Des 292016
 

SOEHARTO PRESIDEN : ANAK MANTRI ULU-ULU [1]

 

Jakarta, Merdeka

Hari Jumat, 23 Maret 1973, Jenderal Soeharto, anak Mantri Ulu-ulu (pembagi air di desa), Kerto Sudiro, dilahirkan 52 tahun yang lalu (8 Juni 1921) di Kemusu, Godean, Yogyakarta, diangkat sumpahnya menjadi Presiden Republik Indonesia yang mendapat mandat penuh dari Rakyat Indonesia melalui wakil2nja dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Ia dipercayakan memimpin Bangsa Indonesia yang terbentang membujur di kepulauan Nusantara dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Irian Jaya. Kepercayaan Rakyat Indonesia untuk memilih kembali Jenderal Soeharto cukup mempunyai alasan2 berkat ketekunan dan keberhasilannya memimpin Negara selama ini yang tidak saja dikagumi oleh dunia Nasional tetapi juga dunia internasional.

Selama ia memimpin Negara dalam masa Orde Baru, pembangunan2 didaerah2 tahap semi tahap mulai dapat dirasakan walaupun harus diakui belum dapat dikecap secara menyeluruh. Harus diingat, membangun tidaklah dapat sekaligus dilakukan, tidak dapat disulap seperti cerita2 1001 malam dengan lampu Aladinnya melainkan harus dilakukan secara bertahap, tekun, kerja keras, kemampuan, keberanian dan mempunyai itikad yang baik, yang kesemuanya merupakan unsur2 mewujudkan pembangunan agar dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia dalam zaman Orde Baru.

Alon – alon

Sesuai dengan asal sukunya lenderal Soeharto dalam tindakan dan sikapnya senantiasa menggunakan falsafah “alon-alon asal kelakon”. Falsafah yang dianutnya adalah suatu sikap dan tindakan yang didasarkan atas ketelitian yang menjamin berhasilnya suatu pola pemikiran terhadap suatu masalah secara maksimal. Yang terpenting adalah kelakonnya (tercapai tujuan) sehingga pelaksanaan berhasil, daripada bertindak buru2 tanpa guna.

Jenderal Soeharto tidak terburu2 mengambil suatu tindakan yang dapat dibuktikan ketika tetjadinya peristiwa 1 Oktober 1965. Dalam menghadapi Untung cs lenderal Soeharto lebih banyak bersikap diam. la membiarkan Untung untuk sementara mengumumkan apa yang dinamakan Dewan Revolusi agar rakyat mengetahui peristiwa Untung cs, bukan masalah intern Angkatan Darat, tetapi masalah nasional. Setelah semua jelas barnlah lenderal Soeharto bertindak hanya beberapa jam setelah Untung melakukan atau mengumumkan Dewan Revolusi.

Kata Pengantar

Majelis Permusyawaratan Rakyat atau MPR hasil Pemilihan Umum untuk pertamakalinya telah memilih Presiden Republik Indonesia. Pilihan telah jatuh kepada lenderal Soeharto yang telah menjabat sejak tahun 1966 berdasarkan pilihan MPRS yang lalu. Untuk lebih mengenai siapa Pak Harto, Wartawan “Merdeka” Ahmad Adirsyah yang sehari2 mengcover berita2 Istana berikut ini menyampaikan sedikit tentang pribadi clan keluarga Presiden terpilih Indonesia untuk pertama kalinya.

Doa

Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sejak kecilnya mendapat pendidikan pada Perguruan Muhammadiyah, ditambah pula pamannya yang taat beragama yang mengasuh Pak Harto dari kecil yang menuntunnya, menyebabkan Pak Harto taat kepada agama. Ia meminta petundjuk2 kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak pada saat2 yang sulit saja, tetapi setiap saat, dengan mengheningkan diri dan memohon petunjuk kepada Tuhan mengenai apa yang dimaksud. Kalau sembah ini dianggap semedi terserah.

Kebiasaan Pak Harto bangun pagi2 subuh adalah pembawaannya sejak kecil akibat pendidikan beragama. Setelah ia bersembahyang subuh, biasanya meneliti dan menandatangani surat2. Tugasnya se-hari2 dilakukannya tidak saja di Gedung Bina Graha, Istana Merdeka, tetapi juga dikediamannya Jalan Cendana.

Sikap

Sikap teguh mempertahankan suatu pendirian yang dianggap benar, oleh pihak yang tidak menyenanginya dicap sebagai “koppig” sebaliknya dilihat secara objektif dinilai sebagai sikap pendirian teguh. Kejadian2 beruntun sejak 1965 sampai saat ini jelas menunjukkan keteguhan sikapnya memegang teguh pendirian yang dipilihnya. Pada saat2 awal perjuangan menegakkan Orde Baru, bertubi2 tuntutan datang dari masyarakat melalui mahasiswa dan pelajar, agar mengambil tindakan keras dan cepat terhadap almarhum bekas Presiden Soekamo, perlambang dan personifikasi dan Orde Lama.

Ibarat batu karang yang tabah melawan pukulan air dan topan, ia berpegang teguh kepada sikap pendiriannya bahwa perjuangan menegakkan Orde Baru dan meruntuhkan Orde Lama harus dilakukan secara konstitusionil.

Sikapnya yang teguh ini dapat juga dilihat dalam menghadapi agar mengganti beberapa pejabat Pemerintahan yang tidak disukai, baik karena dianggap gagal atau karena melihat kehidupan pribadinya. Sikap teguh Presiden Soeharto bukan berarti ia menolak kritik atau menolak perbaikan2, tetapi Presiden Soeharto menghendaki suatu penelitian yang cermat. Presiden Soeharto telah mengadakan perobahan2 dan perbaikan2 atas kekurangan2 yang terdapat dalam aparatur Pemerintah, yang dilakukannya secara diam2 tanpa menyolok dan tidak tergesa2. Sikap hidupnya yang tidak suka tergesa2, walaupun didorong oleh siapapun merupakan prinsip hidupnya yang tergambar dalam falsafah “Aalon-alon asal kelakon”.

Cara2 yang kasar, menyampaikan permintaan yang keras, brutal dan sinis tidak dapat diterima oleh Presiden Soeharto, cara2 seperti ini pasti ditolaknya. Sikap seperti ini bukanlah khas dimiliki oleh orang2 Jawa saja, tetapi juga oleh orang2 Melayu atau Minangkabau yang memiliki falsafah “biar lambat asal selamat” dan “kato malereng”, yang berarti menyampaikan keinginan tidak secara kasar.

Rahasia

Dimana letak kunci kerahasiaan kesuksesan Presiden Soeharto memimpin Negara? la tidak mempunyai rahasia kesuksesan. Rahasianya ialah mengetahui kekuatan dan mengetrapkan kemampuan yang ada sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, dengan membuat tahapan2 dalam mengatur kemampuan untuk mencapai tujuan yang diarah.

Guna mensukseskan Pelita Presiden Soeharto melandaskan Pelita I untuk Pelita2 selanjutnya. Pembangunan jangka panjang adalah Pembangunan Industri yang didukung oleh Pertanian. Dalam Pelita I dititik beratkan pada pembangunan kepada pertanian yang didukung oleh industri yang mendukung pertanian.

Kehidupan

Dalam kehidupan se hari2nya Presiden Soeharto mempunyai 6 orang putera/i dan dua orang cucu, ia tidak tinggal di Istana, tetapi ia memilih untuk mendiami rumah biasa di Jalan Cendana 8. Rumah tsb. bertingkat satu, ruangan bawah diperuntukkan menerima tamu, sedangkan tingkat atas untuk tempat tinggal keluarganya. Keadaan ruangan tidak terlalu besar, kalau hujan deras atapnya selalu tiris dibeberapa tempat. Listriknya tidak jarang mendapat giliran gelap apabila PLN sedang melakukan giliran pemadaman listrik. Kamar tidurnya berdampingan dengan kamar putri bungsunya, Mamik, sedangkan kamar putra/inya yang lain agakjauh kesamping. Tempatnya duduk2 berhadapan dengan ruangan tidur. Setiap pagi Presiden Soeharto sambil menikmati kopi panas, membaca surat2 kabar, pada malam harinya ia mendengarkan siaran2 Warta Berita dari Radio.

Presiden gemar mendengar obrolan2 tukang sado dan penjual gado2 serta siaran2 pedesaan, demikian juga Presiden sering mengikuti acara2 televisi. Sebagai ayah dan Kepala Keluarga, Presiden Soeharto sangat memperhatikan anak2nya, bahkan tidak jarang ia mengajari anak2nya berhitung. Pak Harto sering pula bercanda dengan anak2nya. Hobby yang dimiliki oleh Presiden Soeharto adalah bermain golf, main bowling dan memancing. Kalau ia berekreasi ke Pulau Monyet, Istana Bogar maupun Cipanas segenap keluarga dibawa serta. Makan selalu dilakukan bersama2 seluruh keluarga di satu meja, tanpa pelayan yang khusus. Semuanya dilayani oleh istrinya, Bu Harto, semua lauk-pauk diletakkan diatas meja, ia tidak mempunyai pantangan, Pak Harto memakan apa saja, dan makanan2 khas Jawa sangat digemarinya. Sebelum berangkat ke kantor pagi2, ia selalu menerima pamitan dari putera/inya yang akan berangkat ke sekolah.

Pembantu Utama

Bu Harto adalah pembantu utama Presiden Soeharto. Dalam kunjungan2 ke daerah2 ataupun dalam pertemuan lain2nya Presiden Soeharto sering memperkenalkan bahwa istrinya adalah pembantu utamanya yang terdekat. Presiden Soeharto menilai Bu Harto sebagai asistennya yang terdekat, yang sering memberikan kekuatan moril pada saat2 yang kritis dalam perputaran roda kehidupannya. Sebagai pembantu yang setia secara tidak langsung Bu Harto telah turut memberikan saham dan jasa2 yang tidak kecil bagi kelangsungan hidup Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Siti Hartinah, adalah nama lengkap Bu Harto, ia dilahirkan tanggal 23 Agustus 1923, merupakan puteri kedua dari almarhum KRMTH Sumohatjono, ia mempunyai 8 saudara lainnya masing2 almarhumah Siti Hartini (tertua),Ibnu Hartono, Siti Hartanti, Thnu Widojo, Siti Hardjanti, Ibnu Hardjojo Bemadi, Sumito Ibu Hardjono dan Ibnu Hardjanto. Sejak masa remaja Bu Harto telah aktif mengikuti gerakan dalam masyarakat, gerakan kepramukaan, gerakan wanita dalam barisan Pemuda Puteri Indonesia mengisi siaran2 Kebudayaan melalui studio2 radio.

Dalam masa proklamasi Kemerdekaan Bu Harto aktif dalam Palang Merah Indonesia, Laskar Puteri dan bertugas di staf Komando di bawah pimpinan Ny. Divem. Bu Harto sering ke front pertahanan di daerah Meranggen (Semarang) dan Salatiga guna menyumbangkan tenaga dalam kegiatan2 dapur umum dan perawatan prajurit yang luka-luka.

Masa pendudukan Jogjakarta, Bu Harto tidak kecil sumbangannya kepada kegiatan gerilya melawan kolonialis Belanda. Kontak2 dengan pejuang2 selalu dilakukan antara pejuang2 dalam kota dan luar kota pimpinan Amir Murtono dan Marsudi. Kurir2 Pak Harto diatur oleh Bu Harto yang pada waktu itu tinggal di desa Margoyasan bersama2 kakaknya tertua Almarhumah Siti Hartini, Nyonya Amir Murtono, Thu Dwidjo (guru) dan Pak Sudi (Pegawai Mangkunegaran). Sebagai istri komandan TNI, Bu Harto sering menjadi incaran Belanda, tetapi ia selalu selamat dengan mengaku istri Polri yang suarninya ditahan Belanda bersama2 suami kakaknya Pak Oudang (Pak Oudang pada waktu itu tertangkap oleh Belanda dan kemudian dipenjarakan di rumah penjara Wirogunan, Yogyakarta).

Pada saat itu Bu Harto mengalami penganten baru dan sedang hamil tua, ia baru saja (11 bulan) menikah dengan Pak Harto, terpaksa berpisah, karena Pak Harto harus keluar kota untuk mengatur perlawanan gerilya melawan Belanda.

Bayi Pertama

Tanggal 28 Januari 1948 ia melahirkan bayinya yang pertama dengan bantuan seorang bidan bernama lbu Untung. Bu Harto menikah 26 Desember 1947. Kelahiran bayinya tidak didampingi suaminya, Pak Harto. Empat bulan kemudian, April 1948, barulah Pak Harto dapat melihat bayinya dan mencium anaknya yang pertama itu, yang ditemuinya di Perbeo, dapur Keraton Sultan Yogya. Puteri itu diberinya nama Siti Hadiyanti Hastuti, yang dewasa ini telah pula melahirkan seorang putera, Dendy Nugroho Hendro Maryanto. Siti Hadiyanti Hastuti adalah isteri Indera Rukmana.

Kepribadian

Jenderal Soeharto dikenal mempunyai pribadi yang agung dan selalu merendahkan dirinya. Dalam melakukan tindakan2nya tidak mendahului Tuhan Yang Maha Esa. Praksi Persatuan Pembangunan baru2 ini memintanya untuk dicalonkan sebagai Presiden, jawaban yang diberikan oleh Presiden Soeharto adalah “lnsyaAllah” dan menambahkan agar kontrol yang ketat dilakukan terhadap dirinya dalam melakukan tugas2nya. Ucapan2 ini membuktikan kepribadian yang dimiliki oleh Pak Harto.

Peristiwa lainnya dapat dibuktikan ketika ia mengutarakan “Bung Karno adalah orang yang harus saya hormati”. la mengucapkan itu karena ada issue yang mengatakan bahwa Jenderal Soeharto tidak pemah mau duduk dikursi sewaktu ia bertemu dengan Bung Karno. Dari segi ketimuran, hal tsb sikap yang tidak simpatik, dan tidak mau duduk.

Adalah sikap yang angkuh. Hal itu tidak benar, karena Pak Harto, agar semua yang anti padanya. Kebesaran jiwanya menyebabkan ia menyebutkan Bung Karno yang tua yang harus dihormatinya, walaupun Bung Karno pernah menvonis dirinya sebagai orang yang “koppig” (kepala batu) yang sebelumnya Pak Harto dan Bung Karno berdebat tentang kekuatan Partai Komunis.

Ketika ia menjadi Panglima Divisi Diponegoro (1956) ia terlibat percakapan dengan Bung Karno yang ditanyakan oleh Jenderal Soeharto,

” Bagaimanakah dengan kekuatan PKI, Pak?”, Bung Karno:” PKI secara kenyataan memang telah menang dalam Pemilu, jadi kenyataan itu harus diakui”. Pak Harto “Apa bisa dipercaya?”. Bung Karno: Apa PKI harus dipancasilakan”. Pak Harto” Apa bisa pak?”, Bung Karno:” Itu perjuangan”. Kamu sebagai seorang Prajurit menjalankan tugasmu dengan baik. Soal politik itu adalah urusan saya.”

Pertanyaan ini diulangi lagi oleh Jenderal Soeharto dalam tahun 1965 setelah tetjadi setelah terjadi G-30-S/PKI. “Kan benar Pak bahwa pernah saya sampaikan tahun 1956 sekarang menjadi kenyataan”. Pada waktu itu Bung Karno diam dan tidak menjawab. Nampaknya Bung Karno waktu itu masih berkeras hati bahwa PKI bisa di Pancasilakan. “Sedangkan saya sependapat bahwa PKI tidak mungkin di pancasilakan,” ucap Pak Harto, malah sebaliknya, PKI lebih pandai menunggangi Bung Karno dalam usahanya mem Pancasilakan. Dua pendapat yang saling bertentangan antara Pak Harto dan Bung Karno yang tidak mungkin ditemukan. Kejadian ini semakin renggang antara bulan Oktober 1965 sampai awal 1966.

Supersemar

Menjelang saat2 sebelum SP 11 Maret, Pak Harto berulang kali berusaha memberi penjelasan kepada Bung Karno mengenai PKI dan tuntutan Rakyat pada waktu itu. Dikatakannya sekiranya Bung Karno tidak berani membubarkan PKI biar ia yang membubarkannya, karena semua rakyat telah mengetahui bahwa PKI lah yang mengakibatkan semua ini, agar semua keadaan bisa diatasi. Sebaliknya Bung Karno malah menyarankan untuk membubarkan mahasiswa dan mengambil tindakan terhadap mereka, yang dijawab oleh Pak Harto tidak mungkin, dan bahwa itu suatu sikap yang salah dan malah bisa menjadi konflik yang hebat.

Antara Pak Harto dan Bung Karno terjadi perdebatan mengenai usaha2 pembubaran PKI, Bung Karno memberi alasan:

“Kalau sampai PKI saya bubarkan, terus bagaimana saya menaruh muka saya ini terhadap dunia.” Bung Karno telah terpedaya dengan Nasakom yang diharapkan bisa terlaksana tidak saja di dalam negeri, tetapi Bung Kamo pula membawanya kepada PBB.

Tiga Jenderal masing2 Jenderal Basuki Rachmat, Jenderal M. Jusuf dan Jenderal Amir Machmud, 11 Maret 1966, telah diperintahkan oleh Jenderal Soeharto agar segera ke Istana Bogor, setelah ia mendapat penjelasan bahwa sidang Kabinet di Istana dibubarkan, karena terpengaruh laporan, bahwa istana akan dikepung. Kepada Bung Kamo, Pak Harto memesankan “Kalau Bung Karno masih percaya kepada saya, maka berikanlah perintah dengan wewenang penuh untuk bisa menyelesaikan dan mengatasi keadaan ini.”

Setelah kembali dari Bogor ketiga Jenderal membawa Surat Perintah 11 Maret yang ditanda tangani oleh Bung Kamo. Meskipun Jenderal Soeharto memegang SP 11 Maret dengan wewenang tidak terbatas, ia tetap mengutamakan agar tindakan2nya tidak bertentangan dengan konstitusi. Presiden Soeharto baru sekali menggunakan Supersemar ialah untuk membubarkan PKI Dalam menghadapi masalah lain Presiden Soeharto tidak menggunakan “Super Semar” tetapi dengan jalan lain asal kelakon dan berhasil.

Pengukuhan terhadap pemegang Super Semar ditetapkan dalam Tap MPRS IX yang kemudian bersama2 dengan Kabinet Ampera. Dalam tahun 1967 sidang istimewa MPRS meminta pertanggungjawab Bung Kamo sebagai mandataris tetapi ia tidak memberikannya, akhimya Bung Kamo diberhentikan sebagai mandataris dan Pak Harto diangkat langsung menjadi Presiden penuh, tetapi ditolaknya dengan mengatakan cukup pejabat presiden saja. Sidang umum V (1968) barulah Pak Harto dikukuhkan sebagai Presiden Mandataris.

PUNYA FALSAFAH:

“ALON-ALON ASALKELAKON”

“BUNG KARNO ORANG TUA YANG HARUS SAYA HORMATI” (DTS)

Sumber: MERDEKA (23/03/1973)

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 301-308.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: