Des 062017
 

SIDANG KE-44 ESCAP BAHAS PERDAGANGAN ASIA PASIFIK

Jakarta, Antara

Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial Asia Pasifik PBB (ESCAP) S. Kibria mengharapkan negara-negara di kawasan ini mampu mengambil sikap atau kebijaksanaan mengenai perdagangan internasional terutama menyangkut komoditi primer.

Setibanya di Jakarta, Jum’at petang,untuk mengikuti sidang tahunan ESCAP ke- 44 di Jakarta yang akan dimulai Senin pekan depan, Kibria menyebutkan bahwa masalah perdagangan regional dan internasional akan dibahas dalam sidang itu, khususnya perdagangan komoditi pertanian dan mineral.

Masalah ini menjadi penting, katanya, bagi kebanyakan negara-negara di Asia dan Pasifik yang agraris, seperti Indonesia.

Oleh karena itu, Kibria yang tiba bersama istri dan beberapa staf ESCAP, mengharapkan agar negara-negara di Asia dan Pasiflk itu mengambil sikap bersama terhadap sistem perdagangan internasional yang ditandai dengan rendahnya harga­ harga komoditi baik pertanian maupun mineral.

ESCAP sebagai badan penting PBB bagi kawasan Asia Pasifik akan memberikan kesempatan kepada semua anggota,”di daerah mereka, untuk memikirkan permasalah mereka sendiri, bagaimana mereka menghadapi masa datang dan apa yang mereka usu lkan untuk digarap.”Kibria memberi contoh bahwa banyak negara yang dengan sangat serius memikirkan perlunya penataan kembali ekonomi mereka dalam menghadapi tantangan di masa depan yang cepat berubah.

“Kami mengharapkan adanya sedikit debat mengenai pennasalahan ini,” kata Kibria, diplomat Bangladesh yang pada tahun 1967-1969 berada di Indonesia sebagai diplomat Pakistan.

Rencana kerja terpadu

Sidang tahun an ESCAP ke-44 itu akan dibuka oleh Presiden Soeharto, Senin, di Balai Sidang Senayan dan diperkirakan sekitar 700-800 peserta yang mewakili lebih dari 40 negara akan ambil bagian.

Menurut Kibria, sidang yang akan berlangsung sampai 20 April itu diharapkan membahas dan mengesahkan suatu rencana kerja terpadu mengenai pengembangan sumber daya manusia.

Masalah transportasi dan telekomunikasi pun akan mendapat perhatian dalam sidang itu guna dikaji sejauh mana prestasi yang dicapai negara-negara ESCAP dalam pertengahan Dekade Transportasi dan Telekomunikasi (1984-1994) ini serta langkah apa yang harus dilakukan dalam sisa waktu mendatang.

Ketika ditanya mengapa Indonesia dijadikan tuan rumah sidang ESCAP ini, Kibria menjelaskan bahwa hal itu berdasarkan kepada beberapa pertimbangan, seperti semakin meningkatnya peran Indonesia dalam menggalang kerjasama di kawasan ini.

Selain itu, pengalaman Indonesia dalam penanganan masalah ketenagakerjaan selama ini “sungguh unik” dan pengalaman itu dipandang relevan bagi negara-negara berkembang lainnya sehingga untuk itulah Jakarta dipilih sebagai tuan rumah.

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA(08/04/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 288-289.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: