PUNCAK SUKSES DI BUDAPEST

PUNCAK SUKSES DI BUDAPEST[1]

 

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Dari catatan perjalanan panjang; Jakarta- Narita (Jepang)-Los Angeles­Boston-Washington DC-Den Haag-Roterdam-Amsterdam-London-Paris-Budapest (Hungaria), kenangan di kota terakhirlah tampaknya penampilan Faces of Indonesia yang paling mengesankan.

Tanda-tanda itu sudah terlihat sejak pesawat DC-10 Garuda GA 8010, yang mengangkut rombongan  dari London mendarat  di landasan Bandara Ferihegy I Budapest, Hungaria.

Berbeda dengan penyambutan di Bandara di negara-negara yang telah disinggahi misi diplomasi budaya tersebut sebelumnya seperti di AS, Belanda, Perancis dan Inggris acara penyambutan di Hungaria terkesan agak istimewa.

Penyambutan sebelumnya, paling hanya dihadiri belasan staf KBRI yang dibantu mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Tapi di Budapest memang beda.

Ketika menuju arah gedung kedatangan, pesawat yang diawaki tim penerbang kepresidenan itu dikawal dua mobil pengamanan bandara yang mengapit di depan dan di belakang pesawat.

Di menara pengawas tampak dua petugas mengamati pesawat dengan teropong masing-masing. Sementara sejumlah petugas bersenjata lengkap tampak berjaga­jaga di sejumlah posisi strategis di areal bandara.

Ketika Mbak Tutut menginjakkan kaki di landasan, seorang gadis cilik Erawati Felizia (7 tahun), anak dari keluarga Endang Rachmat, staf KBRI, menyerahkan karangan bunga.

Mbak Tutut sekilas tampak tersenyum setelah mencium anak kelas II itu. Tapi tiba-tiba wajahnya berubah haru sambil memeluk erat Ny. Vina Dinia Pringodigdo istri mantan Dubes RI di Hungaria, RM Soelaeman Pringodigdo almarhum.

Seperti diketahui, Dubes RI itu meninggal secara mendadak pada 30 Maret lalu, tak lama setelah mendampingi Mbak Tutut dalam kunjungannya ke Hongaria awal Maret 1995. Sampai saat ini posisi Dubes di Budapest masih kosong, tapi istri dan keluarga almarhum masih tinggal untuk sementara di sini.

Para penyambut, selain warga Indonesia tampak protokol dari Kemlu Hungaria dan staf Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebab kali ini yang bertindak sebagai tuan rumah adalah Menteri P danK Hungaria, Fodor Gabor.

Sedang pada kunjungan pertama Mbak Tutut ke negeri Eropa Timur, bekas satelit Rusia yang termaju itu, merupakan undangan Presiden Hongaria Arpad Gonez.

Di ibu kota negeri yang dikenal dengan produk kerajinan kristal itu, Faces of Indonesia unjuk kebolehan di gedung Budapest Congres Center dengan kapasitas 2.000 penonton. Gedung penuh sesak oleh penonton itu tentu salah satu indikasi sukses dari penampilan duta bangsa tersebut. Karena warga RI di Hungaria hanya tercatat sekitar 60 orang.

Dalam pementasan malam terakhir atau yang ke-7 dalam lawatan tiga minggu itu, seperti pengamatan Pembaruan memang lain dari pada yang lain.

Misalnya, di sinilah pejabat teras Hungaria yang paling banyak ikut menyaksikan misi kebudayaan Indonesia itu, selain utusan dari Kedubes sejumlah negara sahabat.

Sambutan penonton pun tercatat yang paling hangat. Sepanjang pertunjukan yang berdurasi sekitar 3 jam itu dengan rehat sekitar 15 menit pada satu setengah jam pertama, penonton tampak amat tekun menikmati segala yang disuguhkan para seniman dan seniwati Indonesia.

Tepuk tangan rata-rata terdengar lebih panjang dari sambutan yang diberikan penonton dalam pementasan di kota-kota sebelumnya. Penonton Budapest pun tercatat sebagai yang ‘termanis’ alias betah duduk tekun dan rajin memberi aplaus pada setiap akhir adegan.

Ini berbeda dengan karakter penonton di London atau Paris misalnya yang terkesan ‘tidak betahan’ bertahan di kursi.

Kegelisahan yang terlihat dari intensitas lalu lalang penonton yang ke luar gedung pertunjukkan terutama saat penampilan musik atau penyanyi, menunjukkan adanya kalangan penonton yang kurang tertarik dengan apa yang disuguhkan itu.

Tapi begitu berlatih ke penampilan kesenian tradisional seperti tarian Betawi, Aceh, Jawa atau Bali, sambutan penonton memang kembali membaik. Masyarakat Eropa, khususnya Prancis dan Inggris memang dikenal lebih tertarik pada kesenian etnik khususnya dari budaya timur.

Hal itu sesungguhnya sudah tampak diantisipasi oleh penanggung jawab panggung dengan memangkas sejumlah paket kesenian modem, sehingga lebih menonjolkan dimensi tradisionalnya. Tapi seperti komentar sejumlah kru dan pendukung pementasan, penonton Eropa kecuali Belanda dan Hungaria terasa begitu pelit dalam memberikan sambutan meriah.

Dalam kasus Belanda, penonton yang tampak berkobar-kobar karena masyarakatnya masih punya ikatan batin dengan Indonesia sebagai negara bekas jajahan. Sehingga kerinduan atau selera nostalgia, selalu meluap-luap akan segala yang berbau Indonesia. Khususnya sambutan penonton di Den Haag, sungguh mengagumkan. Gedung amat sesak sehingga puluhan penonton rela berdiri atau lesehan di lantai gedung pertunjukan.

Tapi seperti telah disinggung, puncak sukses agaknya tercatat di Budapest. Dari sejumlah komentar yang tercatat, ketekunan, keasyikan dan kesungguhan yang diperlihatkan penonton, antara lain akibat suasana keterbukaan yang belum lama dinikmati oleh masyarakat yang baru lepas dari kungkungan rezim ala negara komunis Soviet itu.

“Dulu di bawah rezim ekspresif, mereka tentu sulit mencari hiburan sejenis ini.” komentar seorang staf panitia. Di lain pihak peluang untuk mengetahui lingkungan budaya di luar negara komunis amat riskan.

Sehingga begitu ada kesempatan, mereka tampak seperti tak sabar untuk memenuhi dahaga yang tertahan untuk menikmati atraksi hiburan dari mancanegara.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (24/05/1995)

__________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 688-690.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: