Sjarifudin Baharsjah: Pak Harto Mencintai Petani dan Pertanian

Mencintai Petani dan Pertanian

Sjarifudin Baharsjah (Menteri Muda Pertanian dalam Kabinet Pmbangunan V)

Seperti kebanyakan masyarakat kita, saya mulai mendengar nama Soeharto sebagai tokoh yang memimpin penumpasan G-30-S/ PKI. Pada waktu itu, sebagai dosen muda IPB saya terlibat dalam Gerakan ’66 di Bogor. Bagi saya, kesan yang sangat kuat dari kepemimpinan beliau, khususnya dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan penumpasan G-30-S/PKI adalah pendekatan konstitusional secara konsisten. Sungguh sesuatu yang sangat berbeda dengan gaya kepemimpinan sebelumnya. Bagi kami golongan muda waktu itu, kepemimpinan konstitusional itu ditanggapi dengan kurang sabar. Baru kita dapat sepenuhnya memahami dan menghargai bahwa yang dilakukan Pak Harto adalah suatu keteladanan yang sangat penting nilainya dalam kehidupan bernegara kita.
Baru kemudian, yakni setelah pada tahun 1983 mendapat kepercayaan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, saya mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Bapak Soeharto, baik dalam rapat kabinet paripurna maupun dalam berbagai acara nasional. Salah satu pertemuan yang sangat mengesankan adalah ketika Pak Harto berkenan mengunjungi pameran pertanian dalam rangka Pameran Produksi Indonesia (PPI) 1985. Sebagai penanggungjawab pameran pertanian itu, saya menyambut beliau dan Ibu Tien, dan mendampingi beliau menyaksikan berbagai kegiatan pembangunan pertanian yang ditampilkan dalam pameran itu. Kesan yang diperoleh ialah bahwa beliau adalah seorang Kepala Negara yang sangat memperhatikan dan sepenuhnya mengenal seluk beluk sektor pertanian yang sangat penting. Bagi kami orang-orang Pertanian, hal itu memberikan semangat sekaligus rasa tanggung jawab yang sangat besar untuk dapat menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
Kesempatan untuk mengenal Bapak Soeharto lebih dekat muncul ketika saya dengan beberapa rekan dalam bulan Maret 1988 diminta datang di Tapos. Kami diantar oleh Pak Moerdiono dengan sebuah bis. Setiba di Tapos saya terkejut karena Pak Harto telah menunggu di depan rumah dan langsung menyambut kedatangan kami. Kami mengira bahwa kami akan disambut oleh seorang ajudan dan kemudian diantar menghadap Pak Harto. Dalam pertemuan itulah kami diminta oleh Pak Harto untuk duduk dalam Kabinet Pembangunan V sebagai Menteri Muda. Dengan hati bergetar dan dengan sepenuhnya menyadari besarnya tanggung jawab yang akan diberikan, kami semua menyatakan merasa mendapat kehormatan dan kepercayaan yang sangat tinggi dan akan menjalankan tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Dalam pertemuan itu Pak Harto menekankan perlunya koordinasi antara semua menteri sebagai salah satu kunci keberhasilan Kabinet Pembangunan
Kami menyatakan akan melaksanakan petunjuk-petunjuk beliau, dan sepulang dari Tapos, kami mampir di Gedung Krakatau Steel untuk membulatkan tekad menjalin koordinasi sebaik-baiknya, baik di antara sesama menteri muda. maupun dengan seluruh rekan menteri Kabinet Pembangunan V. Insya Allah tekad itu masih terus kami laksanakan, dan secara periodik kami, para menteri muda, berkumpul untuk mengevaluasi pelaksanaannya.
Sebagai Menteri Muda Pertanian, saya melapor kepada Presiden, baik bersama Menteri Pertanian maupun sendiri. Saya mewarisi suatu hal yang dialami oleh setiap Menteri Pertanian yang melapor kepada Pak Harto, yakni melapor pelaksanaan tugas kami kepada Kepala Negara yang sepenuhnya menghayati dan mengetahui bidang pertanian. Suatu pekerjaan yang tidak mudah, karena penguasaan beliau tentang semua aspek pertanian, termasuk data dan angka-angka. Sejak saya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal, saya terlibat dalam persiapan yang sangat intensif setiap kali Menteri Pertanian akan melapor kepada Presiden. Kini saya mendapat kesempatan untuk melapor langsung kepada beliau, dan saya dapatkan bahwa betapapun angkernya Pak Harto, beliau adalah seorang yang mau mendengar dengan teliti laporan pembantunya, bahkan juga argumen-argumen yang diajukan. Laporan yang telah dipersiapkan dengan sangat intensif itu dapat disampaikan secara tuntas, tanpa dipotong di tengah. Baru setelah itu beliau membahas untuk kemudian memberikan petunjuk.
Pengalaman yang selalu menggembirakan adalah apabila menyertai beliau bertemu dan mengadakan temu-wicara dengan para petani. Sifat kebapakan beliau selalu tampak, dan gayung pun bersambut, seperti yang senantiasa terjadi, yakni tiadanya keraguan petani mengemukakan keadaan mereka kepada Kepala Negaranya Bahkan sekurang-kurangnya pada satu kesempatan, yaitu pada suatu panen perdana kedelai di Subang, seorang petani. dengan spontan bernyanyi di hadapan beliau.
Kecintaan Pak Harto kepada pertanian dan petani sungguh merupakan pemacu semangat bagi kami yang bekerja di bidang ini. Political will untuk membangun pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani bukan hanya suatu semboyan yang didengungkan, tetapi secara nyata diberikan. Ketika buku otobiografi beliau terbit, kami orang-orang Pertanian sangat bangga karena pengalaman yang paling mengesankan bagi Pak Harto ternyata adalah ketika menyampaikan keberhasilan petani Indonesia mencapai swasembada beras di forum dunia di Roma pada tahun 1985. Begitu banyak pengalaman lain yang begitu bersejarah, seperti penyerangan dan pendudukan Yogyakarta yang beliau pimpin sendiri, atau penumpasan G-30-S/PKI.
Dengan segala kewibawaannya, ternyata beliau juga suka humor. Itu senantiasa muncul ketika beliau hadir dalam upacara wisuda puteri beliau di IPB. Ketika itu beliau diminta untuk memberi­ kan sambutan atas nama para orang tua wisudawan. Mengawali sambutan, beliau “meminta maaf” kepada para orang tua karena belum sempat merundingkan isi sambutan itu, karena kata beliau “maklumlah kita sama-sama sibuk”. Humor yang disertai sikap kebersamaan yang tulus!
Dalam berbagai kesempatan Pak Harto mengakarkan kepada kita nilai-nilai yang digali dari khazanah kebudayaan. Seringkali hal itu dinyatakan dalam kalimat bahasa Jawa. Bagi saya kadang­kadang agak sukar mengingat kalimat itu. Tetapi suatu peristiwa di Filipina sangat mengesankan saya, yaitu ketika berlangsung pertemuan AMAF (Asean Ministers of Agriculture and Forestry) di Manila. Seperti biasa para Menteri diterima oleh Kepala Negara, dalam hal ini Ny. Aquino. Selesai diterima, kami disilakan meninjau Istana Malacanang, diantar oleh seorang pemandu. Kepada kami diperlihatkan berbagai bagian istana dan tentu saja termasuk peninggalan bekas Presiden Marcos dan isterinya. Pemandu sangat bersemangat menerangkan dan tanpa sadar kami dibuat tertawa, menertawakan ulah bekas Presiden itu dan isterinya. Mula-mula saya ikut tertawa, tetapi lama kelamaan terasa ganjil bahwa sang pemandu mengajak kami, orang-orang asing, menertawakan bekas pemimpinnya. Di situlah kami, (kebetulan saya diantar oleh Duta Besar RI untuk Filipina) yakin bahwa hal serupa tidak akan terjadi di Indonesia. Di situlah kami merasa sangat berbahagia mempunyai seorang Kepala Negara yang sempat mengajarkan falsafah mikul dhuwur mendhem jero yang digalinya dari khazanah kebudayaan kita sendiri.

***

______________________

Sjarifudin Baharsjah, “Mencintai Petani Dan Pertanian”, dikutip dari buku “Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 466-469

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: