Feb 242018
 

RENUNGAN BERMAKNA DALAM PIDATO AKHIR TAHUN PRESIDEN

 

 

Jakarta, Merdeka

Dalam pidato akhir tahun 1989, Presiden Soeharto lebih banyak mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk melakukan renungan ulang. Beberapa pertanyaan retorik diungkapkannya dalam nada yang bersifat introspeksi atau mawas diri.

Dengan semangat penuh optimisme, Presiden mengajak seluruh masyarakat Indonesia, seluruh keluarga masyarakat Indonesia untuk selalu menyadari bahwa proses pembangunan selalu akan mendorong munculnya aspirasi-aspirasi baru dan kekuatan-kekuatan baru dalam masyarakat kita. Hal itu merupakan dinamika kehidupan kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dikemukakannya pada pidato akhir tahun 1989, ada makna khusus yang lain dari tahun 1989 ini bagi kita dan juga bagi dunia pada umumnya. Jika kita akhiri tahun ini berarti kita akhiri pula dasawarsa 80-an dan segera kita akan memasuki kurun waktu baru, ialah kurun waktu dasawarsa 90-an.

Dasawarsa yang akan datang akan menutup sejarah perjalanan peradaban manusia yang sangat penting, ialah berakhirnya abad ke-20 dan berawalnya zaman baru abad ke-21. Dalam pandangan futurisnya, Presiden meramalkan abad ke-21 akan merupakan abad yang penuh dengan dinamika yang sangat cepat, terutama karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi.

Dalam kaitan itu muncul berbagai pertanyaan retorik, apakah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi itu akan membawa kebahagiaan dan mulianya martabat manusia ataukah malahan mendatangkan kegelisahan batin dan merosotnya nilai-nilai moral, etik dan spiritual.

Apakah jumlah penduduk dunia yang bertambah besar akan merupakan kekuatan dinamis untuk mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan yang lebih tinggi ataukah akan menjadi beban yang memberatkan.

Apakah impian umat manusia untuk terus maju akan disertai dengan terpeliharanya lingkungan alam yang menghidupinya ataukah dikuras habis yang akan menjadi awal dari bencana. Apakah kemajuan ekonomi akan disertai dengan keadilan dunia ataukah akan menambah lebarnya jurang pemisah antara negara-negara yang sangat maju dan negara­negara yang tetap terbelakang.

Sikap inward-looking Presiden tidak berarti mengabaikan perubahan atau pembaharuan yang terjadi diluar masyarakat Indonesia sendiri. Presiden menyebutkan diberbagai negara dan kawasan dewasa ini telah terjadi pergolakan-pergolakan yang meminta korbanjiwa yang tidak sedikit.

Tahun ini memang terjadi perubahan-perubahan mendasar dan besar di berbagai kawasan. Kita semua berharap perubahan-perubahan itu membawa umat manusia ke arah kehidupan yang lebih tenteram, lebih damai dan lebih mantap.

Peredaan ketegangan dunia mudah-mudahan dapat memudahkan dana-dana luar biasa besarnya yang selama ini digunakan untuk membuat senjata-senjata pemusnah menjadi dana-dana bagi pembangunan umat manusia yang masih hidup dalam penderitaan, kelaparan, penyakit dan ketidaktahuan.

Dalam setiap perubahan, pembaharuan dan perkembangan suatu bangsa suka atau tidak, mau atau tidak, niscaya faktor ekstemal sebagai faktor subyektif akan bertemu dengan faktor internal sebagai faktor obyektifnya. Artinya bagi masyarakat Indonesia tidak akan mungkin mengabaikan atau melepaskan diri dari terjadinya pergolakan atau pembahan serta pembahaman masyarakat dunia luar.

Sebab dengan semakin canggihnya teknologi, komunikasi dan informasi, masyarakat Indonesia pada hakekatnya sudah semakin memasuki dalam eranya warga dunia (citizen of the world). Suatu dunia interdependensi.

Dengan kepandaian untuk membaca tanda-tanda jaman itulah, kita akan mampu mengantisipasi setiap pergolakan atau pembahan serta pembaharuan masyarakat dunia ke arah kemajuan masyarakat Indonesia. Dan kita tidak akan terlena dengan slogan-slogan.

Seluruh masyarakat Indonesia pada masa-masa mendatang sama sekali tidak membutuhkan seribu slogan kosong. Tetapi mereka hanya membutuhkan satu puisi yang berisi, puisi yang membumi. Yakni puisi kehidupan umat manusia.

Dalam kerangka itu Presiden sempat mengajak kita semua untuk melihat perkembangan bam dengan hati yangjemih dan juga pikiran yangjemih. Perkembangan bam ini memang belurn pemah kita kenai dan kita alami sebelumnya. Misalnya seperti tumbuhnya para pengusaha konglomerat.

Presiden juga mengemukakan pembangunan telah membuka peluang-peluang baru bagi bangkitnya potensi-potensi dan prakarsa­prakarsa masyarakat. Ada kelompok-kelompok yang telah siap dan lebih mampu memanfaatkan peluang-peluang baru itu.

Mereka tumbuh makin besar dan makin kuat. Ada pula kelompok yang belum terlalu siap dan belum dapat mengembangkan kemampuannya. Tetapi dalam-kaitan ini seringkali masyarakat Indonesia mempertanyakan kesempatan untuk mengantisipasi peluang­peluang baru itu.

Di sini pulalah masih banyak kalangan masyarakat mempertanyakan apakah delapan jalur pemerataan kesempatan sudan dijabarkan dalam pelaksanaan pembangunan Indonesia selama ini. Apakah arti kesempatan itu mengandung keterbatasan di dalamnya? Sebab ternyata sulit untuk dibantah bahwa berbagai kesenjangan masih juga terus muncul. Sehingga tidak mengherankan, kalau masih ada suara-suara yang menuntut keadilan. Lebih-lebih kalau dikaitkan dengan arti kesempatan kerja.

Memang masih terlalu banyak hal-hal yang telah kita lalui bersama di tahun 1989, harus direnung ulang dan dikaji. Betapa lagi ditahun baru 1990 ini. Kiranya tepat, kalau Presiden sendiri menegaskan makin maju perjalanan pembangunan bangsa kita akan makin banyak tantangan baru yang harus kita hadapi dan makin banyak masalah baru yang harus kita tangani. (SA)

 

 

Sumber: MERDEKA(02/0l/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 14-17.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: