Jul 062017
 

SISIHKAN SEPARUH GAJI UNTUK DIKIRIM KE TANAH AIR

Presiden Soeharto sekali lagi menganjurkan agar para tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi menyisihkan paling sedikit separuh dari gajinya setiap bulan untuk dikirimkan ke tanah air. Presiden juga mengharapkan agar pengiriman uang dari Arab Saudi ke Indonesia diatur sebaik-baiknya.

Demikian Dubes RI untuk Arab Saudi, Achmad Tirtosudiro kepada wartawan di gedung Departemen Tenaga Kerja Sabtu siang, setelah sebelumnya diterima Presiden di Bina Graha. Dalam jumpa pers kemarin Achmad Tirtosudiro didampingi Menteri Tenaga Kerja Sudomo.

Ia menjelaskan, Presiden juga menganjurkan agar tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi diberi penjelasan mengenai kemajuan industri di tanah air. Sehingga apa yang bisa dibeli di Arab Saudi praktis bisa dibeli pula di Indonesia, seperti mesin jahit dan barang-barang lainnya.

Dengan penjelasan ini diharapkan mereka tidak perlu banyak mengeluarkan uang hanya untuk membeli barang-barang di sana. Presiden menghendaki jangan sampai uang yang seharusnya mereka kirimkan untuk keluarganya di tanah air itu habis di luar.

"Pokoknya mereka jangan terlalu konsumtif di negara orang. Sedapat mungkin mendepositokan sebagian gajinya, sehingga kalau pulang sudah bisa melakukan usaha mandiri di negeri sendiri," kata Dubes.

Lewat BNI 1946

Menurut Menaker Sudomo, baru-baru ini Depnaker telah membicarakan masalah pengiriman uang para pekerja itu dengan pihak Bank Negara Indonesia (BNI) 1946.

"Saya minta agar BNI secepatnya dapat beroperasi di Arab Saudi," ujar Sudomo. Dari pembicaraan itu, BNI minta kepada Depnaker untuk menyediakan daftar pusat­pusat tenaga ketja Indonesia di Arab Saudi. BNI sendiri telah mengirimkan petugasnya untuk melihat pusat-pusat itu.

Menurut Sudomo, pengiriman uang memang membutuhkan biaya. Tetapi pengiriman uang dari tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi kepada keluarganya di tanah air, tidak akan dipungut biaya, dengan ketentuan uang yang dikirimkan tidak akan diserahkan seluruhnya kepada keluarga yang bersangkutan, tetapi akan menyisihkan sebagian untuk dimasukkan ke tabanas.

Sehingga bila tenaga kerja tadi pulang ke tanah air, mereka telah memiliki tabanas. Pembicaraan kelanjutan pengaturan pengiriman uang ke tanah air ini masih akan dilanjutkan oleh Depnaker dan BNI 1946 minggu ini juga.

46.000 Tenaga

Menurut catatan Depnaker, jumlah tenaga kerja Indonesia yang berada di Arab Saudi sekarang diperkirakan 46.000 lebih.

"Tapi saya tidak tahu secara tepat, karena banyak yang pulang dan datang dengan tidak melapor ke KBRI. Selain itu juga masih ada tenaga kerja gelap," kata Dubes Tirtosudiro.

Ia mengatakan, pola pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Arab Saudi ini bias disusun untuk jangka sampai tahun 2000. Sebab pasaran tenaga kerja di Arab Saudi yang bisa diraih Indonesia diperkirakan bisa tiga juta tenaga kerja hingga tahun 2000. Sekarang penduduk Arab Saudi sekitar delapan juta orang, tapi 40 persen di antaranya orang asing.

Achmad Tirtosudiro mengatakan, proyek pembangunan terbesar di Arab Saudi sekarang adalah pembuatan dua kota industri. Salah satunya ialah kota Jubail. Bidang yang paling terbuka untuk diisi Indonesia katanya adalah bidang jasa dan pemeliharaan.

Ia tambahkan, Arab Saudi adalah salah satu negara pengimpor AC (pengatur udara) yang terbesar di dunia sekarang ini. "Tapi di sana jarang sekali orang yang bekerja di bidang pemeliharaan. Sehingga bila ada AC rusak sedikit langsung dibuang oleh pemiliknya."

"Selain itu diArab juga banyak orang yang memiliki mobil-mobil mewah. Kalau penyok karena tabrakan, sering dibiarkan begitu saja atau bahkan lalu beli baru lagi," katanya lanjut.

"Karena itu akan sangat beruntung bila tenaga kerja Indonesia banyak yang bergerak di bidang jasa atau pemeliharaan, seperti bengkel-bengkel," lanjutnya.

Tenaga Medis

Dubes juga menceritakan baru-baru ini ia dihubungi seorang Amerika yang organisasinya memiliki sekitar 100 rumah sakit di seluruh dunia, dua di antaranya di Arab Saudi.

Orang Amerika tersebut mencari tenaga medis dari Indonesia. Karena orang Indonesia umumnya terkenal sopan dan beragama sama dengan orang-orang Arab Saudi.

Menurut orang Amerika itu, rumah sakitnya di Arab Saudi setiap tahun membutuhkan penggantian tenaga dokter 40 orang dan perawat sekitar 140 sampai 150 orang. "Ada seorang perawat asal Filipina yang bekerja di Arab Saudi memperoleh gaji per bulannya 700 dollar, ditambah rumah dan uang makan," ujarnya.

Dalam kaitan itu, Dubes menilai para pengerah tenaga kerja Indonesia selama ini masih kurang mempromosikan tenaga kerja Indonesia. Mungkin karena mereka sendiri masih lemah dalam rembukan (lobbying).

Salah satu masalah yang dihadapi KBRI di Arab Saudi ialah tenaga kerja gelap. "Kebanyakan dari mereka masuk ke Arab Saudi lewat umroh," ujarnya. Setiap tenaga kerja gelap, bila ketahuan, akan dikembalikan ke tanah air. Demikian Dubes Arab Saudi. (RA)

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 498-500.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: