Mar 142018
 

SELAMAT ULANG TAHUN

 

 

Jakarta, Pelita

SYUKUR Alhamdulillah tepat 8 Juni ini Pak Harto yang sekarang adalah Presiden Republik Indonesia berusia 69 tahun satu usia yang dikesankan cukup panjang bagi ukuran bangsa Indonesia jika dibandingkan dengan orang barat yang aneka rupa itu.

Dari 69 tahun usianya Pak Harto telah menempuh pendidikan yang hanya sekedarnya saja tidak mencapai apa yang dikenal perguruan tinggi sampai memperoleh gelar sarjana.

Dengan tanpa gelar kesarjanaan dia telah membaktikan dirinya kepada perjuangan dan pergerakan nusa dan bangsa dalam upaya menjadi bangsa yang bermanfat yaitu merdeka dan berdaulat penuh. Soeharto adalah anak desa, kata Dr. OG. Roeder wartawan Jerman yang menulis tentang biografi Pak Harto.

Soeharto adalah anak petani yang jadi Presiden, tulis penulis ini dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1968 oleh Penerbit Utusan Melayu di Kuala Lumpur, Malaysia.

Soeharto yang dilahirkan di Desa Kemusuk, Kelurahan Argomulyo Kecamatan Godean, Yogyakarta, ini jelas sekali bukan menikmati kelahiran dan hidup di alam kota yang meriah bukan pula bermandikan kemewahan sebagaimana yang teijadi disetengah kelompok masyarakat bangsa kita yang digolongkan elit waktu itu. Soeharto adalah orang biasa lahir dan hidup berkembang dialam yang biasa-biasa saja pula.

 

Pekembangan Karir dan Berjuang

Jika dilihat catatan sejarah Pak Harto tahun 1940 dia telah masuk KNIL yaitu tentara yang dibentuk oleh Kolonial Belanda Tahun 1940 masuk Keibuho, badan kepolisian yang dibentuk penjajah Jepang, seterusnya tahun 1943 masuk PETA dan 5 Oktober 1945 telah berada dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) yaitu tentara permulaan dalam Republik Indonesia.

Kesimpulan, sejak usia 19 tahun Soeharto tidak pernah absen dalam barisan militer tentara pejuang untuk mendapatkan kemerdekaan dan kedaulatan bagi bangsa Indonesia yang besar ini.

Dengan demikian, selama lebih 40 tahun Pak Harto berdinas aktif dalam tentara dan 10tahun belakangan ini bukan militer aktif lagi. Suatu perjalanan yang bukan pendek, yang harus jadi kajian dan contoh teladan bagi generasi muda yang ingin mendharmabaktikan tenaga pikiran dan jiwa raganya untuk nusa dan bangsa Indonesia yang kaya dan indah itu.

Apa yang harus direnungkan oleh siapa saja manusia yang mempunyai ambisi yang ingin berkembang dan maju dalam hidup atau karirnya, tidak bisa lain jika mereka berstudi tentang sukses yang dicapai Soeharto haruslah dilihat jenjang atau anak tangga yang dinaiki oleh pakHarto.

Dari pangkat yang paling bawah ketika mulai masuk KNIL, Keibuho, PETA, BKR, TRI sampai TNI Soeharto kemudian jadi Kasad dan sampai kepada Presiden/Panglima Tertinggi.

Soeharto sangat berbeda dengan latar belakang sukses yang dicapai oleh Sudirman sebagai Panglima Besar TNI, juga berbeda dengan Jenderal AH. Nasution tentang latar belakang pendidikan dan pengembangan karirnya, juga berlainan dengan Jenderal TB. Simatupang.

Oleh sebab itu, Soeharto adalah juga modal perwira Indonesia malahan modal untuk kedudukan sebagai Presiden/Panglima Tertinggi yang sudah dapat diperkirakan sekarang nanti sampai kesuatu jangka waktu yang panjang akan tetap jadi bahan kajian.

 

Tindakan Melarang PKI Ideologi Komunis

Apalagi dirangkaikan uraian diatas dengan Soeharto pemegang Super Semar kemudian melaksanakan tindakan melarang partai Komunis Indonesia dan segala organisasi yang sealirannya juga melarang mengajarkan ideologi komunis dalam bentuk apapun dimaifestasikan, maka sesungguhnya tindakan-tindakan yang telah diambilnya sangat menguntungkan nusa dan bangsa yang pada prinsipnya, serta pada hakikatnya adalah negara dan bangsa yang religius yang besar ini.

Bangsa Indonesia tentu harus berterima kasih atas tindakan itu namun ternyata bukan bangsa Indonesia saja yang gembira karena tetangga Indonesia di Pasifik seperti Australia, Selandia Baru dan lain­ lain yang berpuluh tahun berada dalam keadaan resah karena komunis berkembang di Indonesia dan mungkin melancarkan ekspansinya ke Asia Pasifik. Dengan tindakan Soeharto, keresahan dan kegelisahan itu tidak ada lagi.

Bukan saja tetangga Asia Pasifik, tetapi tetangga seperti Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand, sangat menghargai tindakan penumpasan dan suatu pelarangan kepada komunis itu, disusul dengan sikap persahabatan yang sangat baik sampai hari ini di Asteng.

 

 

Sumber : PELITA (08/06/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 473-476.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: