Apr 192014
 

Memiliki Indera Keenam[1]

R Soeprapto [2]

Saya mengenal Bapak Harto di Semarang pada tahun 1950-an. Pada waktu itu Pak Harto telah menjadi Panglima Kodam VII/Diponegoro, dan saya sebagai anggota Kodam Diponegoro di Semarang. Kami sama-sama dari PETA, tetapi baru di Semarang itulah awal perkenalan saya dengan beliau. Keakraban hubungan menjadi bertambah besar melalui jalur Ibu Tien dan isteri saya. Sebagai isteri panglima, Ibu Tien menjadi penasihat Persit (Persatuan IsteriTentara), sedangkan isteri saya, waktu itu, menjadi ketua Pengurus Daerah Persit Kodam Diponegoro.

Pada tahun 1956-1957, Pak Harto menugaskan saya menjadi salah satu Komandan Kompi dari Batalyon Garuda I, yang dikirim ke Mesir. Sepulang dari Mesir saya kern bali bertugas di Semarang sebagai Wakil Asisten III/Personil Kodam VII/Diponegoro. pada tahun 1960-1964, setelah kembali dari Kursus Perwira Lanjutan Dua (Kupalda) saya bertugas di Akademi Militer (Akmil) di Magelang. Di situ saya menjabat sebagai Komandan Resimen Taruna, dan jabatan ini saya pegang sampai saya dikirim lagi ke pendidikan Seskoad, Bandung, tahun 1964.

Kembali dari Seskoad saya ditempatkan lagi di Kodam VII/ Diponegoro sebagai Asisten II/Operasi dan Latihan pada permulaan tahun 1965. Pada saat itu panglimanya adalah Bapak Suryosumpeno, dan Kepala Stafnya adalah Bapak Soedjono. Sebagai Asisten I adalah almarhum Pak Sahirman, Asisten III almarhum Pak Maryono, Asisten IV Pak Widodo (mantan Kasad), dan Asisten V merangkap VI adalah almarhum Oesman.

Pada waktu terjadi G-30-S/PKI, Asisten I, III dan V/VI tersebut tedibat dalam pengkhianatan PKI, yang.berhasil mengambil alih pimpinan Kodam VII dalam satu hari. Dengan bimbingan Tuhan Yang Maha Esa, saya dengan menggunakan satu peleton kavaleri yang saya datangkan dari Magelang, berhasil mengatasi kembali Markas Kodam VII dan menyelamatkan stasiun RRI di Semarang pada tanggal 2 Oktober 1965. Pada waktu itu Pak Harto telah berada di Jakarta dan menjabat sebagai Pangkostrad.

Pada tahun 1967 saya dikirim oleh Pak Harto untuk mengikuti pendidikan Command and General Staff College (CGSC) di Amerika Serikat selama satu tahun. Sekembali dari tugas belajar, saya ditempatkan di Kodam XVU/Cendrawasih sebagai Kepala Staf untuk membantu Pak Sarwo Edhi Wibowo, yang pada waktu itu adalah Panglima Kodam XVII/Cendrawasih. Dari Kodam Cendrawasih saya ditugaskan sebagai Panglima Kodam XVI/Udayana dan berada di sana sampai dengan selesainya pemilu 1971. Dari Udayana saya diberi tugas sebagai Asisten Perencanaan dan Pengembangan (Asrenlitbang) Kasad. Tugas ini berakhir pada tahun 1973 dan kemudian saya menggantikan Pak Hasnan Habib sebagai Asisten Perencanaan Umum (Asrenum) Hankam dari tahun 1973 sampai 1976. Selesai bertugas di Departemen Hankam saya menjabat Sekretaris Jenderal Departemen Dalam Negeri sampai tahun 1982, dan dari tahun 1982 sampai 1987 saya menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Banyak kesan yang menarik pada gaya kepemimpinan Pak Harto. Sebagai seorang militer, beliau adalah seorang pimpinan yang tegas dalam memberikan instruksi dan memimpin anak buah. Namun ketegasan tersebut tidak terasakan, karena ketegasan beliau disertai dengan kelembutan sikap. Beliau juga seorang pemimpin yang sangat memperhatikan anak buah. Pak Harto memperlakukan kami sebagai anak buah dan beliau berlaku sebagai seorang Bapak yang selalu memberikan pengayoman pada anak buahnya.

Sesudah saya memegang jabatan sipil, sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Dalam Negeri, Gubernur dan sekarang sebagai Wakil Ketua MPR, hubungan saya dengan Pak Harto bersifat hubungan kerja sipil. Saya melihat beliau bukan sebagai seorang pemimpin militer, tetapi sebagai seorang kepala pemerintahan dan kepala negara. Dalam kaitannya dengan hal ini saya mempunyai kesan bahwa Pak Harto adalah seorang yang demokratis dan selalu bersifat terbuka terhadap usul-usul dan pendapat para pembantu beliau. Beliau adalah seorang pendengar yang baik. Kesan yang semacam ini saya ketahui pada waktu saya masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal, dimana saya sering mewakili Menteri Dalam Negeri dalam sidang-sidang lengkap kabinet. Dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang diajukan oleh para menteri, beliau selalu memberikan petunjuk yang singkat dan tegas. Kami sebagai pembantu beliau harus tanggap dan mampu mengembangkan petunjuk dan kepercayaan yang telah beliau berikan. Sikap Pak Harto yang demikian itu juga saya rasakan pada waktu saya menjadi Gubernur   DKI  Jakarta.

Disamping itu beliau juga tak pernah mengabaikan sesuatu usul yang kami kemukakan kepada beliau. Misalnya sewaktu saya menjadi Gubernur DKI, Pak Harto pernah mempersoalkan kemacetan lalu lintas di Jalan Sudirman. Beliau memberi petunjuk untuk membatasi pemakaian mobil di Jalan Jenderal Sudirman, yaitu yang boleh melalui jalan tersebut hanyalah mobil-mobil yang berpenumpang lebih dari dua orang. Saya mempelajari permasalahan tersebut dan saya berpendapat bahwa kemacetan itu akan dapat diatasi kalau sarana angkutan umum tersedia dengan cukup, teratur, serta tertib. Tetapi dalam kenyataannya transportasi umum belum dapat menjawab masalah ini.

Pemecahan lainnya adalah dengan perencanaan pembangunan jangka panjang yaitu dengan membuat outer ring road. Pada tahun 1984, saya memajukan usulan lain, yaitu bahwa untuk mengatasi masalah kemacetan di jalan tersebut perlu dibuat tambahan sebuah jalur penghubung dari Cinere, Fatmawati, Blok M, Sudirman, Thamrin dan Glodok. Mengapa hal ini saya ajukan? Karena saya melihat kemungkinan terjadinya peledakan pemukiman di Cinere, sebab daerah itu sudah menjadi semakin padat saja sebagai daerah pemukiman. Dalam hal ini saya ajukan tiga alternatif pemecahan, yaitu pelebaran jalan, membuat jalan di bawah tanah dan membuat jalan di atas berupa monorail, sebab melebarkan Jalan Sudirman sudah tidak mungkin lagi.

Menanggapi usul saya ini Pak Harto memerintahkan Pak Habibie, Menteri Riset dan Teknologi, guna melakukan feasibility study untuk memilih teknologi apa yang sesuai. Keinginan saya yang terutama adalah menciptakan sarana angkutan umum yang tarifnya terjangkau oleh rakyat kebanyakan. Dan bila salah satu usul saya itu terlaksana, maka saya yakin bahwa kebijaksanaan yang mengharuskan bahwa mobil yang masuk Jalan Sudirman harus memuat lebih dari dua orang akan dapat diberlakukan, sebagai upaya memecahkan masalah kepadatan lalu lintas. Tetapi sebelum gagasan saya terealisir, jabatan saya sebagai Gubernur berakhir dan kemudian saya menduduki jabatan yang sekarang.

Kita harus mengakui pula bahwa Pak Harto adalah seorang yang taktis dan strategis dalam menentukan kebijaksanaan. Langkah yang dilakukan beliau jelas meskipun penuh kehalusan. Keputusan yang diambil bisa kita kaji dan terima. Disamping itu beliau mempunyai wawasan yang luas dan jangkauan yang jauh. Katakanlah beliau dapat mengambil sesuatu langkah politik dengan cepat dan tepat. Saya sering dibuat heran dan kagum akan tindakan-tindakan beliau sainpai kadang-kadang saya berpikir apakah beliau itu memiliki indera keenam.

Tentu saja, dalam hal ini, ada suatu contoh yang dapat saya kemukakan. Meskipun hal ini tak berkaitan dengan bidang pekerjaan saya, tetapi contoh ini memperlihatkan betapa tajamnya intuisi beliau. Pada waktu wafatnya Kaisar Hirohito dari Jepang, Pak Harto langsung menyatakan keinginannya untuk datang melawat. Padahal banyak kepala negara yang masih memperhitungkan untung ruginya datang ke sana, mengingat tindakan Jepang pada masa Perang Dunia II yang lalu. Kita sendiri pun tak terlepas dari kekejaman Jepang pada masa itu. Tetapi Pak Harto tanpa ragu sedikit pun menyatakan keinginannya untuk melawat. Ini menunjukkan  bahwa beliau dapat memperhitungkan keuntungan-keuntungan politis dengan perlawatan tersebut. Perkiraan ini memang tidak meleset yaitu dengan banyaknya kepala negara yang kemudian menemui beliau di sana dan melakukan pendekatan-pendekatan politis.

Kita telah melihat bahwa meskipun Pak Harto itu seorang militer tetapi beliau adalah seorang yang lembut dan kebapakan. Ini merupakan gabungan sifat yang saya nilai sangat baik. Kemampuan Pak Harto untuk menggabungkan sifatnya yang tegas sebagai seorang militer dan yang lembut kebapakan itu adalah karena beliau sangat memegang teguh prinsip-prinsip filsafat Jawa. Seperti misalnya, digdaya tanpa bala dan menang tanpa ngasorake yang berarti kuat tanpa bala tentara dan menang tanpa mempermalukan. Artinya, kalau kita terlibat dalam suatu perdebatan atau dialog, bagaimana cara kita dapat mencapai hasil atau mencapai kemenangan tanpa lawan merasa dikalahkan atau dipermalukan. Orang akan menerima pendapat kita tanpa dipaksakan. Bila kita berpegang pada prinsip ini, maka kita akan bersikap halus dalam segala tindakan kita.

Meskipun beliau sangat menghayati filsafat Jawa, tetapi prinsip sabda pandita ratu tidak tercermin dalam kepemimpinan beliau, karena beliau sangat terbuka dan demokratis sekali. Prinsip yang selalu diterapkannya adalah prinsip ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Bukankah ini pencerminan sikap demokratisnya?

Penghayatan filsafat Jawa tidaklah dapat dilepaskan dari nilai­nilai yang terkandung dalam pewayangan yang merupakan bagian penting dalam budaya Jawa. Dapatlah dikatakan bahwa kedua hal ini sangat mewarnai kehidupan beliau. Pak Harto dapat bercerita tentang episode-episode dalam pewayangan sampai ke detail-detailnya. Sebagai contoh umpamanya, patung Arjuna Wijaya di dekat Air Mancur, Jalan Thamrin Jakarta, yang dibangun atas restu beliau, yaitu menciptakan suatu monumen yang menggambarkan suatu fragmen regenerasi atau alih generasi, disamping untuk memenuhi keinginan Pak Harto akan sebuah monumen yang dapat memperindah kota. Dalam merealisir pekerjaan ini Pemerintah Daerah DKI Jakarta bekerjasama dengan Direktur Jenderal Pariwisata Pak Joop Ave, dan dibantu sepenuhnya oleh pihak swasta.

Karena kegemaran beliau akan wayang, maka saya mengambil sumber pewayangan untuk konsep pokok pembuatan patung tersebut. Dalam cerita Bharatayudha, yaitu salah satu fragmen dalam Mahabharata, Sri Kreshna berdialog dan mengantarkan Arjuna yang ragu-ragu untuk pergi ke medan perang. Dari cerita inilah saya merencanakan suatu gambaran yang sesuai dengan gambaran alih generasi. Terciptalah sebuah patung yang menggambarkan seorang tua yang mengendarai sebuah kereta dan seorang anak muda yang memegang busur dan anak panah. Kereta tersebut ditarik oleh delapan ekor kuda, melaju diatas medan yang kokoh.

Patung tersebut mempunyai arti simbolis yaitu, kita dari generasi tua mengantarkan generasi muda untuk inelanjutkan pembangunan diatas kerangka landasan yang telah mantap. Arti delapan ekor kuda adalah delapan nilai perjuangan, yaitu cinta tanah air, patriotisme, pantang menyerah, kepahlawanan, kebersamaan/kegotongroyongan tanpa pamrih, percaya diri, serta setia pada Pancasila dan UUD 1945. Kemudian saya mempersiapkan teks yang ditulis tangan yang isinya adalah:

Kuantarkan kau melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan yang tiada akhir

Semuanya ini saya ajukan kepada Pak Harto dan beliau menyetujuinya. Dalam sambutan beliau, pada upacara peresmian patung tersebut yang diucapkannya tanpa  teks, semua yang hadir heran, karena beliau dapat menceritakan episode perang Bharatayudha itu sampai ke bagian yang sekecil-kecilnya. Pak Harto menceriterakan bahwa Kreshna memberikan petunjuk-petunjuk yang berharga kepada Arjuna. Dari sini kami mengetahui bahwa beliau tidak saja mendalami falsafah wayang tetapi juga menghayatinya.

Meskipun kepemimpinan Presiden Soeharto diwarnai  oleh filsafat digdaya tanpa bala dan menang tanpa ngasorake, tetapi penyerahan Surat Perintah 11 Maret tidaklah mencerminkan filsafat tersebut. Hal ini saya kemukakan karena banyak orang yang menafsirkannya demikian, yang artinya  Soeharto  mengalahkan Soekarno tanpa Soekarno merasa dikalahkan. Hal tersebut benar­ benar salah. Surat Perintah 11 Maret 1965 pada hakikatnya adalah perintah seorang atasan kepada bawahannya, yaitu dari Presiden Soekarno kepada Pak Harto sebagai Pangkostrad untuk membersihkan semua unsur komunis. Jangan ditafsirkan bahwa beliau mengalahkan Soekarno dengan Surat Perintah 11 Maret tersebut. Bung Karno telah selesai memimpin Indonesia, karena MPRS pada waktu itu meminta pertanggunganjawabnya tentang peristiwa 30 September 1965 dan pidato beliau dalam MPRS yang berjudul Nawaksara, dinilai rakyat tidak dapat diterima. Dengan demikian MPRS mengangkat Pak Harto, pengemban Surat Perintah 11 Maret sebagai Pejabat Presiden.

Banyak orang berpendapat bahwa sebagai seorang Presiden, perhatian Pak Harto hanyalah pada hal-hal yang bersifat formal kedinasan saja. Hal ini tidaklah betul, karena beliau juga memberikan perhatian pada hal-hal yang bersifat kekeluargaan. Umpamanya saja beliau sangat memperhatikan keluarga bawahan-bawahannya. Sebagai contoh misalnya, semenjak di Semarang, beliau mengadakan peningkatan kemampuan berbahasa Inggris untuk para staf dan isteri mereka. Gurunya, beliau yang menyediakan, yaitu Mr. Clive Williams dari Australia. Mr. Williams juga menjadi guru bahasa lnggris bagi keluarga Presiden.

Latar belakang keluarga beliau yang berasal dari rakyat kecil, begitulah yang selalu ditekankan Pak Harto, menyebabkan beliau selalu memperhatikan dan mengerti rakyat kecil. Hal ini tercermin umpamanya pada waktu pelantikan para lulusan Akabri, dimana beliau menekankan agar para perwira tersebut jangan berprinsip aja dumeh, yang berarti jangan mentang-mentang. Dalam hal ini Pak Harto mengharapkan agar setiap prajurit hendaknya selalu sadar bahwa ia adalah anak kandung rakyat. Jadi, prajurit adalah rakyat, baru sesudah itu ia adalah seorang prajurit; dengan demikian ia harus membela rakyat. Disamping itu beliau selalu mengusahakan agar para petani, yang merupakan bagian terbesar dari rakyat Indonesia, dapat mempunyai taraf hidup yang lebih baik. Dalam kaitan ini Pak Harto selalu menekankan agar koperasi-koperasi pedesaan, seperti KUD-KUD, diaktifkan. Hal ini merupakan tantangan bagi para pembantu beliau di bidang perkoperasian untuk mengembangkan kebijaksanaan tersebut.

Tindakannya yang sangat berhati-hati  dalam mengambil keputusan, disertai penghayatannya yang dalam akan filsafat Jawa, sikapnya yang demokratis dan yang selalu memperhatikan pendapat orang, seperti telah dikemukakan di atas, telah membentuk pribadinya menjadi seorang pemimpin yang tegas, lembut, bijaksana dan penuh kearifan. Itulah sifat-sifat yang memang diperlukan oleh seorang pemimpin.

***



[1]     R Soeprapto, “Memiliki Indera Keenam”, dikutip dari buku “Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 778-784.

[2]     Letjen. (Purn.) TNI; Wakil Ketua MPR masa bakti  1988-1992

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: