Agu 112018
 

SAMBUTAN BESAR-BESARAN BAGI PRESIDEN SOEHARTO HARI INI DI TUNISIA[1]

Tunisia, Suara Karya

Presiden Soeharto hari ini memulai kunjungan kenegaraan 3 hari ke Tunisia. Pesawat khusus Garuda DC-10 dijadwalkan mendarat di Bandara Tunis, Chartage pukul lO .OO pagi.

Sebelum ke Tunis Presiden dan rombongan menginap semalam di Malta, jam penerbangan dari Tunis. Wartawan Suara Karya, Agustianto yang turut dalam rombongan Presiden melaporkan, persinggahan di kota wisata di laut tengah ini untuk penyesuaian waktu, setelah terbang 15 jam dari Jakarta.

Presiden dan Ibu Tien setiba di Bandar udara Tunis, disambut oleh Presiden Tunisia, Ben Ali. Di negara Arab magribi ini, penyambutan Kepala Negara dilakukan secara besar-besaran. Pada hari pertama kunjungan, Presiden langsung melakukan pertemuan dengan Presiden Jenderal Zine ElAbidine Ben Ali di Istana Charthage yang dijadwalkan akan berlangsung sekitar satu jam. Kedua pemiMpin akan membahas masalah hubungan kerja sama kedua negara, masalah-masalah regional dan internasional.

Presiden disertai Mensesneg Moerdiono, Menperin Tunky Ariwibowo, dan Kepala Badan Pelaksana Ketua GNB Nana Sutresna, serta putri keempat Presiden, Ny. Siti Hediati Prabowo. Presiden berkunjung ke negara bekas jajahan Prancis ini untuk pertama kalinya. Kunjungan ini atas undangan Presiden Tunisia yang digantikan Ben Ali, yakni Habieb Bourghiba. Undangan itu diulangi lagi oleh Ben Ali tahun 1989. Kedua kepala pemerintahan pernah bertemu di Jakarta, saat berlangsung KTT X GNB di Jakarta, September  1992.

Pabrik Tekstil

Hubungan kedua negara sesungguhnya telah berlangsung cukup lama dan jauh sebelum Tunisia mencapai kemerdekaannya dari Prancis pada tahun 1956. Hubungan bilateral kedua negara terus berlanjut setelah kemerdekaan Tunisia, antara lain Indonesia banyak membeli phospat dari Tunisia, dan sebaliknya Tunisia membeli peralatan pabrik tekstil dari Indonesia. Dalam kunjungan ke Tunis ini Pak Harto merencanakan akan melakukan kunjungan ke pabrik tekstil negeri itu yang bekerjasama dengan Texmaco Indonesia.

Mengingat posisi Tunisia yang dekat sekali dengan daratan Eropa, Indonesia melihat potensi-potensi yang dapat dirnanfaatkan dari Tunisia untuk memperlancar hubungan perdagangan, bukan hanya dengan Tunisia tetapi Juga dengan negara di sekitarnya dan daratan Eropa pada umumnya. Setelah makan siang, Presiden rnengunjungi Taman Makam Pahlawan Sejourniuntuk meletakkan karangan bunga. Dari tempat ini, Pak Harto langsung rnenuju ke Gedung Parlernen Tunisia untuk mengadakan pertemuan dengan Ketua Parlernen Tunisia.

Usai berternu Ketua Parlernen Tunisia, Presiden meninjau masjid kuno Ezzitouna La Kasbah. Dari masjid ini, Pak Harto baru kembali ke Istana Essada untuk istirahat. Sementara Presiden bertemu Ben Ali, Ibu Tien Soeharto meninjau “Children VIllage”. Dari tempat ini, Ibu Tien kernbali ke Istana Essada untuk santap siang pribadi dan dilanjutkan istirahat. Pukul l5.00,Ibu Tien meninjau kebun Bunga Kaktus. Setelah satu jam di ternpat ini, Ibu Tien kembali ke Istana Essada.

Senin malam ini, Presiden dan Ibu Tien menghadiri jamuan makan malarn kenegaraan yang diselenggarakan Presiden Tunisia dan Ny. Ben Ali di Istana Carthage. Pak Harto Selasa (16Novernber) besok, akan mengunjungi Tozeur. Mulai pukul 09.30, Presiden akan meninggalkan Bandara Tunis Carthage menuju Tozeur Nefta. Setelah terbang 30 rnenit, akan tiba di Provinsi Tozeur. Di ternpat ini Presiden akan disambut dengan tarian tradisional dan atraksi rnenunggang kuda maupun unta.

Dari Bandara Tozeur Nefta, Presiden langsung menuju Oasis dan perkebunan kurma. Di ternpat ini Presiden dan rornbongan akan menyaksikan sistem irigasi dan panen kurma.

Dari tempat ini Presiden dan Ibu Tien Soeharto rnenuju Hotel Dar Cherait untuk santap siang yang diadakan Gubemur Tozeur. Mengiringi santap siang ini adalah tarian tradisional provinsi setempat.

Yasser Arafat

Pukul l4.30, Presiden dan Ibu Tien akan meninjau koleksi benda bersejarah milik pribadi Direktur Hotel Dar Cherait, Karim Cherait Pukul  15.30, Presiden dan rornbongan akan rneninggalkan Hotel Cherait kembali menuju Bandara Tozeur Nefta menuju Bandara Tunis Carthage. Selasa petang pukul19.00,di suite ke Presidenan Istana Essada, Presiden akan menerima Presiden Palestina Yasser Arafat. Ini pertemuan ketiga kalinya dalam dua tahun terakhir. Yang pertama September 1992 saat berlangsung KTT X GNB di Jakarta, kernudian bulan Oktober lalu ketika Arafat ke Jakarta.

Rabu pagi pukul 09.30, Presiden dan Ibu Tien Soeharto berpamitan kepada Presiden Tunisia dan Ny Ben Ali di Istana Carthage, untuk melanjutkan perjalanannya ke Seattle, Amerika Serikat (AS) menghadiri pertemuan tidak resmi Asia Pasific Economic Cooperation (APEC), dan petjalanan itu ditempuh selama 15 jam 15 menit sebelumnya beristirahat di bandara Andrew Washington selama dua jam.

Malta

Persinggahan di Malta memang digunakan untuk istirahat, oleh karena itu kedatangan Kepala Negara dan rombongan tidak mendapat sambutan resmi. Selama di negara berpenduduk sekitar 350.000 orang ini, Kepala Negara juga tidak mempunyai acara khusus.

Ditangga pesawat, Presiden dan Ibu Tien Soeharto disambut Dubes RI untuk Italia merangkap Malta Moeslim Sjahroni. Dari Bandara internasional Malta, Presiden dan Ibu Tien Soeharto langsung menuju Wisma Negara San Anton Palace, tempatnya bermalam selama di Malta. Sementara anggota rombongan lainnya, termasuk wartawan menginap di Hotel Carinthia Palace, salah satu hotel berbintang lima di pulau wisata itu.

Suasana kota Valleta, Minggu kemarin tampak tenang-tenang saja. Negara bekas jajahan Inggris ini luas daratannya hanya 316 km2 dan wilayah lautan sekelilingnya 193 km2.

Malta yang mengandalkan sektor pariwisata dan pertanian ini pembangunan kotanya sangat rapi dan bersih. Meski baru merdeka tahun 1964, namun negara ini GDP-nya telah mencapai 2,4 milyar dolar AS dan pendapatan per kapita mencapai 6.564 dolarAS per tahun. *

Sumber: SUARA KARYA (l5/ll/1993)

_______________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 277-279.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: