Feb 242018
 

RAKOR KESRA BAHAS PENEMPATAN KEMBALI SUKU TERASlNG

 

 

Jakarta, Antara

Menko Kesra Soepardjo Rustam Selasa siang memimpin Rakor Kesra di Jakarta yang dihadiri para menteri di bidang kesejahteraan rakyat. Rakor itu antara lain membahas masalah pemukiman suku terasing yang hidup mereka tersebar di berbagai hutan dan kawasan di Kepulauan Indonesia.

Asmenko Kesra dr. Suyono Yachya MPh menjelaskan kepada pers bahwa menurut Mensos Haryati Subadio, jumlah suku terasing di Indonesia saat ini 148 suku bangsa dan hidup di 93 Daerah Tingkat II (kabupaten) di 20 propinsi.

Dalam kesempatan itu, Mensos Haryati Subadio menyampaikan laporan tentang penempatan kembali suku terasing di Kecamatan Kurima, Irian Jaya yang baru-baru ini menjadi korban bencana alam gempa bumi.

Menko Kesra mengharapkan agar kegiatan pemukiman dan penempatan kembali anggota suku terasing, sesuai Undang-Undang No.5/tahun 1974, hendaknya ditangani secara terkait antar instansi/departemen dengan kordinasi Pemerintah Daerah setempat.

Rakor Kesra membahas pula keterangan Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar mengenai pernyataan Unicef tanggal 26 dan 27 September 1990 ada rencana pertemuan pendahuluan para kepala negara dari Kanada, Mesir, Pakistan, Swedia, Mali dan Indonesia di suatu negara yang belum ditentukan untuk membahas berbagai masalah yang menjadi wewenang organisasi tingkat dunia tersebut.

Menko Kesra Soepardjo akan segera menyampaikan masalah pertemuan itu kepada Presiden Soeharto untuk mendapatkan tanggapan mengenai masalah tersebut.

Dalam hubungan ini, Indonesia untuk pertemuan ini telah diminta menyediakan dananya sebesar 50.000 dollar AS.

Rakor Kesra itu juga membahas bidang kesehatan masyarakat yang berkaitan erat dengan tersedianya sarana yang sangat diperlukan seperti masalah pengobatan dan usaha mengurangi terjangkitnya penyakit.

Asmenko Kesra Suyono menyebutkan bahwa Rakor membahas masalah sakit jantung yang merupakan penyebat nomor 3 kematian manusia di dunia.

Usaha mengurangi kematian manusia akibat sakit jantung ini erat kaitannya dengan kebiasaan orang suka dan hobi merokok, karena dalam rokok itu mengandung nikotin (racun tembakau) dan yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Menko Kesra Soepardjo dalam waktu dekat ini akan menghubungi Menteri Perindustrian untuk membicarakan masalah kandungan nikotin yang ada pada setiap batang rokok.

 

 

Sumber : ANTARA (28/11/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 945-946.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: