Mei 162017
 

SALING CURIGA, PENYAKIT MASYARAKAT YANG SANGAT MEMBAHAYAKAN

Presiden Soeharto menegaskan, Pemerintah sama sekali tidak pernah menganggap apa yang dilakukannya sudah sempurna, tanpa kekurangan. Karena itu memang selalu diperlukan introspeksi terhadap apa yang direncanakan dan dilaksanakan.

Memberi sambutan pada peringatan Isra’ Mi’rai Nabi Muhammad SAW di Masjidl Istiqlal, Minggu malam, Kepala Negara mengatakan kita semua adalah manusia yang tidak luput dari kelemahan dan kekurangan. Karena itu, agama Islam mengajarkan kita saling berbuat baik, benar serta bersikap sabar dan tabah.

"Untuk ini, pertama-tama kita harus saling percaya atas maksud baik kita masing­masing. Kita harus menghilangkan saling curiga di antara kita, sesama bangsa".

Kepala Negara mengakui, tidak mungkin dihindari adanya perbedaan pendapat dan perbedaan penilaian. Tetapi dengan rasa sating percaya akan maksud baik masing­masing, perbedaan itu tidak akan membuat persengketaan dan permusuhan.

"Tidak ada perbedaan yang tidak dapat diselesaikan dengan baik, apabila menyadari kita ini saudara dalmn keluarga besar bangsa Indonesia. Dengan semangat demikian, malahan adanya perbedaan seperti dikatakan Nabi Muhammad SAW, justru membuahkan rakhmat dan kebaikan. Sebab dengan perbedaan, kita mempunyai bandingan dan pilihan yang lebih baik".

Sangat Membahayakan

Iamenambahkan, yang harus terus ditumbuhkan pada saat ini adalah suasana saling percaya-mempercayai. ”Sungguh, saling kecurigaan di antara kita merupakan penyakit masyarakat yang sangat membahayakan," kata Presiden.

"Ia hanya akan mendorong tumbuhnya sikap berhadap-hadapan dan bukan sikap bergandengan tangan, dan mendorong kita keperpecahan dan bukan persatuan. Dalam hubungan inilah, kita perlu mengambil pelajaran dari peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.”

Dikatakan oleh Kepala Negara, sebagai bangsa yang memiliki berbagai kemajemukan, setiap golongan dan kelompok haruslah berusaha saling menjaga diri agar tidak menyinggung satu sama lain. Masing-masing harus benar-benar berusaha mengendalikan diri, ujar Kepala Negara.

”Dalam hubungan inilah, saya tidak jemu-jemunya mengingatkan kita semua untuk benar-benar menghayati dan mengamalkan Pancasila. Sebab pangkal-tolak penghayatan dan pengamalan Pancasila adalah pengendalian diri kita masing-masing, untuk memenuhi kewajiban sebagai makhluk social, ia menambahkan, kaiau masing­masing golongan dan kelompok agama tidak mampu mengcndalikan diri, cepat atau lambat, tentu akan terjadi ketegangan hubungan antar umat berbagai agama. Dan hal ini benar-benar membahayakan kehidupan bangsa Indonesia, ujar Presiden.

"Oleh karena itu keterbukaan dialog diantara para tokoh berbagai agama perlu dikembangkan Wadah musyawarah antar umat beragama yang telah ada dewasa ini, hendaknya dapat dijadikan forum yang efektif untuk membina kerukunan dan saling percaya antara golongan umat beragama di Indonesia ini." Demikian Presiden Soeharto.

Kurang pada Tempatnya

Sementara itu Menteri Agama H. Alamsyah Ratu Perwiranegara dalam sambutannya mengatakan, adalah pandangan yang kurang pada tempatnya apabila umat Islam dikira menentang kemajuan dan teknologi atau menolak modernisasi, sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadist. Sehab pada hakekatnya, ajaran Islam mendorong untuk memanfaatkan teknologi.

Ia mengatakan, sebagai bangsa yang sedang membangun, Indonesia dihadapkan kepada masalah social seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan di sana-sini di bidang agama masih dilihat fanatik buta atau pandangan picik.

Umat Islam dengan berpegang kepada sabda Rasulullah yang menyatakan kemiskinan mendekatkan kekafiran, akan mampu mengangkat ajaran Islam sebagai konsepsi pemecahan masalah kemiskinan, tambah Alamsyah.

Peringatan Isra Mi’raj ini dibuka dengan pembacaan ayat Al Qur’an oleh Haji Rahmat Lubis, pemenang kedua MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran ) di Mekkah, dan penutupan oleh Hajah Sarini Abdulah, pemenang pertama MTQ Internasional di Kuala Lumpur tahun 1979.Hadir antara lain Ny. Tien Soeharto, para menteri dan para kepala perwakilan negara sahabat di Jakarta.

Uraian Isra Mi’raj disampaikan oleh Ir. Haji Basit Wahid, Dosen Fakultas Ilmu Pasti Alam Universitas Gadjah Mada. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (01/06/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 502-503.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: