Untuk itu kita harus kerja keras agar dapat mengatasi tantangan yang dihadapi.

Tahun-tahun mendatang pembangunan akan memasuki tahun-tahun menentukan dan berat. Sebab kita memasuki Repelita V yang merupakan Repelita penutup dari pembangunan jangka panjang 25 tahun pertama, dengan sasaran terciptanya landasan kokoh bagi terwujudnya masyarakat yang kita cita-citakan.

Setelah itu kita bertekad masuk ke tahap tinggal landas. Dalam tahap ini kita bertekad pula untuk melanjutkan pembangunan menuju terwujudnya masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila.

Dalam rangka perwujudan cita-cita yang begitu mulia, luas dan serba muka, jelas memerlukan waktu yang panjang. Karena itulah dalam masa tinggal landas kita juga menetapkan berbagai sasaran yang harus dicapai dalam 25 tahun pembangunan berikutnya.

Untuk menghadapi segala tantangan, ujian dan cobaan dalam tahun-tahun masa pembangunan yang berat itu, maka kekuatan kita yang paling penting adalah persatuan dan kesatuan yang harus terus kita mantapkan dengan semangat perjuangan, semangat pengabdian kepada nusa dan bangsa.

Selain itu bangsa kita perlu terus memperbaharui semangat sebagai bangsa pejuang. Dan tradisi ini harus kita hidupkan dalam menghadapi berbagai tantangan dan ujian pembangunan yang terbentang di hadapan kita.

Pengalaman menunjukkan dengan bermodalkan semangat juang yang tinggi, kita berhasil merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

“Sebagai istri purnawirawan ABRI tentunya tidak sulit bagi ibu-ibu untuk ikut menghidup-hidupkan semangat perjuangan dalam masyarakat kita”, kata Presiden menambahkan.

Tak Herhenti

Keluarga purnawirawan ABRI adalah prajurit pejuang. Dan mereka tentu tak mengenal berhenti untuk berjuang untuk mewujudkan cita-cita perjuangan para pejuangnya.

Berkat perjuangan ABRI dan seluruh rakyat, maka bangsa kita dapat hidup dalam negara merdeka. Bahkan kini telah hampir 20 tahun lamanya bangsa Indonesia berhasil melaksanakan pembangunan untuk mewujudkan masyarakat Pancasila, yang menjadi cita-cita kemerdekaan.

Pembangunan itu ternyata pula berhasil mengangkat derajat bangsa kita, dan tentunya ini membesarkan hati. Kita juga menyadari bahwa pembangunan kita masih mengandung kelemahan dan kekurangan. Namun kita jangan berkecil hati malah sebaliknya bertekad untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan itu.

Kita belajar dengan sebaik-baiknya dan mengambil manfaat sebesar-sebesarnya dari keberhasilan dan kekurangan pembangunan kita. Semangat dan tekad yang kita kuatkan itulah mampu menghadapi berbagai tugas besar dan berat di masa mendatang.

Menurut Presiden tekad bulat PP PERIP untuk menyukseskan SU MPR tahun depan dan melanjutkan pembangunan nasional, merupakan cermin semangat mereka yang tak pernah pudar.

Silaturahmi kemarin itu, ditutup dengan memperdengarkan lagu-lagu dari paduan suara PP PERIP, antara lain Bunga Anggrek Berbunga dan Kapan-Kapan. Paduan suara ini dilatih oleh Sita Kimadi, Dirjen Viece Sudarto dan pianis Harli Laturiuw. (RA).

 

 

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Sumber : ANGKATAN BERSENJATA (27/08/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 220-222.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: