Des 242016
 

SAMBUTAN PRESIDEN SOEHARTO PADA PEMBUKAAN KONGRES NASIONAL XV PWI 29 NOPEMBER 1973 DI TRETES, JATIM [1]

Jakarta, Berita Yudha

 

SAUDARA-SAUDARA;

Dengan gembira saya penuhi permintaan Panitia Nasional Pusat Kongres Ke-XV Persatuan Wartawan Indonesia untuk memberikan sambutan pada Kongres yang Saudara-saudara adakan sekarang ini.

Tidak diragukan lagi betapa besar peranan wartawan dan pers pada umumnya terhadap perkembangan masyarakat. Pers sekarang telah merupakan sumber informasi yang cepat dan luas jangkauannya ketengah-tengah masyarakat, dan juga bagi pemerintah.

Dari segi ini saja telah menonjol peranan pers bagi pemerintah, karenajangan merekam dan menyiarkan sesuatu keadaan secara cepat maka itu telah berarti tibanya salah satu sumber informasi yang penting, walaupun, kebenaran dan ketepatan berita masih seringkali harus diteliti kembali.

Perasaan penuh harapan atau ragu-ragu, perasaan duka atau tenteram, membenarkan atau menolak sesuatu dikalangan masyarakat acapkali juga banyak ditentukan oleh cara dan warna pemberitaan atau ulasan oleh pers. Dan semuanya itu berpangkal pada sikap dasar, ketelitian merekam keadaan, tehnik menulis berita dan ketekunan mereka yang dinamakan wartawan. Ini jelas merupakan satu kehormatan dan serentak dengan itu juga suatu tanggungjawab.

Apabila para wartawan telah mengambil sikap untuk ikut memberikan peranannya kepada pembangunan Bangsa dan Negara – seperti yang tercermin dalam tema Kongres sekarang, maka peranan itu akan dapat disumbangkannya secara positif melalui peningkatan mutu kewartawanan dan peningkatan dedikasi serta rasa tanggung jawab terhadap masyarakat mengenai apa yang ditulisnya.

Segi tanggungjawab ini menjadi semakin penting karena kehidupan pers sekarang telah sampai pada perkembangan menjadi kegiatan perusahaan, yang mau tidak mau unsur-unsur untung rugi ditinjau dari sudut perusahaan telah menyelinap ke dalam pemilihan dan arah pemberitaan.

Yang penting adalah kemampuan untuk mengembangkan sikap dasar agar perhitungan untung rugi itu tidak mendesak mundur segi tanggungjawab. Apabila profesi wartawan dikatakan mengandung idealisme, maka jawabannya terletak pada kemampuan pers untuk meletakkan tanggungjawabnya terhadap kemajuan dan keselamatan masyarakat di atas perhitungan untung rugi tadi.

Tanggungjawab itu memperoleh bobot yang makin berat dalam usaha besar kita bersama untuk melanjutkan pembangunan bangsa dan negara yang luas dan menyeluruh ini terkandung tujuan untuk perbaikan mutu kehidupan lahir dan batin, untuk memelihara nilai-nilai kehidupan bangsa yang kita anggap luhur, untuk bertambah mengokohkan kehidupan dan pembangunan bangsa kita dalam jangka panjang.

Karena itu juga sangat terang, bahwa dalam menggerakkan pembangunan bukan hanya tujuan-tujuan saja yg dipentingkan melainkan juga cara-cara bagaimana dan untuk apa tujuan itu dicapai. Dalam rangka ini sangat penting artinya kemampuan kita bersama untuk mengembangkan dialog yang luas melalui komunikasi dua arah yang bebas, jujur, terbuka dan bertanggungjawab.

Dialog yang demikian akan melahirkan kreativitas, yang akan melahirkan gagasan-gagasan baru dan pandangan-pandangan baru yang segar, yang akan menjadi kekuatan agar pembangunan kita tetap memiliki gerak ke depan. Dialog itu perlu berkembang antara Pemerintah dengan masyarakat dan antara masyarakat dengan masyarakat sendiri. Melalui dialog yang demikian akan dapat kita lihat secara jelas masalah-masalah pokok yang kita hadapi bersama, akan kita Iihat harapan-harapan yang mungkin kita capai bersama, akan kita kenali kesulitan­-kesulitan yang harns kita singkirkan bersama.

Melalui dialog dapat kita hindarkan kemungkinan salah mengerti diantara kita yang seringkali menjadi sumber kurang kokohnya persatuan yang mutlak diperlukan dalam menangani pembangunan.

Kesepakatan sebagai hasil dialog yang terbuka dan bertanggung jawab akan melahirkan tanggungjawab nasional. Dan tanggungjawab nasional ini adalah kunci berhasilnya pembangunan dan terbinanya kehidupan bangsa yang kokoh dan sentausa.

Melalui dialog yang demikian terkembanglah azas demokrasi, ialah nilai-nilai luhur yang harus kita bina dalam pembangunan bangsa kita dan sekaligus merupakan kekuatan yang menjamin stabilitas nasional yang dinamis.

Dalam mengembangkan dialog yang demikian itu peranan wartawan dan pers sangat besar. Pers merupakan salah satu jalur yang akan menjembatani dialog tadi. Pers harus mampu menjadi penyerap dan pemantul yang jelas dari gagasan-gagasan pembangunan dan perasaan-perasaan yang timbul dalam masyarakat dengan fikiran yang jernih, bahasa yang jelas dan dengan tanggungjawab yang penuh.

Tidak ada keragu-raguan mengenai perlunya pengakuan terhadap hak untuk berbeda pendapat karena hal itu mencerminkan watak demokrasi. Hak berbeda pendapat juga dapat merupakan koreksi terhadap sesuatu yang perlu kita luruskan, dapat merupakan pelengkap terhadap sesuatu yang perlu tetapi tidak terlihat sebelumnya.

Tetapi juga tidak ada keragu-raguan, bahwa hak berbeda pendapat harus bertolak dari hasrat murni untuk memperbaiki yang perlu diperbaiki dan harus didukung oleh kenyataan, harus didasarkan atas hal-hal yang obyektif, bukan sebaliknya secara subyektif menurut sekehendak sendiri. Untuk pertumbuhan demokrasi dan stabilisasi, maka masyarakatpun berhak untuk menerima gagasan-gagasan yang lebih baik dan berhak untuk mendapatkan kenyataan yang benar dan wajar.

Dengan sikap dasar tadi pasti dapat kita kembangkan bersama dialog dan komunikasi dua arab yang jelas kita perlukan untuk mengembangkan stabilitas nasional yang dinamis, tumbuhnya kreativitas dan hidup suburnya demokrasi ialah unsur-unsur penting bagi pembangunan bangsa kita.

Dalam mengembangkan dialog yang demikian itu bertemu tugas-tugas Pemerintah dan pers nasional yang bebas dan bertanggung jawab, karena kedua-duanya berkewajiban memberi arah dan menggerakkan pembangunan bangsa dan negara kita. Dengan harapan yang demikian, saya ucapkan selamat berkongres kepada para wartawan.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkahi setiap usaha kita dalam bersama-sama membangun bangsa dan negara ini.

Sekian dan terima kasih.

TRETES, 29 NOPEMBER 1973

Presiden Republik Indonesia,

ttd.,

SOEHARTO

JENDERAL T.N.I.

(DTS)

Sumber: BERITA YUDHA (30/11/1973)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 148-150.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: