Jun 152017
 

SEMANGAT ULURAN TANGAN KEPADA YANG LEMAH HARUS DIBINA

Presiden Soeharto menekankan, semangat untuk memberi uluran tangan kepada yang lemah perlu terus menerus dibina sehingga semakin meluas dan kegiatan Palang Merah Indonesia (PMI) merupakan salah satu tempat pembinaan. Kepala Negara mengemukakan hal ini dalam pidatonya pada pembukaan musyawarah besar (Mubes) ke-13 PMI di Istana Negara, Jakarta, Kamis malam. Mubes ke-13 ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-37 PMI.

Presiden mengatakan, cita-cita dan tujuan Palang Merah mempunyai tempat yang kuat dalam sanubari masyarakat Indonesia.

Sebabnya sangat mendasar. Dalam Pancasila yang merupakan pandangan hidup dan dasar falsafah negara Indonesia, terkandung sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Karena itu, maju atau mundurnya kegiatan Palang Merah di Indonesia erat kaitannya dengan perjuangan bersama bangsa Indonesia untuk mewujudkan masyarakat Pancasila.

"Makin kuat mengamalkan Pancasila, makin subur pula perkembangan Palang Merah di tengah-tengah masyarakat kita," kata Presiden.

Bagi bangsa Indonesia PMI bukan hanya organisasi yang mengabdikan diri kepada kemanusiaan saja, tapijuga merupakan kekuatan perjuangan.

Sejarah mencatat, PMI lahir tidak lama setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Pada masa perjuangan kemerdekaan PMI telah melaksanakan tugas kemanusiaan tidak saja kepada pejuang-pejuang, tapi juga kepada para pengungsi dan tawanan perang.

Setelah kemerdekaan berhasil direbut dari tangan penjajah, kegiatan PMI kian meningkat. PMI tidak saja bergerak secara nasional, tapi juga bergerak di dunia internasional bekerja sama dengan Palang Merah dan Sabit Merah dari negara-negara lain.

Dalam masa pembangunan sekarang ini, kata Presiden, kegiatan Palang Merah juga terus meningkat sesuai dengan kemajuan yang telah dicapai.

Dalam kaitan ini Presiden menyatakan, PMI dapat dan harus menjadi kekuatan pembangunan. Karena itu Kepala Negara yakin jika gerakan Palang Merah dapat memasyarakat di seluruh Indonesia, masyarakat Pancasila yang menjadi dambaan dan idaman bangsa Indonesia akan lebih cepat terwujud.

Wahana Pendorong

Di bagian lain pidatonya, Presiden menandaskan bahwa kegiatan PMI dapat dan perlu dijadikan wahana pendorong pengamalan Pancasila, khususnya dalam mengamalkan sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Presiden mengatakan, wujud masyarakat Pancasila itu masih merupakan perjuangan yang panjang. Bahkan harus berani mengakui, kata Presiden, masyarakat Indonesia masih harus lebih banyak melatih diri dan lebih banyak lagi mengamalkan Pancasila dalam usaha mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan.

Mengenai bagaimana mengamalkan Pancasila, presiden menyatakan bahwa hal itu sangat jelas pedoman-pedomannya dalam P-4, yang menegaskan bahwa semua manusia mempunyai harkat dan martabat yang sama, karena itu perlu dikembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

Oleh karena itu, Presiden mengajak PMI untuk menjadi pelopor pelaksanaan P-4 mengingat semangat kepalang merahan justru memberikan penghormatan setinggi­tingginya kepada kemanusiaan yang luhur.

Perlu Kepekaan Sosial

Pengamalan Pancasila lebih lebih diperlukan dalam zaman pembangunan sekarang ini, yang tidak lain adalah pembangunan masyarakat Pancasila.

Karena itu Presiden mengatakan bahwa dalam melaksanakan pembangunan itu mutlak diperlukan kepekaan sosial karena pembangunan di Indonesia berwatak kerakyatan.

Pembangunan nasional mempakan gerak maju bangsa yang terbelakang menjadi bangsa yang maju, gerakan bangkit daribangsa yang lemah menjadi bangsa yang kuat ekonominya. Karena pembangunan bangsa Indonesia ini dilaksanakan dengan semangat perjuangan, pembangunan itu pun harus menampilkan rasa percaya diri sendiri yang kuat.

Karena itu, pula dalam proses pembangunan ini yang kuat harus mengulurkan tangan kepada yang lemah sehingga yang lemah menjadi kuat, mampu tegak berdiri dengan kekuatan sendiri dan penuh rasa percaya pada diri sendiri.

Jika rasa percaya diri sendiri ini telah meluas, sebagai bangsa, masyarakat Indonesia akan memiliki kekuatan yang dahsyat untuk terus maju dalam pembangunan.

Sebelumnya Ketua Umum PMI Prof. Dr. Satrio dalam laporannya menguraikan peranan PMI sejak berdirinya 17 September 1945 dan dalam masa perjuangan kemerdekaan, dalam periode tahun 1950-an dan periode perkembangan selanjutnya sampai pada masa pembangunan sekarang ini.

Diuraikan pula peranan PMI dalam soal Tapol G30S/PKI, Timor Timur dan dalam ikutserta dalam penanggulangan masalah pengungsi Vietnam serta kegiatan organisasi kemanusiaan itu dalam membantu meringankan penderitaan korban bencana bencana alam, termasuk korban letusan Gunung Galunggung yang penanggulangannya sampai sekarang ini masih berjalan. (RA)

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (16/09/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 1160-1162.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: