PROF WILSON: SAYA MENULIS BUKU KARENA SAYA MENCINTAI INDONESIA

PROF WILSON: SAYA MENULIS BUKU KARENA SAYA MENCINTAI INDONESIA

 

 

Jakarta, Suara Karya

“Menulis buku ini adalah pekerjaan cinta. Dan saya menulis buku ini karena saya mencintai Indonesia,” ujar Prof .Dr. Donald Wilson, penulis buku ‘The Long Journey From Turmoil To Self Sufficiency’dalam acara seminar pembahasan buku tersebut di Hotel Hyatt Aryaduta, Selasa. Seminar pembahasan buku tersebut yang diprakarsai oleh Yayasan Persada Nusantara dibuka oleh Menko Polkam Sudomo.

Pembahasan buku tersebut menampilkan pembicara tunggal Prof. Dr. Wilson, dipandu oleh moderator Ir. Sulaeman Krisnandhi untuk sesion pertama dan pada sesion kedua dipandu oleh Dr. Anwar Nasution.

Sebelum Prof. Wilson memberikan resume atas keseluruhan bukunya dan dia berulang kali memberi penjelasan mengapa dia menulis buku dengan isi demikian. “Banyak orang selalu bertanya, karena apa saya menulis demikian. Yah saya katakan, saya mencintai Indonesia dan saya melihat kemajuan Indonesia begitu pesat dibandingkan dengan tahun 1949 yang lalu ketika saya berada di Indonesia.”

“Saya ditanya, apakah saya ini dibayar dan siapa yang membayar. Saya katakan tidak ada yang membayar saya. Presiden juga tidak. Anggota kabinet juga tidak. Ini bukan buah pikiran Presiden, tetapi buah pikiran saya,” ujar Prof. Wilson sambil mengangkat buku bersampul biru, dengan gambar profil Presiden Soeharto, yang berbaju batik dengan wajah tersenyum dan tangkai kacamata mencuat dari saku bajunya.

 

Sumber-Sumber

Prof. Wilson yang dilahirkan di India pada tahun 1938, dan pada tahun 1949 masuk ke Indonesia mengikuti ayahnya seorang misionaris, mengatakan tulisannya tentang Indonesia, didasarkan pada berbagai sumber tulisan dan perjalanan ke berbagai penjuru Indonesia. “Saya naik pesawat, naik kereta api, naik perahu dan jalan kaki ke berbagai tempat yang saya sukai. Bukan seperti beberapa jurnalis yang hanya datang ke beberapa hotel dan akhirnya menulis tentang Indones ia,” katanya.

Diakui bahwa buku tersebut hasil pembicaraan dengan Presiden yang pertemuannya diatur oleh G Dwipayana dan R.M Moechtar, Ketua Yayasan Persada Nusantara. “Tetapi Presiden selalu memberikan kebebasan kepada saya untuk berpikir dan menulis apa saja yang saya sukai dan saya pikirkan,” katanya.

Ketika memberikan resume tentang isi bukunya, Prof. Wilson juga menyinggung bahwa Presiden Soekamo adalah tokoh yang kuat. Dia adalah tokoh yang kuat dan tepat pada jamannya untuk membentuk republik ini, dan Presiden Soeharto juga demikian. Sebagai orang yang penuh kerendahan hati, penuh perhatian, tenang, Presiden Soeharto mengetahui betul keinginan bangsanya. Perubahan yang dilakukan harus secara bertahap.

Dan akhirnya dapat dilihat hasilnya. “Bila pada tahun 1949 masalah kesehatan dan pendidikan kurang diperhatikan, sekarang ini ternyata sudah lain. Tetapi Indonesia belum sepenuhnya sempuma. Pasti ada saja gap antara yang berpunya dan tidak berpunya seperti halnya terjadi di negara lain,” ujar Wilson yang mengaku dirinya sebagai warga negara dunia, karena sudah berkeliling ke 54 negara.

 

Informasi

Sebelumnya Menko Polkam Sudomo mengatakan buku yang ditulis bukan atas perintah Presiden Soeharto, tetapi didasarkan pada kecintaannya pada Indonesia. Pembangunan di Indonesia ini belum banyak diketahui di luar negeri. Dan kalau diketahui hanya yang negatif saja, seperti yang ditulis oleh David Brian dalam bukunya “Indonesian Tragedy”.

Tujuan buku tersebut, ujar Sudomo, untuk informasi bagi masyarakat di luar negeri, karena tidak banyak diketahui tentang pembangunan Indonesia di luar negeri, mengingat sikap Indonesia yang lowprofile.

Ny. Sofya Moechtar, Wakil Ketua Yayasan Persada Nusantara, mengatakan pembahasan buku tersebut untuk mendorong agar mengetahui suksesnya Orde Baru dalam pembangunan bangsa.

 

 

Sumber : SUARA KARYA (03/06/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 453-456.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.