Reaksi atas Kunjungan Pak Harto di Jerman: KOHL AJAK PENGUSAHA KE ASIA

Reaksi atas Kunjungan Pak Harto di Jerman: KOHL AJAK PENGUSAHA KE ASIA[1]

Hannover, Republika

“Montaq ist Premiere,”demikian bunyi iklan menyambut pembukaan Pameran Hannover (Hannover Messe) 1995 oleh Kanselir Helmut Kohl dan Presiden Soeharto Ahad (2/4) malam. Sebelum Kohl menyampaikan kalimat pembukaannya, Pak Harto lebih dulu berpidato. Kohl, dalam pidatonya, mengaj ak para pengusaha Jerman untuk menanamkan investasi nya di negara-negara Asia yang perekonomiannya kini berkembang. “Perusahaan-perusahaan Jerman perlu hadir di wilayah Asia. Ini juga perlu untuk Pameran industri yang diikuti 6.949 peserta dari seluruh dunia ini akan dibuka untuk umum pagi ini dan berlangsung selama sepekan. Sebelumnya, Presiden Soeharto akan memukul gong tanda peresmian Anjungan Indonesia dengan disaksikan oleh Kanselir Helmut Kohl, yang kebetulan merayakan HUT ke-65. Anjungan Indonesia sebagai partner/and (negara mitra) bagi Jerman dalam pameran, itu menampilkan 68 perusahaan dengan tema “Kemajuan dalam Keserasian” (Progress in Harmony). Selanjutnya, mereka menyaksikan film multimedia tentang Indonesia di Hall-15. Uniknya, acara yang sifatnya formal berbeda dari lazimnya, tanpa pembawa acara. Menurut laporan wartawan Republika Hersubeno Arief dan Irwan Kelana yang berada di ibukota negara bagian Niedersachsen Jerman itu, suasana Indonesia pun menjadi sangat terasa. Selain Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto, wajah-wajah Indonesia tampak di sana-sini.

Di pameran bergengsi itu, hadir sejumlah menteri Kabinet Pembangunan VI, para pejabat tinggi, para pengusaha, puluhan wartawan dan warga negara Indonesia yang tinggal di Jerman. Hadir pula mantan Wapres Sudharmono SH bersama istri.

Ahad malam, sebelum pembukaan, Presiden bertemu Walikota Hannover dan menandatangani buku emas di balaikota. Walikota Herbert Schmalsleigh menyampaikan kekhawatiran warganya mengenai pelaksanaan HAM di TimorTimur dan Irian Jaya, serta adanya kabar penangkapan wartawan. “Saya kira kalau kita ingin menjalin hubungan ekonomi antarnegara persoalan, semacam itu dapat dibicarakan,” katanya seraya berharap masalah itu dibahas antar pejabat tinggi kedua negara.

Presiden dalam sambutan balasannya tanpa teks menyatakan bahwa Indonesia sangat terbuka membicarakan masalah tersebut. “Negara kami adalah negara demokrasi yang mempunyai dasar Pancasila dan UUD45.”Presiden lalu menjelaskan keberadaan ABRI dengan perannya sebagai stabilisator dan dinamisator. Kemudian secara panjang lebar dijelaskan pula kedudukan MPR dan DPR.

Beberapa surat kabar yang terbit akhir pekan ini memberikan reaksi atas kunjungan Pak Harto. Seperti biasa ada yang pro dan kontra. Koran terbitan Frankfurt, Frankfurter Rundschan, menyorot kehidupan politik di Indonesia. Dengan mengutip laporan Amnesty International, koran ini menulis di Indonesia telah terjadi pelanggaran HAM  dan kebebasan pers.

Koran Hannoversche Allgemeine, yang terbit di Hannover, senada dengan Frankfurter Rundschan. Ia memuat rencana tmjuk rasa untuk memprotes kunjungan Pak Harto oleh kelompok-kelompok kiri. Sementara itu, Frankfurter Allgemeine Zeitung, koran terkemuka yang terbit di Frank:frut, menulis banyak kesempatan bagi industri Jerman di Indonesia. Sayangnya,

menurut laporan wartawanya,Vow Erhard Hanbold, dari Jakarta pengusaha Jerman kurang gesit. Indonesia disebutnya sebenarnya sudah lama menunggu, 20 tahun. Namun Jerman “tidur” kalah dengan Jepang dan Taiwan, Korea Selatan dan Hongkong. Padahal, menurut koran itu, nama produk Jerman di Indonesia sangat terkenal. Anehnya, Jerman justru membuka pusat perdagangan dan pelayanan untuk pengusaha kecil-menengah dan logistik di Singapura.

Tapi, kata laporan itu, masih ada harapan bagi Jerman, dengan melakukan tiga hal mendesak. Yakni, pendirian pusat perdagangan, pelayanan dan logistik di Indonesia. Lalu, Jerman harus mengambil bagian dalam pembangunan jalan toI, pembangkit listrik, kereta api bawah tanah, proyek-proyek yang diserahkan pemerintah kepada swasta.

“Ini adalah bidang-bidang masa depan Jerman,” tulis Frankfurter Allgemeine Zeitung. “Tanpa kehadiran yang mantap di Indonesia, jangan berharap Jerman mendapat kepercayaan.”

Sedangkan koran mingguan bergengsi Die Zeit, yang terbit di Hamburg, secara cerdas menulis tentang kunjungan Pak Harto. Koran ini menulis bahwa demokrasi di Indonesia memang jauh dengan demokrasi di Barat.

Namun, diakuinya, Presiden Soeharto telah berhasil membangun prasarana ekonomi, kesehatan dan pendidikan untuk seluruh Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau-pulau. Ini pekerjaan yang tidak mudah. “Mit Hanter Hand” (Dengan tangan keras), begitu koran ini melukiskan bagaimana Pak Harto memerintah dan membangun Indonesia selama hampir 30 tahun.

Tentang demokrasi, koran Frankfuner Allgemeine Zeilung menyebut pembangunannya baru sedikit.

“Tapi jenderal yang cakap ini (clergelerntegenera!),telah membangun prasarana ekonomi yang maju, mungkin paling modern , di kawasan Asia Tenggara,” tulis koran yang dikenal berhaluan konservatif ini. • p/ha/ika

Sumber: REPUBLIKA (09/04/1995)

_______________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 347-349.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.