Rana Iday: DULU SAYA BENCI PETUGAS PENYULUH

Rana Iday: DULU SAYA BENCI PETUGAS PENYULUH

 

Jakarta, Kompas

DARI Bogor, tanya Presiden Soeharto. “Ya, Pak,” jawab yang ditanya.

“Bagus, teruskan usaha yang telah Bapak lakukan. Jangan sampai lengah,”

pinta Presiden, seraya berpesan “Selamatkan sumber daya alam setempat.”

”Ya, Pak. Saya akan teruskan usaha yang telah kami rintis,” jawab Rana Iday (65), Ketua Kelompok Tani Lestari Blok Kabandungan Desa Tamansari Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, yang menerima hadiah pertama Lomba Penghijauan Tingkat Nasional dalam kegiatan Area Dampak Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumber daya Alam (UPSA).

Demikian dialog singkat antara Rana Iday dengan Presiden pada acara penyerahan hadiah dan penghargaan lomba Pekan Penghijauan Nasional (PPN) ke- 27 pekan lalu di Desa Lanna Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, yang dituturkan kembali oleh Rana Iday pada Kompas, Jumat lalu.

Dengan raut wajah yang gembira Rana Iday, ketua Kelompok Tani Lestari itu mengatakan, untuk pertama kalinya dia bisa bersalaman dengan Kepala Negara dan juga untuk pertama kalinya dia naik kapal terbang dari Bandung, Surabaya dan Ujungpandang.

Kesemuanya itu menurutnya berkat kelompoknya berhasil meraih juara pertama. Karena itu, dia bersama kelompoknya bertekad untuk lebih meningkatkan usahanya sesuai pesan Presiden Soeharto.

“Dulu, Pak, sekitar tahun 1982 saya marah terhadap upaya menyengked tanah pada tanah garapan saya. Buat apa merusak tanah, pikir saya waktu itu,” kata Rana Iday mengenang masa lalu.

“Bahkan benci terhadap petugas Sub-Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) yang mendatangi kami melakukan penyuluhan.”

Akhimya, kata Rana Iday, secara berangsur-angsur bisa menyerap upaya penyuluhan yang dilakukan Penyuluh Lapangan Pelestarian Sumber daya Alam Sub­ Balai RLKT, Totoh Muhayar. Begitu pula contoh nyata keberbasilan dari Unit Percontohan UPSA yang dilakukan Idris, petani setempat.

“Tanah yang disengked itu ternyata bermanfaat. Ditanami jagung, cabai dan padi hasilnya cukup bagus. Sejak itu, saya kumpulkan masyarakat untuk mencontoh usaha Pak Idris,” kata Rana Iday.

Rana Iday yang bekas jagoan, bersama 20 petani penggarap, sekitar sebulan menerima penyuluhan dan latihan dari Totoh Muhayar tentang pemanfaatan lahan dengan teknik konservasi. Setelab itu, dibentuklah kelompok tani yang diberi nama Lestari.

“Alhamdulilah, kini dampak UPSA membawa hasil yang bisa mengubah kehidupan masyarakat di sini, khususnya petani penggarap,” kata Rana Iday.

Ditambahkannya, petani penggarap yang semula 20 orang itu kini menjadi sekitar 350 petani, dengan luas garapan 318 bektar.

“Kini, tak ada lagi masyarakat yang mencuri kayu di hutan, dan tak ada lagi yang menjadi kuli di Bogor. Mereka kini menjadi petani laban kering,” katanya. Kepada Kompas, dia menunjukkan salah satu anggota kelompoknya yang mampu membuat rumah tembok berkat usaba taninya.

“Dulu, ketika masih menjadi mandor di perkebunan, rumahnya tidak begini. Sekarang dari hasil penjualan cabai dan nanas serta talas, dia berhasil secara berangsur-angsur membangun rumah tembok,” kata Iday sambil menunjuk ke rumah Idris.

Adapun tanah yang digarap kelompok Rana Iday itu adalah, tanah perkebunan yang HGU-nya telab habis, dan telah dilepas untuk digarap masyarakat. Dari sekitar 318 hektar itu, 60 persen dimiliki oleh orang luar daerah, sebagian milik orang Jakarta.

Berkat pendekatan yang dilakukan oleb petugas Sub-Balai RLKT akhimya pemilik tanah mengizinkan tanahnya digarap sekaligus diselamatkan. Usaha pendekatan dilakukan dengan mendatangi pemiliknya di lapangan golf

“Di tempat­ tempat seperti itulah petugas kami berupaya untuk memberikan penjelasan terbadap tanahnya yang ditelantarkan agar diperkenankan digarap oleh masyarakat, sekaligus untuk penyelamatan lahan,” kata Kepala Sub-Balai RLKT, Ir Transtoto.

Sebagian pemilik meminta agar tanahnya ditanami tanaman keras. Sedang hasil tanaman masyarakat, tidak diminta. Bahkan ada yang membantu membuat saung pertemuan senilai Rp 6 juta. Saung tersebut, selain dipergunakan untuk pertemuan para petani juga dipergunakan sebagai tempat peristirabatan pemilik tanah.

KELOMPOK Tani Lestari, menumt franstoto kini secara swadaya dan swakarsa sudah mampu mengadakan konservasi tanah tanpa bantuan pemerintah. ”Jadi pemerintah tidak usah lagi mengeluarkan dana untuk mengadakan konservasi tanah.

Sebab mereka sudah menjadi pelestari sumber daya alam secara swadaya dan swakarsa, kata Transtoto, seraya menambahkan, “Daerah di sekitar pun erosinya terkendali, dan tanah relatif aman.”

Rana Iday mengatakan, hadiah Rp 1 juta yang diterima dari Presiden Soeharto, akan dipergunakan untuk melunasi utang biaya pengeluaran kelompok taninya, membeli domba dan biaya perjamuan menghadapi tamu yang berdatangan meninjau daerahnya. “Yang jelas sisa uang akan kami manfaatkan, untuk keperluan kelompok kami,” katanya.

Kelebihan kelompok tani Lestari tentu tak lepas dari sekretarisnya H Abdul Fatah Suhandi (38). Abdul Fatah yang juga anak angkat Rana Iday, kecuali mampu berbahasa Inggris dan sedikit bahasa Perancis dan Belanda , juga pernah bekerja di sebuah hotel terkemuka di Jakarta (1975-1980).

Fatah juga selama 1982-1985 sempat bekerja sebagai pegawai hotel di Arab Saudi. “Saya ingin menetap di sini jadi petani, mendampingi bapak,” katanya.

 

 

Sumber : KOMPAS (02/01/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 537-539.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.